“Mereka?” Aurora balik bertanya.
“Iya, siapa mereka?” tanya Darka lagi, ia ingin tau siapa yang menahannya di depan tadi. Tampaknya mereka tak asing.
“Dan … apa perlu saya menemui orangtuamu untuk menjelaskan situasi kita?” tanya Darka dengan nada serius.
Aurora tercengang mendengar penuturan itu, ia tak berpikir tentang hak itu. Toh keluarganya tak peduli padanya.
“Tak perlu,” balas Aurora, berjalan menuju kamarnya. Mood-nya berubah jelek saat Darka membahas orangtuanya.
“Pak Teo sudah tau, itu artinya mereka juga akan tau,” batin Aurora berdiri tepat di kaca wastafel.
Banyak hal yang Aurora pikirkan, salah satunya bagaimana nasib pernikahannya dengan Darka.
Tak ingin memikirkan hal itu lagi, ia langsung saja membersihkan wajah agar Darka tak menungggu terlalu lama.
***
“Akhirnya, ya, tempat ini layak ditinggali oleh manusia,” ujar Darka saat melihat apartemen Aurora tampak bersih dan rapi berbeda dari pertama kali ia datang.
Aurora yang sedang menuang minuman pun menghentikan aktvitasnya. Ia menatap tajam ke arah Darka yang berada tak jauh darinya.
“Ini!” Aurora meletakkan minuman dengan kasar tepat di depan Darka.
Darka menyeringai melihat hal itu, ia sangat bahagia melihat wajah Aurora yang menatapnya dengan tatapan kesal. Itu yang ia inginkan.
“Terimakasih,” balas Darka dengan nada mengejek sembari meneguk minuman yang telah disiapkan Aurora untuknya.
Aurora masih menatap Darka dengan tatapan kesal, apalagi memikirkan perkataan Darka yang mengatai apartemennya tempat sampah, itu sangat melukai harga diri Aurora.
“Tahan Aurora, dia suamimu. Dia punya kuasa atasmu, sebaiknya kamu mengalah dari orang tak tau malu seperti Pak Darka,” batin Aurora, menarik napas pelan meredakan amarahnya.
Jangan sampai amarahnya meledak menciptakan kekacauan. Ini saja sudah kacau, Aurora tak akan menambah kekacauan lagi.
“Aku bukannya tak suka bersih-bersih, tapi akhir-akhir ini moodku buruk. Itu juga gara-gara Bapak!” Aurora membela dirinya, ia tak mau Darka mengangapnya pemalas, padahal Aurora sering membersihkan rumah.
Ia hanya memanggil pembantu langanannya untuk datang setiap minggu, seperti tadi.
“Ya, ya, anggap saja begitu,” kata Darka berjalan ke arah kamar. Aurora dibuat kaget dengan tingkah Darka.
“Bapak mau ke mana, itu kamar aku!” Aurora mencegat langkah Darka untuk tak masuk ke dalam kamarnya. Itu privasinya tak ada satupun orang yang ia izinkan untuk masuk ke dalam kamarnya.
“Berarti saya ke kamar yang benar dong,” balas Darka, tak menghiraukan perkataan Aurora.
“Pak Darka!” Aurora kembali mengejar Darka.
“Apalagi Aurora! Saya capek mau istirahat.” Darka kesal dibuatnya, sudah tau ia lelah Aurora masih saja menganggunya.
“Ya, itu kamar aku. Bapak nggak boleh masuk.” Aurora masih mencoba menahan Darka agar tak masuk ke dalam kamarnya.
Darka memejamkan mata dengan tindakan Aurora, apa wanita itu lupa statusnya di hidup Darka.
“Kita suami istri Aurora, jelas saya akan tinggal di kamarmu,” balas Darka berusaha tenang menghadapi sikap kekanakan Aurora.
Aurora belum bisa menerimanya sepenuhnya, ia tau akan hal itu. Tapi apa salahnya mencoba bukan, mana tau mereka cocok dan bisa melanjutkan pernikahan itu.
“Sudah ya, saya lelah dan ingin tidur,” ujar Darka berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri. Malam ini Darka hanya ingin tidur dengan tenang.
“Aish!” umpat Aurora, ia terpaksa mengalah demi kesehatan mentalnya. Lama-lama ia juga lelah berdebat dengan Darka.
***
Terlihat Darka sudah selesai membersihkan diri. Ia duduk di tepi ranjang sambil membaca buku yang ia bawa dari rumahnya. Tadi sekretarisnya sempat datang membawa beberapa barang. Mungkin besok ia akan membawa semua barangnya ke apartemen Aurora.
Tak lama, terdengar seseorang yang sedang membuka pintu kamar mandi. Hal itu tak luput dari penglihatan Darka. Dari kejauhan Darka melihat Aurora yang sedang mengeringkan rambut.
Rambut Aurora lumayan panjang dan lebat, ia yakin Aurora pasti merawat rambutnya dengan baik. Tak hanya itu saja, Darka juga melihat wajah Aurora tanpa make-up tebal yang sering dipakai wanita itu.
“Dia cantik tanpa make-up tebal,” batin Darka melihat jelas wajah cantik Aurora tanpa make-up. Bahkan lebih cantik tak memakai make-up.
“Pak!” panggil Aurora untuk kesekian kalinya.
“Apa?” tanya Darka tanpa rasa bersalah sedikitpun.
“Aku manggil Bapak dari tadi, Bapak mikirin apa sih. Sampai melamun gitu?” tanya Aurora ia cukup kesal karena Darka tak menyahut panggilannya.
“Nggak ada,” jawab Darka kembali fokus ke buku yang ia baca.
