Lita bingun harus menjawab apa, ingin bilang bukan, tapi lama-kelamaan perutnya akan membuncit dan ayahnya pasti jauh lebih kecewa jika sekarang ia berbohong. Ingin bilang iya, tapi takut menambah beban kesedihan ayahnya.
Lita memilih berlutut dan membenamkan wajah di lutut ayahnya. “Ampun, Pak, maafkan Lita,” ucapnya dengan suara tangis yang lebih kencang.
Firman mengehela nafas berat menahan kecewa sambil menaruh test pack di meja yang ada di depannya. Ia tidak percaya anak gadis yang sangat jarang keluar rumah untuk bergaul seperti remaja pada umumnya, bahkan tidak pernah terdengar memiliki kekasih, kini sedang berbadan dua sebelum menikah. Padahal sejak tadi ia berharap test pack itu bukanlah milik anaknya.
“Sudah berapa bulan usianya?” tanya Firman sambil membelai kepala anaknya.
“Satu bulan, Pak,” balas Lita masih dengan tangisan.
"Siapa ayahnya? Kenapa dia tidak datang menemui Bapak?”
Lita baru mendongakkan kepalanya, menatap Firman. “Namanya Edo, Pak. Lita sudah cari dia, tapi belum bertemu juga.”
Dari jawaban itu, Firman tahu pria yang menghamili anaknya tidak mau bertanggung jawab. “Dia tinggal di mana? Biar Bapak yang datangi dia.”
“Lita sudah mendatangi kontrakan tempat tinggalnya, tapi dia sudah pergi. Lita juga sudah datangi toko tempat dia bekerja, tapi tidak ada. Lita tidak tahu harus cari kemana lagi, Pak.”
“Di mana kamu kenal dia?”
“Lita kenal di depan kampus saat pertama kali masuk kuliah.”
“Itu berarati kamu baru kenal?”
“Iya, Pak.”
“Dia kuliah juga di sana?”
“Tidak, Pak, dia hanya orang rantauan yang mengadu nasib di kota ini.”
Lagi, Firman menghela nafas berat karena tidak tahu akan mencari kemana pria yang ingin dimintai pertanggungjawaban, jika Lita saja hanya memiliki sedikit petunjuk.
“Maafkan Lita, Pak. Lita sudah mengecewakan Bapak,” isak Lita lagi saat melihat ayahnya hanya diam.
“Panggil Leon ke sini,” perintah Firman, lembut.
“Bapak mau marahi Kak Leon? Tapi Kak Leon tidak tahu apa-apa tentang kehamilan Lita, Pak.”
“Bapak tidak ingin memarahi siapa pun, karena kemarahan Bapak tidak akan berguna dan tidak akan merubah keadaan. Bapak memanggil Leon agar kita bisa sama-sama cari jalan keluarnya hari ini.”
Lita mengusap air matanya sambil beranjak dari berlututnya lalu melangkah menuju dapur karena Leon ada di halaman belakang rumah.
“Kak, dipanggil Bapak!” teriak Lita saat berdiri di pintu belakang.
Leon yang sudah mengayunkan kapak untuk membelah kayu, langsung berhenti bergerak dan menoleh ke sumber suara.
“Bapak memanggil Kak Leon!” ulang Lita saat Leon menatapnya heran.
Leon langsung menancapkan kapak ke kayu yang tadi akan ia belah, lalu menghapiri adiknya. “Kamu menangis lagi?” tanyanya saat melihat mata adiknya memerah.
“Bapak sudah tahu kehamilan Lita, Kak.”
“Kenapa tidak beritahu Kakak dulu kalau kamu mau kasih tahu Bapak, biar Kakak bisa bela kamu.” Leon mengusap jejak air mata adiknya.
“Bapak tahu sendiri, Kak.”
“Tahu sendiri?” tanya Leon heran.
“Iya.”
“Tahu dari mana?”
“Bapak menemukan test pack Lita.”
"Terus, Bapak marah?"
Lita memeluk kakanya sebelum menjawab, bahkan ia tidak peduli dengan keringat yang membasahi baju Leon. “Bapat tidak memarahi Lita, Kak. Bicara Bapak juga sangat lembut.”
“Lalu kenapa kamu menangis?” balas Leon sambil memeluk adiknya.
“Lita sedih melihat kekecewaan di mata Bapak. Meskipun Bapak menutupi dengan kata-kata lembut, tapi Lita masih bisa melihatnya.”
“Kecewa sudah pasti, yang terpenting Bapak tidak menyalahkan dan memarahi kamu.”
“Terima kasih, Kak, Kakak juga tidak menyalahkan Lita.”
“Siapa yang mau Kakak salahkan? Kamu atau bayi kamu?”
“Kakak bisa menghukum Lita.”
"Kakak mana bisa menghukum kamu."
"Harus bisa, Kak. Lita, 'kan sudah berbuat salah."
Leon melepas pelukannya lalu mengacak-ngacak puncak kepala Lita sambil tersenyum, agar adiknya berhenti bersedih dan menyalahkan diri. “Ayo, kita temui Bapak!” ajaknya sambil menuntun Lita ke ruang depan.
“Ada apa, Pak,” tanya Leon Ketika sudah berhadapan dengan ayahnya.
“Kamu sudah tahu tentang kehamilan adikmu.”
“Sudah, Pak.”
“Hari ini bantu Lita cari kekasihnya. Jika sudah bertemu, kita datangi dia baik-baik nanti malam dan memintanya untuk bertanggung jawab, agar besok saat kamu kembali ke Jakarta, adikmu sudah menikah,” perintah Firman.
“Baik, Pak” balas Leon, patuh.
Firman beranjak dari duduknya lalu menepuk-nepuk bahu Leon, Ia ingin memberi nasihat pada anak sulungnya itu karena khawatir Leon sudah atau akan memarahi adiknya. “Jangan marahi atau menyalahkan adikmu dalam masalah ini, dan jangan buat adikmu terpuruk di saat seperti ini. Perbuatan dia memang salah, tapi Bapak harap kamu bisa menegurnya tanpa menggunakan amarah.”
“Iya, Pak,” patuh Leon lagi.
“Bapak yakin tanpa kita salahkan atau sudutkan, Lita pasti sudah sangat menyesal dengan perbuatannya. Sekarang tugas kita membantu dan menemani dia, karena hanya kita keluarganya.”
“Leon pasti akan selalu membantu Lita, Pak.”
Tiba-tiba suara Firman sedikit bergetar menahan tangis saat teringat istrinya. “Sekarang, Ibu sudah tidak ada, Bapak harap meskipun kalian hidup tanpa didikan seorang ibu, kalian bisa menjadi saudara yang selalu rukun dan saling menolong. Ada atau tidak ada Bapak, tetaplah saling membantu.”
Lita tidak bisa menahan kesedihan mendengar wajangan ayahnya. Ia langsung memeluk ayahnya dan menangis. “Lita janji, Pak, akan selalu hidup rukun,” isaknya.
“Terutama kamu, Leon. Sebagai kakak, kamu harus bisa menjadi panutan untuk adikmu. Jadikan dirimu contoh yang baik. Bimbing dia dalam setiap tindakannya, tegur jika dia salah, dan temani dia dalam keadaan apa pun. Jangan sampai dia merasa tidak punya keluarga.”
Leon menunduk menyembunyikan tetesan air matanya. Jika dirinya seorang wanita, mungkin ia juga akan memeluk ayahnya dan menangis seperti Lita saat mendengar wajangan ayahnya yang terdengar sedih karena suara lirihnya. “Leon akan selalu menjaga Lita, Pak.”
Firman segera mengusap setetes air matanya sebelum jatuh ke pipi. Ia malu jika terlihat menangis oleh anak-anaknya. Cukup saat pemakaman istrinya saja ia terlihat cengen. Sekarang ia sudah harus terlihat sabar dan menerima kepergian wanita yang paling dicintai.
“Bapak berangkat sekarang, ya,” pamit Firman.
“Tapi Bapak belum sarapan,” ujar Lita.
“Bapak sarapan nanti saja.” Firman langsung mengulurkan tangan agar Leon dan Lita mencium punggung tangannya sebelum ia pergi.
“Lita buatkan bekal nasi gorenga, ya?” tawar Lita setelah pencium tangan ayahnya.
“Tidak usah,” tolak Firman.
Leon dan Lita hanya bisa menatap kepergian ayah mereka sampai tidak terlihat lagi di depan rumah. Setelah itu keduanya kembali pada pekerjaan masing-masing dengan suasana kesedihan yang sedikit berkurang.
Jika kesedihan Lita dan Leon akibat kepergian Linah sudah sedikit berkurang karena sikap bijak ayahnya yang tidak mengutamakan kemarahan saat mengetahui kehamilan Lita, Adrian justru kesal karena tidak terjadi apa-apa di keluarga mereka.
“Berengsek! Kenapa mereka masih terlihat tenang-tenang saja?” umpat Adrian saat melihat Firman pergi bekerja.
Adrian kesal karena sejak kematian Linah, tidak terjadi keributan atau musibah apa pun di keluarga Leon yang hanya membuang waktunya sia-sia selama tiga hari. Padahal, ia berharap setelah menyuruh Hans menaruh test pack di bawah jendela kamar Lita, akan ada kekacauan atau mungkin musibah yang menyejukkan hatinya. Tetapi, yang terjadi justru sebaliknya.
