bc

Pak Direktur, Aku Hamil!

book_age18+
4
FOLLOW
1K
READ
revenge
dark
love-triangle
contract marriage
BE
one-night stand
family
HE
time-travel
love after marriage
age gap
fated
forced
second chance
friends to lovers
pregnant
arranged marriage
playboy
badboy
kickass heroine
stepfather
single mother
heir/heiress
blue collar
drama
tragedy
sweet
lighthearted
serious
kicking
bold
campus
city
mythology
office/work place
pack
small town
magical world
cheating
childhood crush
enimies to lovers
secrets
affair
friends with benefits
assistant
actor
like
intro-logo
Blurb

Patah hati karena diselingkuhi membuat Anya nekat meneguk alkohol hingga hilang kesadaran saat liburan di Bali. Satu kesalahan fatal, ia salah melangkah masuk ke Kamar 502 dan menyerahkan seluruh malamnya pada seorang pria asing dalam kegelapan. ​Besoknya, pria itu lenyap tanpa jejak. Anya terbangun sendirian, hanya berbekal ingatan samar tentang aroma maskulin yang memabukkan dan nomor kamar. ​Kekacauan makin menjadi saat kembali ke kantor. Anya ditunjuk menjadi asisten pribadi Ezranda Yazan Lorenso—direktur dingin, kaku, dan serba perfeksionis. Anya tidak tahu, Ezran adalah pria yang menikmati setiap jengkal tubuhnya malam itu. Pria yang memilih bungkam karena gengsi setinggi langit. ​Petaka meledak ketika Anya salah mengira Delon—sahabat Ezran yang ramah—sebagai pria Kamar 502. Saat Anya mulai melancarkan pendekatan manis demi menuntut pertanggungjawaban atas testpack garis dua di tangannya, Arkan kebakaran jenggot. ​Di balik wajah datarnya, Pak Direktur siap mengamuk. ​"Semalaman kamu mendesah menyebut nama saya, Anya. Lalu kenapa sekarang kamu tersenyum pada pria lain?"Stay With Me

chap-preview
Free preview
Part 1
Lampu-lampu gantung berbentuk sangkar burung di restoran luar ruangan resor Bali itu memancarkan cahaya kekuningan yang hangat. Alunan musik akustik mengalun lembut, membelai telinga para pasangan yang sedang menikmati malam romantis di tepi pantai. Anya Raline berdiri membeku di balik pilar kayu besar, memegang kotak kado berbalut pita merah yang kini terasa seberat bongkahan batu. Pandangannya terkunci pada meja sudut di dekat kolam renang. Di sana, Rian, pria yang sudah menemaninya selama tiga tahun terakhir, sedang tertawa lepas. Tangannya melingkar mesra di pinggang seorang wanita bergaun merah berpotongan rendah. Sebelum Anya sempat memproses rasa terkejutnya, Rian mendaratkan ciuman dalam di bibir wanita itu. Ciuman yang sangat familier, ciuman yang biasanya selalu disiapkan Rian untuknya. Dunia Anya serasa runtuh seketika. Dadanya dihantam rasa sesak yang luar biasa hebat hingga ia lupa cara bernapas dengan benar. Maksud hati terbang jauh-jauh dari Jakarta ke Bali adalah untuk memberi kejutan anniversary ketiga mereka. Ternyata, justru dirinyalah yang mendapat kejutan pahit. "Dasar berengsek," bisik Anya lirih, hampir tak terdengar. Air mata mendesak ingin keluar, tetapi gengsi Anya membendungnya rapat-rapat. Ia menolak menjadi adegan drama picisan dengan melabrak mereka sambil menangis histeris di depan umum. Itu bukan gayanya. Anya mengepalkan tangan, lalu melemparkan kotak hadiah berisi jam tangan mewah impian Rian langsung ke dalam tong sampah besar di samping pilar. Anya membalikkan badan dengan tegas. Langkah kakinya membawa tubuhnya menjauh dari area restoran, bergerak lurus menuju bar utama hotel yang terletak di ujung area lobi. Anya mengabaikan beberapa tamu yang sempat menatapnya bingung. Saat ini, hanya ada satu hal yang ia butuhkan, sesuatu yang bisa mematikan rasa sakit di dadanya. "Selamat malam, Mbak. Mau pesan apa?" sapa bartender ramah sambil menyapu celah meja bar memakai lap bersih. "Berikan saya minuman paling keras yang ada di sini," potong Anya cepat, langsung menduduki salah satu kursi tinggi di depan meja bar. Bartender itu sempat menaikkan alisnya sesaat, menatap Anya dari atas ke bawah. "Kami punya beberapa pilihan cocktail manis untuk wanita, Mbak." "Saya nggak butuh yang manis. Kasih saya tequila, lima shot langsung," jawab Anya tegas tanpa ragu. "Mbak yakin? Tequila di sini cukup kuat kalau Mbak belum terbiasa." "Tuang aja, Mas. Jangan banyak tanya, saya bayar kok," balas Anya lagi dengan nada dingin. Bartender itu akhirnya mengangguk, lalu meraih botol tequila beserta potongan jeruk nipis dan garam. Anya menangkap tatapan kasihan dari beberapa pengunjung bar di sekitarnya. Kejadian di restoran tadi terus berputar di kepalanya bagaikan kaset rusak, membuat rasa hangat dari kemarahan menjalar ke seluruh tubuhnya. Seumur hidupnya, Anya bukan tipe wanita yang suka keluyuran atau mabuk-mabukan di bar. Anya selalu menjadi anak baik-baik, kekasih yang penurut, dan pekerja keras di kantor. Semua dedikasinya untuk Rian terbukti sia-sia malam ini. Pengkhianatan itu menghancurkan seluruh harga dirinya hingga berkeping-keping. Gelas shot pertama disodorkan ke hadapannya. Tanpa ragu sedikit pun, Anya menyambar gelas kecil itu dan menyiramkan cairannya ke dalam tenggorokan. Rasa terbakar yang tajam langsung menjalar di lehernya, membuat tangannya mengepal erat. "Uhuk! Pedas banget," keluh Anya sambil menyapu bibirnya kasar memakai punggung tangan. "Jeruk nipisnya diminum juga, Mbak, biar agak mendingan," saran sang bartender sambil menyodorkan piring kecil berisi irisan jeruk. "Nggak perlu. Lanjut gelas kedua," perintah Anya seraya mendorong gelas kosongnya. Gelas kedua menyusul, lalu gelas ketiga, dan keempat. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, empat shot alkohol dosis tinggi itu sudah berpindah ke dalam perutnya. Efeknya langsung terasa sangat cepat dan menghantam kepalanya tanpa ampun. Pandangan Anya mulai kabur dan berbayang. Lampu-lampu bar yang tadinya fokus kini terlihat seperti kilatan cahaya berputar. Kepalanya terasa sangat berat, seolah-olah dipaksa menahan beban berkuintal-kuintal. Anehnya, rasa sakit hati di dadanya mulai terkikis, berganti dengan keberanian konyol yang dipicu oleh alkohol. "Mbak, udah dulu ya? Muka Mbak udah merah banget itu. Mau saya panggilkan staf buat bantu ke kamar?" tanya bartender itu cemas melihat tubuh Anya yang mulai oleng ke kanan dan kiri. "Siapa yang mabuk? Gue nggak mabuk, Mas!" racau Anya sambil terkekeh pelan. Suaranya mulai serak dan cadel. "Tapi, Mbak udah hilang keseimbangan. Mending istirahat di kamar aja." "Gue bilang tuang satu gelas lagi!" Anya menggebuk meja bar cukup keras, membuat beberapa gelas di dekatnya berdenting. "Ini yang terakhir, habis itu gue pergi." Bartender itu menghela napas panjang, lalu menyerah. Ia menuangkan shot kelima dengan porsi yang sedikit dikurangi, berharap wanita di depannya ini tidak pingsan di tempat. Anya meraih gelas kelimanya dengan jemari yang gemetar. Anya menatap cairan bening di dalam gelas itu sambil tersenyum miring. Rian pasti sedang tertawa-tawa dengan selingkuhannya saat ini, menganggap Anya Raline sebagai wanita bodoh yang mudah dibodohi. Anya bersumpah tidak akan biarkan pria itu memenangi malam ini. Ia meneguk isi gelas kelima itu sampai tuntas tanpa tersisa sedikit pun. Efek tendangannya membuat pandangannya benar-benar berputar total. Anya berdiri dari kursi bar secara mendadak, membuat kursi kayu itu terdorong ke belakang dan menimbulkan suara berdecit nyaring. Tubuhnya oleng sebentar sebelum ia berhasil menyeimbangkan diri memakai tumpuan meja. Anya membuang napas berat yang beraroma alkohol pekat. Ia merapikan gaunnya, mengibaskan rambut panjangnya ke belakang, lalu melangkah pusing meninggalkan bar. "Malam ini gue nggak boleh kelihatan menyedihkan," bisik Anya pada dirinya sendiri, diiringi senyuman miring yang penuh keputusasaan.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.0M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
825.7K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.1M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
383.1K
bc

Not just, the Beta

read
361.2K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook