“Tidak. Om Jevian tidak memberitahu aku tentang itu dan aku juga tidak bertanya. Dia hanya menyuruhku untuk berbohong pada Adrian dan Tante Vini agar keduanya membenci Leon.”
“Sudahku duga. Dalangnya ada di dalam keluarga mereka sendiri,” batin Hans. “Untuk keadaan Yusna saat ini, apa kamu memang tahu yang sebenarnya atau itu juga hanya kebohongan?”
“Tentu saja tahu. Om Jevian bilang, setelah melakukan percobaan bunuh diri, Yusna sekarang sedang dikurung dan dia tidak bisa melanjutkan koasnya, benar, 'kan?”
“Kamu benar!” balas Hans karena yakin keluarga majikannya itu ingin menutupi kondisi Yusna dari siapa pun. “Ok, terimakasih untuk semua informasi yang kamu berikan, aku permisi!” Hans langsung beranjak dari duduknya dan melangkah pergi tanpa menunggu jawaban Jani.
Begitu kembali ke mobil, Hans tidak mendapatkan protes sedikit pun dari Vini, padahal ia terburu-buru karena takut majikannya itu marah ia pergi terlalu lama, tapi sepertinya selama ditinggal, majikannya itu asyik dengan lamunannya hingga diam saja saat ia datang.
Setelah mengetahui fakta dari mulut Jani dan tahu siapa yang menjadi penyebab utama Yusna depresi, Hans memutuskan untuk tidak ikut campur atau mencaritahu apa pun lagi. Justru ia ingin menutupi keberadaan Leon karena takut setelah Adrian, Jevian akan menyengsarakan hidup Leon jika sampai bertemu dengan Yusna lagi setelah dipisahkan.
•••••
Saat ini Leon sedang istirahat setelah satu hari penuh berjaga di IGD dan menjalani perintah para dokter senior dan residennya. Ia duduk di pekarangan rumah sakit sambil memandangi dua buku tabungan beserta dua kartu ATM miliknya dan Yusna yang sudah lama Yusna percayakan padanya.
Leon sedang membandingkan nominal yang bagaikan bumi dan langit karena jumlah tabungan miliknya tidak lebih dari lima juta, sedangkan milik Yusna hampir sembilan puluh juta yang Yusna bilang itu adalah sebagian uang saku yang ditabung.
“Yusna, bagaimana cara aku mengembalikan buku tabungan beserta kartu ATM ini, jika Papahmu saja melarang aku menemuimu? Tetapi jika tidak dikembalikan, aku takut akan memakai uangmu yang sangat aku butuhkan untuk pembayaran keperluan koas, berbagai ujian, sampai wisuda nanti. Selain itu, aku juga takut memakai uangmu untuk biaya hidup adikku saat aku internsif nanti, yang pasti tidak sedikit karena aku akan meninggalkan adikku dalam waktu lama.”
Leon menghela nafas berat saat ingin meminta izin pada buku tabungan milik Yusna, seolah ia sedang bicara langsung pada pemiliknya.
“Yus, aku yakin apa pun pekerjaan sambilan yang aku dapatkan, tidak akan mencukupi keperluan kuliah, persalinan adikku dan kebutuhan hidup kami. Jadi maaf, dengan berat hati aku akan memakai uangmu untuk keperluan hidupku dan melunasi hutang kedua orang tuaku di kampung, itu pun jika hasil penjualan rumahku tidak mencukupi. Nanti setelah kita menikah, aku akan mengganti beserta bunganya, berapa pun yang kamu minta.”
Kemudian Leon menutup kedua buku tabungan itu lalu menaruh ke dalam tas ranselnya. Dan bergantian mengambil ponsel untuk memandangi wajah yang sudah empat bulan tidak bisa ia lihat.
“Yusna, kamu sedang apa sekarang? Apa koasmu lancar? Apa kamu merindukan aku?” tanyanya pada layar ponsel. “Semoga tidak ada dokter muda di sana yang membuatmu berpaling dariku, meskipun menurutmu hubungan kita sudah berakhir.”
Tiba-tiba Leon berkeinginan untuk mendengarkan suara Yusna, meskipun ia ingat larangan calon ayah mertuanya untuk tidak menghubungi Yusna sampai nanti ia sudah menjadi apa yang diingikan.
“Maaf, Pak Jevian, aku sangat merindukan suara anak gadismu, jadi aku langgar salah satu syaratmu,” ucapnya lalu mencari nomor ponsel Yusna yang sudah empat bulan ia blokir.
Namun, begitu ia menghubungi dua belas nomor yang selalu menjadi perantara komunikasi ia dan Yusna, bukan suara wanita pujaanya yang ia dengar, melainkan suara operator seluler yang memberitahu nomor yang ia telepon sudah tidak terdaftar lagi.
“Nomor Yusna sudah tidak terdaftar? Apa ayahnya menyuruh dia mengganti nomor ponsel?” gumam Leon.
Leon menghela nafas berat sambil menunduk lesu. “Heeeeh … sepertinya ayahmu benar-benar menutup semua jalan komunikasi di antara kita. Padahal aku barharap dia memberi keringanan untuk kita, meskipun itu hanya komunikasi lewat panggilan suara saja.”
Leon beranjak dari duduknya lalu pergi dari pekarangan rumah sakit. Tadinya ia ingin mendatangi salah satu temannya yang bekerja sebagai barista untuk menanyakan pekerjaan, tapi setelah tahu nomor ponsel Yusna tidak aktif, entah kenapa semangatnya hilang begitu saja.
•••••
Setelah pekerjaanya selesai dan tidak mendapatkan perintah lagi dari Vini, Hans kembali ke rumah menjelang petang untuk mengambil baju yang akan ia taruh di kostan. Setelah itu ia akan mengajak Lita pergi untuk membeli barang yang ia butuhkan di kostan.
Ketika tiba di kostan, Leon juga baru tiba, dan Hans memilih untuk langsung menemui Lita sebelum masuk ke kostannya. Bahkan ia tidak menaruh tasnya terlebih dahulu.
“Kamu baru pulang?” sapa Leon saat mereka bertemu di depan pintu.
“Iya,” balas Hans. “Leon, aku ingin mengajak Lita pergi sebentar, apa boleh?”
“Tentu saja. Semalam Lita juga sudah mengatakan padaku kamu ingin mengajak dia pergi.”
“Terima kasih sudah mengizinkan aku membawa adikmu.”
“Aku yang seharusnya berterima kasih karena kamu sudah mau mengajak dia jalan-jalan."
“Kalau begitu, bisa panggilkan Lita sekarang?”
“Aku akan panggilkan. Semoga saja dia tidak sedang tidur karena bosan sendirian di dalam.” Leon langsung membuka pintu kostnya, sedangkan Hans menunggu di luar.
Belum sempat Leon memanggil, Lita sudah menghampiri dengan membawa semangkuk mie instan di tangannya.
“Kakak sudah pulang? Ayo, kita makan mie bersama. Lita baru saja memasak dua bungkus mie instan. Tadinya ini untuk Lita sendiri, tapi Kakak pulang, jadi ini untuk kita berdua saja, nanti aku masak lagi jika ingin tambah,” cecar Lita.
“Hans sedang menunggumu di depan. Dia ingin mengajakmu pergi sekarang, jika kamu ingin makan dulu, katakan padanya untuk menunggu atau ajak dia makan bersama kita.”
Lita mencondongkan tubuhnya untuk melihat ke depan kostan. “Baiklah, Lita akan temui dia dan mengajakknya makan bersama kita," ucapnya lalu melangkah ke depan kostan. “Hei, Kak, pagi tadi kamu ke mana?” tanyanya langsung begitu melihat Hans di depan pintu.
“Maaf, semalam ada seseorang yang menawari aku pekerjaan, lalu aku langsung bekerja dan baru pulang sekarang,” bohong Hans.
“Kakak sudah mendapat pekerjaan?” tanya Lita dengan tatapan tidak percaya.
“Sudah.”
“Cepat sekali.”
“Aku juga tidak menyangka.”
Lita langsung menunduk melihat perutnya. “Andai aku tidak sedang hamil, aku pasti akan mencari perkejaan untuk membantu Kak Leon,” batinnya.
Hans tidak tahu apa yang Lita lihat di bawah hingga membuatnya penasaran dan ikut menunduk, tapi tidak menemukan apa pun di lantai.
“Hei, kenapa menuduk?” tegurannya
Lita langsung tersenyum agar Hans tidak tahu ia memandangi perutnya. “Tidak apa-apa," bohongnya. "Aku ikut senang Kakak sudah mendapat pekerjaan.”
“Terima kasih." Hans balas tersenyum. "Bisa kita pergi sekarang?”
“Ah, aku sampai lupa. Aku baru saja memasak mie instan dan ingin makan sekarang, apa Kak Hans mau ikut makan bersamaku di dalam. Nanti setelah selesai makan, baru kita pergi.” Lita langsung menunjukkan mangkuk yang ia pegang sejak tadi.
“Bagaimana jika kita makan saat perjalanan nanti? Anggap saja aku mentraktirmu karena sudah mendapat pekerjaan,” tawar Hans.
“Tapi aku sudah lapar sekarang.” Lita menunjukkan wajah merajuknya.
Hans tersenyum lagi melihat ekperesi Lita. “Ya sudah, makan saja, aku akan menunggu di kostanku. Jangan makan sampai perutmu kenyang karena aku tetap ingin makan bersamamu nanti.”
Lita memberanikan diri menarik lengan baju Hans agar mau makan bersama ke dalam. “Kak Leon baru pulang dan Kak Hans Juga, jadi kita sama-sama mengganjal perut di dalam,” ajaknya sambil terus menarik Hans.
Sedangkan Hans hanya pasrah ditarik Lita dan mengikuti langkahnya untuk makan bersama Leon.
•••••
Setelah puas berkeliling mencari barang yang Hans perlukan di beberapa toko khusus peralatan rumah tangga, Hans mengajak Lita makan di warung sate dan mempersilakan Lita makan sepuasnya.
Setelah itu keduanya memilih pulang tanpa menaiki kendaraan umum karena Hans ingin banyak berbincang.
Dan saat ini keduanya sedang berjalan santai menuju kostan dengan masing-masing membawa barang yang Hans beli dan satu dus lemari plastik yang belum dirangkai.
“Kak Hans, Kakak mendapatkan pekerjaan apa?” tanya Lita memulai pembicaraan setelah belasan langkah meninggalkan warung sate.
“Sopir pribadi.”
“Oh, aku pikir Kakak bekerja di suatu pabrik atau pelayan restoran.”
“Tidak. Jika di pabrik aku tidak mungkin langsung bekerja karena banyak tes yang harus aku lewati.”
“Kak, setelah mendapat pekerjaan apa Kak Hans berniat pindah kost?”
“Aku merasakan tidur di kostan saja belum, mana mungkin aku memikirkan untuk pindah ke tempat lain? Lagipula untuk apa aku pindah? Di sana terlihat nyaman dan bersih. Aku pasti akan betah tinggal lama di sana.”
"Dari jam berapa sampai jam berapa Kakak akan bekerja?"
"Jam tujuh pagi sampai aku tidak mendapatkan perintah lagi dari majikanku."
“Itu berarti setiap hari Kak Hans akan sibuk bekerja dan tidak akan punya waktu untuk membereskan kostan Kakak.”
“Tentu saja. Mungkin waktuku di kostan hanya malam hari, bahkan bisa tidak pulang.”
“Kak, maaf jika pertanyaanku lancang. Apa penghasilan Kak Hans sebagai sopir pribadi cukup besar?”
“Lumayan. Ada apa menanyakan penghasilanku?”
Lita sedikit menunduk menatap aspal karena bingung menyampaikan maksud hatinya. “Eee ….”
Hans menoleh menatap heran penuh keheranan “Kenapa?”
Lita juga menoleh sambil menunjukkan ekspresi tidak enak hati “Kak, aku tahu permintaanku ini sangat tidak tepat, tapi aku butuh.”
Hans ikut mengangkat satu alisnya menunjukkan rasa penasaran pada permintaan yang Lita maksud.
“Bagaimana jika Kakak memperkerjakan aku untuk membereskan kostan dan mencuci pakaian Kakak? Berapa pun upahnya aku akan terima, yang penting aku memiliki penghasilan untuk membantu kakakku.”
Hans tersenyum mendengar permintaan Lita lalu kembali melihat ke depan. Ia pikir permintaannya berupa makanan yang sangat diinginkan layaknya orang mengidam yang pasti akan ia turuti.
“Kalian kekurangan uang?”
“Kami tidak kekurangan, tapi aku hanya ingin membantu kakakku saja agar dia tidak terlalu pusing memikirkan biaya hidup kami,” elak Lita karena tidak mau Hans tahu apa yang dia katakan sangat tepat.
“Jika aku memiliki uang lebih, aku pasti akan membantu kalian, tidak perlu kamu bekerja padaku.”
“Tidak, Kak, kalau aku hanya menerima uang Kak Hans tanpa melakukan apa pun, aku terkesan memeras. Lebih baik ada timbal balik diantara kita, agar aku tidak malu menerima uang Kakak.”
"Aku tidak masalah dengan itu. Jika aku ada uang, aku bantu. Jika tidak, mungkin kita bisa berbagi kesusahan bersama."
"Tapi aku yang mempermasalahkan dan tidak mau menyusahkan Kak Hans dengan memberi uang tanpa mendapat apa pun."
“Baiklah, mulai besok kamu boleh membereskan kostan dan mencuci pakaianku jika ada yang kotor. Setiap hari sebelum pergi, aku akan memberikan kunci kostanku padamu.”
Lita langsung tersenyum lebar saat Hans mau membantunya. “Terima kasih, Kak. Aku pasti akan bekerja sebaik mungkin dan menjamin kebersihan kostan juga kerapian pakaian Kakak.”
“Tidak perlu berlebihan saat mencuci pakaian dan membereskan kostanku. Jika kamu merasa malas, tidak perlu kamu lakukan saat itu juga. Kamu bisa mengerjakan di hari berikutnya.” Hans takut Lita terlalu semangat bekerja dalam keadaan hamil muda yang pasti mudah lelah.
“Tidak, Kak, aku tidak boleh mengecewakan majikanku dengan bekerja semaunya. Aku pasti akan bekerja setiap hari.”
Hans melirik ke arah Lita dan menunjukkan senyum gemasnya melihat semangat dan wajah bahagia Lita.
Namun, tiba-tiba Lita menunduk dan menatap perutnya. “Kak Hans akan tinggal lama di kostan, lalu aku juga bekerja padanya, itu berarti dia akan berteman lama denganku. Aku harus katakan tentang kehamilanku sebelum dia berpikiran macam-macam tentang aku saat perutku membesar nanti,” batinnya lalu menghentikan langkah tiba- tiba.
“Kenapa berhenti? Kamu kelelahan?” tanya Hans.
Lita menghela nafas berat dan menatap Hans dengan serius. “Kak Hans, aku hamil!”
Hans langsung mengerutkan kening saat ucapan Lita terkesan menuntut dan balas menatap Lita dengan serius. “Kenapa memberitahu aku? Kamu ini aku bertanggung jawab atas kehamilanmu?”
“Tidak, tidak, Kak! Mana mungkin aku meminta tanggung jawab pada pria yang baru aku kenal,” jawab Lita cepat, sekaligus merubah tatapan seriusnya menjadi tatapan terkejut. “Bagaimana dia bisa berpikir aku meminta tanggung jawabnya, aku saja belum memberitahu dia kalau tidak ada yang bertanggung jawab dengan kehamilanku,” lanjutnya membatin.
“Lalu kenapa memberitahu kehamilanmu?”
“Aku hanya memberitahu saja, karena kita pasti akan berteman lama. Aku takut Kakak berpikiran macam-macam tentang aku jika tidak aku beritahu sekarang.”
Hans tersenyum sambil mengalihkan tatapannya ke arah lain dan menertawakan pikirannya sendiri. “Maaf, aku terlalu terkejut sampai berpikiran konyol.”
“Tidak apa-apa, Kak, aku mengerti.”
Satu tangan Hans terangkat untuk membelai lembut kepala Lita. “Lita, aku tidak pernah berpikiran buruk tentangmu, apalagi sampai berpikiran macam-macam. Wajah, senyum, caramu bicara, dan bertingkah sudah menunjukkan kamu wanita baik-baik.”
“Terima kasih, Kak.”
“Jadikan aku kakakmu, kakak yang selalu membantu kesusahanmu, kakak yang selalu melindungi, kakak yang menjadi tempat bekeluh-kesah, dan kakak yang selalu menghibur. Kelak perkenalkan aku pada anakmu sebagai pamannya, bukan sebagai orang asing yang baru kamu kenal,” ucap Hans tulus.
“Kak?” Lita menunjukkan wajah herannya mendengar ucapan Hans yang terlalu jauh.
Hans menaruh dus lemari plastik yang ia penggang di dekat kakinya, lalu mendekati Lita untuk memeluk. “Lita, aku adalah anak tunggal. Jadilah adikku. Aku ingin merasakan rasanya melindungi saudara perempuanku, aku ingin merasakan rasanya membahagiakan seorang adik, aku ingin tahu rasanya berbagi dengan saudara, dan aku ingin merasakan rasanya mendapat kasih sayang dari saudara perempuan.”
Lita semakin heran dengan sikap Hans yang tiba-tiba dramatis, bahkan ia tidak bisa marah saat Hans memeluknya, tapi juga tidak bisa membalas pelukan Hans karena bingung.
“Kak Hans serius dengan ucapan Kakak?”
“Sangat serius,” balas Hans. “Karena hanya dengan ini aku bisa menebus rasa bersalahku yang sudah menyebabkan ayahmu kecelakaan sampai meninggal, dan aku juga ingin memastikan kakakmu tidak akan bertemu Yusna lagi sampai kapan pun agar Tuan Jevian tidak bertindak lebih jauh dari Adrian. Meskipun aku tidak tahu apa alasan dia memisahkan Leon dan Yusna.”
Satu tangan Lita yang tidak memegang apa pun, ia gerakkan untuk memeluk Hans. Ia menerima dengan senang hati keinginan Hans, dan mulai malam ini, ia menganggap Hans adalah kakaknya dengan tidak akan menggunakan kata aku lagi dan akan menyebut nama sebagai kata pengganti dirinya, sama seperti ia bicara dengan Leon.
"Lita janji akan menjadi adik terbaik untuk Kak Hans," ucapnya.
"Terima kasih, Lita," balas Hans penuh haru dan semakin erat memeluk Lita.
•••••