Adrian tidak mau membuang waktu lebih lama lagi karena ia ingin segera kembali ke Jakarta. Cukup waktunya terbuang sia-sia satu mingu kemarin sebelum Lita mendatangi kontrakannya.
“Hans, ikuti pria tua itu, aku ingin sedikit bertindak untuk menambah kesedihan mereka!” perintah Adrian.
•••••
Lita kembali mendatangi kontrakan bersama Leon untuk mencari keberdaan Edo. Jika kemarin Lita hanya sampai di depan pintu, kali ini Leon meminta pemilik kontrakan agar mengizinkannya masuk untuk melihat barang-barang yang Edo tinggalkan. Ia berharap bisa menemukan petunjuk apa pun, entah itu berupa kartu identitas atau CV untuk melamar kerja.
Namun, Leon dan Lita tidak menemukan apa pun yang dapat memperjelas keberadaan Edo. Tetapi, setelah melihat semua barang yang Edo tinggalkan, Leon ragu jika kekasih adiknya itu adalah pria miskin yang sedang butuh pekerjaan, karena dari tempat tidur, peralatan makan, dispenser, baju, sepatu, bahkan ikat pinggang yang ditinggalkan, semua adalah barang-barang bermerk yang Leon tahu dari pergaulannya dengan Yusna.
“Kamu tahu dari mana kalau Edo pria miskin?” tanya Leon saat pergi meninggalkan kontrakan.
“Dari Kak Edo sendri, Kak.”
“Tahu dia orang Sulawesi dari mana?”
“Dari Kak Edo juga.”
“Kamu pernah Lihat KTP-nya?”
“Tidak, Kak.”
“Kamu tidak pernah tanya detail?”
“Tidak, Kak. Selama kenal Kak Edo, di mata Lita dia itu orang baik, jadi apa pun yang dia katakan tentang asal-usulnya, Lita langsung percaya.”
Leon menghela nafas berat menanggapi kepolosan adiknya lalu menunjukkan senyum manis agar Lita tidak merasa disalahkan.
Setelah itu keduanya menaiki angkutan umum untuk mendatangi toko yang Lita bilang sebagai tempat Edo bekerja. Kali ini baik Lita maupun Leon, tidak menghampiri atau bertanya pada pemilik toko, karena setelah mendengar Lita saat mendatangi toko malam minggu lalu, Leon berpikir Edo sedang bersembunyi dan menyuruh pemilik toko berbohong maka, keduanya memilih mengawasi dari jarak jauh.
Namun, dua jam mengawasi, Lita tidak juga memberitahu Leon ada kekasihnya dari sekian banyak orang yang berlalu-lalang di toko.
“Kamu yakin Edo kerja di toko itu?” tanya Leon.
“Kak Edo bilang begitu, Kak.”
“Kak Edo bilang? Berarti Kamu tidak pernah melihat Edo bekerja langsung di sana?”
“Tidak, Kak.”
Lagi, Leon dibuat menghela nafas berat dengan kepolosan adiknya yang terlalu mudah percaya pada pria bernama Edo itu. Atau lebih tepatnya kebodohan bukan kepolosan.
“Lalu bagaimana kamu bisa tahu Edo bekerja di toko itu?” tanya Leon sedikit kesal.
“Waktu itu setelah dua minggu saling mengenal, Kak Edo bilang dia baru saja mendapat pekerjaan dan Lita diajak ke sini memberitahu tempat kerjanya. Lita pikir Kak Edo tidak mungkin berbohong jika sudah menunjukkan tempat dia bekerja.”
“Hanya menunjukkan tempat kerja?”
“Iya, Kak.” Lita menjawab dengan menunduk saat Leon mulai menunjukkan wajah kesalnya. “Maafkan Lita, Kak,” lirihnya.
Leon langsung mengusap kepala adiknya dengan sayang saat ia sadar ketakutan adiknya. “Lain kali, kamu tidak boleh langsung percaya pada orang yang baru kamu kenal. Biarpun menurutmu dia sangat baik, tapi kamu harus banyak batasan dengan orang asing.”
“Iya, Kak. Lita janji tidak akan mudah percaya dengan orang asing lagi.”
Leon tidak bisa menyalahkan Lita sepenuhnya, karena ia sangat mengerti betapa kurangnya Lita dengan pergaulan sebayanya, termasuk kebodohannya mengenali mana pria yang baik dan mana pria yang hanya sekedar coba-coba mendekati wanita untuk mendapat keuntungan sendiri.
“Ya sudah, sekarang kita ke kampusmu, tempat di mana kamu bilang pertama kali bertemu dengan Edo. Siapa tahu, ada yang kenal dia di sana.”
Lita tentu menolak karena tidak mau kakaknya tahu ia berhenti kuliah. “Jangan, Kak!” cegahnya.
“Kenapa?”