Penyelamat
Gadis berbibir sumbing itu tengadah di hari panas siang itu. Kepalanya yang bulat tampak bergoyang-goyang. Ia sedang menikmati es manis di bawah pohon rindang di depan kelasnya. Dedaunan johar turun menyentuh bahunya, diterbangkan angin sepoi yang datang membelai.
Jeni tèrlihat begitu menikmati tiap tetesan air dari es potong yang dijual di kantin sekolah. Beberapa gadis kecil sebayanya mendekat pula ke sana. Mereka berkumpul dan bersenda-gurau bersama.
Beberapa bocah lelaki turut pula mendekati mereka. Menggoda dan mencoba merebut es potong dari tangan mereka.
"Berikan padaku! Bentakan kasar dari mulut seorang bocah lelaki bertubuh bongsor terdengar keras bagaikan petir di siang bolong. Beberapa gadis kecil segera lari menjauh-mengamankan diri dari Dargo. Siapa yang tak tahu tabiat kasar dan egois anak itu. Jeni juga berusaha lari, namun ia kalah gesit dari Dargo.
"Mau ke mana kamu? Cepat berikan padaku!" Ia merampas es potong dari tangan Jeni. Jeni berusaha berkelit, Dargo memeluknya erat. Jeni berteriak. Teriakannya menarik perhatian Ryu yang sedang berjalan di sekitar halaman sekolah.
Napas Ryu memburu. Jeni dalam masalah pikirnya, apalagi setelah melihat Jeni dipeluk erat Dargo. Jantungnya berpacu kencang. Ia lari sekencang-kencangnya ke arah kedua anak yng sedang bergelut memperebutkan es potong tersebut.
Ryu mengayunkan tongkat kayu kotor yang digenggamnya. Hantamannya mengenai sasaran. Dargo memegangi bokongnya sambil berlari kencang. Ryu menatap Jeni tanpa berkata apa-apa. Untuk sesaat Jeni yang biasanya ketakutan setiap melihat Ryu, berani menatap lelaki terbelakang itu.
Bibirnya tak sanggup mengucapkan terima kasih. Ia berharap Ryu dapat memahaminya. Suaranya tercekat di tenggorokan. Jeni cepat-cepat berlari ke arah plastik milik Ryu yang tergeletak tak jauh dari tempat mereka berdiri. Dirapikannya tumpukan plastik dan botol plastik yang berhamburan dan memberikannya kepada Ryu dengan hati-hati. Biar bagaimana pun selama bertahun-tahun Ryu adalah musuh besarnya.
Mata Ryu membulat. Ia tahu Jeni mencoba menyampaikan rasa terima kasih dengan caranya tersendiri. Ia segera bergabung dengan teman-temannya yang sedang asyik bercerita tentnaag kejadian tersebut.
"Terima kasiiiihhh," teriaknya dari kejauhan pada Ryu yang terlihat tidak peduli. Lelaki itu hanya mengibaskan tongkatnya ke kanan dan ke kiri sambil berbicara pada dirinya sendiri seperti biasa.