Bab 11. Hampir Ketahuan

1446 Words
“Pak bagaimana ini, apa saya sembunyi saja?” tanya Aurora dengan wajah panik. “Untuk apa sembunyi? Memangnya kita berbuat asusila?” tanya Darka, tak setuju dengan perkatan Aurora. Gendoran pintu itu semakin jelas terdengar di telinga mereka, ruangan yang awalnya sunyi berubah mencekam bagi Aurora. Aurora takut sampai ada yang tau bahwa dirinya berada di ruangan Pak Darka, akan timbul banyak fitnah nantinya. “Masuk!” ucap Dark dari dalam. Aurora melototkan mata saat Darka mempersilakan tamunya masuk, apa Darka ingin Aurora dalam masalah. Ya, benar saja Darka memang ingin membuatnya dalam masalah. “Pak Darka ihh!” “Pak Darka, ini dokumen yang harus anda tanda tangani,” ujar orang itu, dia adalah Adila—dosen di kampus. Adila terlihat manis dengan baju cream pastelnya, ditambah lagi dengan riasan yang tipis menambah kecantikan seorang Adila. Aurora menjadi berpikir, kenapa Darka tak bersama Adila saja? “Taruh saja di situ, Bu,” jawab Darka tak melihat sedikitpun ke arah Adila. Adila tak sepenting itu bagi Darka, mereka hanya memiliki urusan pekerjaan saja. “Ok baik,” jawab Adila, ia sedikit kecewa karena Darka tak melihat dirinya, padahal ia sudah bedandan cantik untuk bertemu Darka. Entah kapan Darka membuka hati untuknya. “Pak, maaf. Apa Bapak punya waktu siang ini, mau makan siang bersama?” tanya Adila, berharap Darka mau menerima tawarannya. Sedari awal Darka mengambil alih kampus itu, Adila sudah menaruh hati. Ia berusaha keras setiap hari mendekati Darka, bahkan ia mencoba untuk dekat dengan keluarga Danaswara. Namun, sampai detik ini belum membuahkan hasil. “Maaf, saya sibuk,” jawab Darka lagi dan lagi ia tak menatap ke arah Adila. Seakan Adila tak ada. “Baiklah,” jawab Adila, ia tak ingin memaksa lagi. Ia mencoba untuk berpikir postif, mungkin saja Darka memang sibuk dengan banyaknya berkas di atas meja. Adila berbalik dan ingin keluar dari ruangan Darka, tak sengaja ia melihat ke samping ada Aurora yang sedang menunduk sambil mengaduk makanan. Ia baru menyadari kehadiran Aurora di ruangan Darka. Adila menatap lama ke arah Aurora, ia memutuskan tatapan saat Aurora menyadari tatapannya. “Bu,” sapa Aurora dengan seyum terpaksa, ia tak bisa tenang sebelum Adila keluar dari ruangan Darka. “Kenapa kamu ada di sini? Menggangu Pak Darka saja, ayo keluar,” marah Adila saat Aurora dengan santai makan di ruangan Darka. Ia baru tau ada mahasiswa yang tak sopan. “Iya Bu, ini saya mau keluar,” kata Aurora membereskan barangnya untuk segera keluar dari ruangan Darka. Daripada Adila salah faham, lebih baik ia menghindar saja. “Saya yang menyuruh Aurora untuk tetap di sini,” kata Darka menengahi pembicaraan mereka. “Pak Darka! Ini bencana!” batin Aurora menunduk dengan mata terpejam, Adila akan salah faham jika Darka mengatakan hal itu. Perkataan Darka seolah-olah mengatakan bahwa ia dan Aurora memiliki kedekatan di luar dosen dan mahasiswa. Siapa yang tak salah faham akan hal itu. “Bapak serius? Kenapa dia di sini apalagi sampai makan di ruangan Bapak?” tanya Adila, ia penasaran sekaligus tak suka melihat Aurora berada dekat dengan Darka. Apalagi sampai makan di ruangan Darka, bukankah itu suatu hal yang luar biasa bagi seorang Darka yang menyukai ketenangan. “Bukan urusan kamu,” jawab Darka dengan nada ketus. Ia tak suka ada orang yang ikut campur urusannya, apalagi orang itu tak terlalu dekat dengannya. “Pak ta—“ Darka segera memotong perkataan Adila. “Kalau tidak ada yang penting lagi, saya ingin melanjutkan pekerjaan saya, Bu,” kata Darka, secara halus Darka sedang mengusir Adila dari ruangannya. “Apa Aurora mengoda Pak Darka?” batin Adila, merasa ada yang janggal saat melihat Aurora berada di ruang Darka. Siapa yang tak curiga akan hal itu, Darka yang awalnya tak suka menyendiri, jauh dari keramaian. Untuk pertama kali meminta mahasiswa makan di ruangannya. Itu suatu hal yang tak biasa yang patutu dicurigai. “Ya Pak, saya permisi dulu,” kata Adila, terpaksa ia harus pamit undur diri, nanti saja ia mengintrogasi Aurora terkait hal ini. Sedangkan Aurora, ia was-was di dalam hatinya. Ia tak bisa menjawab saat Adila bertanya beruntung Darka sangat pengertian dna membantu ia menyembunyikan status mereka. “Syukurlah, Bu Adila sudah pergi,” celoteh Aurora mengucap syukur di dalam hatinya. Jantungnya hampir copot saat Adila masuk ke ruangan Darka. “Cepat makan dan jalani hukumanmu, Aurora,” kata Darka masih setia di depan komputernya. Bisa Aurora tebak, Darka memiliki banyak pekerjaan sehingga pria itu tak sempat keluar untuk makan siang. *** Di lain tempat di waktu yang sama. Cantika dan Dara sedang berada di kantin mereka menikmati makanan yang baru saja di pesan. “Can, Dara kalian di sini juga?” tanya Alvin, bergabung bersama mereka. “Tadi aku ketemu Aurora, yah seperti biasa dia dihukum Pak Darka,” kata Alvin dengan wajah sedihnya. Alvin sangat peduli dengan Aurora bahkan bisa dikatakan mencintai Aurora. Namun sayangnya Aurora pernah menolaknya sekali, dan hal itu tak membuat Alvin membenci Aurora. “Aurora lagi,” batin Dara mengepalkan tangan, sungguh ia muak mendengar nama itu, padahal dia lebih cantik dari Aurora kenapa Alvin harus menyukai Aurora. Dara, Alvin, Cantika, dan Aurora, mereka berempat berteman dekat bahkan bisa dibilang bersahabat. Mereka selalu saja melakukan hal bersama, tapi akhir-akhir ini Alvin sering menunjukkan rasa sukanya terhadap Aurora. Hal itu membuat Dara cemburu, secara Dara juga menyukai Alvin. “Iya dia dihukum.” Bukan Dara yang membalas, tapi Cantika. Cantika cukup khawatir dengan keadaan Aurora. “Ouh ya, kenapa tak terjadi apa-apa terhadap Aurora ya?” Dara bertanya-tanya di dalam hatinya. Padahal ia sudah menyusun rencana serapi mungkin untuk bisa mengahncurkan masa depan Aurora, tapi kenapa tadi Aurora baik-baik saja, seakan tak terjadi apa-apa dengan Aurora. “Apa preman itu gagal?” batin Dara menebak kemungkinan-kemungkian yang akan terjadi dengan Aurora. “Kenapa, Dar?” tanya Cantika, melihat Dara diam termenung seperti memikirkan sesuatu. “Hah? tak ada,” balas Dara, mencoba menyungingkan senyum manisnya ke arah Cantika. “Aku harus mencari tau.” Dara bertekad akan mencari tau apa yang sebenarnya terjadi dengan Aurora beberapa hari yang lalu. *** Jam sudah menunjukkan pukul tiga sore, itu artinya sudah tiga jam Aurora berada di dalam ruangan Darka. Posisinya masih sama Darka sedang berkutat dengan banyaknya dokumen di atas meja. Sedangkan Aurora mengerjakan hukuman dari Darka, yaitu menyusun tumpukan dokumen sesuai abjad. “Ini lelah sekali,” gumam Aurora berjalan kembali ke arah sopa yang ada di ruangan Darka. Perempuan itu duduk sebentar dan meminum mnuman yang ia bawa dari apartemen. “Serius banget, pak Darka,” batin Aurora melihat Darka tampak serius mengerjakan pekerjaanya. Ia saja lelah melihat Darka seharian di depan komputer. “Ada apa?” tanya Darka, tadi ia sempat menoleh tepat sekali Aurora sedang menatap ke arahnya. “Hah?” Aurora kaget mendengar perkataan Darka, apalagi Darka sedang menatapnya juga. Apa ia ketahuan menatap Darka. “Nggak ada,” balas Aurora ingin kembali mengerjakan hukumannya. Darka terlihat berpikir sebentar, dengan tatapan mengarah ke Aurora. “Tolong beliin saya minuman dingin,” ujar Darka menyerahkan, kartu kreditnya ke arah Aurora. “Huh? Ok,” balas Aurora mengambil kartu kredit dari tangan Darka. “Akhirnya aku bisa terbebas dari ruangan terkutut ini, setidaknya untuk beberapa menit ke depan,” batin Aurora, merasa lega saat Darka memintanya membeli minuman. Sebenarnya Aurora sumpek berada di ruang Darka, aura dingin Darka bisa ia rasakan. Tak ada kehangatan, canda tawa, jangan canda tawa, Darka saya tak mengajaknya mengobrol. Mereka berdua sama-sama diam fokus dengan pekerjaan masing-masing, itu yang membuat Aurora bosan, merasa tak bebas. “Ouh ya, beli untuk kamu juga,” ujar Darka, matanya masih menatap Aurora dengan tatapan dingin. “Ok,” balas Aurora dengan mata yang berbinar seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan baru. Bahkan Aurora berlari kecil sambil bersenandung saat keluar dari ruangan Darka. Hal itu tak luput dari penglihatan Darka, Darka merasakan kehangatan yang tak pernah ia dapatkan di keluarganya saat melihat wajah ceria Aurora. Aurora bagaikan energi positif yang memenuhi isi kepala Darka. Entah kenapa ia merasa nyaman saat bersama Aurora, dan ingin Aurora terus berada di sampingnya. *** “Kapan Darka membawa istrinya, Larasanti?” tanya Nenek dengan nada datar. “Nanti Aurora dan Darka ke rumah, Bu,” jawab Larasanti, ia merasakan tekanan saat berada di dekat Nenek. Nenek sangatlah perfeksionis dan mengingikan kesempurnaan, satu saja yang tak sesuai dengan keinginan nenek, nenek akan marah. “Nadine sayang, kamu nginap di sini lagi kan?” tanya Nenek beralih berbicara dengan Nadine yang juga sedang mengobrol bersama Larasanti dan nenek. “Tentu saja, Nek,” balas Nadine dengan nada angun. “Bagus, jika aku di sini aku bisa tau siapa istri Darka. Aku tak akan melepaskan Darka, apapun yang terjadi,” batin Nadine dengan segala rencana jahatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD