“Pak Darka!” Aurora kaget melihat Darka sudah berada tepat di depannya. Ya orang itu Darka, pria beberapa hari ini ia hindari.
“Darimana Pak Darka tau alamatku?” pertanyaan itu terus muncul di benaknya.
Selama ini tak ada yang benar-benar tau tentang dirinya, apalagi tempat tinggalnya.
Dan Darka berada di hadapannya. Hal itu membuat Aurora syok ia bahkan tak bisa berkata-kata melihat kedatangan Darka.
“Sejauh apapun kamu pergi, saya bisa menemukanmu Aurora,” ujar Darka dengan seringai jahatnya. Ia tak sadar telah menggenggam erat lengan Aurora.
“Bapak mau apa lagi sih, saya mau masuk,” kesal Aurora berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Darka.
Ia melihat ke sana kemari, di sini sepi dan hanya ada ia dan Darka di depan lobi.
“Mau apa kamu bilang? Kamu lupa status kamu apa, hah! Ayo ikut saya pulang!” hardik Darka menarik tangan Aurora untuk ikut dengannya. Ia sudah tak tahan lagi ingin membawa Aurora ke rumahnya dan menyelesaikan masalah mereka yang tertunda.
“Pulang? Nggak mau, lepas, Pak!” Aurora meronta minta dilepaskan, bahkan beberapa orang yang lewat memperhatikan mereka.
“Lepas!” Aurora berusaha melepaskan diri dari Darka, ia tak mau ikut dengan Darka. Sudah susah payah ia menghindar, tidak mungkin tertangkap basah seperti itu.
“Ikut!” Darka menarik tangan Aurora dengan sangat kuat, bahkan ia tak peduli dengan rontaan maupun teriakan dari Aurora. Ia yakin tangan Aurora membiru bekas tarikannya, sekali lagi Darka tak peduli akan hal itu.
“Tolong!” teriak Aurora kesetanan, ia tak mempunyai jalan lagi selain meminta tolong. Berharap ada orang yang menolongnya, yah walaupun nanti ia tau Darka akan menang melawannya secara Darka adalah suaminya sekarang.
Bugh!
“Akh!” Aurora kaget ada seseorang yang menendang Darka membuat Darka jatuh terkapar ke lantai. Ia juga hampir terjatuh, beruntung ada seseorang yang menahan bobot tubuhnya.
“Aish!” Darka mengumpat kesal melihat beberapa orang berdiri di depannya dan Aurora ada di tengah-tengah mereka.
“Kalian!” Aurora baru menyadari siapa mereka.
Ia maju ke depan untuk melerai pertengkaran itu, sebelum terjadi hal yang lebih serius.
“Stop!” teriak Aurora melerai pertengkaran mereka.
“Kami akan melindungi anda, Nona,” ujar salah satu dari mereka.
Aurora memejamkan mata mendengar suara itu, ia lupa para pengawal sialan ini selalu saja mengawasinya di apartemen.
“Tidak-tidak, pria ini bukan orang jahat,” kata Aurora berusaha melindungi Darka dari para pengawal. Bisa panjang urusannya kalau sampai pengawal itu menyerang keluarga Danaswara.
“Dia suami saya, jadi kalian tak usah khawatir,” ujar Aurora, ia terpaksa jujur agar pengawal itu tak menyerang Darka lagi.
Apalagi sampai keluarga Darka terlibat, itu akan sangat kacau. Siapa yang tak mengenal sehebat apa kekuasaan keluarga Danaswara di negara itu.
“Suami?” Pak Teo yang baru saja datang kaget mendengar hal itu.
“Iya Pak, anda tidak usah khawatir,” balas Aurora mencoba menyunggingkan senyum manis agar orang-orang berbadan tegap di depannya itu percaya dengan aktingnya.
Hal itu tak luput dari perhatian Darka, Darka mengamati setiap orang yang ada di depannya itu, Ia semakin penasaran siapa mereka, dan apa hubungannya dengan Aurora.
“Anda yakin, Nona?” tanya Pak Teo lagi, tak percaya dengan perkataan Aurora.
“Iya, Pak. Tadi hanya pertengkaran kecil kami, iya kan, sayang?” Aurora memberi kode ke Darka untuk berakting bersamanya.
Darka sempat terdiam, namun ia mengerti apa yang dimaksud Aurora.
“Ya,” balas Darka menggunakan nada datar.
“Datar banget sih, mudah-mudahan mereka percaya,” batin Aurora, menunggu reaksi dari para pengawal.
“Sudah ya, kami masuk dulu,” ujar Aurora, mengandeng tangan Darka untuk segera masuk ke dalam apartemennya. Ia sengaja melakukan hal itu agar para pengawal itu percaya.
Darka masih menerka-nerka apa yang terjadi sekarang, ia tau pengawal itu bukan orang sembarang. Begitupun Aurora, dilihat dari apartemen yang berada di kawasan elit khusus pengusaha kelas atas dan para pejabat.
“Siapa mereka?” tanya Darka di sela-sela perjalanan mereka, sampai detik itu Aurora masih mengandeng tangannya.
“Huf …” Aurora bernapas lega saat mereka telah berada di dalam lift, itu artinya para pengawal itu tak akan mengikuti mereka masuk.
“Jawab Aurora, siapa mereka!” kesal Darka, sedari tadi Aurora tak mengindahkan ucapannya, padahal ia penasaran setengah mati.
“Bapak nggak perlu tau,” ucap Aurora keluar dari lift, mereka berada di depan pintu apartemen Aurora. Hanya ada beberapa unit di atas sini.
“Saya harus ta—“ Perkataan Darka terpotong dengan ucapan Aurora.
“Tunggu, Bapak kenapa ikut masuk?” tanya Aurora, ia baru menyadari Darka mengikutinya.
“Jangan main-main dengan saya Aurora! Kamu harus ikut saya!” bentak Darka, ia baru mengingat apa tujuannya ke sini.
Aurora menghela napas mendengar hal itu. Mereka berada tepat di depan pintu apartemen Aurora. Darka menghapal nomor apartemen Aurora mempermudahkan dirinya untuk masuk nanti.
“Sudah ya, Pak. Kita sudahi akting ini, jadi silakan pergi ….” Aurora bahkan mempersilakan Darka pergi secara terhormat daripada ia memanggil satpam untuk mengusir Darka dari sini.
“Kita perlu bicara,” ujar Darka sambil mengangkat tangan Aurora menempelkan sidik jari perempuan itu untuk membuka pintu apartemen.
Bahkan Aurora tak sadar tangannya sudah digenggam oleh Darka.
“Apa itu tadi?” Mata Aurora terbelalak kaget dengan tindakan spontan dari Darka, bahkan ia tak menyadari Darka sudah masuk ke dalam apartemennya.
“Ehhh … Pak Darka!” Aurora berlari mengikuti Darka dari belakang, mencegah Darka untuk masuk lebih dalam ke apartemennya.
“Pak …” Semuanya terlambat saat ia melihat Darka sudah berdiri di ruang tamunya.
“Saya baru tau, apartemen kamu sudah seperti tempat pengungsian,” sarkas Darka melihat situasi apartemen Aurora yang tak bisa dikatakan rapi.
Baju berserakan di mana-mana, sampah bekas kaleng minuman dan makanan masih rapi di atas meja, beruntung Darka tak mencium bau minuman keras. Tak hanya itu saja ada beberapa makanan yang membusuk di tempat sampah.
Darka beralih melihat ke arah dapur yang tak jauh dari ruang tamu, banyak piring kotor yang menggunung. Darka bahkan tak sudi menginjak kaki di lantai apartemen Aurora.
“Sial!” Aurora mengumpat kesal melihat pandangan jijik Darka menatap ke sekeliling apartemennya.
“Kamu betah tinggal di tempat sampah?” tanya Darka, melihat keadaan apartemen Aurora sangat memprihatinkan.
“Sebaiknya kita bicara di cafe,” kata Aurora tak tahan melihat tatapan Darka yang menatap apartemennya dengan tatapan jijik.
Aurora sedikit tersinggung dengan hal itu.
“Di sini saja,” ujar Darka, perlahan melangkah menuju sopa yang ada di ruang tamu sembari membereskan beberapa baju Aurora yang menghalangi langkahnya. Ia juga memasukkan beberapa sampah makanan yang ada di atas meja ke dalam tempat sampah.
“Di sini?” Aurora menatap sekeliling apartemennya, ia rasa Darka tak menyukai apartemennya. Lalu kenapa pria itu mengajaknya mengobrol di sini.
“Tidak-tidak, kita keluar saja.” Aurora masih kekeuh ingin pergi dari apartemennya. Ia tak mau Darka tau lebih dalam tentang hidupnya.
Selama ini kecuali keluarga tak ada yang ia perbolehkan datang ke apartemennya. Dan Darka satu-satunya orang luar yang masuk ke dalam apartemen Aurora.
“Kita tak punya banyak waktu Aurora, di sini saja!” tekan Darka pada setiap perkataannya. Darka sudah duduk dengan nyaman di sopa ruang tamu Aurora.
Aurora menghela napas mendengar penuturan Darka. Tentu saja ia selalu kalah berdebat dari Darka, Darka akan tetap pemenangnya.
***
“Jadi … mau ngomong apa?” tanya Aurora langsung pada intinya, bahkan ia tak menawarkan minuman ke Darka.
“Kamu harus ikut saya pulang, keluarga saya menunggu kamu,” ujar Darka, ia tak mau berbasa-basi lagi.
Aurora harus pulang bersamanya dan menjadi istrinya, bukan hanya paksaan dari nenek. Tapi dengan hadirnya Aurora bisa membuat dirinya berhenti dijodohkan dengan Nadine. Darka tak suka dengan wanita bemuka dua itu.
“Pulang? Ikut bersama, Bapak?” Aurora tak habis pikir dengan perkataan Darka, apa Darka tak faham perkataan Aurora saat mereka di dalam mobil? Ia rasa ia sudah cukup jelas mengatakan tak ingin bersama Darka.
“Ya, tentu saja,” jawab Darka dengan nada dingin seperti biasa.
“Nggak mau,” balas Aurora dengan nada menantang, ia bahkan membuang muka saat mengatakan hal itu.
“Kamu bilang apa? Nggak mau?” Darka menatap wajah Aurora dengan tatapan tak terbaca, ia terus menatap Aurora masih dengan wajah datarnya itu. Lalu ia mengalihkan tatapannya ke sekeliling, tatapannya terhenti saat melihat tali yang ada di sudut ruangan.
“Saya katakan sekali lagi, ikut dengan saya Aurora!”