Darka masih menatap Aurora dengan tatapan datar, pikirannya berkelana jauh saat memikirkan cara membawa Aurora pergi dari sini. Terlintas di pikirannya untuk mengikat Aurora.
“Udah berapa kali aku bilang sih Pak, aku nggak mau!” kata Aurora mengalihkan tatapannya, kali ini ia menatap ke arah Darka.
“Astaga! Tatapan apa itu,” batin Aurora melihat Darka menatapnya dengan tatapan menyeramkan, seperti psikopat yang akan mengeksekusi mangsanya.
Rahang yang tegas, mata yang tajam setajam pisau yang siap menusuk Aurora kapan saja. Aurora baru kali ini melihat tatapan itu.
“Apa yang terjadi dengan Pak Darka? Tatapan apa itu?” Aurora bertanya-tanya di dalam hatinya, sungguh ia takut sekaligus penasaran apa arti tatapan Darka.
“Coba ulangi lagi?” tanya Darka, pria itu berdiri dari duduknya. Ia berjalan ke depan bukan ke tempat Aurora duduk, tapi ke ujung ruangan yang berdekatan dengan dapur.
Perlahan ia berjalan, tak sedikitpun ia menatap ke arah Aurora.
Sedangkan Aurora was-was melihat Darka berdiri, ia mundur beberapa langkah. Namun, ia kaget ternyata Darka berjalan ke arah dapur, Aurora bingung apa yang dilakukan pria itu.
Aurora masih memperhatikan pergerakan Darka, tak sedikitpun ia mengalihkan tatapannya Ia harus waspada apa yang akan dilakukan Darka selanjutnya.
“Tali? Untuk apa?” tak sengaja ucapan itu keluar dari mulut Aurora, ia segera menutup mulut dengan kecerobohannya. Sedangkan Darka menatap Aurora dengan tatapan tajam mendengar perkataan itu
“Oh Tuhan! Apa ini,” batin Aurora mengalihkan tatapannya untuk tak melihat Darka lagi. Ia terlalu takut melihat tatapan tajam nan menusuk dari Darka.
Tanpa Aurora sadari, Darka bergerak mendekat ke arahnya. “Kamu tak bisa menolak lagi Aurora,” ujar Darka dengan nada dingin dan datar sangat datar tak seperti biasanya, bahkan terdengar menyeramkan di telinga Aurora.
“Aku nggak ma—“ Belum sempat Aurora berbicara, ia dikejutkan dengan Darka yang sudah berdiri tepat di sampingnya.
“Pak Darka ngapain?” tanya Aurora was-was saat melihat Darka membawa tali, tatapannya masih tajam.
“Pulang!” tekan Darka pada setiap perkataannya, sambil memainkan tali di tangannya.
Aurora mundur perlahan melihat hal itu, ia rasa ada yang berbeda dari Darka. Tak seperti Darka yang ia kenal.
“Saya nggak punya banyak waktu, Aurora. Ikut saya pulang atau …” Darka menghentikan aktifitasnya ia melirik ke bawah tepat di tali yang ia pegang.
Tatapannya masih sama, masih menakutkan di mata Aurora.
Aurora masih diam tak menjawab sedikitpun perkataan dari Darka, ia masih menebak apa yang akan dilakukan Darka dengan tali itu. Berbagai pikiran buruk terlintas di benaknya.
“Ikut saya pulang … Aurora!” ujar Darka, pria itu beralih mengenggam tangan Aurora dengan lembut tapi tersirat ancaman di sana.
“Akh!” Aurora kaget bukan main saat tangannya digenggam oleh Darka. Ia tak berani melepaskan genggaman itu, toh Darka juga tak melakukan kekerasan terhadapnya. Malah Darka mengelus dengan lembut tangan Aurora.
Aurora masih diam, ia memikirkan cara yang paling tepat agar Darka tak marah.
“Ok, ok sepertinya kita harus membicarakan hal ini,” ujar Aurora, ia menemukan ide brilian untuk permasalahan mereka.
Darka memicingkan mata saat Aurora mengatakan hal itu, ia tak percaya dengan perkataan Aurora seakan tatapan Darka mengatakan ‘Kamu tak sedang berbohong kan?’ begitulah arti tatapan Darka.
“Aku serius, Pa. Kita bicarakan hal ini secara baik-baik,” ujar Aurora mencoba bernegosiasi dengan Darka. Ia berharap semoga saja Darka mau.
Darka terlihat memikirkan perkataan Aurora, sedangkan Aurora was-was menunggu jawaban dari Darka.
“Baiklah,” ujar Darka setelah beberapa detik ia berpikir.
“Syukurlah, Pak Darka mau. Tapi ada apa dengan Pak Darka? Kenapa tatapannya begitu?” Aurora bertanya-tanya di dalam hatinya, ia baru tau Darka memiliki sisi yang menyeramkan seperti tadi.
***
“Saya tak mau menikah kontrak Aurora!” Darka tiba-tiba kesal, dengan perkataan Aurora. Bisa-bisanya Aurora mengajaknya menikah kontrak. Tentu saja Darka marah dibuatnya.
“Pak, pernikahan kita sebuah kesalahan. Ini harus segera diakhiri,” ujar Aurora masih kekeuh ingin mereka pisah. Seharusnya pernikahan mereka tak terjadi, Aurora masih ingin hidup bebas dan ingin menikmati masa mudanya lebih lama lagi.
“Saya tau ini kesalahan, tapi ini sudah terjadi Aurora. Kita akan tetap melanjutkan pernikahan ini, keluarga saya sudah tau kita berdua telah menikah,” balas Darka, ia mencoba menjelaskan perlahan situasinya ke Aurora. Pernikahan mereka memang sebuah kesalahan, tapi bukan berarti tak bisa diperbaiki bukan.
“Mau melanjutkan bagaimana, Bapak!” Aurora mengacak rambut, frustasi dengan perkataan Darka. Lebih sulit berbicara dengan Darka dibandingkan dengan pengawal yang selalu berjaga di depan apartemennya.
“Tinggal lanjutkan Aurora, itu saja susah! Saya tau kamu belum siap menikah, tak apa saya akan tunggu. Tapi kita harus tetap menjalani kehidupan suami istri sebagaimana semestinya,” jelas Darka panjang lebar, ia menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami agar otak Aurora bisa memproses setiap perkataannya.
“Suami istri?” tanya Aurora menegaskan hal itu. Ia menjadi berpikir negatif mengenai hal itu.
“Ya, tentu saja. Kamu ngurus saya, masakin saya makan, nyambut saya pulang kerja, bukankah itu tugas istri?” tanya Darka dengan nada enteng, bahkan Darka tampak menyilangkan kakinya sambil menyuruput minuman.
Aurora heran sejak kapan Darka mengambil minuman, ia tak menyadari hal itu.
“Itu saja?” tanya Aurora memastikan, ia was-was mana tau Darka meminta lebih.
“Ya, tentu saja, jangan-jangan kamu mikirnya …” Darka menyadari satu hal, ia tau kemana arah pikiran Aurora. Untuk wanita sebebas Aurora, tentu saja pernah melakukan itu bukan? Darka tak yakin Aurora masih segel.
“Apa?” tanya Aurora, wajahnya merah padam mendengar perkataan Darka apalagi tatapan Darka seperti sedang mengejeknya.
“Nggak ada. Ya, tugas kamu itu aja,” jawab Darka, ia tak tau perempuan di hadapannya ini sedang salting. Tak ingin membuat Aurora lebih malu lagi, ia memutuskan mengakhiri pembicaraan mereka.
“Ok, setuju,” ujar Aurora menyetujui perkataan Darka, kalau hanya itu saja Aurora juga setuju. Hal mudah baginya untuk masak dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.
Kadang ia hanya malas saja mengerjakakan pekerjaan rumah bukan ia tak bisa. Aurora bukanlah anak manja yang selalu dilayani oleh pelayan, tentu saja ia mengerjakan sendiri pekerjaan rumah dan memasak.
“Ok, bereskan barang kamu, kita tinggal di rumah saya,” kata Darka ingin berdiri menuju kamar Aurora. Namun, pergerakannya terhenti dengan perkataan Aurora.
“Ehh Pak, satu lagi,” kata Aurora menghentikan pergerakan Darka.
“Apa lagi, Aurora!” Darka memijit kening, ia terlampau kesal dengan keras kepala Aurora.
“Aku ingin kita tetap tinggal di apartemen ini,” kata Aurora, ia harap-harap cemas menunggu jawaban dari Darka. Ia sangat berharap Darka menyetujui permintaannya.
Darka menatap Aurora dengan tatapan bertanya, ia menjadi penasaran kenapa Aurora ingin dirinya tinggal di sini.
“Ok,” balas Darka, tak banyak bertanya.
“Tapi … orang-orang di depan tadi siapa?” tanya Darka, ia baru ingat Aurora belum menjawab pertanyaannya yang itu.
Aurora kaget mendapati pertanyaan seperti itu.