Sebelum menjawab Aurora menatap sebentar ke arah Darka, tentu saja ia tak akan jujur apa yang ia lakukan pada minggu itu.
“Tidur, Pak,” jawab Aurora dengan nada memelesnya, Aurora tak sepenuhnya bohong kan. Ia memang tidur selama lima hari itu. Tapi ia tak akan mengatakan alasannya kenapa ia mengurung diri di apartemen. Tidak untuk saat ini.
“Tidur selama lima hari?” Darka sedikit tak percaya dengan perkataan Aurora. Sangat tak mungkin ada yang betah tak keluar kamar selama lima hari penuh.
“Iya,” balas Aurora, kali ini ia menatap serius ke arah Darka, terlihat jelas Darka tak percaya padanya.
“Bapak lihat kan minggu kemaren saya juga mengurung diri di apartemen,” kata Aurora menyakinkan Darka bahwa ia benar-benar mengurung diri di apartemen dan tak melakukan apa-apa.
“Kamu nggak bohong, kan?” Darka memicingkan matanya mencari tau apakah wanita di depannya itu bohong atau tidak.
“Enggak lah, Pak,” jawab Aurora, masih dengan nada memelesnya.
Darka berpikir lagi, pria itu tak percaya dengan perkataan Aurora. Tentu saja ada alasan kenapa Aurora memilih mengurung diri selama itu. Tapi ia tak akan menanyakan hal itu untuk saat ini. Anggap saja kali ini ia percaya.
“Baiklah, tapi hukuman harus tetap berjalan, bukan?” Darka tak sedang bertanya, tapi itu peryataan mutlak dari seorang Darka.
Aurora menghela napas panjang mendengar penurutan Darka. Tentu saja Darka akan menghukumnya, ia tau akan hal itu. Sudah banyak kesalahan yang ia lakukan. Tidak mungkin Darka melepaskannya dengan begitu saja.
“Iya Pak, saya terima hukuman dari Bapak,” jawab Aurora, ia tak bisa mengelak lagi. Ini memang salahnya lupa meminta izin saat ia mengurung diri.
“Bagus,” jawab Darka, menyodorkan paper bag di hadapan Aurora.
“Apa ini?” tanya Aurora saat melihat paper bag ada di depannya.
“Menurutmu?” jawab Darka dengan nada datar dan dingin, kali ini Darka tak melihat ke arah Aurora lagi. Pria itu kembali fokus ke komputernya ingin menyelesaikan beberapa pekerjaan. Tak hanya pekerjaan kampus saja, pekerjaan kantor juga ia bawa ke kampus.
Darka kadang membantu ayahnya di perusahaan mereka, walaupun perusahaan itu tak sebesar Danaswara grup. Tetap saja dengan perusahaan itu mereka bisa hidup tanpa embel-embel Danaswara grup yang memiliki banyak aturan dan masalah yang rumit.
“Maksudnya?” tanya Aurora dengan wajah bingung, ia tak mengerti apa tujuan Darka membawa makanan untuknya.
“Tau makanan?” tanya Darka, lama-lama ia kesal dengan kelemotan otak Aurora.
“Iya tau, tapi untuk apa?” tanya Aurora meminta penjelasan. Ia harus tau apa tujuan Darka memberinya makanan.
Tanpa angin tanpa hujan seorang Darka yang terkenal galak dan memiliki tingkat cuek di atas rata-rata. Sangat tak mungkin membeli makanan untuknya, hal itu patut dipertanyakan.
“Untuk kamu Aurora, belum sarapan, kan?” tanya Darka dengan sabar menjelaskan ke Aurora. Ia berusaha tak melampiaskan amarahnya ke Aurora, sudah cukup hari ini ia memarahi gadis itu.
Aurora mencerna perkataan Darka, beberapa detik kemudian ia mengerti apa yang dimaksud Darka. Tentu saja Darka membelikan sarapan untuknya. Mungkin bisa dibilang makan siang?
“Makasih, Pak,” jawab Aurora dengan cepat mengambil paper bag itu, kalau urusan makanan Aurora tak sungkan-sungkan menerima pemberian orang lain. Walaupun ia mempunyai uang untuk membeli makanan, tapi pemberian orang lain sangat berarti.
Aurora anggap itu adalah sebuah kepedulian.
Aurora dengan semangat melangkah keluar dari ruangan Darka, ia tak tahan lagi dengan perutnya yang berdisko meminta jatah.
“Ehhh … mau ke mana?” tanya Darka, menghentikan langkah Aurora.
“Mau makan lah Pak, untuk hukuman nanti saja saya kerjakan. Hukumanya kek biasa kan?” tanya Aurora melihat tumpukan dokumen yang berada di sudut ruangan, bahkan ada banyak dokumen lagi di ruangan kecil yang berada di dalam ruangan Darka.
“Makan di sini saja,” ujar Darka penuh harap, tapi ia tak menampilkan ekspresi itu di hadapan Aurora. Tentu saja ia masih memasang ekspresi datar seperti biasa.
“Huh? Nggak usah Pak, di taman saja,” ujar Aurora berusaha menolak tawaran dari Darka.
Jujur saja Aurora tak mau terus menerus berdekatan dengan Darka. Kadang ia takut melihat tatapan Darka, kadang juga perkataan Darka membuat nyalinya ciut. Sebisa mungkin ia harus menjaga jarak dari Darka.
“Ini perintah Aurora! Makan di ruangan saya!” titah Darka menekankan di setiap perkataannya, ia tak suka dibantah apalagi yang membantahnya adalah Aurora istrinya sendiri. Itu sangat melukai ego Darka.
Aurora ngeri mendengar kalimat dari Darka, ia merasakan hawa yang berbeda saat Darka mengatakan hal itu. Apalagi ekspresi Darka seakan ingin mengulutinya hidup-hidup, ekspresi tegas yang bisa menekan pikiran manusia untuk patuh.
“Ba-baik, Pak,” jawab Aurora melangkah pelan menuju sopa yang ada di sebelah meja Darka. Jujur saja Aurora takut melihat ekspresi Darka saat menatapnya.
Tiba-tiba saja ia teringat ekspresi Darka saat ia menolak untuk tinggal bersama. Itu masih berbekas di benak Aurora. Ekspresi Darka menyeramkan, bukan seperti Darka yang ia kenal selama ini.
“Menyeramkan,” batin Aurora bergidik ngeri mengingat hal itu.
“Mikir apa?” tanya Darka, kali ini Darka sudah kembali ke wajah dingin dan datar seperti biasa tak ada tatapan menyeramkan lagi.
“Mikir … tugas, ya, tugas,” ujar Aurora dengan cepat, ia takut Darka tau ketakutannya. Apa yang akan ia jawab jika Darka bertanya. Tidak mungkin Aurora mengatakan ekspresi Darka menakutkan bukan.
“Bagus, memang itu yang harus kamu pikirkan. Ini semester akhir kamu kan, kalau sampai tidak lulus semester ini kamu akan di DO,” kata Darka dengan nada santai, namun tak menghilangkan kesan dingin dari nada bicaranya.
“Iya tau, Pak,” ujar Aurora, ia pusing mengingat hal itu. Padahal ia sudah lupa, malah Darka mengingatnya lagi.
“Kerjakan skiripsi kamu dengan cepat,” tambah Darka lagi, ia tau Aurora sedang mengerjakan skiripsi saja dan ada beberapa mata kuliah yang harus ia tuntaskan. Contohnya mata kuliah yang diajar Darka.
Aurora hanya berguman menanggapi ucapan Darka, selera makannya hilang saat Darka membahas skiripsi dengannya. Hal yang ingin Aurora lupakan.
Tok!
Tok!
Terdengar pintu ruangan Darka diketuk oleh seseorang, Aurora panik bukan main saat tau ada orang yang akan masuk ke ruangan Darka. Berbeda dari Darka, pria itu sangat santai seperti tak akan terjadi masalah jika ada yang melihat Aurora makan di ruangannya.