#05

1235 Words
Setelah mobil yang dikendarai Seojun sudah tak terlihat lagi, Junhyo melangkahkan kakinya seolah dia habis berjalan dari sekolah ke dorm. Hanya satu yang mengganjal di pikirannya, apa mungkin mereka sengaja melakukan itu agar aku bisa mendengar ucapan mereka yang menyakitkan? . . Junhyo berjalan dengan sangat pelan, tak terasa setetes air jatuh tepat di pipinya. Junhyo mendongak menatap langit yang perlahan meneteskan air, rasanya dia ingin menangis dan mengakhiri hidupnya. Dia sudah bertahan sampai di sini, tapi tidak ada perubahan apapun. Semua tetap sama. Semua tetap menyakitkan. Untuk apa hidup jika rasanya seperti mati. Junhyo bertumpu di bawah hujan. "Apa salahku hyung hiks," isaknya sembari mengepal kedua tangan di atas paha. Bibir yang pucat kini terlihat jelas setelah lip berwarna pink itu mulai luntur. "Appa," gumamnya dengan suara yang gemetar sembari meremas bajunya. Sementara di waktu dan tempat lain. Seojun memarkirkan mobilnya, dan turun dari mobil disusul Taemin dan Taeyul. Dia sekilas melihat ke arah gerbang untuk memastikan kemunculan Junhyo. "Kami pulang," ucap Taemin, dia langsung melempar tas nya dan berbaring di sofa. Begitupun dengan Taeyul. Seokmin menghela nafasnya. "Tae, Taemin ganti baju mu dulu," ucap Seokmin. Daeho menatap Seojunn. Tak lama kemudian di balas anggukan untuk mengisyaratkan bahwa Seojun sudah mengajak Junhyo juga. Tetapi dia meninggalkannya di tepi jalan. Daeho menghela nafas lega. Drsszzz Suara hujan tiba-tiba terdengar, membuat tatapan Daeho berubah menjadi khawatir. "Seojun-ah, di mana Junhyo?" tanyanya tak tahan. Seokmin menoleh ke arah mereka yang sekarang tengah bergulat saling tatap. "Ak-aku tidak tahu," ucap Seojun gugup. Raut wajah yang baru saja tenang kini kembali dibuat khawatir. "Bukan kah sudah kubilang, ajak Junhyo!" bentak Daeho. "Apa maksudmu Daeho-ah? Jangan berfikir untuk melakukan itu, kau juga Seojun-ah, jangan melakukan apapun tanpa seizin dari ku!" bentak Seokmin. "Ne hyung," ucap Seojun dengan membungkukkan badannya 90°. Daeho menghela nafasnya berat dan segera pergi ke kamarnya. Yeonu yang melihat itu hanya memilih untuk diam dengan wajah datarnya. Dia mengambil payung dan pergi keluar. "Yeonu-ah?! Di luar hujan deras, mau kemana?!" teriak Seokmin. Membuat Taeyul menutup telinganya. "Seokmin-hyung, sudahlah biarkan. Kalau Junhyo sakit kita akan lebih susah hyung, tapi sih lebih baik dia mati saja haha," ucap Taeyul di akhiri dengan tawa. "Aku setuju Tae, masih banyak kan orang lain yang mau bergabung dengan kita," sambung Taemin. Brak!! "Tolong hormati aku sebagai seorang leader di sini," ucap Seojun setelah melempar buku nya dengan kuat kemeja. Seokmin hanya berdecih pelan. Seojun pergi ke kamarnya dengan wajah yang kesal menyusul Daeho yang tadi juga sudah pergi ke kamarnya. Taemin melihat Taeyul yang terlihat menahan amarahnya. "Hyung, lihatkan? Hanya karna Junhyo si anak s****n itu, hubungan persaudaraan kita jadi hancur seperti ini." "Hukum dia hyung, aku sudah muak dengannya," sambung Taeyul. Seokmin mengangguk. "Sudah, sebaiknya kalian ganti baju dan istirahat saja, nanti malam kita ada latihan, minggu depan kita sudah mengadakan konser," ucap Seokmin dan setelah itu pergi ke kamarnya diikuti oleh Taemin dan Taeyul. ~]][[~ Yeonu berjalan di bawah hujan dengan dibantu media payung untuk melindungi diri nya dari miliaran tetesan air yang jatuh. Tak lama dia berjalan. Akhirnya dia melihat sosok Junhyo yang tengah terduduk di tepi jalan dengan wajah yang terlihat pucat. "Junhyo-ah!" teriak Yeonu memanggil. Junhyo menoleh mencari sumber suara dan didapatinya sosok sang kakak yang tengah berlari menghampirinya dengan sebuah payung. "Sudah dekat kenapa tidak pulang?" tanya Yeonu. "Maaf hyung, aku hanya tidak ingin mengotori dorm," jawabnya. Membuat Yeonu berdecih pelan dan menyodorkan payung miliknya. Junhyo tersenyum tipis menatap Yeonu seraya menerima payung yang diberikan Yeonu. "Gomawo hyung-ie," ucapnya seraya memakai payung. Yeonu hanya pergi tanpa berucap apapun. Meskipun begitu Junhyo merasa senang dengan perhatian kecil Yeonu untuknya. Malam, pukul 20:00 "Hyung aku lapar," rengek Taeyul. Seokmin hanya terkekeh melihat kelakuan adiknya. "Baiklah aku akan memasak sesuatu untuk kalian, aku juga ada resep baru," ucap Seokmin. "Wah hyung, aku juga mau," ucap Seojun. Seokmin hanya membalasnya dengan tersenyum dan segera pergi ke dapur miliknya. Dia punya dapur khusus, saking cintanya pada memasak, manager membuatkannya dapur yang simple dengan ada beberapa corak berwarna pink. "Seojun-hyung, sebaiknya kau membantu, seperti nya Seokmin-hyung masih sedikit marah denganmu," ucap Taemin. Seojun mengangguk dan menyusul Seokmin ke dapur untuk membantunya. Yeonu yang tengah tertidur di kamarnya kini mendapat gangguan kecil dari Daeho. Tok Tok Tok "Hyung ... Aku ingin masuk, terimakasih," ucap Daeho. Belum ada jawaban apapun dia segera masuk ke dalam. Yeonu yang merasa ada hawa matahari yang amat terang dalam kamarnya pun terbangun. "Hyung," panggil Daeho. Yeonu menghela nafasnya berat setelah mendapati sosok matahari berbentuk manusia itu sudah berdiri tepat di sisi tempat tidurnya. "Waeyo? Bisakah tidak mengganggu tidurku?" geram Yeonu. Dia langsung menutupi kepalanya dengan bantal. "Hyung dengarlah dulu, ini soal Junhyo," ucapnya seraya duduk di pinggir kasur milik Yeonu. Alhasil membuat sang pemilik kamar membuka sedikit bantalnya. "Kenapa?" tanya Yeonu. "Aku merasa kita semua punya ikatan dengan Junhyo, hyung." ucap Daeho. Yeonu hanya menatap dan mendengarkannya. "Tadi pagi saat mebangunkan Junhyo aku melihat kotak mainan di atas meja belajar miliknya hyung," ucap Daeho lagi. Yeonu terduduk seraya mendengarkan ucapan Daeho dengan serius. "Lalu?" "Kau ingat mobil kayu mainan yang dibuatkan Taeyul dulu?" tanya Daeho yang di balas anggukan oleh sang kakak. "Aku melihat mobil kayu itu di atas meja belajarnya juga hyung," sambungnya. "Kau tak salah lihat kan?" tanya Yeonu untuk memastikan. "Tidak hyung, itu sama persis dengan yang dibuat Taeyul untuk si bungsu kita hyung," jawab Daeho. "Mungkin saja dia membeli di toko mainan," ujar Yeonu. "Tidak hyung, coraknya juga sama persis, percayalah padaku hyung." "Belum ada bukti yang kuat, kita harus ca-" belum selesai Yeonu bicara Taeyul sudah berteriak. "Hyung, makanan sudah matang cepatlah turun!" teriak Taeyul. Daeho segera bergegas turun dan bergabung dengan yang lain di meja makan. Begitupun Yeonu, tapi sebelum itu dia juga memanggil Junhyo untuk turun. Saat di meja makan, malam ini Seokmin memasak resep baru miliknya, yang benar-benar di buat dari racikan tangannya sendiri. "Humm hyung aromanya terasa lezat," ucap Taemin seraya mengendus. Taeyul mengangguk menyetujuinya. "Tapi aku takut, karena makanan ini ada campur tangan Seojun-hyung," ucap Taeyul disertai kekehan kecil. Seojun terlihat kesal dan merasa tak adil dengan ucapan Taeyul tentang dirinya, meskipun itu benar. Suasana di meja makan yang seru seperti ini adalah impian Junhyo, tertawa bersama hyung-nya, makan bersama dengan hyung-nya. Namun, semua itu justru berakhir setelah dirinya bergabung di meja makan bersama Yeonu, dalam sekejap semua terasa hening. Junhyo tahu ini akan terjadi. Dia tahu dia adalah alasan paling tepat yang mudah mengubah ekspresi para hyung-nya. Tanpa ada aba-aba mereka semua memakan masakan buatan Seokmin yang dibantu Seojun. Sakit. Untuk menelanpun sangat sulit jika berada di suasana seperti ini. Junhyo berniat bangun. Namun Yeonu menahannya sembari menatap mata Junhyo tajam. "Seokmin-hyung, kenapa begitu sulit menerima Junhyo?" tanya Yeonu sambil menatap Seokmin dengan mata elangnya. Seokmin berdecih. "Kau bertanya kenapa?" tanya Seokmin membuat semua mata tertuju padanya. "Tentu saja, karena dia ini anak s**l, dia mengambil semua posisi, dia mengambil bagian vocal dari Taemin dan Taeyul! Dan mencari perhatian pada manager-nim! Dia juga mengambil posisi Daeho sebagai dance terbaik! Sebentar lagi posisi rap terbaikmu mungkin juga akan diambil olehnya! Dan fans juga lebih suka padanya, tentu saja, dia bisa semua, dan dia tunjukan semua, sehingga adik-adik ku tidak mendapat bagian!" bentaknya Seokmin dengan amarah yang memuncak. "Dan Junhyo-ah! Memangnya kau pikir siapa dirimu? Haha, kau sangat tidak tau diri, kau seperti melakukan semuanya semaumu, tanpa memikirkan kami!! Dasar anak pembawa s**l. Harus nya kau tidak disini!" bentak Seokmin sambil menatap Junhyo. "Hyung!" ucap Seojun. ~]][[~
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD