Pemakaman Linah

1763 Words
Dari kejauhan senyum puas makin lebar terukir di wajah Adrian saat melihat Leon dan Lita berteriak menangis sambil memeluk jenazah ibunya, persis seperti apa yang ia dan ibunya lakukan empat bulan lalu saat Yusna tidak berkata apa pun selain berteriak histeris menyebut nama Leon. “Kak, tenang, Kak!” ujar Adrian di hari pertama menemui kakaknya di rumah sakit saat sedang histeris sekaligus hari pertama ia kembali ke Indonesia. Adrian dan Vini—ibunya, sudah memeluk Yusna sekuat tenaga, agar dia bisa tenang karena darah di punggung tangannya sudah berceceran melalui selang infus yang terlepas akibat terus memberontak histeris. “Kembali padaku, Leon!” teriak Yusna sekuat tenaga sampai urat di leher dan wajahnya terlihat jelas. “Tenanglah, Nak,” pinta Vini dengan isak tangis karena sudah tidak tega melihat keadaan anak wanitanya, bahkan matanya sudah sembab karena terus menangisi keadaan Yusna yang tenang hanya sesaat saja. Kepanikan Vini dan Adrian semakin bertambah saat luka sayatan di pergelangan tangan Yusna yang dibuat untuk mengakhiri hidup dua hari lalu, kembali mengeluarkan darah yang merembes dari perban. “Tepati janjimu, Leon!!” teriak Yusna lagi sambil terus memberontak dari pelukan Vini dan Adrian. “Kak, ini aku, Adrian. Adikmu sudah pulang, Kak!” ujar Adrian sambil mengarahkan wajah Yusna agar menatapnya, berharap setelah melihat wajah adik kesayanganya, Yusna bisa tenang. Namun, jangankan tenang, Yusnah mengenali pun tidak. Adrian juga tidak menemukan lagi tatapan sayang yang biasa terpancar dari mata Yusna jika mereka sedang bersama. “Mah, Papah ke mana?” tanya Adrian tanpa mengendurkan tenaganya. “Papah keluar setengah jam lalu karena tidak setuju Mamah melepas borgol di tangan Yusna saat dia tidur tadi,” balas Vini sambil terus memegangi lengan Yusna. “Kak Yusna diborgol?” Belum sempat Vini menjawab, tiga perawat datang dan langsung membantu keduanya menahan pergerakan Yusna. Dua perawat kembali memasang borgol yang ada di meja samping berankar dan satunya berusaha memasang selang infus. Lamunan Adrian buyar saat mendengar sirine ambulans memekakan telinganya lalu kembali melihat Leon dan Lita yang sudah dikerumuni para tetangga. “Leon, kini kamu rasakan apa yang dirasakan ibuku. Dia juga sama sedihnya sepertimu sekarang, saat Kak Yusnah hanya menyebut namamu dan tidak mengenali keluarganya sendiri,” batin Adrian penuh kepuasan. Adrian dan Hans terus memperhatikan saat Leon dan Lita menaiki ambulans untuk menemani ibunya ke rumah sakit. “Kita ikuti ambulans itu atau tetap menunggu di sini, Pak?” tanya Hans. “Ikuti ambulans itu, aku ingin melihat setiap tetes air mata mereka,” balas Adrian. “Baik, Pak!” “Di tengah jalan nanti, kamu beli masker dan kaca mata hitam untukku. Aku ingin melihat langsung kesedihan Leon di pemakaman, jika benar ibunya meninggal,” perintah Adrian lagi yang dibalas anggukan patuh oleh Hans. ••••• Begitu tiba di rumah sakit, dokter tidak melakukan apa pun karena memang Linah sudah tidak bernyawa sebelum ambulans datang. Meskipun ambulans yang menjemput ambulans khusus untuk pasien serangan jantung yang di dalamnya sudah dilengkapi berbagai alat dan obat-obatan untuk pertolongan pertama, juga ditangani tim khusus kegawatdarutan kardiovaskular, tetapi nyawa Linah sudah tidak bisa kembali lagi, yang membuat Lita dan Leon hanya bisa menangis pasrah sambil terus memeluk jenazah ibunya. Selama di rumah sakit, Leon berusaha menenangkan Lita yang terus histeris. Lalu begitu jenazah tiba di rumah, Leon kembali disambut jerit tangis dari Firman—ayah kandungnya yang baru tiba sepuluh menit lalu setelah diberitahu oleh Yanto yang langsung menunggu di rute biasa angkotnya lewati. Dari ketiga anggota keluarga, hanya Leon yang terlihat paling kuat, meskipun terus menangis tanpa henti, dari mulai jenazah tiba di rumah sampai proses pemakaman selesai. Sedangkan Firman harus berkali-kali dipapah para kerabat karena tidak rela wanita yang sudah tiga puluh tahu lebih menemaninya hidupnya, kini pergi untuk selama-lamanya. Bahkan harusnya Firman ikut menerima jenazah Sang Istri di liang lahat, tetapi itu tidak bisa ia lakukan karena tubuhnya terasa kehilangan tenaga jika harus membaringan istrinya untuk yang terakhir kali. Tangis histeris Lita juga terus mengiringi setiap proses, bahkan ia berkali-kali pingsan karena tidak kuat menahan sedih sekaligus hormon ibu hamil yang membuatnya mudah lelah. “Bu, kembali, Bu. Lita belum bisa apa-apa tanpa Ibu,” jeritnya saat tanah mulai menutupi tubuh ibunya. semua orang yang ada di pemakaman turut bersimpati dan bersedih dengan musibah yang sedang Lita dan Leon alami. Bahkan ada yang ikut menangis saat Leon terbata-bata mengumandangkan adzan karena diselingi tangis yang sulit dihentikan. Tetapi, tidak dengan Adrian yang turun dari mobil dengan wajah tertutup masker dan kaca mata hitam hanya untuk melihat langsung tangis kesedihan Leon. Semakin sedih keluarga Leon, semakin puas dan bahagia hatinya. Semakin kencang Lita menjerit, semakin terdengar merdu di telinganya. Bahkan, saat melihat Firman dipapah oleh beberapa kerabat yang lewat tepat dihadapannya, Adrian dengan santainya berkata, “Semoga pria tua itu segera menyusul istrinya setelah tahu anak gadisnya hamil tanpa ada yang bertanggung jawab. Bila perlu, aku bantu dia menyusul." Kemudian Adrian menoleh ke arah Lita yang masih terus menangis memeluk gundukan tanah makam ibunya. “Aku juga berharap gadis bodoh itu mati karena stress tidak ada yang menikahi, agar Leon semakin menderita kehilangan seluruh keluarganya.” Kemudian saat pemakaman mulai sepi, hari juga sudah mulai gelap, Adrian kembali ke mobil dan tidak mengawasi di depan rumah Leon lagi, karena menurutnya tontonan hari ini sudah cukup membahagiakan hati. Jadi ia akan kembali mengawasi besok pagi. ••••• Pagi ini Lita membuka kelopak matanya secara perlahan karena masih membengkak akibat terlalu sering menangis tiga hari terakhir. Kepergian Linah yang mendadak masih sulit ia terima, sehingga ketika teringat kenangan indah tentang ibunya, air mata kembali mengalir dan tangisnya sangat sulit untuk diredam. “Ibu, Lita rindu ibu,” ucapnya. Setelah tiga hari kepergian Linah, sampai detik ini Firman belum tahu tentang kehamilan putrinya, karena baik Leon maupun Lita, tidak sampai hati untuk memberitahu kabar tersebut. Apalagi sudah dua hari ini, Firman lebih banyak melamun dengan kesedihan yang tidak berkurang sedikit pun. Firman berpikir kepergian istrinya memang karena penyakit jantung yang sudah lama diderita, jadi ia tidak bertanya pada anak-anaknya penyebab pasti istrinya terkena serangan jantung dan tidak memiliki pikiran buruk apa pun. Dari segi emosi, Firman jauh lebih lembut dari pada Linah saat marah. Andaikan Lita memberitahu kehamilannya sekarang, ia yakin tidak akan mendapat pukulan seperti kemarin saat Linah tahu. Semarah-marahnya Firman dalam memberi hukuman, itu hanya berupa bentakkan yang langsung membuat anak-anaknya takut. Namun, baik Leon maupun Lita, tidak mau menambah musibah di tengah kesedihan ayah mereka. Mungkin, ketika perut Lita sudah membuncit dan kesedihan ayahnya sudah berkurang, Lita baru akan memberitahu kahamilan juga tidak adanya pria yang mau menikahi dirinya. Tidak mau terus bersedih, Lita bangun dari tempat tidur sambil mengikat rambut panjangnya secara asal. Bunyi kapak yang membelah kayu terdengar jelas dari bagian belakang rumah, pertanda Leon sedang melakukan tugas utamanya selain mengambil air dari sumur tetangga untuk kebutuhan sehari-hari. “Ini baru jam enam pagi, tapi Kak Leon sudah membelah kayu,” ucap Lita. Lita menatap jendela untuk melamun guna mengumpukan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya. “Dua hari lagi Kak Leon kembali ke Jakarta, tinggal aku sama Bapak di rumah. Apa minggu-minggu pertama tanpa Ibu, Bapak mau makan masakkan buatanku? Apa Bapak mau minun kopi buatan orang lain selain buatan ibu?” gumam Lita. Lita sudah paham betul seberapa sulit ayahnya dalam urusan makanan yang hanya mau buatan Sang Istri. Bahkan, sembilan belas tahun usianya, tidak kurang dari lima belas kali ia membuatkan kopi atau teh untuk ayahnya, itu juga saat ibunya sedang sakit, dan belum tentu juga akan diminum setelah dibuatkan. Kalaupun ayahnya mau makanan atau minum buatan orang lain, harus ibunya yang menyiapkan, itu pun ingin ditemani sampai selesai makan. Itu sebabnya kepergian ibunya seperti membawa separuh nyawa ayahnya yang selalu dilayani. Dari hal terkecil sampai hal besar. Dari yang mudah sampai yang merepotkan. Semua kebutuhan ayahnya sangat bergantung pada istrinya meskipun semuanya sudah tersedia. “Semoga aku bisa mengurus semua keperluan Bapak!” ujar Lita. Kemudian Lita beranjak dari tempat tidur untuk menyiapkan apa pun kebutuhan ayahnya, juga membuat camilan berupa gorengan atau kopi, hidangan yang biasa disuguhkan ibunya sesaat setelah ayahnya bangun tidur. Saat ke luar kamar, Lita melihat ayahnya sedang duduk melamun di kursi kayu yang ada di depan televisi dengan pakaian rapi. “Bapak mulai kerja hari ini?” tanya Lita. “Iya, Bapak tidak enak hati sama Bos Herman kalau libur terlalu lama.” Lita membatalkan niatnya untuk ke dapur dan memilih duduk di samping ayahnya. “Bapak yakin mau kerja hari ini?” “Yakin. Kita sudah tidak punya uang, kalau Bapak tidak kerja hari ini, besok Leon kembali ke Jakarta tidak bisa bawa uang saku yang cukup untuk satu bulan di sana. Bapak juga tidak punya uang untuk jajan kamu di kampus.” “Pak, Lita berhenti kuliah saja.” Lita berkata dengan nada sendu karena tidak tega dengan wajah sedih ayahnya yang masih terlihat jelas, tapi harus kembali bekerja. “Kenapa berhenti? Baru beberapa bulan kuliah, sudah ingin berhenti. Hutang sama Bos Herman saja belum lunas.” “Lita mau bantu Bapak cari uang,” bohong Lita, karena faktanya memang dia sudah berhenti kuliah. “Itu bukan tugas kamu. Itu tugas Bapak sama Leon. Nanti setelah Leon resmi menjadi dokter, dia juga pasti akan bantu biaya kuliah kamu dan Bapak tidak perlu kerja keras lagi.” Lita langsung memeluk Firman karena tidak kuat menahan tangis harunya memiliki ayah yang sangat bijaksana dan sabar, sama seperti Leon. “Lita sayang Bapak.” Firman balas memeluk anakknya. “Bapak juga sayang kamu.” “Sehat-sehat, ya, Pak, didik dan bimbing Lita terus. Sampai kapan pun Lita tidak akan pernah dewasa tanpa bimbingan Bapak sama Ibu, tapi sekarang ibu sudah tidak ada, hanya Bapak yang bisa temani langkah Lita.” “Doakan Bapak supaya diberi umur panjang, bisa melihat anak-anak Bapak bahagia dan sukses. Agar saat bertemu ibu nanti, Bapak bisa bilang kalau anak-anaknya sudah berhasil mengejar cita-cita masing-masing dan menjadi anak yang membanggakan.” Tangis haru Lita berubah jadi tangis kesedihan saat mendengar kata membanggakan. Ia tidak tahu akan seberapa kecewa hati ayahnya jika tahu ia justru menjadi anak yang hanya membuat malu keluarga. “Lita, Bapak boleh tanya sesuatu?” Lita menjawab dengan anggukkan dalam pelukan ayahnya karena masih ingin menangis. Firman langsung merogoh saku celananya untuk menunjukkan benda pipih yang baru tadi pagi ia temukan. “Apa ini punya kamu?” Lita melepas pelukannya untuk melihat benda yang ayahnya tunjukkan. Matanya lansung terbelalak saat melihat test pack yang satu minggu lalu ia berikan pada Edo dan di simpan olehnya. “Ini Bapak temukan tadi di meja depan rumah tepat di bawah jendela kamar kamu. Ini punya kamu atau bukan?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD