Leon langsung tersenyum menanggapi ucapan adiknya yang ia pikir mengada-ada. “Apa kamu sedang merindukan pria itu sampai senyum Kak Yusna kamu bilang mirip dia?”
“Tidak, Kak. Lita tidak merindukan siapa pun. Lita memang melihat senyum Kak Yusna sangat mirip dengan Si Pengecut itu.”
“Edo dan Kak Yusna bukan saudara dan tidak saling mengenal. Tempat tinggal mereka juga sangat jauh, mana mungkin mirip.”
Lita menunjukkan wajah cemberut karena Leon tidak percaya pada ucapannya. “Kak, tidak ada hubungan darah, tidak saling kenal, dan berasal dari tempat tinggal yang sama, tidak mustahil untuk mirip. Buktinya Park Min Young ada di Korea, tetapi wanita yang sangat mirip dengannya ada di Indonesia,” protesnya.
“Memangnya ada wanita yang mirip Park Min Young di Indonesia?” selidik Leon penasaran.
“Ada, dan tidak kalah cantik,” balas Lita penuh semangat.
“Siapa?”
“Lita!”
Leon langsung tertawa lepas mendengar gurauan adiknya dan Lita juga ikut menertawakan guruannya sendiri.
“Lita benar, ‘kan, Kak?” tegas Lita lagi sambil tertawa.
Satu tangan Leon mengacak-ngacak puncak kepala adiknya, gemas. “Di mata Kakak, kamu dan ibu wanita tercantik di dunia.”
“Lalu Kak Yusna?”
“Dia tercantik di hati Kakak.”
Tiba-tiba Lita merubah wajah cerianya menjadi tatap serius saat teringat ajakan Hans sore tadi. “Kak, besok Kak Hans meminta aku temani dia membeli barang-barang untuk di kostannya.”
“Jika kamu ingin ikut, ikut saja. Kasihan dia belum banyak tahu tentang kota Jakarta.”
Lita kembali tersenyum mendengar jawaban kakaknya. “Kakak pikir aku sudah tahu banyak tentang kota ini? Bagaimana jika aku malah tersesat bedua dengannya?”
Giliran Leon yang tersenyum dengan jawaban adiknya. “Besok ikut saja dengan dia. Kalian bisa jalan-jalan bersama, mengenal kota ini, asalkan kamu tidak terlalu lelah.”
“Kak, jika Kak Hans tahu Lita sedang hamil tanpa suami, apa dia akan memandang buruk Lita?” tanya Lita sendu.
“Jangan berpikir terlalu jauh, belum tentu kita akan dekat terus dengahnya. Mungkin saja tidak lama lagi dia mendapat pekerjaan dan pindah dari sini.”
“Lalu bagaimana dengan pendapat tetangga sekitar sini dengan perut Lita yang membuncit nanti? Mereka pasti akan menggunjing kehamilan Lita tanpa suami.”
“Tidak perlu memikirkan hal yang masih lama terjadi, dan ingat! Orang hamil itu tidak boleh banyak pikiran," hibur Leon.
"Kak, jika suatu saat Kakak akan mendapatkan malu karena kehamilan ini, Kakak marahi saja Lita sepuasnya, Lita tidak akan pernah membantah ataupun protes, tapi jangan pernah suruh Lita pergi atau menjauh dari Kakak seperti kemarin."
"Kakak janji akan terus menemani kamu sampai nanti ada pria yang mau menikahi dan menerimamu apa adanya, juga menyayangi anakmu." Leon berbicara dengan senyum agar adikknya bisa merubah wajah sedihnya dan bercanda seperti tadi.
•••••
Pagi ini setelah selesai sarapan dan melakukan Pendidikan Khusus Profesi Advokat secara online, Adrian langsung mendatangi Yusna di kamarnya untuk banyak bercerita seperti kemarin.
“Pagi, Kak,” sapa Adrian pada Yusna yang sedang duduk bersandar di kepala ranjang dengan tatap lurus kedepan.
Adrian menaiki tempat tidur lalu berbaring dengan kepala di pangkuan Yusna. “Kak, aku baru saja melakukan PKPA pertamakku dengan empat sesi pembelajaran. Kurang dari dua minggu lagi aku akan ujian profesi, lalu setelah itu aku akan memulai karirku menjadi Lawer dengan magang di beberapa kantor Advokad. Harusnya di momen ini Kakak banyak menyemangatiku. Lalu nanti di hari pertama aku magang, Kakak lah yang memilihkan pakaian keberuntungan untukku.”
Tiba-tiba Adrian bangkit dari berbaringnya yang baru satu menit dan langsung menatap Yusna dengan serius. “Aku ingat janji Kakak saat menghadiri wisudaku di kampus. Waktu itu Kakak bilang sudah membeli dasi limited gold editon untuk aku pakai di hari pertama aku magang. Kakak simpan di mana dasi itu?”
Tanpa menunggu jawaban Yusna, Adrian beranjak dari tempat tidur dengan cepat menuju lemari yang ada di samping tempat tidur untuk mencari benda yang bisa menampilkan image profesional dan berwibawa itu.
Adrian memeriksa setiap rak dan laci yang ada di dalam lemari juga menyingkap satu per satu lipatan baju. Wajahnya langsung berubah semringah saat melihat kotak berwarna hitam berbentuk persegi panjang. Tetapi, di detik itu juga wajah sumringahnya berganti dengan kening yang berkerut saat menemukan setumpuk foto mesra nan romantis Leon dan Yusna di bawah kotak dasi.
Adrian tersenyum kecut saat melihat betapa cintanya Yusna pada Leon yang terlihat jelas dari tatapan dan pelukan eratnya di setiap foto. Juga kebahagian keduanya yang terlihat dari senyum dan tawa mereka di setiap momen yang diabadikan.
“Leon, Kakakku sangat mencintai pria berengsek sepertimu, tapi kamu malah pergi begitu saja hingga dia seperti ini,” ujar Adrian saat melihat foto Yusna sedang mencium pipi Leon kuat-kuat.
Adrian langsung mengambil semua foto Leon dan Yusna di lemari untuk ia bakar. Bahkan ia juga memeriksa tas, dompet, dan seluruh rak di walk in closet Yusna karena tidak mau ada sedikit pun hal tentang Leon, agar ketika sembuh nanti, Kakaknya sudah benar-benar melupakan pria itu.
Setelah yakin tidak ada lagi foto tentang Leon di seluruh kamar kakaknya, Adrian langsung keluar untuk memusnakan puluhan foto yang ia temukan, tanpa pamit pada Si Pemilik kamar.
•••••
Pagi ini Hans sedang dalam perjalanan mengantar Vini menemui teman dekat Yusna yang tiga bulan lalu juga memberitahu Adrian sedikit informasi tentang Leon yang kurang enak didengar hingga menjadi dendam.
Harusnya pagi ini Hans pergi bersama Lita berjalan-jalan ke beberapa tempat dengan alasan membeli perabot untuk mengisi kostannya. Ia terpaksa menggunakan alasan bohong karena tidak tahu alasan apa yang harus dikatakan untuk mengajak Lita pergi karena ia ingin sedikit menghiburnya dari kesedihan yang belum seratus persen hilang sekaligus agar cepat akrab dengannya.
Selain itu, hari ini Leon sudah mulai melanjutkan koasnya di rumah sakit yang pasti akan banyak waktu di luar kostan, apalagi Leon akan langsung mencari pekerjaan sambilan setelah koasnya selesai, jadi ia takut Lita jenuh jika terlalu lama sedirian.
Tetapi, semalam saat dalam perjalan pulang ke rumah untuk mengambil baju yang akan ia pindahkan ke kostan, nyonya besarnya menelepon dan minta diantarkan menemui Jani untuk mencari tahu keberadaan Leon tanpa diketahui siapa pun. Alhasil sekarang ia tidak bisa bersama Lita.
Dari komunikasinya semalam, Hans tahu tentang kebohongan Adrian yang mengatakan belum menemukan Leon dan tidak tahu di mana keberadaanya. Ia tidak sedikit pun berniat memberitahu kebenaran yang terjadi, karena merasa bukan urusannya.
“Hans, mulai hari ini kamu menjadi sopirku lagi,” ucap Vini tiba-tiba karena sejak duduk di mobil ia sibuk berpikir hingga tidak ingin bicara.
“Baik, Nyonya,” balas Hans.
“Nanti aku akan bicarakan pada Adrian tentang masalah ini.”
Hans tidak menjawab lagi karena jika ia katakan Adrian sudah memecatnya, pasti akan ditanyakan alasan pemecatannya, dan ia tidak tahu harus menjawab apa. Jadi lebih baik ia diam.
“Hans, sepertinya ini menuju ke rumah sakit tempat Yusna koas?” tanya Vini saat mengenali jalan yang tidak asing.
“Benar, Nyonya.”
“Kenapa kesini?”
“Karena Jani juga sedang koas di rumah sakit yang sama dengan Nona Yusna.”
“Apa kamu sudah membuat janji dengannya?”
“Belum, Nyonya, karena di pertemuan waktu itu, aku tidak menyimpan nomor ponselnya, dan semalam perintah Nyonya cukup mendadak, jadi aku tidak tahu ke mana menghubungi dia untuk membuat janji.”
“Apa sekarang dia pasti ada di rumah sakit?”
“Mudah-mudahan saja.”
Vini menghela nafas berat karena bingun apa yang akan ia lakukan nanti seandainya orang yang ia cari tidak ada di tempat.
“Hans, jika teman Yusna tidak ada di tempat, kita langsung ke Bandung saja dan mencari tahu dari mulut ke mulut.”
“Baik, Nyonya.” Di mulut Hans menjawab dengan patuh, tapi di dalam hati ia menertawakan niatan majikannya itu. “Anaknya terlalu terburu-buru dalam menyimpulkan dan bertidak, sekarang ibunya terlalu bernafsu hingga menganggap semuanya mudah. Dia pikir bisa mencari satu orang di satu kota hanya dari mulut ke mulut.”
begitu tiba di parkiran rumah sakit, Hans langsung mengantarkan Vini ke kantin, setelah itu ia mencari tahu keberadaan Jani di dalam rumah sakit yang membutuhkan waktu lima belas menit lamanya Hans berkeliling, itu pun setelah bertemu ia tidak bisa langsung membawanya ke kantin karena dia sedang ikut bedah seksio caesaria di ruang operasi.
Mau tidak mau, Hans harus kembali ke kantin untuk menemani Vini menunggu Jani sampai dia selesai operasi. Dan selama menunggu, Vini dan Hans sibuk dengan ponsel masing-masing, Vini dengan ber-chat ria bersama teman sosialitanya, sedangkan Hans sibuk menonton video ia dan Lita saat membantu membereskan pakaian sore kemarin.
“Selama mengawasi dari kejauhan, aku pikir Lita pribadi yang pendiam, tapi setelah dekat dengannya kemarin, ternyata dia orang yang humble, humoris dan tidak mudah tersinggung. Semoga saja tidak ada sifat buruk Adrian yang menurun pada anakmu nanti.”
“Maaf, karena sudah membuat kalian menunggu,” ujar Jani tiba-tiba hingga langgsung menghentikan kegiatan Vini dan Hans.
“Tidak apa-apa,” balas Vini ramah sambil memasukkan poselnya ke tas.
“Selamat pagi menjelang siang, Tante,” sapa Jani lalu melirik ke arah Hans. “Selamat siang …?” Jani menggantung ucapanya karena belum tahu nama Hans sebab di pertemuan pertama tidak ada perkenalan antara mereka berdua.
“Hans,” ucap Hans yang paham kebingungan Jani.
“Selamat pagi menjelang siang, Hans,” ulang Jani.
Hans membalas dengan anggukan kepala di sertai senyum ramahnya.
Jani menarik satu kursi untuk duduk, tepat di depan Vini. “Ada apa Tante ingin bertemu denganku?” tanyanya
“Tante ingin mencari tahu tepat tinggal Leon. Yang Tante tahu kamu teman dekat Yusna dan mengenal Leon. Apa kamu bisa bantu Tante?”
“Bukankah sebelumnya aku sudah beritahu pada Adrian tempat tinggal Leon di Bandung?”
“Memberitahu? Tetapi Adrian bilang kamu tidak tahu alamat tepatnya.”
Jani melirik ke bawah untuk berpikir, “Bagaimana ini? Aku takut salah berucap. Tadi Pak Jevian bilang, aku boleh memberitahu alamat lengkap Leon pada istrinya, sama seperti aku memberitahu pada anaknya waktu itu, tapi sekarang ibunya datang dan bilang anaknya tidak tahu alamat Leon, aku harus jujur atau tidak?”
“Jani, kenapa diam?” tegur Vini saat meliha Jani terus melirik ke bawah.