Sinar mentari baru saja menerpa wajah Razel ketika wanita itu masih asyik berada di atas tempat tidur yang empuk, kesadarannya mulai tersadar namun dia masih malas untuk beranjak dari sana. Sudah lama dia tidak merasa begitu nyenyak dalam tidurnya, aroma yang tak asing menambah kenyamanan saat itu hingga dia sadar bahwa aroma itu bukan aroma yang berasal dari kamarnya. Kedua mata Razel akhirnya terbuka, dan dia bisa melihat suasana kamar yang jelas bukan kamarnya. Razel langsung mengangkat wajahnya melihat kesekeliling kamar itu, dan benar saja pemilik kamar yang asli sedang asyik duduk di atas sofa dengan bertelanjang d**a dan hanya mengenakan handuk menutupi tubuh bagian bawahnya. “ Kenapa aku bisa ada di kamar Felix.?” Razel membalikkan kepalanya dengan cepat dan kembali berpura-pura

