Kisah Cinta Leon dan Yusna

1831 Words
“Bukan mengemis, tapi meminta bantuan dia.” “Tidak perlu, Mah, Kak Yusna pasti bisa sembuh. Kita datangkan psikiater terbaik di kota ini, bila perlu terbaik di negara ini.” “Justru itu, Mamah hanya berharap pada pria bernama Leon itu untuk membantu kakakmu sembuh karena Papah tidak mau memanggil psikiater mana pun ke rumah dan memilih membiarkan Yusna seperti itu.” “Apa, Mah?!” pekik Adrian dengan ekspresi terkejut sekaligus tidak percaya. “Kenapa Papah tidak mau memanggil psikiater? Apa Papah tidak ingin Kak Yusna sembuh?” “Papahmu takut keadaan Yusna diketahui orang lain yang akan mempermalukan nama keluarga. Papah juga takut ada pesaing bisnisnya yang tahu, lalu membuat berita miring tentang Yusna untuk menjatuhkan nama besar Papah di dunia bisnis. Itu juga alasan Papahmu ingin Yusna dirawat di rumah dan mengatakan pada teman-temannya kalau Yusna akan melanjutkan study kedokterannya di Jerman. Papahmu ingin benar-benar menyembunyikan Yusna dari publik.” “Tapi sebulan lalu saat Papah akan membawa Kak Yusna pulang, aku tanya kenapa Kak Yusna dirawat di rumah? Papah bilang agar lebih mudah mengawasi dan tidak perlu terlalu sering ke rumah sakit. Sebenarnya Mamah atau Papah yang bohong?” “Itu karena Papahmu tahu, kamu tidak akan setuju jika tahu alasan yang sebenarnya.” Rasa kesal langsung mendominasi hati Adrian. Ia pergi begitu saja meninggalkan ibunya menuju kamar Yusna tanpa sepatah kata pun karena benar-benar kecewa dengan cara Papahnya. Vini hanya bisa menghela nafas melihat sikap anaknya. Dari penolakan Adrian untuk terus mencari Leon, ia berkeinginan mencari sendiri dengan bantuan Hans, tanpa harus ada yang tahu, dan ia berniat untuk menjadikan Hans sopir pribadinya lagi agar mudah berpergian jauh, seandainya pria bernama Leon itu tinggal di luar propinsi. Saat membuka pintu kamar Yusna, Adrian langsung melihat punggung tegak kakanya yang sedang duduk di tepi tempat tidur menghadap ke jendela. Adrian melangkah mendekati kakaknya untuk menyapa setelah tiga bulan tidak bertemu. Namun, belum sempat sapaan keluar dari mulutnya, mata Adrian sudah memanas menahan tangis saat melihat fisik kakanya yang memprihatinkan. Rambut yang dulu panjang tergerai, kini hilang setelah dicukur pendek, bahkan hampir botak, karena Yusna akan terus menjambak rambutnya sendiri saat ia Lelah berteriak. Kuku di jari-jari lentiknya kini tidak bisa lagi dihias nail art kit ataupun dipanjangkan untuk memperindah, karena Yusna akan mencakari seluruh tubuhnya saat ia merasa gelisah. Wajah cantiknya kini perlahan memudar berganti dengan wajah pucat dan tatapan kosong. Mungkin, jika mencopot seluruh giginya dianjurkan, keluarganya pasti akan mencopot agar Yusna tidak bisa menggigiti tubuhnya sendiri saat merasa tidak tenang. Adrian menghela nafas untuk menahan tangis sambil mengedarkan pandang ke sekeliling kamar dan baru menyadari tidak ada lagi pajangan keramik, bingkai foto, atau benda lainnya yang mudah pecah. Bahkan, cermin di meja riasnya sudah tidak ada lagi, karena khawatir Yusna akan mengamuk dan memecahkan benda di sekitarnya. Adrian melanjutkan langkahnya untuk duduk di samping Yusna yang sedang melamun. “Kak,” sapanya sambil mengusap punggung tangan Yusna. Bertepatan dengan sentuhan Adrian, setetes air mata Yusna menetes begitu saja karena teringat cara Leon yang pasti akan menggenggam tangannya setiap kali bertemu. “Kenapa kamu harus pergi, Leon? Apa salahku?” ucap Yusna, lirih. “Kak, ini aku, Adrian,” ucap Adrian karena Yusna malah memanggil Leon. Namun, kakaknya itu tidak merespon dan kembali pada tatapan kosongnya. “Kak, apa Kakak tidak merindukan aku? Kenapa sejak aku pulang dari Enggland, Kakak tidak menyambutku? Apa Kakak lupa, selama aku di sana, kakaklah yang paling sering protes, jika saat liburan aku tidak pulang. Sekarang aku sudah menyelesaikan Pendidikan Undergraduate dan magangku, kenapa kakak malah menyambutku dengan keadaan seperti ini? Ayo, Kak, saksikan kesuksesanku menjadi seorang lawyer!” hibur Adrian antusias. Adrian menyandarkan kepalanya di bahu Yusna lalu kedua tangan memeluk erat pinggang kakaknya. “Kak, sembuhlah. Lanjutkan cita-cita Kakak sampai resmi menjadi dokter obgyn. Teruskan masa koasmu yang tinggal setengah tahun lagi. Bukankah Kakak bilang setelah resmi menjadi dokter, Kakak akan banyak menolong orang-orang yang tidak mampu dan berharap bisa mengurangi tingginya resiko kematian bagi ibu melahirkan yang kekurangan biaya? Jika Kakak seperti ini terus, bagaimana Kakak bisa menolong orang?” “Lagipula, jika Kakak hanya diam, siapa yang akan menyuntik mati aku, jika aku tidak mematuhi Papah dan Mamah, bukankah itu juga menjadi alasan Kakak ingin menjadi dokter?" Seketika Adrian teringat ancamaan Kakaknya dulu saat baru saja resmi menjadi mahasiswa kedokteran. “Kak, kenapa cita-cita Kakak ingin menjadi dokter, jika harus meninggalkan aku di rumah karena kesibukan Kakak?” keluh Adrian yang kala itu masih duduk di bangku kelas tiga SMA. “Karena Kakak ingin membiusmu, jika kamu tidak menuruti perintah Papah dan Mamah. Bilaperlu Kakak akan menyuntik mati kalau kamu membuat Papah-Mamah kesal!” ancam Yusna kala itu. “Kak, aku rindu bercanda denganmu,” ucap Adrian, sendu. Yusna tetap pada diamnya tanpa melirik Adrian sedikit pun, apa lagi membalas pelukan kerinduan adiknya, seerat apa pun pelukan itu. Adrian melepas pelukannya lalu duduk tegak tanpa menggeser bokongnya. "Apa Kakak tahu? Aku sudah membuat hidup Leon sedikit susah dan menderita dengan menghamili adikknya juga mempermudah ayahnya menuju kematian. Aku tahu apa yang sudah aku perbuat padanya, tidak sebanding dengan apa yang dia lakukan hingga Kakak seperti ini, tapi setidaknya aku sudah membuat hidup Leon tidak baik-baik saja sekarang. Aku memang gagal membuat adiknya mati, dan kini aku berharap adiknya depresi karena tidak ada yang menikahi." "Aku yakin, jika Kakak memahami kata-kataku ini, Kakak akan marah padaku dan melarang aku berbuat jahat pada orang lain. Aku sadar apa yang aku lakukan ini adalah suatu kejahatan, tapi aku tidak akan memulai jika Leon tidak membuat Kakak menjadi seperti ini. air mata harus dibayar air mata. Dia sudah memberi penderitaan pada Kakak, dan aku harus membalas dengan penderitaan juga." Adrian terus bercerita perihal kebenciannya pada Leon dan cerita tentang pengalamannya selama menempuh pendidikan di Oxford Univercity, entah itu pengalaman lucu, seru, sedih, atau senang. Adrian bercerita dengan penuh antusias meskipun kakaknya tidak berkata sekali pun. Malah tanpa Adrian sadari, tetesan air mata Yusna beberapa kali mengalir karena di pikirannya hanya tentang Leon yang sudah tidak bisa dimiliki lagi. •••••• Saat ini Leon dan Lita sedang istirahat dari lelahnya setelah menyusun pakaian ke lemari. Keduanya berbaring di satu bantal yang sama di lantai sambil menatap foto Leon yang tengah memeluk Yusna dari belakang. “Bagaimana? Apa manurutmu Kak Yusna cantik?” tanya Leon penuh kebanggaan. “Cantik sekali, Kak. Pantas Kakak sangat mencintai dia.” “Tidak hanya cantik, dia juga baik. Sangat baik.” “Tapi menurutku Kak Yusna sangat bodoh.” Leon mengerutkan keningnya tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah ceria Yusna. “Kenapa kamu bilang calon kakak iparmu bodoh?” “Karena Kak Yusna itu sangat cantik, tetapi kenapa dia bisa mencintai kakakku yang jelek ini,” ejek Lita. Leon tersenyum mendengar ejekkan adiknya. “Apa kamu tahu, siapa yang mencintai lebih dulu di antara kami?” “Pasti Kakak,” balas Lita penuh keyakinan. “Kamu salah. Bukan Kakak yang pertama mencintai, tapi dialah yang jatuh cinta pada Kakak lebih dulu.” “Mana mungkin wanita secantik Kak Yusna mau mencintai Kakak lebih dulu. Penampilan Kakak terlalu biasa jika dibandingkan dengannya.” “Itu juga yang membuat Kakak dulu sempat ragu menjadi kekasihnya.” “Kak, Lita penasaran dengan kisah cinta Kakak dan Kak Yusna. Bisa Kakak ceritakan?” “Tentu,” balas Leon semangat dengan terus memandangi wajah Yusna. “Kakak tidak tahu kapan tepatnya Kak Yusna jatuh cinta pada Kakak, karena saat menyatakan cintanya, dia bilang sudah lama mengagumi Kakak diam-diam. Saat mengatakan itu Kakak baru satu tahun menjadi mahasiswa kedokteran dan cukup terkejut dia mencintai Kakak. Karena sejak awal kuliah, Kakak sangat sedikit ada waktu untuk bergaul dan sibuk kerja paruh waktu, termasuk tidak sempat bergaul dengan Kak Yusna yang dulu Kakak anggap hanya sekedar teman kampus dan tentunya tidak pernah ada waktu berdua saja di antara kami.” “Saat Kak Yusna meminta Kakak untuk membalas cintanya, Kakak bingung karena keuangan kita sangat berbeda jauh dan malu jika harus menjalin hubungan dengannya. Lalu Kakak menolak dia secara halus dengan alasan kasta, tetapi Kak Yusna malah menyetarakan dirinya dengan kehidupan Kakak. Mulai dari ke kampus tanpa membawa mobil, ikut kakak mencari pekerjaan tambahan, hingga mau makan di pedagang kaki lima bersama Kakak. Sejak saat itu Kakak tahu dia baik dan menerima Kakak apa adanya, lalu Kakak memberanikan diri membalas cintanya.” “Di awal hubungan, Kakak meminta dia merahasiakan hubungan kami karena Kakak takut ada yang buruk sangka pada Kakak, tapi lama-kelamaan Kakak cemburu jika dia dekat dengan teman-teman prianya, lalu demi menjaga perasaan Kakak, Kak Yusna memutuskan untuk menunjukkan hubungan kami pada teman-temannya. Sejak awal hubungan juga, Kak Yusna sangat membantu keuangan Kakak, karena dia tahu, menjadi dokter bermodalkan beasiswa saja tidak cukup maka, setiap dia tahu Kakak sedang kekurangan uang, dia pasti langsung membantu, mulai dari memberi uang lebih dari jumlah yang Kakak butuhkan hingga mempercayakan salah satu tabungannya pada Kakak. Itu sebabnya Kakak sering menolak uang saku dari Bapak dan Ibu.” “Semua teman kuliah satu angkatan Kakak, pasti tahu hubungan Kakak dan Kak Yusna, karena kami cukup mesra di mana pun berada, dan Kakak tidak bisa jauh dari dia sedetik pun. Bahkan Kakak banyak membuat teman-teman iri dengan kisah cinta kami berdua, karena Kakak yang selalu memperlakukan Kak Yusna melebihi seorang ratu dan malaikat. Jika sebelum menjadi kekasih Kakak sangat malu dan tidak berani mencintai dia, tapi setelah resmi menjadi kekasihnya, justru Kakak paling terlihat tergila-gila dan sangat, sangat posesif padanya karena Kakak sangat takut jika ada yang merebut dia dari Kakak,” papar Leon panjang lebar. “Kisah cinta Kakak dengan Kak Yusna sempurna sekali, Lita semakin tidak sabar ingin cepat-cepat bertemu dengannya, Kak.” “Nanti. Masih terlalu dini jika kamu ingin bertemu sekarang karena Kakak juga tidak bisa menemui dia dalam waktu dekat ini.” Lita langsung menoleh menatap Kakaknya dengan Heran. “Kenapa, Kak? Apa Kakak sedang bertengkar dengannya?” “Tidak, hubungan Kakak dan Kak Yusna baik-baik saja.” “Lalu kenapa tidak bisa bertemu sekarang? Padahal Lita sudah ingin mengenalkan diri dan anak Lita juga, agar Kak Yusna tidak heran dengan perut yang membesar nanti.” “Bukankah saat di kamarmu minggu lalu Kakak katakan ada hal yang tidak bisa Kakak buktikan pada orang tuanya dalam hitungan bulan?” Lita diam dan ingin bertanya membuktikan apa? Tetapi pasti kakaknya itu akan menjawab ia masih teralu kecil untuk tahu urusan orang dewasa, sama seperti jawaban Minggu lalu. Maka, ia memilih mengalihkan tatapanya kembali ke foto Yusna dan Leon. Sedangkan Leon semakin dalam menatap Yusna sekaligus menyalurkan kerinduannya melalui foto. “Yusna, jika nanti aku sudah melakukkan apa yang ayahmu inginkan, aku pasti akan langsung datang melamarmu. Semoga selama aku jauh darimu, kamu tetap setia menungguku, tanpa membagi hati pada pria mana pun, karena aku juga tidak akan pernah berpaling darimu selama apa pun kita berpisah. Aku sangat mencintai dan merindukanmu." “Kak, apa Kakak tahu?” Pertanyaan Lita langsung membuyarkan lamunan Leon. “Tahu apa?” tanyanya. “Kenapa Lita merasa senyum Kak Yusna sangat mirip dengan Kak Edo?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD