Teman

259 Words
Teman Jeni termenung, betapa anehnya bagaimana ia dan Ryu kini bisa berteman. Tak terbersit sedikit pun di pikirannya bahwa sosok yang sangat menakutkan itu bisa jadi sedekat ini dengannya. "Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" tanya Ibu Jeni pada anak gadisnya yang akhir-akhir ini terlihat agak aneh. Jeni tak mendengarnya sama sekali. Rupanya gadis kecil itu sedang memikirkan sesuatu. Ia mencoba untuk mengetahui isi hati anak gadisnya itu. Tiba-tiba terdengar ribut-ribut di halaman depan. Ibu Jeni bergegas melangkah keluar rumah. Keingintahuannya pada perubahan Jeni segera teralihkan. "Ada apa ini?" Nada tinggi pertanyaan ibu Jeni segera teralihkan dengan tawa beberapa anak kecil yang berkumpul mengerubungi Ryu. "Oh, ibu pikir ada apa. Ternyata kalian berulah lagi." Ibu Jeni mengusir bocah-bocah kecil itu dan memanggil Ryu untuk masuk ke dalam rumah. Ryu tersenyum gembira. Ibu Jeni memperhatikan ada perubahan pada Ryu namun ia tak terlalu menggubrisnya. Pikirnya, mungkin ia baru saja mandi sehingga tampak bersih. Berbeda dari biasanya. " Ae koka?" Ibu Jeni merasa heran karena anak gadisnya sudah muncul dengan segelas kopi di tangannya. Keningnya berkerut biasanya Jeni pasti sudah bersembunyi ketakutan melihat Ryu. Lelaki terbelakang itu juga dengan sopan menerima segelas kopi dari Jeni. Ibu Jeni menggeleng-gelengkan kepalanya. Dunia memang terkadang menyuguhkan hal-hal di luar nalar. Seketika matanya membulat melihat Jeni dan Ryu saling tersenyum malu-malu. "Kenapa sekarang kau tak lagi takut padanya?" selidik ibu Jeni. Jeni tersenyum, "kami sudah berteman, Mama." "Berteman? Bagaimana bisa?" selidiknya lebih lanjut. "Ryu pernah tolong saya ketika Dargo ganggu saya lagi, Ma!" Penjelasan sang putri membuat ibunya mulai memiliki gambaran tentang konsep pertemanan yang aneh ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD