Bab 8. Kelas Pertama Bersama Darka

1219 Words
Darka menarik tangan Aurora agar ikut berbaring bersamanya, sungguh ia tak tahan lagi mendengar ocehan Aurora. Selagi Aurora terbangun, ia tak bisa tidur dengan tenang. Lebih baik ia paksa saja wanita itu untuk tidur dengannya. “Euhh….” Darka mendekap Aurora ke dalam pelukannya, laki-laki itu mengunci tubuh Aurora dengan kakinya agar Aurora tak bisa pergi. “Pak Darka!” Aurora berusaha melepaskan diri dari pelukan Darka, rasanya tak nyaman berada dekat dengan Darka. Aurora saja sampai menahan napas karena ulah Darka. “Apa yang pria tua ini lakukan,” batin Aurora, ia mencoba untuk melihat ke samping ke arah Darka yang sedang tertidur. Perlahan Aurora mengendarkan pandangannya ke samping, ya, benar dugaannya. Wajah Darka sangat dekat dengannya, jika ia bergerak sedikit saja maka pipi mereka akan bersentuhan, Aurora tak ingin itu terjadi. “Tidurlah, ini sudah malam.” Darka berbisik tepat di telinga Aurora, ia tau Aurora tegang dengan posisi mereka. Tapi Darka tak memperdulikan hal itu, entah kenapa ia merasa nyaman dengan posisi sekarang. Ada sesuatu di diri Darka tak ingin melepaskan Aurora. “Apa ini? Kenapa aku merasa nyaman?” Darka bertanya-tanya di dalam hatinya. Tapi tetap ia tak mau melepaskan pelukan mereka. “Pak, tapi nggak gini juga.” Aurora berkata dengan nada pelan, ia tak lagi memberontak malah Aurora mencoba membujuk Darka agar melepaskan pelukan mereka. Hening, tak ada jawaban dari Darka. Beberapa menit Aurora menunggu Darka tak menjawab perkataannya. “Tak mungkin Pak Darka tidur, kan?” Aurora bertanya-tanya di dalam hatinya, ingin sekali ia menoleh, tapi takut wajahnya tambah merah. “Bagaimana ini, aku tak bisa tidur dalam situasi seperti ini,” batin Aurora berteriak, sungguh ia tak bisa tidur dengan tenang jika Darka masih memeluknya. *** Matahari bersinar terang menembus celah-celah gorden. Terlihat Aurora masih tertidur pulas di atas ranjang yang empuk. Tidak ada tanda-tanda wanita itu akan bangun dari tidur indahnya. Tiba-tiba saja ponselnya berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Aurora meraba-raba meja nakas untuk mencari letak ponselnya. “Ya?” tanya Aurora dari balik ponsel. “Kamu di mana, Aurora, sebentar lagi kelas di mulai.” “Kelas?” Aurora masih linglung tak mengerti apa yang diucapkan lawan bicaranya. Ia terdiam sebentar mengumpulkan nyawa, berusaha mengerti apa yang dikatakan temannya tadi. “Kelas! Ok aku otw kampus.” Aurora tiba-tiba panik saat mengingat pagi ini mereka ada kelas dengan Darka. Darka dosen galak yang sangat Aurora hindari, sebiasa mungkin ia hadir saat Darka mengajar. “Tunggu … Pak Darka?” Aurora mengingat satu hal, bukankah pria itu tidur bersamanya malam tadi. Lalu … “Pak Darka sialan! Kenapa nggak bangunin aku sih!” kesal Aurora baru menyadari Darka sudah tak ada di sampingnya. Darka benar-benar menjebaknya kali ini, apa salahnya membangunkannya bukan. “Awas saja nanti,” batin Aurora dengan cepat mencuci wajahnya, sepertinya mandi bukan pilihan yang tepat. Ia memilih untuk mencuci wajah saja dan berdandan ala kadarnya untuk ke kampus. *** “Aurora, cepat!” teriak Cantika dari ujung koridor, satu menit lagi kelas akan segera dimulai. Dan Darka tak akan menolerensi mahasiswa yang telat walaupun itu cuma satu menit saja. Aurora berlari dengan sekuat tenaga, bahkan ia beberapa kali menabrak orang-orang yang berlalu lalang di koridor. “Ouh … akhirnya,” imbuhnya saat ia sudah duduk manis di kursi. Di sana ada Cantika dan Dara juga. “Menyusahkan orang saja,” ujar Dara dengan nada kesal, wanita itu mengalihkan tatapannya yang awalnya menatap Aurora kini menatap papan tulis di depan. “Hah?” Aurora maupun Cantika saling pandang, mereka bingung untuk apa Dara marah karena Aurora telat. Toh tak merepotkan Dara juga, yang ada Cantika yang ia repotkan dari pagi tadi. “Kenapa memangnya, Dar? Apa aku nganggu kamu?” tanya Aurora, ia ingin tau apa kesalahannya yang membuat Dara tiba-tiba marah tanpa sebab. “Kamu udah buat Alv—“ Perkataan Dara terputus dengan datangnya Darka. “Pak Darka udah datang.” Cantika mengentrupsi mereka untuk melihat ke depan, bisa bahaya kalau mereka mendapatkan hukuman dari Darka. “Pak Darka ganteng banget deh.” “Pak Darka terlalu sempurna.” “Pasti yang jadi istri Pak Darka beruntung banget.” “Ehh, tumben Pak Darka telat. Ini udah lima menit lho.” Kira-kira begitulah celotehan-celotehan yang Aurora dengar. Ia menjadi berpikir lagi, dengan perkataan terakhir temannya tadi. Ia dengan cepat-cepat mengecek jam yang ada di tangannya, dan benar saja Darka bahkan sudah terlambat lebih lima menit. “Seorang Pak Darka terlambat?” Aurora bertanya-tanya di dalam hatinya. Rasanya itu hal yang tidak mungkin dari seorang Darka. Pergerakan Aurora tak luput dari penglihatan Darka, dari awal Darka masuk kedua bola matanya sudah terpokus ke Aurora. Tak sedikitpun ia melirik ke arah mahasiswai lain. “Ok semua, selamat pagi,” sapa Darka memulai kelas hari ini. Semuanya masih sama, Darka memakai kacamata andalannya saat di kelas, dengan satu pengaris di tangannya. Darka juga sering mengajar menggunakan papan tulis, katanya itu lebih efektif daripada hanya menjelaskan melalui slide power point saja. “Pagi, Pak,” jawab mereka semua. Semua orang sangat bersemangat saat di kelas, tapi tidak dengan tugas yang akan diberikan Darka nanti. “Kumpulkan makalah yang sudah kalian buat,” ujar Darka mengetrupsi mereka untuk mengumpulkan makalah. Aurora terperanjat kaget mendengar intruksi dari Darka, ia bahkan tak ingat kapan Darka memberikan tugas makalah. “Makalah apa, Can?” tanya Aurora panik, karena dirinya tak membuat makalah tersebut. “Itu, pas pertemuan terakhir. Kamu nggak bikin?” tanya Cantika, ia rasa Aurora juga hadir di kelas Pak Darka dua minggu yang lalu. Aurora mengelengkan kepala menanggapi perkataan Cantika. Sungguh ia lupa dengan tugas itu, padahal Pak Darka memberi mereka tenggang waktu dua minggu untuk mengerjakan makalah. Tapi Aurora dengan bodohnya tidur dengan tenang malam tadi. “Mati deh, Aurora!” Cantika juga ikut panik saat tau Aurora tak membuat tugas. Semua orang sibuk mengumpulkan makalah, hanya Aurora yang sedang bersembunyi di balik tubuh Cantika. Takut Darka akan menghukumnya sekarang juga. Hal itu tak luput dari penglihatan Darka, Darka menyeringai mengetahui hal itu. Ia tau Aurora tak membuat makalah itu, ia pun tak ada niatan untuk mengingatkan Aurora. Lebih tepatnya Darka sengaja ingin menghukum Aurora nanti. Ia masih kesal pada saat itu Aurora tak datang menemuinya padahal ia sudah menunggu tiga jam. “Kena kamu, sayang …,” batin Darka menyeringai menatap Aurora yang sedang bersembunyi di balik tubuh Cantika. “Ini siapa yang belum mengumpulkan tugas?” tanya Darka, lebih tepatnya pura-pura bertanya ia sudah tau Aurora lah yang tak mengumpulkan tugas. “Pak Darka! Pasti dia sengaja, padahal dia bisa ingatin aku malam tadi!” batin Aurora mengepalkan tangan menatap Darka dengan tatapan marah. “Siapa?” tanya Darka lagi. Aurora memejamkan mata sebelum mengangkat tangan. “Saya Pak,” jawab Aurora sambil mengangkat tangan. Semua pasang mata fokus ke arah Aurora, tak heran lagi. Aurora selalu saja tak mengerjakan tugas bahkan sampai berhari-hari tak masuk kelas. “Ke ruangan saya nanti” perintah Darka dengan nada dingin dan datarnya. Setelah mengatakan hal itu ia langsung saja melanjutkan materi yang tertunda. “Pak, saya ingin bertanya,” kata salah satu mahasiswa. “Ya?” tanya Darka berbalik menghadap kembali ke arah mahasiswa. “Saya dengar-dengar Bapak sudah menikah, apakah benar itu Pak?” tanyanya. Aurora yang awalnya kesal, tiba-tiba panik mendengar penuturan itu. Ia perlahan mengangkat kepala menatap ke arah Darka yang juga sedang menatap ke arahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD