Kebohongan Jani

1581 Words
Jani langsung tersenyum dan menghentikan lamunannya mendengar teguran Vini. “Maaf, Tante, aku sedang meningat saat bertemu Adrian waktu itu. Seingatku, aku sudah memberitahu alamat Leon yang aku tahu, jika Adrian bilang aku tidak tahu alamatnya, mungkin Leon sudah pindah dari rumah yang aku beritahu itu dan Adrian mencari di alamat lama,” alibi Jani. Vini mengangguk saat kebohongan Jani bisa diterima akalnya. “Lalu tempat tinggal dia di Jakarta, apa kamu juga tidak tahu?” “Kostan sebelum lulus kuliah, aku tahu, tetapi setelah lulus kuliah dan koas di rumah sakit berbeda, aku tidak tahu lagi Leon tinggal di mana,” bohong Jani lagi karena ia yakin Adrian juga pasti mengatakan ia tidak tahu tempat tinggal Leon di Jakarta sampai ibunya bertanya padanya, padahal tadi Jevian tidak melarangnya jika ia juga memberitahu alamat Leon pada istrinya. Dari jawaban Jani barusan, Hans mulai curiga. “Bukankah saat bertemu Adrian waktu itu, dia memberitahu alamat Leon di Jakarta? Kenapa sekarang dia bilang tidak tahu? Apa ada yang mengendalikan dia?” “Kalau begitu, apa kamu tahu di mana rumah sakit tempat Leon koas?” tanya Vini lagi. “Sebelumnya dia koas di Rumah Sakit Citra Husada, tetapi sekitar tiga bulan lalu atau lebih tepatnya satu minggu setelah aku bertemu Adrian, aku dengar dari temanku yang juga berjaga di IGD rumah sakit itu, Leon berhenti koas di sana dan pergi dari Jakarta.” Lagi jani menjawab dengan kebohongan. Hans langsung mengerutkan keningnya karena semakin curiga mendengar jawaban Jani. “Dapat informasi dari mana dia? Jelas-jelas Leon masih melanjutkan koasnya dan masih tinggal di Jakarta,” batinya. Vini menghela nafas berat saat tidak mendapatkan petunjuk lagi tentang pria yang ia pikir bisa mempercepat kesembuhan anaknya. “Jika tidak tahu alamat Leon baik di Jakarta ataupun di Bandung, kamu pasti tahu bagaimana hubungan asmara Leon dan Yuna, ‘kan?” “Tentu saja karena Yusna selalu cerita padaku setiap kali bertengkar dan mendapatkan kekerasan dari Leon," jawab Jani antusias karena memang inilah tugasnya. “Kekerasan?” pekik Vini dan Hans bersamaan karena sama-sama terkejut. Vini terkejut karena ada yang berani kasar pada anaknya, sedangkan Hans terkejut karena di pertemuan sebelumnya Jani tidak mengatakan ada kekerasan dalam hubungan Leon dan Yusna. ia masih ingat betul waktu itu Jani bilang Leon tiba-tiba memutuskan hubungannya tanpa sebab yang jelas. “Apa maksud ucapannya itu?” batin Hans. “Kekerasan apa maksudnya? Apa Leon sering memukuli Yusna?” “Tidak hanya memukuli, tapi juga menyelingkuhi?” Vini langsung menunjukkan wajah kesal mengetahui kekasih anaknya memiliki tabiat buruk. “Berapa lama Leon dan Yusna menjalin hubungan?” “Sudah empat tahun lebih, Tante.” “Lama sekali. Aku pikir hubungan mereka hanya baru hitungan bulan dan tidak sampai satu tahun. Bagaimana bisa Yusna bertahan dengan seorang pria yang bertabiat buruk sampai bertahun tahun?” “Aku juga sering mengatakan itu pada Yusna dan amat sangat sering menyuruh Yusna meninggalkan Leon, tapi dia selalu beralasan hatinya masih sangat mencintainya, bahkan Yusna mengatakan tidak masalah jika harus diselingkuhi berkali-kali atau mati karena dipukuli, yang penting Leon tetap mencintainya. “Bisa-bisanya aku tidak tahu apa yang anakku alami,” sesal Vini. Hans tahu setiap kata-kata yang Jani ucapkan adalah kebohongan, tapi ia tidak berniat untuk menampik atau membela Leon dan lebih memilih mendengarkan separah apa Jani akan menjelekkan Leon. “Jani, kamu pasti tahu keadaan Yusna sekarang, apa kamu tahu kenapa hubungan mereka bisa berakhir? Atau mungkin kamu tahu alasan Leon meninggalkan Yusna?” tanya Vini. “Tentu saja, Tante,” balas Jani penuh keyakinan. “Apa alasannya?” "Karena Leon akan segera menikah." "Menikah? Cepat sekali melupakan anakku." “Sore hari sebelum Yusna masuk rumah sakit, sebenarnya kami sempat bertemu dan bercerita. Dia bercerita sambil menangis karena ternyata Leon akan menikah dengan wanita yang sudah dia hamili. Yusna kecewa dan tidak menyangka Leon memilih menikahi wanita yang baru tiga bulan dikenal dari pada menikahi dirinya yang sudah bertahun-tahu bersama.” “Waktu itu aku hampir mendatangi Leon untuk memarahinya, tapi Yusna melarang dan lebih memilih menangis di kamarku. Setelah tangisannya berhenti, ia ingin pulang tanpa mau aku antarkan, lalu pagi harinya aku sudah mendengar Yusna melakukan percobaan bunuh diri," papar Jani. “Maaf, Leon, kamu sebenarnya juga korban, tapi aku terpaksa menjadikanmu tersangka,” lanjutnya membatin. Hans tersenyum kecut mendengar kebohongan Jani yang semakin jauh berbeda dari ceritanya pada Adrian tiga setengah bulan lalu. “Aku yakin ada yang mengendalikan dia sampai berbohong sejauh ini. Dan aku yakin ceritanya pada Adrian waktu itu juga kebohongan,” batinnya. “Aku pikir pria bernama Leon itu pria baik-baik sampai Yusna sangat mencintai dan tergila-gila padanya, tapi ternyata dia hanya pria berengsek yang sangat tidak pantas untuk anakku. Benar kata Adrian, mempertemukan Leon dengan Yusna bukanlah jalan yang terbaik. Yang ada keadaan anakku akan menjadi bahan tertawaan dia.” batin Vini. “Baiklah Jani, sepertinya tidak ada yang ingin Tante tanyakan lagi dan Tante putuskan mengurungkan niat untuk mencari pria berengsek itu. Terima kasih atas waktumu ini.” “Sama-sama, Tante. Aku senang bisa membantu keluarga sahabatku.” Vini beranjak dari duduknya bersamaan dengan Hans, sedangkan Jani masih duduk karena ingin makan siang setelah ibu dari mantan sahabatnya itu pergi. “Tante permisi,” pamit Vini. “Hati-hati, Tante,” balas Jani sambil tersenyum ramah. Vini langsung melangkah pergi dengan hati kesal keluar kantin yang disusul Hans di belakangnya. Setelah Vini dan Hans pergi, Jani langsung mengambil ponselnya di saku celana untuk memberi laporan pada orang yang sejak tadi ia yakin berkali-kali mengirim pesan singkat, karena ponselnya beberapa kali bergetar selama bicara dengan Vini. Begitu tiba di parkiran, Hans langsung membukakan pintu mobil untuk Vini, tetapi sebelum menutup pintu, ia meminta izin pada majikannya. “Nyonya, maaf, tiba-tiba perutku sedikit sakit, aku ingin ke toilet sebentar.” “Cepatlah,” balas Vini singkat karena suasana hatinya sedang kesal setelah mendengar cerita cinta anak gadisnya. “Baik, Nyonya.” Kemudian Hans berjalan cepat untuk menghemat waktu, tetapi bukan menuju toilet, melainkan kembali ke kantin untuk bertanya pada Jani. Saat Hans tiba di kantin, Jani sedang menelepon seseorang hingga tidak meyadari kedatangannya. Dan dari ketidak sadaran itu, Hans mengetahui siapa yang berbicara dengan Jani. “Baik, Om, aku akan memberitahu Anda jika Tante Vini menemui aku lagi,” ucap Jani lalu mematikan sambungan teleponnya. Saat menoleh ke samping untuk memanggil pelayan kantin, Jani dibuat terkejut dengan senyum sinis Hans yang sedang berdiri di sebelahnya. “Sepertinya menarik,” ucap Hans sambil duduk di tempat tadi ia duduk. “Ha—Hans, kenapa datang lagi? Apa ada yang tertinggal?” tanya Jani panik. "Tidak ada yang tertinggal, tapi banyak yang ingin aku tahu." "Tahu apa?" “Sebelum aku menanyakan apa yang tidak aku tahu, aku ingin memberitahu dulu apa yang sudah aku tahu." "Me—memangnya a—apa yang kamu tahu?" Jani bertanya semakin gugup. "Jani Pratiwi, calon Dokter Spealis Obstetri dan Ginekologi atau obgyn, berusia kurang lebih dua puluh enam tahu, yang satu tahun lalu kamu menyukai kekasih sahabatnya sendiri, tetapi sayangnya Leon menolak karena dia setia pada kekasihnya dan sejak saat itu hubungan kamu dan Yusna renggang hingga saat ini. Benar begitu?” Wajah panik Jani berubah jadi tatapan kesal saat ada yang nengungkit kisahnya. “Siapa yang memberitahumu?” selidiknya sinis. “Aku sopir pribadi Yusna. Hubunganku dengannya sudah seperti teman, dan kami sering bertukar cerita, termasuk cerita tentang kamu yang meminta Leon menjalin hubungan di belakangnya.” “Apa kedatanganmu ke sini lagi hanya untuk mengatakan itu?” “Aku tidak mau basa-basi karena waktuku hanya sedikit, jadi aku langsung saja ke intinya. Apa Tuan Jevian yang sejak awal mengaturmu termasuk memberi dua cerita berbeda pada Nyonya Vini dan Adrian?” “Apa maksudmu? Aku tidak mengerti,” elak Jani. “Aku sudah mendengar jelas pembicaraanmu di terlepon tadi, jadi tidak usah berkelit lagi,” tuntut Hans. Jani mengehela nafas berat saat tidak tahu harus berbohong apa lagi. “Benar,” ucapnya pasrah. “Sejak kapan?” “Sejak Adrian ingin mencari informasi tentang siapa Leon.” “Itu berarti dua Minggu setelah dia kembali ke Indonesia?” “Benar!" “Sebelumnya bagaimana kamu bisa tahu Adrian mencari informasi tentang Leon, sedangkan kamu dan Yusna sudah putus komunikasi dengan Yusna selama satu tahun.” “Om Jevian yang menghubungi aku malam hari sebelum kita bertemu waktu itu. Beliau memang tahu aku teman dekat Yusna, tapi beliau tidak tahu bahwa hubungan kami sudah renggang.” “Itu berarti cerita perpisahan Leon dan Yusna yang kamu ceritakan adalah kebohongan?” “Iya, dan atas perintah Om Jevian.” Hans mendengus sambil tersenyum kecut saat melihat betapa santainya Jani mengaku sedangkan akibat dari kebohongannya itu ada seorang gadis yang hidupnya sengsara, dan dua anak yang kehilangan orang tuanya. “Lalu pada pertemuan ini, bagaimana Tuan Jevian bisa tahu sedangakan aku dan nyonyaku merahasiakan kepergian kami?” “Tadi saat rekanku memberitahu ada yang mencari, aku sempat mengintipmu dari ruang operasi, lalu aku langsung memberitahu Om Jevian dan beliau menyuruhku berbohong seperti apa yang aku katakan tadi. Sejak awal berbohong pada Tante Vini, aku yakin kamu pasti tahu aku berbohong, tapi aku pikir kamu hanya seorang sopir yang tidak tertarik dengan urusan majikanmu, ternyata kamu malah datang lagi untuk tahu kebenarannya.” "Aku hanya sekedar ingin tahu tanpa bisa bertindak apa pun karena bukan kapasitasku untuk ikut campur jika tidak diperintah." "Tapi kamu sudah mengerjakan apa yang bukan menjadi pekerjaanmu." Hans tersenyum dengan ucapan Jani lalu kembali bertanya, "Jika Tuan Jevian melibatkanmu dan menyuruhmu berbohong, apa itu berati kamu tahu alasan sebenarnya kenapa Leon meninggalkan Yusna?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD