#08

1249 Words
"Hikss ... Mianhae ... Jeongmal mianhae, maafkan hyung mu ini, aku tahu aku sangat bodoh karena terlambat menyadarinya," isak Yeonu. Dia menggenggam erat benda kecil berbentuk bintang itu dengan perasaan yang sangat sakit di dalam lubuk hati nya. ~]][[~ Daeho terduduk di sofa empuk milik dorm BTZ. Dia menghela nafasnya dan mengusap wajahnya fruatasi karena mengkhawatirkan sang adik. "Katakan padaku apa yang baru saja terjadi?" tanya Seokmin seraya melempar remot tv ke atas sofa dengan perlahan. Daeho mengangkat kepalanya menatap sang kakak yang tengah berdiri tepat di sampingnya. Dia bangkit dari duduknya ntuk mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Seokmin. "Apa kau tahu hyung, Junhyo sangat tertekan?" tanya Daeho sambil menatap dingin lelaki berbahu lebar di depan nya. "Hm, aku tidak pernah tahu kalau dia tertekan," jawab Seokmin yang terdengar biasa saja. Sudah jelas Junhyo tertekan karena ulahnya. Ulah mereka. Tentu saja. Bagaimana jika nanti Junhyo tak bisa sadar kembali? Apa yang harus mereka lakukan setelahnya nanti? Meminta maaf? Pada siapa? Daeho yang tidak ingin berdebat dengan sang kakak lebih memilih mengalah dan melangkah pergi ke kamarnya. Sungguh perasaannya sangat kesal, sedih, khawatir. Semua bercampur aduk menjadi satu di lubuk hati nya. ~]][[~ Pukul 02.00 AM Suasana di dorm menjadi sunyi karena tidak ada seorang pun yang terlihat. Tentu saja, mereka mungkin sudah tertidur. Terkecuali dengan laki-laki berkulit putih dengan mata sembab nya, dia masih terjaga sampai sekarang. Dia juga sangat mengkhawatirkan Junhyo. Dia terus berdoa pada tuhan sambil terus menggenggam aksesoris berbentuk bintang itu di tangannya. Dia bahkan tidak habis pikir, ternyata Junhyo masih menyimpan mainan kecil ini, padahal sudah lewat bertahun-tahun sejak dia memberikannya, tapi sepertinya Junhyo menyimpan mainan itu dengan baik, bahkan sangat baik. Karena mainan ini masih terlihat sangat bagus seperti dulu. Segitu berharga-nya kah diri-nya bagi Junhyo? Manik coklat milik Yeonu tertuju menatap bintang yang berada di genggaman tangannya, senyum terulas di wajahnya seraya dia memikirkan betapa spesialnya dia bagi sang adik, namun di samping itu, dia masih sangat merasa bersalah atas apa yang sudah dia lakukan pada adiknya tersebut. "Aku telah sangat jahat padamu Junhyo-ah, maafkan aku. Sejak awal aku sudah curiga kalau kita adalah saudara, sejak pertama melihatmu aku yakin bahwa kau adalah Juni, Juni kami semua, Juni kecil kami," gumam Yeonu di sertai senyum miris nya. "Aku akan memberitahu hyung dan yang lain nya tentang ini," sambungnya sambil mengepal bintang itu. Namun dia berpikir dua kali, bagaimana reaksi mereka nanti jika mengetahui kabar ini? Apakah sebaiknya dirahasiakan saja? lelaki pucat itu bingung harus melakukan apa, antara memberitahu dan merahasiakan ini semua. Setelah beberapa menit berpikir tentang bagaimana reaksi yang lain saat tahu nanti. Yeonu memilih untuk merahasiakan semuanya sampai dirinya benar-benar memiliki waktu yang pas untuk memberi tahu yang lain. Sekarang sesuatu yang lain muncul dipikiran Yeonu. Kalau Junhyo di sini dan jika appa dikanarkan meninggal dunia, lalu di mana eomma? Apakah eomma juga masih hidup dan sedang tinggal di suatu tempat? Apa mungkin sejak terjadi kebakaran hari itu appa dan Junhyo tidak bertemu eomma? ~]][[~ Pukul 08.00 AM "Yeonu-hyung, Yeonu-hyung ... Ayo bangun," ucap Daeho aambil menggoyang-goyangkan tubuh sang kakak yang masih terbaring di atas ranjang empuk miliknya. Yeonu merasa tidurnya terusik akan hal itu. "Kenapa membangun kan ku? Apa kau tidak punya pekerjaan lain selain mengusik orang?" tanya Yeonu yang masih setengah sadar, dia mengerjapkan matanya perlahan. "Ayolah hyung, kita ke rumah sakit dan menjenguk Junhyo, apa kau tidak ingin tahu keadaannya?" tanya Daeho dengan nada sedikit keras. Taemin yang baru saja lewat di depan kamar Yeonu tak sengaja menguping ucapan Daeho. Lalu dia langsung berlari turun ke bawah menemui yang lain. "Seokmin-hyung," panggil Taemin. Seokmin yang tengah sarapan pun menoleh dengan tatapan penuh tanya. Taemin memberitahu semua yang baru saja dia dengar. Sehingga membuat sang kakak tersenyum miring mendengarnya. Seokmin segera beranjak ke kamar adik pertamanya, entah apa yang sedang dia rencanakan. Tapi Taemin dan Taeyul sepertinya terlihat senang akan hal itu, beda dengan Seojun yang bersikap seakan tidak peduli, dia terus menerus memakan sarapan yang sudah dibuatkan oleh Seokmin. Sesampainya Seokmin di kamar lelaki berkulit putih itu, dia langsung masuk tanpa meminta izin dari Yeonu. "Seokmin-hyung, kau belum minta izin," ucap Yeonu. "Apa Daeho meminta izin padamu? Apa dia mengetuk pintu dulu sebelum masuk?" tanya Seokmin sambil menatap Daeho dan Yeonu bergantian. "Dengar kan ini baik-baik, hari ini tidak boleh ada yang pergi dari dorm, karena jadwal kita hari ini harus berlatih untuk perform nanti, ikuti kataku atau kalian akan kena marah manager-nim, jika itu terjadi aku tidak akan membantu. Jadi, jangan membuat situasi menjadi semakun memburuk," ucap Seokmin dengan nada suara yang terdengar tegas. selesai mengatakan itu, dia segera keluar dari kamar Yeonu tanpa pamit diikuti oleh Daeho. "Seokmin-hyung, aku mohon hanya untuk melihat keadaan Junhyo saja, hanya sebentar setelah itu kami langsung pulang," pinta Daeho seraya mengikuti langkah panjang sang kakak. "Cih, dengar ya. Untuk apa kau memikirkan dia sih? Mungkin saja sekarang dia sedang enak-enakan di layanin oleh suster untuk melakukan sesuatu yang harusnya dia lakukan sendiri," ucap Seokmin seraya menuruni anak tangga dan berjalan menuju meja makan untuk melanjutkan sarapan-nya. Daeho yang mendengar ucapan Seokmin sedikit geram. "Setidaknya kita melihat dulu perk-" "Ikuti saja ucapan Seokmin-hyung! Apapun yang dikatakan hyung itu adalah yang terbaik untuk grup kita, jangan membuat hyung repot dong," celetuk Taeyul memotong perkataan Daeho tanpa permisi. Yeonu yang baru saja turun terlihat tidak peduli sama sekali dengan pertengkaran di pagi hari ini. Dia berusaha bersikap seolah-olah tidak ada masalah apapun. Seolah tidak ada yang terjadi dan dia lihat. "Kita harus tetap latihan Daeho-ah, jadi dengarkan saja Seokmin- hyung," ucap Yeonu pada Daeho. Perkataan yang dilontarkan Yeonu membuat lelaki bak matahari itu membulatkan matanya. Tak lama setelahnya dia menatap hyung-nya. Pada akhirnya dia mengalah, dia menghela nafasnya kasar dan menyetujui semuanya. Pukul 10.00 AM. [[Dirumah sakit]] Tut Tut Tut Suara pendekteksi jantung terus berjalan dengan stabil menandakan bahwa pasien masih bernyawa. Lelaki berwajah imut itu kini tengah terbaring lemah di atas kasur putih milik rumah sakit. Wajahnya telihat pucat dan tubuhnya juga terlihat sangat kurus. Sangatlah tidak masuk akal untuk seorang idol. Bukan kah seharusnya seorang idol memiliki postur tubuh yang ideal? Lalu kenapa tubuh ini sangat kurus seperti jarang makan. Ya memang Junhyo bisa dibilang jarang makan. Bahkan di hidupnya saat ini, dia hampir tidak makan sama sekali. Claack Suara pintu terdengar ketika seseorang baru saja membukanya. Seorang dokter memasuki ruangan rumah sakit diikuti seorang suster di belakangnya. mereka datang untuk memeriksa keadaan Junhyo yang masih tidak sadarkan diri karena efek obat yang diminumnya. "Bagaimana dok?" tanya perawat seraya memegang papan catatan pasien. "Kondisinya sudah stabil, tetapi kita jangan sampai lengah. Kita harus tetap terjaga. Oh ya, apakah kakak dari Junhyo sudah datang pagi ini?" tanya dokter Hwang. "Tidak ada dok, belum ada yang datang menjenguk sejak pagi tadi," jawab perawat. Dokter Hwang hanya menghela nafasnya dan berpikir, sesibuk itu kah mereka sampai tak bisa meluangkan waktu untuk menjenguk sang adik di sini. "Ya sudah mungkin manager mereka tengah menyuruh mereka untuk latihan. Bukan kah mereka akan segera mengadakan konser pertama mereka di Myeongdong?" tanya dokter Hwang sambil mengulas senyum simpul. Perawat itu hanya menganggukkan kepalanya. "Aku dengar juga begitu," jawab perawat. Tak lama setelah mereka berbincang sambil terus memeriksa keadaan Junhyo yang sudah mulai stabil. Akhirnya Dokter Hwang memilih kembali ke ruangannya. Dia terlihat merogoh saku mantelnya untuk mengambil ponsel miliknya dan segera menelpon seseorang. Siapa kah yang ditelpon nya sampai raut wajahnya seserius itu? Apakah seseorang yang penting? Atau mungkin hanya seorang teman saja? Tentu itu menjadi pertanyaan besar, karena sebelumnya, dokter mengatakan itu pada saat sedang berada di kamar rawat Junhyo tadi. ~]][[~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD