Rindu

204 Words
Rindu Ryu duduk di hadapan gadis kecil cantik itu dalam diam. Jeni hanya memandang pemuda terbelakang itu dengan penuh emosi yang berkecamuk di dadanya. "Kenapa pergi dariku? Tidak suka berteman lagi denganku?" Suara Jeni melengking, memarahi Ryu. Matanya memerah, tatapannya berkabut terhalang bening air yang mulai menumpuk perlahan. Ibu Jeni hendak melangkah masuk ke ruang depan, namun langkahnya dihentikan sang ayah. "Tidak perlu ke depan. Biarkan mereka bicara. Jeni hanya marah sebentar, nanti juga baik sendiri." Ibu Jeni surut beberapa langkah dan segera menyiapkan kopi di bawah tatapan tajam suaminya. "Jangan memandangku seperti itu. Aku sudah menyadari kesalahanku. Kebahagiaan Jeni lebih penting daripada kekuatiranku yang tak beralasan." Sementara itu, di ruang depan terlihat Ryu menunduk semakin dalam. Ingin rasanya ia menjelaskan bahwa ia tahu ibu Jeni tak menyukainya dan membuatnya sakit perut, namun ia tak bisa menemukan cara untuk menyampaikan. Jeni akhirnya terdiam setelah puas memarahi Ryu. "Saya kuatir dan...rindu ketemu Ryu." Lelaki terbelakang itu memahami Jeni, ia juga merindukan gadis tercantik di matanya itu. Ryu memeluk Jeni. Jantungnya berdetak kencang, Jeni menahan napasnya. Menelan ludahnya perlahan. Ia dapat mendengar dengan jelas napas yang memburu, namun tak menakutkan. Jeni terdiam dalam pelukan Ryu. Baru sekali ini mereka sedekat itu. Jeni menyentuh pipi Ryu perlahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD