#09

1250 Words
Pagi hari Pukul 05.00 AM Hari konser sudah hampir tiba di depan mata. Tapi Junhyo masih belum sadar dari koma. Dia masih tetap berada di posisinya. Berbaring. Dengan jarum infus yang tertancap di pergelangan tangannya. Mungkin dosis obat yang dia minum terlalu banyak. Ya memang banyak. Pagi ini, Daeho bangun dengan cepat, karena dia ingin mencuri waktu untuk menjenguk sang adik yang menginap di rumah sakit. Dia sempat tidak bisa percaya dengan Yeonu yang tidak mengekang ucapan Seokmin. Melainkan menyetujui ucapan Seokmin-hyung. Sesaat ketika Daeho ingin melangkahkan kakinya keluar dengan di antarkan supir. Seorang staff bertanya padanya tentang kemana dia akan pergi. "Daeho-ssi. Kau mau pergi kemana? Ini masih sangat pagi untuk keluar," tanya seorang staff pada Daeho. Membuat lelaki yang penuh akan kehangatan itu sedikit bingung untuk menjawabnya. "Eum ... Aku ... Aku harus menemui seseorang ... Karena aku yakin jika aku menunggu waktu siang nanti, pasti tidak bisa karena harus latihan," jawabnya sedikit terbata-bata. "Iya, oh ya ... Sudah 3 hari ini aku hampir tidak melihat keberadaan Jeon Junhyo-ssi. Apa dia baik-baik saja? Para staff yang lain juga ingin menanyakan hal itu, tapi mereka berpikir tak akan sopan jika menanyakannya," ucap staff itu di sertai pertanyaan. Daeho hanya terdiam, ia bingung dan tidak tahu ingin menjawab apa atas pertanyaan yang diajukan seorang staff padanya. Setelah beberapa detik terdiam, ia menjawab bahwa Junhyo ada, dan dia baik-baik saja. Sungguh. Dia sebenarnya tidak ingin berbohong. Tapi dia tidak ingin hyung-nya dan yang lain kecewa. Lagi pula Daeho sadar. Junhyo berbaring di kasur rumah sakit itu karena ulahnya dan ulah yang lainnya. Untung saja staff itu dengan mudah mempercayai ucapannya, sehingga Daeho tidak perlu memberikan alasan yang lain lagi. Daeho segera pergi setelah waktu miliknya terbuang beberapa menit hanya untuk menjawab pertanyaan seorang staff yang mengharuskan dia berbohong. Selama di perjalanan, Daeho beberapa kali melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Dia berharap Seokmin belum terbangun. Sesampainya di rumah sakit. Daeho langsung bergegas menuju kamar rawat inap Junhyo. Claakkk Suara handle pintu terdengar ketika Daeho memutarnya. Pintu kamar itu terbuka. Suhu ruangan yang dingin dan aroma obat menerpa wajah tampan milik lelaki bernama Jung Daeho dan berhasil menyengat indra penciumannya. Suasana yang begitu sunyi. Daeho melihat ke arah sang adik yang masih berbaring dengan mata terpejam. Terpejam dengan amat lekat. Claakkk Daeho terkejut ketika tiba-tiba pintu kembali terbuka. Seorang perawat masuk ke dalam dan tersenyum ramah pada Daeho. Mau tidak mau dirinya harus membalas senyuman itu tak kalah ramah. Perawat itu memeriksa keadaan Junhyo. Daeho yang berada di sana hanya memperhatikan secara detail bagaimana perawat itu memeriksa adiknya dengan telaten. "Apa dia sudah membaik?" satu pertanyaan itu refleks terlontar dari mulut Daeho. "Iya ... Keadaan nya sudah membaik, dia sudah berhasil melewati masa kritisnya dan sekarang kita hanya perlu menunggunya siuman," jawab perawat. Daeho mengangguk mengerti. Perasaannya sangat melegakan. "Jika terjadi sesuatu tekan saja tombolnya," ucap perawat itu seraya pergi keluar meninggalkan Daeho bersama dengan adiknya yang tengah terbaring. Daeho menghela nafasnya berat. Tangannya tergerak menyentuh jari jemari sang adik dengan perasaan sakit yang mengganjal. "Junhyo-ah ... Ireonna, apa kau tidak merindukanku?" tanya Daeho. "... ." Hening. Tidak ada jawaban apapun dari Junhyo, yang ada hanya bunyi alat pendeteksi jantung yang berjalan dengan normal. "Apa kau tidak merindukan hyung?" tanya nya lagi. Suaranya kini terdengar lebih gemetar. Ia hanya menahan diri agar tak menangis. ~]][[~ Pukul 08.30 AM Didorm Semua member sudah terbangun dari tidurnya dan segera bersiap untuk sarapan. Taeyul, Taemin, Seojun dan Yeonu sudah bersiap untuk menyantap masakan lezat yang telah dibuatkan Seokmin. Sedangkan Daeho baru saja masuk setelah sepulang dari rumah sakit. "Daeho-ah," panggil Seokmin. Membuat adiknya itu menoleh ke arah Seokmin dan berhenti berjalan menuju kamarnya. "Kau dari mana?" tanya Seokmin. "Aku ... Berolahraga. Karena cuaca pagi tadi sangat sejuk jadi aku berolahraga," jawabnya sedikit ragu. "Cih. Kau sudah berani berbohong ya? Aku tahu kau habis dari rumah sakit, kan? Menemui anak itu?" tanya Seokmin. Membuat lelaki bernama Jung Daeho terdiam. Yeonu yang melihat mereka berusaha menenangkan situasi. "Sudahlah, ayo kita makan dulu," ucap Yeonu. Seokmin dan Daeho yang mendengar itu akhirnya menyetujui dan segera sarapan bersama. Setelah selesai sarapan, mereka bergegas menuju ke ruang latihan. Hanya ada satu hal yang mengganjal dipikiran Seojun sekarang. Bagaimana jika manager-nim bertanya mengenai Junhyo yang tidak hadir. Apa yang harus dijawabnya nanti. Diruang latihan. Semua anggota sudah berkumpul, terkecuali Junhyo. Manager-nim belum datang. Taemin menari di depan cermin besar yang tertempel di dinding dengan rapih untuk menghapal koreografi yang sudah di ajarkan pelatih. "Bagaimana keadaannya?" tanya Yeonu berbisik pada Daeho. Membuat lelaki itu kembali melontarkan tanya pada Yeonu. "Kenapa tidak kau sendiri yang melihat keadaannya?" tanya Daeho dengan nada suara yang terdengar dingin. "Hm, ayolah ini tidak seperti yang kau pikirkan Daeho-ah," ungkap Yeonu. Perkataannya membuat Daeho terdiam beberapa saat sebelum dia membuka mulut dan menjawab. "Perawat bilang kondisinya sudah membaik, hanya belum sadar," ucapnya. Setelah mendengar ucapaan Daeho, kali ini Yeonu bisa bernafas dengan lega. Kalian tahu, untuk melihat Junhyo saat ini rasanya sangat menyakiti hatinya. Yeonu belum siap setelah adanya kenyataan yang baru saja dia temukan. Dirumah sakit Tutt Tutt Tutt Bunyi alat pendeteksi jantung terdengar yang mendadakan bahwa pasien masih dalam keadaan bernyawa. Jari jemari Junhyo sedikit bergerak dan perlahan dia membuka matanya. "Ughh," lenguh nya menahan sakit di kepalanya. "Di mana ini?" tanya-nya sendiri. Ruangan itu sunyi dan hanya warna putih yang dilihatnya. Junhyo menyadari bahwa dirinya sedang berada di rumah sakit. Dia tertawa pelan. Tertawa miris. Tertawa kasihan pada dirinya sendiri. Bahkan di rumah sakit seperti ini, tidak ada seorang pun yang menemaninya. Apa semenyusahkan itu dirinya? Tangan Junhyo terangkat perlahan seraya dia berusaha meraih tombol untuk memanggil perawat yang berjaga. Dia menekannya dengan penuh tenaga. Tombol itu berhasil di tekannya. Dan sekarang dia hanya perlu menunggu seseorang datang ke kamarnya. Selang beberapa menit, perawat datang sambil membawa beberapa catatan pada papan kecil. "Oh, syukurlah anda sudah sadar. Apa anda merasakan sesuatu? pusing atau sakit?" tanya perawat itu seraya memeriksa detak jantung Junhyo. Namja tampan bergigi kelinci itu mengangguk dan menjawab. "Sedikit pusing." Dan sangat sakit karena dia sendirian di ruangan sepi ini. Ruangan dengan aroma obat yang menyengat. "Sekarang anda hanya boleh beristirahat, minum obat dan makan dengan sehat, perut anda sangat kosong Junhyo-ssi," ucap perawat. "Eum.. Hari apa sekarang?" tanya Junhyo dengan ragu. Perawat itu menoleh sambil tersenyum ramah dan menjawab. "Ini hari kamis." Kamis? "Itu artinya sudah 3 hari aku di sini? Bolehkan aku pulang? Hyung ku pasti mencemaskan ku," ucap Junhyo terdengar sedikit memohon. Perawat itu beralih melihat Junhyo. "Tidak bisa Junhyo-ssi. Anda baru saja sadar, kondisi anda juga masih belum benar-benar pulih," ucapnya. "Aku mohon, aku harus berlatih, kau tahukan kalau hari senin nanti aku akan mengadakan konser, dan aku harus berlatih keras untuk hari itu," ucap Junhyo. Perawat itu menghea nafas merasa tak tega. Tapi rasanya memang sulit untuk seorang idol yang sangat sibuk. "Biar saya tanyakan dan akan meminta konfirmasi pada dokter hwang terlebih dahulu soal ini," ucap perawat itu. Jungkook menganggukan kepalanya dengan senyum penuh harap. Clack Pintu kembali terbuka, seorang perawat datang dengan membawa sepiring makanan, serta obat-obatan yang harus Junhyo minum. "Sekarang anda harus makan terlebuh dahulu, sementara saya akan bertanya pada dokter," ucap perawat itu. Kasur tempat Junhyo berbaring perlahan di naikkan, membuat posisi Junhyo sekarang dusuk seraya bersandar. "Jika ada yang anda perlukan, anda bisa menekan tombolnya, nanti saya akan kembali setelah mendapat persetujuan," ucap perawat seraya menaruh meja kecil di atas paha Junhyo dan menaruh piring tersebut di atasnya. "Aku akan memakannya, terimakasih banyak suster," ucap Junhyo dengan senyuman di wajahnya. ~]][[~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD