Mereka saling bertatapan, Darka dengan tatapan datar dan Aurora masih panik jika sampai Darka jujur tentang hubungan mereka. Aurora tau Darka tak masalah hubugan mereka diketahui banyak orang, sedangkan Aurora ia tak mau ada yang tau hubungannya dengan Darka.
“Jangan sampai Pak Darka jujur, kalau akulah istrinya,” batin Aurora. Ia was-was kalau sampai ada yang tau hubungannya dengan Darka. Kehidupan damai di kampus akan musnah.
“Ya, saya sudah menikah,” ujar Darka dengan nada serius, Darka masih menatap datar ke arah Aurora. Tak sedikitpun ia mengalihkan tatapannya. Entah kenapa ia ingin mengakui hubungannya dengan Aurora di hadapan semua orang. Darka rasa tak ada yang harus disembunyikan.
Hampir semua mahasiswa terkejut mendengar penuturan itu, mereka berbisik-bisik dan saling menebak siapa yang mejadi istri Darka.
“Pak Darka sudah menikah ternyata.”
“Pantasan dalam minggu ini Pak Darka nggak ke kampus.”
“Aku penasaran siapa istri Pak Darka.”
“Pak Darka nggak boleh nikah, hanya aku yang menjadi istri Pak Darka!”
Begitulah celotehan-celotehan yang Aurora dengar. Apalagi mendengar perkataan terakhir temannya, Aurora menjadi gugup. Bagaimana kalau ia ketahuan menjadi istri Darka, ia tak mau kehidupan damai di kampus menjadi terusik dengan status sebagai istri Darka.
Semua pergerakan Aurora tak luput dari penglihatan Darka, pria itu memperhatikan lekat apa yang dilakukan Aurora, perubahan ekpresinya, gerak-geriknya. Sampai ia menyadari Aurora ketakutan mendengar celotehan temannya.
“Siapa istri Bapak? Mungkin kami bisa bersilaturahmi?” tanya salah satu dari mereka.
“Double kill! Jangan sampai Pak Darka jujur,” batin Aurora, memejamkam matanya. Ia pasrah apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Istri saya, ya?” tanya Darka memastikan pendengarannya, bukan lebih tepatnya membuat Aurora takut.
Darka beralih menatap ke arah Aurora, Aurora terlihat panik. Betul dugaannya bukan, Aurora takut kalau ada yang tau hubungan mereka.
Semua orang menunggu jawaban dari Darka, tak terkecuali Aurora. Rasanya ia ingin menghilang saja hari ini agar tak bertemu Darka.
“Itu privasi saya, lagipula dia tak ingin di ekspos,” ujar Darka menutup pembicaraan mereka, Darka memilih untuk tak mengatakan yang sebenarnya. Belum saatnya semua orang tau hubungan mereka.
Tak ingin membahas hal itu lagi, Darka langsung saja melanjutkan materi tanpa memperdulikan bisik-bisk mahasiswa yang masih penasaran siapa istrinya.
“Pak kami ha—“ Darka langsung saja memotong pembicaraan itu.
“Jangan bahas masalah pribadi di dalam kelas,” tegas Darka menutup semua mulut yang kepo tentang identitas Aurora.
“Syukurlah, tua bangka itu tak jujur,” batin Aurora mengucap syukur di dalam hatinya. Setidaknya untuk sementara orang-orang tak akan tau status mereka.
***
“Ok, cukup sampai di sini saja. Dan Aurora ke ruangan saya sekarang!” titah Darka sambil menatap Aurora dengan tatapan tajam seperti biasa.
Mahasiswa-mahasiwa yang ada di kelas, tak curiga kalau Aurora di panggil ke ruang dekan mereka. Toh hampir setiap minggu Aurora di panggil dekan.
“Baik, Pak,” kata Aurora sembari memasukkan bukunya dengan ogah-ogahan ke dalam tas. Mood nya tiba-tiba berubah jelek.
Kini tinggallah Aurora dan Darka di kelas, Aurora menunggu Darka membereskan barangnya. Jujur saja ia sampai bosan menunggu Darka, kenapa Darka tak memakai asisten saja sehingga tak perlu repot-repot membereskan barang.
“Ayo ikut saya,” ujar Darka meminta Aurora untuk ikut dengannya.
Tanpa kata Aurora langsung saja mengikuti langkah Darka, ia malas sekali berdebat dengan Darka hari ini. Mungkin nanti ia akan memperhitungkan semua kesalahan Darka padanya.
“Rora!” panggil seseorang dari belakang.
Langkah Darka terhenti mendengar panggilan itu, wajahnya berubah serius seakan-akan suara itu ancaman baginya.
“Alvin? Kenapa?” tanya Aurora ia berhenti di tengah koridor saat Alvin memanggil namanya.
Tak hanya Aurora saja yang berhenti Darka juga, Darka memasang telinga untuk mendengar apa yang akan dibicarakan Aurora dan Alvin. Entah kenapa tingkat kekepoannya bertambah satu kali lipat jika itu terkait Aurora.
“Nggak ada, aku cuma mastiin kamu baik-baik saja. Sudah seminggu ini kamu nggak ke kampus,” kata Alvin dengan wajah bahagianya. Entah kenapa ia sangat bahagia bertemu Aurora hari ini, hampir saja ia menghubungi sekretaris ayahnya untuk membantu mencari keberadaan Aurora. Alvin takut terjadi apa-apa terhadap Aurora.
Darka mengepalkan tangan saat mendengar perkataan Alvin, ia bisa menebak Alvin dan Aurora memiliki hubungan spesial. Ia tak yakin kalau mereka hanya berteman saja.
“Aku baik-baik saja kok, kemaren itu ada urusan keluarga. Jadi lupa ngasih tau kamu,” balas Aurora tak lupa dengan senyuman yang masih terukir dari bibirnya.
“Ada urusan ya sama Pak Darka?” tanya Alvin, ia tau Darka pasti akan mempermasalahkan ketidakhadiran Aurora di kampus.
“Ya, dan kamu menganggu kami!” ujar Darka sedikit menekankan perkataannya. Ia sedikit kesal dengan kehadiran Alvin yang mengganggunya dan Aurora.
Aurora menatap segan ke arah Darka yang menunggunya mengobrol.
“Maaf Pak, menganggu anda,” kata Alvin, ia memberikan seyuman terbaiknya ke arah Aurora lalu dibalas Aurora dengan senyum terbaik pula. Aurora bahkan melihat langkah Alvin hingga ia lupa sedang bersama Darka.
“Jangan lihat pria lain jika bersama saya Aurora!” Darka berbicara dengan nada pelan. Darka tak tahan lagi ingin mengatakan hal itu, kehadiran Alvin menganggu penglihatannya.
“Hah?” Aurora tak tau apa yang dimaksud Darka.
“Pria lain? Dia itu saha—“ Belum sempat Aurora berbicara, Darka langsung saja berlalu dari sana. Darka tampak marah dan kesal, Aurora bingung kenapa Darka marah.
“Pak Darka! Tunggu!” Aurora sedikit mengeraskan suara agar Darka mendengar ucapannya. Enak saja Darka meninggalkannya dengan kalimat ambigu seperti tadi. Aurora harus tau apa yang dimaksud Darka.
Aurora berjalan dengan cepat menyusul langkah Darka yang cukup jauh darinya, ia bahkan berlari kecil agar tak ketinggalan.
“P-pak”
Bugh!
Belum sempat Aurora berbicara ia dikagetkan dengan Darka yang menutup pintu dengan sangat kencang. Untung Aurora cepat menghindar sehingga tak mengenai wajahnya.
“Ini kenapa Pak Darka marah banget, ya?” Aurora bertanya-tanya di dalam hatinya, ia bingung kenapa Darka marah. Padahal ia tak membuat kesalahan yang bisa membuat Darka marah.
Darka berusaha mengatur napasnya agar bisa tenang, ia kelepasan sehingga membanting pintu dengan sangat keras.
Entah kenapa ia sangat marah melihat kedekatan Alvin dan Aurora, apalagi Aurora juga berbicara dengan lembut saat bersama Alvin. Berbeda saat dengannya, Aurora terkesan ketus dan ogah-ogahan berbicara dengannya.
“Duduk dulu.” Darka berbalik, ia menoleh ke arah Aurora yang juga sedang menatapnya.
“Baik,” jawab Aurora juga ikut duduk. Hari ini ia memutuskan untuk mengikuti perintah Darka, ia tak mau Darka tambah marah padanya. Lebih baik ia menurut saja.
“Hampir dua minggu saya tak melihat kamu di kampus, kamu ke mana saja?” tanya Darka memulai introgasi. Darka tak akan membedakan mahasiswa, walaupun Aurora sudah sah menjadi istrinya. Ia tak akan memperlakukan Aurora dengan spesial.
“Bapak serius nanya itu?” Aurora balik bertanya, apa Darka lupa akhir-akhir ini ia bersama Aurora. Gara-gara masalahnya dengan Darka lah ia tak masuk kelas.
“Sebelum itu,” tanya Darka masih menggunakan nada dingin dan datar seperti biasa.
“Sebelum itu, ya?” tanya Aurora mencoba mengingat apa yang ia lakukan sebelum bertemu dengan Darka.
“Anda harus hadir Nona, Tuan muda sangat berharap anda ada di sana,” kata Pak Teo.
Terlihat mereka berada di sebuah café yang tak jauh dari apartemen Aurora. Mereka selalu saja bertemu di sini jika ingin membahas masalah penting.
“Kenapa tidak Tuan Muda kalian saja yang mengundang saya?” tanya Aurora, sedikit kesal orang itu tak pernah muncul lagi di hadapannya. Setidaknya untuk acara penting Sang Tuan rumah mengundangnya langsung bukan.
“Anda tau sendiri bukan, Tuan Muda sangat sibuk,” tambah Pak Teo.
Setelah pembicaraannya dengan Pak Teo, yang Aurora lakukan adalah mengurung diri selama berhari-hari di apartemen. Terakhir ia ke kampus saat Cantika mengatakan Darka ingin menemuinya, itu saja ia terpaksa kabur karena tak ingin melihat wajah Darka setidaknya sampai moodnya bagus.
“Kemana saja?” tanya Darka, ia sudah menunggu beberapa menit tapi Aurora tak kunjung menjawab pertanyaannya. Aurora termenung begitu lama, entah apa yang anak itu pikirkan.
“Sudah ingat kamu ke mana?” tanya Darka sekali lagi, ia tau Aurora sedang memikirkan sesuatu.