“Darka, ingat. Aurora hanya istri sementaramu. Nanti setelah nenek melupakan perjodohanmu dengan wanita tak jelas itu, kamu bisa bercerai dari Aurora,” batin Darka berusaha mengingatkan dirinya agar tak terpengaruh dengan kecantikan Aurora.
Toh ia menikahi Aurora, bukan hanya untuk bertangung jawab saja, tapi untuk menggagalkan rencana nenek untuk menjodohkanya dengan Nadine.
“Setidaknya, Aurora bukan wanita cerdas. Jadi aku dengan mudah mengendalikannya,” batin Darka dengan pikiran jahatnya.
Darka akan memanfaatkan pernikahan mereka dengan sebaik mungkin, untuk menghindari Nadine. Setidaknya sampai ia tau apa niat Nadine masuk ke keluarganya.
“Lah bengong lagi,” ujar Aurora. Padahal ia sudah menjelaskan panjang lebar tapi Darka tak menyimak perkataannya.
“Kamu ngomong apa?” tanya Darka tersadar dari lamunan panjangnya.
Aurora menghela napas panjang, terpaksa ia menjelaskan sekali lagi.
“Jadi begini … aku tau pernikahan kita bukan didasari cinta, aku tau juga Bapak pasti tak menginginkan pernikahan ini begitupun aku. Jadi, sebaiknya kita menjaga jarak sejauh mungkin. Bapak dengan hidup Bapak, saya dengan hidup saya,” jelas Aurora panjang lebar, ia sudah memikirkan dengan matang masalah pernikahan mereka.
Darka menatap Aurora dengan tatapan tak terbaca. Tak ada yang bisa menebak ekspresi apa yang ditunjukkan Darka.
“Saya tak setuju.” Darka menjawab dengan tegas perkataan Aurora. Entah kenapa itu bukan usulan yang bisa ia setujui. Ia merasa akan susah mengendalikan Aurora jika mereka berjauhan.
Auora memicingkan mata dengan perkataan Darka, kenapa bisa Darka tak setuju. Bukankah pernikahan mereka hanya sandiwara, ia juga tak menganggap pernikahan ini serius.
“Pak Darka, itu yang terbaik untuk kita berdua. Aku nggak mau terlalu terikat dengan Bapak,” ujar Aurora, tanpa sadar ia sedang mengutarakan isi hatinya.
Sama halnya dengan Darka, Aurora juga merasa pernikahan mereka adalah sebuah kesalahan. Tak seharusnya mereka bertindak seperti suami istri pada umumnya. Suatu saat nanti Aurora yakin mereka juga akan berpisah.
“Kamu pikir ini sebuah drama pernikahan kontrak, Aurora? Nggak ya, pokoknya saya nggak setuju, kamu istri saja dan akan tetap seperti itu,” tegas Darka menatap Aurora dengan tatapan tajam. Terlihat jelas dari matanya, ia kesal dengan perkataan Aurora.
Darka juga tidak tau kenapa ia kesal seperti tadi.
“Lalu, Bapak mau apa?” tanya Aurora, mungkin ia bisa mendengarkan dari sudut pandang Darka.
“Kita jalani saja kehidupan rumah tangga ini, seperti biasa,” ujar Darka masih dengan nada dingin dan datarnya.
“Pak Darka, tolong mengerti aku juga punya kehidupan lain sebelum Bapak datang. Kita berdua dua orang yang sangat berbeda, mana mungkin bisa hidup satu atap begini,” jelas Darka, ia berusaha keras agar Darka setuju dengan keinginannya.
Darka memejamkan mata mendengar penuturan Aurora. Sudah cukup ia mendengar ocehan tak bermutu dari Aurora.
“Sudah, ya. Saya mau tidur, besok kita harus ke kampus,” tekan Darka pada setiap perkataannya.
Darka benar-benar lelah hari ini, ia ingin segera mengistirahatkan diri agar besok bisa mengajar dengan tenang di kelas. Setidaknya ia tak perlu memikirkan perjodohan itu lagi.
“Pak!” Aurora menghentakkan kaki kesal melihat Darka tak memperdulikan perkataanya. Ia kesal setengah mati melihat Darka tidur dengan nyaman di ranjangnya.
“Aku tidur di mana? Mending Bapak tidur di sopa deh,” imbuh Aurora, menarik selimut yang menutupi tubuh Darka dengan kasar.
“Ribet, kamu tidur di sebelah saya saja,” ujar Darka menepuk tempat di sebelahnya.
“Tidur di sebelah, Bapak?” tanya Aurora kaget dengan perkataan Darka, tak pernah terpikir di benak Aurora untuk tidur seranjang dengan Darka.
“Ya,” jawab Darka dengan mata terpejam.
Aurora mengelengkan kepala memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk di otaknya.
Darka adalah orang dewasa, begitupun dengan dirinya. Apakah pantas dua orang dewasa tidur di ranjang yang sama?
“Mikirin apa lagi? Toh saya juga sudah melihat tubuhmu, untuk apa takut.” Ucapan prontal dari Darka membuat pipi Aurora memerah, ia tak menyangka seorang Darka yang terkenal galak bisa seprotal itu dalam berbicara.
Sedangkan Darka menyeringai dengan mata yang masih terpejam. Entah kenapa ia bisa merasakan Aurora salah tingkah saat ia mengatakan hal itu, walaupun tak melihat langsung ia yakin Aurora sedang malu dengan perkataannya.
“Pak Darka!” batin Aurora, ia tak bisa menyembunyikan wajah merahnya saat mendengar perkataan Darka. Ia malu sangat malu.
“Ak- ehh Pak!”