Nindya terbatuk pelan ketika tunanya yang belum terkunyah sempurna dipaksa masuk ke kerongkongan. Bukan, bukan karena pertanyaan itu yang membuatnya tersedak, tapi lebih ke suara si penanya. Yang sekarang sedang berdiri menjulang di samping meja makan mereka. Dengan kemeja abu-abu gelap yang digulung sampai siku. Menatap Nindya dengan kornea hitam pekatnya. "Kenapa kamu ada disini? aku sudah bilang akan mengantar Ayya ke rumah" Abra hanya mengangkat bahunya sekilas lalu memilih duduk di samping Nindya. "Apa aku mengganggu kalian?” tanya Abra pada Delia yang menatap bingung pada keduanya. " Oh, tidak sama sekali” jawab Delia setelah sadar dari kebingungannya. "Kenalkan, Abraham, omnya Ayya” kata Nindya ketika melihat Delia bertanya lewat tatapan matanya. Abra mengulurkan tangannya y

