Kali mati
Tempat itu sunyi. Jeni melangkah girang bersama beberapa gadis seusianya. Masing-masing membawa ember berisi pakaian kotor yang akan dicuci di sungai kecil di utara kampung. Tempat itu biasa disebut kali mati, meski air masih mengalir di sana. Tumpukan batu kali yang jumlahnya sangat banyak, menghalangi arus air yang memang sangat kecil di musim panas seperti ini.
Hari ini libur. Gadis-gadis kecil seusia Jeni biasanya diberi tugas untuk pergi mencuci pakaian. Sambil bercerita tentang kejadian menarik yang terjadi di sekolah maupun di kampung, para gadis itu tak menyadari sepasang mata yang mengintip dari arah hutan kecil di sekitar mereka.
Jeni membasuh wajahnya yang dipenuhi jerawat dan bintik-bintik merah yang sering gatal jika ia berkeringat. Kali ini wajahnya terasa sejuk dibasuh bening air. Cuciannya sudah selesai disikat, dibilas dan kini dijemur terhampar pada kerikil putih yang berjejer di pinggir kali.
"Ppergiiiiii!" Tiba-tiba terdengar teriakan dari salah seorang gadis. Diraihnya sebongkah batu dan dilempar ke arah sosok yang bergerak dari arah rerumputan tinggi. Para gadis yang lainnya turut pula histeris dan mulai melempar.
Jeni kaget melihat sosok tersebut yang ternyata adalah Ryu. "Jangan lempari dia. Dia tidak akan ganggu kita! Teriaknya menghentikan pergerakan teman-temannya menyakiti Ryu. Ia menghàlangì teman-temannya dengan tubuhnya.
Kening Ryu berdarah. Lelaki terbelakang itu mengaduh kesakitan. Jeni menarik lengan Ryu, menjauh dari teman-temannya. Gadis itu membersihkan luka di kening Ryu tanpa takut. Ryu pernah menolongnya dari Dargo, itu tandanya lelaki terbelakang itu sebenarnya baik hati dan memperhatikannya dengan caranya tersendiri.
Ryu senang dekat dengan Jeni. Ia malah melompat ke dalam cekungan kecil tempat air sedalam lutut orang dewasa. Ia duduk berendam di sana, sesekali memasukan kepalanya ke dalam air. Meski Jeni melarangnya, Ryu tetap berendam. Wajah Ryu yang tadinya sangat kotor, mulai terlihat bersih. Jeni sangat takjub, ternyata wajah lelaki terbelakang itu sangat tampan.
Ryu mencipratkan air ke wajah Jeni mengajaknya bermain. Jeni tertawa senang. Kini ia tidak lagi takut pada Ryu.