
Gadis bersahaja menuruni setapak licin di tengah jalan kampung. Usianya masih lima belas tahun. Rambut keritingnya terlihat rapi disanggul agak tinggi. Bibir sumbingnya terlihat jelas. Jerawat -jerawat kecil tersebar merata di wajahnya yang lebar. Dari arah depan terdengar langkah kaki yang berat. Jeni begitu ia biasa disapa-bersidekap.
"Uh…oh…" suara keluhan Jeni. Ia segera tahu siapa yang datang dari depan. Jeni setengah berlari keluar dari dari setapak agak menjauh ke rerumputan tinggi di samping kanan. Diam di sana, menahan napas.
'Tuhan! Semoga dia tak tahu,' batinnya cemas. Gadis itu menunggu tak bergerak. Ia terus berdoa semoga dedaunan di sekitarnya pun turut hening.
Langkah-langkah besar, berat dan tidak teratur kian mendekat. Ryu mendekat. Sosok lelaki tiga puluh tahun yang agak terbelakang itu sudah dekat. Pakaiannya kumal dan kusam. Di pundaknya ada plastik berisi s****h yang ditemukan di sepanjang jalan. Bagi Ryu, isi plastik itu adalah harta berharga. Ia memungutnya dengan penuh cinta, memperhatikannya lama di bawah sinar mentari. Seakan hendak mengukur kualitas penemuannya itu. Mulai dari botol bekas sampai pada helaian kain bekas. Semuanya terlihat indah di bawah mentari.
Tiba-tiba Ryu tengadah. Berhenti sejenak membaui sekitar. Jeni pucat, di sela-sela rerumputan, kedua matanya nyalang memperhatikan takut-takut. Peluh menetes di sela-sela jerawat. Gatal tak tertahankan. Namun, ia tak bergerak sekarang. Terutama sekarang. Ryu tersenyum bahagia. Dipenuhinya udara dalam rongga dadanya yang membusung. Jeni menduga ia ketahuan. Maka, ketika sepasang mata Ryu melotot ke arahnya, gadis itu segera mengambil langkah seribu.
" Mamaaaaaa…." Teriakan Jeni membahana ke seantero kampung. Jeni berlari ketakutan diikuti Ryu yang mengejarnya kegirangan.
Rasa takut segera berbau dalam tawa riuh sekelompok orang. Jeni mendengkus dalam hati. Ia tidak menyukai kenyataan pahit itu. Ketakutannya terhadap Ryu dijadikan bahan tertawaan oleh seluruh penghuni kampung.
Di mata Ryu, Jeni adalah gadis tercantik di kampung tersebut. Ia berbeda. Terlihat berbeda di mata Ryu. Sama seperti seluruh harta berharga yang dikumpulkannya-yang teronggok di samping rumahnya. Jeni terlihat cemerlang dengan warna kuning terang rambutnya, bibirnya yang berbeda bentuknya dan teriakan ketakutan Jeni. Semuanya memikatnya. Bagi seorang Ryu, segalanya terlihat sempurna di dunianya yang juga sempurna- hanya baginya.
Jeni melaju- seakan terbang menuju rumahnya yang terletak di ujung kampung. Rasanya kakinya sungguh tak tahan untuk segera tiba di tangga pertama yang diyakininya akan menyelamatkannya dari monster menakutkan itu. Sudah sejak lama ia dan Ryu memiliki keterikatan nyata seperti ini. Ikatan yang aneh. Ryu selalu mengejarnya. Tak ada gadis atau pun makhluk lain yang dikejar lelaki terbelakang itu-hanya dirinya.
Jeni teringat kenangan suatu senja di kala umurnya masih delapan tahun. Sepulang sekolah ia dihadang Ryu yang menarik tangannya dengan gerakan cepat dan mendaratkan ciuman di pipinya. Kengerian itu terus terbayang setiap kali melihat lelaki terbelakang itu.
Di sekolah, Jeni merasa bahwa ia selalu diganggu sedangkan di kampung ia harus bisa menahan gurauan penghuni kampung mengenai Ryu. Ia membenci dunianya tiap kali melihat lelaki terbelakang itu.
"Mamaaaaaa…" Teriakan Jeni disambut ayah dan ibunya dengan senyum. Mereka sudah paham benar kelakuan anaknya. Ryu pasti sudah mengikutinya dari belakang.
"Ae koka?" Mama Jeni menghadang lelaki terbelakang itu di depan pintu. Napas Jeni terengah-engah. Ayahnya memberinya minum. "Terima kasih, Bapa-dia kejar saya lagi!" lapor Jeni. Ayahnya hanya mengelus rambut keriting Jeni sebagai balasan.
Ryu mengangguk kegirangan mendengar tawaran dari Mama Jeni. Kopi adalah yang ditawarkan Mama Jeni padanya. Ia sangat menyukai minuman yang satu itu- yang disebutnya air lumpur.
Jeni meminum air putih sambil mengintip lelaki terbelakang itu dari balik kain pintu kamarnya. Ia sedikit lega sekarang. Ryu terlihat sudah lupa pada Jeni. Matanya berbinar menikmati segelas kopi yang dihidangkan Mama Jeni. Ternyata penyelamatnya adalah segelas air lumpur- mata Jeni menyipit sambil mengingat-ingat.

