“Akhirnya kalian datang juga,” ujar Larasanti menyambut kedatangan Darka dan Aurora.
“Bunda,” sapa Aurora tersenyum manis sambil menyalami Larasanti dengan lembut setidaknya Aurora bersyukur ada mertua yang baik hati yang selalu ada untuknya.
“Ayo masuk sayang, yang lain sudah menunggu,” kata Larasanti menuntun Aurora dan Darka untuk masuk ke dalam rumah.
Aurora meyungingkan senyum manis saat Larasanti mengatakan hal itu. Ia melihat sekeliling, ini tak bisa dikatakan sebuah rumah, melainkan mansion. Ada banyak pelayan yang berjalan ke sana kemari, ada banyak pengawal yang berjaga. Belum lagi rumah yang besar dengan halaman yang luas.
“Pantas saja keluarga Danaswara dijuluki salah satu keluarga terkaya di negeri ini,” batin Aurora meneliti satu persatu ornament-ornament yang ada di rumah itu.
“Aurora, sini sayang. Kenalin ini Nenek dan itu Kakek,” kata Larasanti mengenalkan mereka berdua.
“Maklum ya, orang kampungan pertama kali lihat rumah besar,” celoteh Ayu—tante Darka.
Sedari tadi Ayu memperhatikan gelagat Aurora yang melihat seisi rumah mereka, Aurora tampak kagum dengan rumah mereka. Dari situlah mereka berkesimpulan Aurora berasal dari keluarga miskin. Tak hanya Aurora saja, Nadine, Kakek dan Nenek juga berpikir demikian.
Aurora menatap Ayu dengan tatapan datar saat Ayu mengatakan hal itu. “Sepertinya wanita tua ini tak suka padaku,” batin Aurora masih dengan tatapan datarnya, tentu saja ia tak akan melawan. Tunggu saja tanggal mainnya, jika sudah kelewatan baru ia melawan.
Darka sadar dengan pandangan Aurora, ia pun berusaha mencairkan suasana. “Kakek, Nenek, ini Aurora istriku,” ujar Darka mengenalkan Aurora ke semua orang.
“Ini ya yang namanya Aurora, cantik juga,” ujar Kakek menyambut uluran tangan Aurora yang ingin menyalaminya.
Selanjutnya Aurora menyalami Nenek, namun Nenek seakan jijik menerima uluran tangan dari Aurora.
“Tak usah pegang-pegang,” ujar Nenek seakan jijik memegang tangan Aurora.
Aurora sedikit tersinggung mendengar hal itu, ia ingin marah. Tapi segera ia tahan, tidak mungkin ia membuat masalah di hari pertama mereka bertemu bukan.
Hal itu tak luput dari perhatian Nadine, Nadine tersenyum senang di dalam hatinya melihat respon nenek menerima Aurora. Itu yang ia inginkan, ia ingin Nenek membenci Aurora bila perlu mengusir Aurora dari keluarga Danawasara.
Sedangkan Darka, pria itu hanya diam menyaksikan drama di keluarganya. Jujur saja Darka muak dengan semua itu, padahal dia dan orangtuanya sudah menjauh sejauh mungkin dari keluarga Danaswara, ayahnya mendirikan perusahaan sendiri, mendirikan kampus tanpa embel-embel nama keluarga. Namun, mereka tak bisa lepas dari keluarga Danswara. Kakek dan neneknya memaksa Leon untuk bergabung lagi dengan keluarga Danaswara. Leon yang tak punya pilihan lain menyetujui hal itu.
“Ayo kita istirahat dulu, sebentar lagi makan malam,” ujar Darka merangkul dengan mesra pingang Aurora.
Ia ingin menunjukkan ke semua orang apa status Aurora di hidupnya.
Aurora melototkan matanya saat Darka merangkul pingangnya, ia kaget sekaligus malu karena disaksikan oleh banyak orang. Apalagi kakek terlihat mengendipkan mata ke arah Darka.
“Oh Tuhan … Pak Darka!” batin Aurora risih saat Darka merangkul pingangnya, sesekali Darka juga mengelus lembut pingangnya. Siapa yang tak malu mendapat perhatian seperti itu.
“Hehehe, ayo,” balas Aurora, ia mengikuti saja ke mana Darka membawanya.
“Sial! kenapa gadis miskin itu yang menjadi istri Darka!” batin Nadine mengepalkan tangan melihat kemesraan Darka dan Aurora. Apalagi itu di depan semua anggota keluarga Danaswara.
***
Mereka berdua sudah sampai di dalam kamar Darka, Aurora dengan kasar melepas rangkulan di pinggangnya.
“Wah, aku tak habis pikir mereka semua menghinaku tanpa tau asal usulku? Gadis miskin?” Aurora membulatkan mata dengan panggilan itu, selama hidupnya hanya keluarga Darka yang menganggapnya orang miskin.
“Sudah tak usah pikirkan, mereka memang begitu,” jawab Darka membuka dasi yang masih rapi di lehernya, ia juga gerah saat Ayu dan yang lainnya menghina Aurora.
“Tetap saja, Pak. Aku tak terima dibilang begitu. Memangnya mereka siapa, berani menghinaku!” ujar Aurora dengan tangan terkepal, sungguh ini penghinaan terbesar dalam hidupnya.
Aurora berjalan ke sana kemari, sambil mengomel. Lagi dan lagi ia tak terima dengan semua penghinaan itu.
Hal itu tak luput dari penglihatan Darka, pria itu pusing melihat Aurora berjalan ke sana ke mari. Sangat menganggu penglihatannya. Karena tak tahan, ia pun langsung berdiri dan menahan pergerakan Aurora.
“Sudah!"
"Sudah Aurora!” Darka memegang tangan Aurora dengan lembut yang berhasil menghentikan pergerakan Aurora.
“Ta—“ Belum sempat Aurora berbicara ia dikagetkan dengan wajah Darka yang sangat dekat dengannya. Kali ini tatapan Darka berbeda, bukan datar, tapi tatapan lelah dari seorang Darka. Terlihat jelas sekali raut kelelahan di wajah Darka, ditambah lagi rambut yang acak-acakan, mata yang sayu seakan mengatakan ‘Sudah ya, sayang. Hari ini kita istirahat saja’ kira-kira begitu arti tatapan Darka.
“Sudah ya, saya lelah,” ujar Darka, menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Aurora sehingga Darka bisa leluasa melihat wajah Aurora dari jarak sedekat itu.
“Jangan membuat saya marah Aurora, sudah cukup untuk hari ini,” tambah Darka, mengelus pelan pipi mulus Aurora. Darka melakukan hal itu berkali-kali. Aurora saja dibuat nyaman oleh elusan di pipinya.
Jantung Aurora berdetak begitu kencang saat Darka mengelus pipinya, apalagi tatapan lelah yang berubah mejadi lembut membuat ia tersihir untuk terus menatap wajah pria itu.
Aurora tak menemukan tatapan dingin ataupun menyeramkan, malah Darka menatapnya dengan tatapan sayu, tatapan memohon. Aurora saja tersihir dengan tatapan itu, ia tak bisa berkutip saat tangan itu menyentuh pelan pipinya.
“Ini terlalu nyaman dan aman?” batin Aurora binggung mendeskripsikan perasaannya terhadap Darka.
“Setelah sekian lama, aku bisa merasakan kepedulian seseorang,” batin Aurora lagi, masih menikmati wajah tampan pria itu.
“Tuan, Nyonya,” teriak suara dari arah luar kamar mereka.
Darka maupun Aurora terkejut mendengar suara itu, mereka pun segera menjauh satu sama lain. Tadi, Darka sempat menatap wajah cantik Aurora dengan tatapan datar, hanya beberapa detik lalu ia mengalihkan tatapannya.
“Cepat, mandi dan bersihkan diri,” perintah Darka, kembali ke mode datarnya, nada lembut itu hilang entah ke mana.
“Dia masih Pak Darka yang sama,” batin Aurora, berjalan pelan menuju kamar mandi yang masih berada di dalam kamar mereka.
“Kenapa aku merasa, Pak Darka memiliki banyak wajah ya? Siapa sebenarnya Pak Darka?” Aurora bertanya-tanya di dalam hatinya. Ia tak tau siapa Darka, kadang Darka menatapnya dengan tatapan datar, kadang kala dengan tatapan teduh seperti tadi, dan terkahir kali Darka menatapnya dengan tatapan menyeramkan?
“Aurora Zetana …” lirih Darka menatap datar ke arah pungung Aurora yang menjauhinya.