Penolakan Terhadap Wibowo

1476 Words
Tapi dia takut untuk didapat, karena dia tahu siapa sebenarnya Wibowo itu. Tapi dia takut untuk membuka kedok lelaki itu dengan siapa pun termasuk ayahnya sendiri. Kekayaan yang didapat Wibowo sekarang tidak lain dari hasil perampokan yang dilakukan terhadap seorang cukong pedagang mobil di Singapore. Dia tahu bahwa Wibowo masih dalam pelacakan pihak yang berwajib. Maka lekaki itu jarang sekali tinggal di mmah, untuk menghindarkan diri dari ancaman hukum yang akan mengurungnya di dalam sell. Tapi kenapa Anita takut untuk membuka kedok lelaki itu? Dia hanya memikirkan tentang keselamatan orang tuanya. Maka biarlah dirinya menjadi sandera kenyataan yang tak dikehendaki. Tapi untuk dijamah tubuhnya oleh lelaki itu, dia lebih baik mati. Karena itulah Wibowo seringkah menampar- nya. Seringkah menyiksanya, seperti waktu Herman melihatnya di kamar tempo hari. Anita berkeras menolak untuk melayani Wibowo di atas ranjang. Dan setiap hal itu akan dilakukan Wibowo, Anita menolak sehingga terjadilah pertengkaran seru. Sampai-sampai mbok Ginem merasa kasihan melihat nasib Anita. Tanpa terasa air mata Anita menetes membasahi pipinya. Betapa pahit dan menderitanya kenyataan itu. Haruskah masa remajanya yang indah itu diliputi siksaan hati dan perasaan seperti ini terus menerus?. Keluh Anita dalam hati. "Kau selalu menggunakan s*****a air matamu untuk meluluhkan hati dan semangatku Anita. Katakanlah jika aku lelaki yang tak mampu membahagiakan hidupmu. Aku akan segera berlalu. Biarlah semua kenangan yang kau berikan keDada-ku abadi selamanya di hatiku. Biarlah aku berlalu dengan membawa duka hati karena cinta yang tak kesampaian. Tapi aku telah manunjukkan. bahwa cintaku semurni air sorgawi. Bahwa cintaku ingin membahagiakan dirimu." Tandas Herman emosi. "Kalau kau hanya menganggap semua yang terjadi "sekedar iseng, baiklah akan kuterima dengan hati gembira. Dan aku akan mundur dengan baik-baik " Lanjut Herman kesal. "Aku tidak pernah bilang begitu. Aku tidak ah berkata begitu. Kuharap kau mau bersabar menunggu saat yang baik Her. Aku percaya kita bakal menang. Kita bakal bisa mewujudkan mahligai intan." Suara Anita di sela- sela isak tangisnya yang pilu. "Lalu sampai kapan aku harus bersabar Anita? Sampai tanggal hari perkawinanmu dengan Wibowo? begitu?. Alangkah kejamnya kau!" Desah Herman berat. Kesedihan yang bercampur kemurungan dengan himpitan perasaan bingung itulah Anita. Yang dulu dijumpai Herman ketika pertamakah amat mempesona dan anggun. Sederhana dan bersahaja, ternyata mempunyai hal yang membelenggu dirinya. Herman seperti sadar, bahwa dia tidak seharusnya lebih menyiksa perasaan gadis itu. Maka dia lantas memeluk gadis itu penuh kasih sayang. Meneliti wajah Anita yang cantik dalam kesedihan. Tangan Herman membelai rambut Anita yang mulai kusut. "Biarlah aku tetap Herman, seorang pengarang yang tak kesampaian cintanya. Seorang pengarang yang tak berdaya untuk mendapatkan seorang gadis cantik yang gampang sekali menangis. Yang pernah hadir di alam sorga dunia untuk menikmati manisnya madu seorang perawan. Sungguh mati aku tak dapat melupakan semua kenangan yang pernah kau berikan." Tutur Herman. "Herman, bagiku kau adalah segala-galanya. Jangan kau tinggalkan aku Her, aku sangat membutuhkan dirimu. Bersabarlah untuk mencari kemenangan Percayalah Her, kita pasti berhasil mendobrak kemelut ini." "Apa yang bisa kau harapkan atas diriku yang tak mampu berbuat sesuatu untukmu Anita?" Tanya Herman lunak. "Apa kamu mencintai aku bukan?" Balas Anita. "Kau masih ragu padaku Anita?", Gadis itu menatap dalam-dalam mata Herman. Kemudian wajahnya semakin mendekat ke wajah Herman. Bibir Anita yang mengulum lembut sekali. Merek? tidak lagi saling berbincang, melainkan terbenam dalan hangatnya cinta dan nafsu. *** Anita baru saja menghempaskan pintu mobil. Lalu berjalan masuk ke rumah. Sore itu dia ingin menenangkan pikirannya agar bisa memecahkan persoalan yang tengah membelenggu dirinya. Dia telah berhasil memberi tahu kepada Herman mengenai diri Wibowo yang sebenarnya. Dan perasaannya sudah agak lega karena beban yang menindih di d**a sudah agak berkurang. Kalau saja uneg-unegnya sajak dulu belum pernah diutarakan kepada siapa pun, kini hanya kepada Hermanlah semuanya itu terungkap secara gamblang. Kendati di antara mereka belum menemukan jalan untuk menyelesaikan problem yang dirasakan amat sulit ini. Baru saja Anita melangkah masuk di ruang tamu, Wibowo nampak duduk dengan alis mata yang mengerut menahan gejolak amarah. Tatapan lelaki itu begitu menghujam perasaan Anita. "Dari mana kau Anita!." Tegur Wibowo dengan suara keras. Anita agak terkejut menerima teguran sekasar itu. Kakinya gemetar dan sorot matanya pun gelisah dicekam kecemasan. "Dari..." iwab Anita terhenti. Wibowo bangkit dari tempat duduk dengan cepat. "Jawab dengan jujur! Kau sehabis menemui Herman bukan?!" Anita tak bisa menjawab, dia menundukkan muka. Sementara Wibowo meremas-remas telapak tangannya yang dirasakan gatal. "Jawab!! " Bentak Wibowo keras. Sekujur tubuh Anita bertambah gemetar. Bentakan Wibowo bagai terasa meruntuhkan jantungnya. Telapak tangan Wibowo segera mendarat di pipi Anita berulangkah, sehingga gadis itu menjerit menahan sakit. "Kau lelaki kejam!." Pekik Anita sambil memegangi kedua pipinya yang pedih dan sakit akibat tamparan Wibowo. "Jangan coba-coba melawan aku Anita!" Bentak Wibowo. "Aku tidak takut! Aku tidak takut! Sebab untuk apa aku harus menempuh hidupku sepahit ini! Kau bunuh pun aku rela !" Kata Anita yang nekad. Wibowo menekan rahang hingga suara gemelutuk giginya terdengar. Sedangkan mata lelaki itu seperti mata harimau yang siap menerkam. Namun Anita tidak lagi merasa takut menghadapi lelaki itu. "Aku bukan wanita yang mau menerima penderitaan dan siksaan seperti ini. Dan kurasa bukan aku saja yang mau menerima kenyataan ini. Wanita manapun akan lebih rela mati ketimbang menjadi kambing hitammu. Kau seorang lelaki kejam yang tidak mempunyai perasaan! Ayo bunuhlah aku sekarang!!." Hardik Anita tanpa perasaan takut sedikitpun juga. Wibowo tak bisa melakukan apa-apa. disaat menghadapi Anita yang nekad ini. Tapi masih juga telapak tangan kanannya mengepal-ngepal gatal. Kalau saja dia tidak melihat wajah Anita yang cantik itu, mungkin lelaki s***s ini sudah membunuhnya. Wibowo sangat terkenal di kalangan orang-orang kapal sebagai lelaki pembunuh berdarah dingin. Namun kali ini lelaki yang terkenal berdarah dingin tidak bisa berbuat sesuatu terhadap gadis secantik Anita. "Detik ini aku akan pergi!." Tandas Anita. tidak segan-segan untuk bertindak terhadap dirimu dan orrng tuamu. Persoalan keluargamu akan bertambah keruh!." Ancam Wibowo. "Jangan sangkutkan lagi persoalan keluargaku. Bukankah semua persoalan itu sudah menjadi bebanku? Hanya kita berdua yang menjadi peranan peming dalam hal ini." "Jadi kau benar-benar akan pergi?" Sedikit lunak kata-kata Wibowo. Namun kelunakan ucapan lelaki itu mengandung ancaman. "Ya." Langsung saja Wibowo menarik tangan Anita dan memaksa Anita masuk ke dalam kamar. Gadis itu meronta-ronta untuk berusaha melepaskan pegangan telapak tangan Wibowo yang erat. Per- gelangan tangan Anita dalam genggaman telapak tangan Wibowo dirasa sakit. "Lepaskan aku b******n! Lepaskan!." Teriak Anita dalam isak tangis yang pilu. Namun lelaki itu tidak mau melepaskan genggamannya bahkan membanting diri Anita ke tempat tidur. Pintu kamar dikunci rapat-rapat. Mata Wibowo yang kemasukan iblis itu meneliti sekujur tubuh Anita yang tertelantang di atas pembaringan. Tubuh Anita semakin bergidik kala matanya menangkap pancaran mata lelaki yang melangkah mendekati dirinya. "Kali ini jangan mencoba berkeras Anita. Kau telah tahu siapa aku bukan?" Gumam Wibowo sengit. "Aku tak perduli siapa kau!." Gertak Anda Wibowo berdiri di pinisi rtempat lulur saji bil tersenyum sinis. Tiba-tiba telapak lyi-ganny mendarat dengan keras ke pipi Anita. Gadis itu langsung terpelanting jatuh dari tempat tidur. .Ada cairan kental berwarna merah mengalir dari hidungnya. Dan ketika Anita menghusap cairan itu. oooool...jantungnya berdesir. Darah!, pekiknya dalam hati. "Jangan kau siksa aku seperti ini. bunuhlah sekalian!." Pekik Anita melengking. Lelaki itu menyambar gaun yang dikenakan Anita lalu menariknya kuat-kuat. Gaun itupun koyak dan di bagian d**a gadis itu terpampang halus membangkitkan nafsu Wibowo. Sementara Anira berusaha menu rapi pada bagian dsda dengan kedua tangannya. "Iblis kau!." Rutuk Anita histeris. Lelaki itu semakin membabi buta. "*edua tangan Anita yang detik itu menutupi d**a direntangkan oleh Wibowo. Gadis itu menjerit namun tak didengar lagi. karena iblis telah menguasai jiwa Wibowo. Keluh Anita terputus karena nafasnya sesak. Dia berusaha melawan tapi selalu saja gagal Kedua lengan gadis itu dibetot ke belakang, Anita meringis kesakitan. Kepalanya digeleng-gele.igkan menahan perih dan sakit. Lelaki itu semakin buas menyerang tubuh Anita dengan ciuman berulangkali. Dengan selengah sadar Anita mencari kele- jfeahun lelaki itu. Dan disaat tertentu An."ty berhasil menendang d**a lelaki itu. sehingga Wibowo terlempar ke sudut ranjang, menghantam tembok. Bagai seekor banteng yang terluka lelaki itu bergegas bangkit dan menyerang Anita yang masih terengah-engah kecapaian. Tubuh Anita yang lemas ini diterkamnya. Kedua manusia itu bergulingan di atas tempat tidur. Meskipun tubuh Anita lemas kehabisan tenaga, masih tetap berusaha agar lelaki itu tidak menodainya. Jari-jarinya yang berkuku panjang sempal mencabik muka Wibowo.. Lelaki itu meringis menahan rata pedih. Dalam kesempatan ini Anita meraih kipas angin yang ada di dekatnya. Lelaki yang sedang kesakitan karena sebelah matanya berdarah akibat cabikan kuku Anita, tak lagi diberi ampun oleh Anita. Kipas angin vang berhasil diraih langsung di hantamkan ke kepala Wibowo berulangkah sehingga lelaki itu alirnya jatuh pinsan. Tanpa membuang waktu lagi, Anita melepaskan pakaiannya yang telah kocak itu. Dia mengenakan pakaian lain yang masih baik dan buru-buru kabur dari rumah. Sambil berlari-lari Anita membawa dirinya yang lemas lunglai itu ke jalan raya. Dia tidak sempat lagi berccrmin di depan kaca, bagaimanakah bentuk wajahnya lagi. Sehingga Anita tak menyadari kalau rambutnya acak-acakan dan hidungnya masih tersisa darah. Sebuah taxi yang kebetulan lewat sempat membawanya ke rumah Herman.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD