Bagian 4

1186 Words
Nina bobok .... Oooh Nina bobok .... ~oOo~ Gelap! Mati lampu'kah? Padahal gue udah bangun, tapi badan enggak bisa gerak. Kunawhy? Napas gue tiba-tiba sesak, kayak ada yang nutupin muka gue pake bantal. Tolong! Woy! Suara gue enggak mau keluar, ngeganjel aja gitu di tenggorokan. Padahal sebelum tidur minum dulu tadi. "Lihat! Dia bergerak!" Telinga gue yang tadi enggak bisa denger apa-apa, mulai berfungsi lagi. Walaupun berat, kelopak mata gue akhirnya kebuka juga. Pemandangan yang enggak biasa hadir di depan gue. Orang-orang pada ngeliatin ke arah gue, pake bajunya kok rada aneh ya? Di belakang mereka banyak pepohonan sama rumput hijau. Ini di mana deh? Kemudian ada sesuatu yang mukul pundak gue, bikin penglihatan gue gelap lagi. Anjir emang, gue ngerasain sesak dan perasaan enggak nyaman kayak sebelumnya. Sampai kemudian ada yang teriak, "Iblis!" Kaget, mata gue langsung kebuka lagi. "Di mana iblisnya?" tanya gue. Mereka malah ngeliatin gue, sorot mata mereka bengis, seolah gue pembunuh s***s. Ada cahaya yang nyelimutin badan mereka, warnanya beda-beda. "Sudah kubilang tadi, memenggal kepalanya saja tidak akan bisa untuk membunuhnya. Kita butuh pendekar pedang suci!" Ngomong apa sih? "Sayap itu .... Aku yakin, dia pasti si Kupu-kupu penyebar wabah kematian!" Sayap? Gue langsung tengok ke belakang. Dan, beneran. Gue punya sayap! "Hore!" Seneng banget sumpah! Bodo amat sama apa yang lagi mereka omongin, gue enggak peduli. Gue kan lagi mimpi. Mumpung-mumpung nih, gue mau manfaatin fitur sayap di punggung gue. Ngangkat tangan kanan ke atas, ngepalin jarinya. Tangan kiri dilipet di d**a. "Terbang!" Gue teriak kayak bocil, tapi sayap-sayap cahaya biru dipunggung gue enggak bergerak sama sekali. "Fly!" Mungkin harus pake bahasa Inggris. Tetep aja njir enggak ngaruh. Gue tutup mata, ambil napas dalam-dalam. Nenangin diri. Bikin kerumunan yang tadi ribut jadi sunyi. Gue buang lagi napasnya, terus buka mata. Gue tekuk kaki, pasang kuda-kuda jurus kataknya si Beast di kunfu Hustle. Otak gue secara otomatis memutar lagu sebelum kaki gue melompat. I belive I can fly .... I believe I can touch sky .... I think about it every night and day .... Spread my wings and fly away .... I believe I can soar .... I see me running through that open door .... I believe I can fly .... I believe I can fly .... I believe I can fly .... Sekali kepakan, gue berhasil mengudara di langit biru yang bersih tanpa awan. Enggak perlu diperintah lagi, sepasang sayap dipunggung gue mengepak dengan sendirinya. Akhirnya ... impian gue selama ini, punya sayap dan bisa terbang, terwujud juga. Di atas sini, bisa gue lihat hamparan hijau pedang rumput, pohon-pohon, bunga-bunga, istana? Wait ... ini mimpi bukan sih? Kok berasa nyata banget. Gue bisa ngerasain hembusan angin, aroma bunga. Apa ini yang disebut Lucid dream? Kalau emang iya, gue bisa ngendaliin semua yang ada di sini. Pas gue mikirin hal-hal aneh apa yang bakalan gue lakuin, sayap gue ilang dong. Gue yang ada di ketinggian entah keberapa, langsung jatuh tanpa dikasih parasut. Serius! Berasa real banget sensasi jatuhnya. Yah, gue bakalan langsung bangun nih kalau udah jatuh gini. Bisanya sih gitu. Perkiraan gue ternyata salah. Sesampainya di bawah, kaki gue menapak dengan mulus. Tanah yang gue pijak, retak. Jirrr! Ini momen yang tepat menurut gue buat menyampaikan pesan perintah. "Aku adalah pengendali mimpi! Maka tunduklah kepadaku!" Dan, perkiraan gue salah lagi. Bukannya menuruti perintah, mereka malah lari kalang kabut. Kaum perempuan alias ibu-ibu lebih aneh lagi, mereka nutup mata dulu pake telapak tangan sebelum kemudian teriak dan lari. Kenapa? "Mamah! Buwung apa tuh, Mah?" Anak kecil yang lucu, nunjuk-nunjuk ke arah gue. Emaknya langsung narik tangan tuh anak sambil lari. Et dah, kejam amat! Buwung? Burung? Astaga! Tanpa gue sadari, sedari tadi, ternyata gue masih pake samping sarung. Dan, kayaknya pas jatuh tadi, sarung gue terbang. Pantes aja tuh anak ngeliatin ke bawah. Si Joni terekspos! p********i nih! Nanti dulu deh mikirin tentang apa yang harus gue lakuin. Sekarang yang paling penting, gue harus nyari celana dulu! Orang-orang tadi lari tunggang-langgang entah ke mana. Gue pun ikut lari entah ke mana pula, sambil tengok kanan-kiri nyari jemuran, kali aja ada celana yang muat di gue. Di deket rumah yang kayaknya kosong, gue berhenti. Ngatur napas, capek, Jo! Ini mimpi kayak nyata, demeg-nya berasa. Eh, kayaknya di belakang ada tiang jemuran. Periksa ah, kali ada yang lagi jemur pakaian. Ya, walaupun mustahil sih. Rumahnya aja enggak terawat gini, udah lama ditinggal. Mana ada yang jemur. Lagi-lagi, perkiraan gue salah lagi. Di tempat jemuran, ada satu setel pakaian yang dibungkus cahaya kayak orang-orang yang gue lihat tadi. Cahayanya warna kuning keemasan. Sihir'kah? Bodo amatlah! Yang penting gue pake celana, meskipun enggak pake daleman, dari pada harus t*******g begini. Sekalian ajalah bajunya gue pake juga. Si Joni sekarang sudah aman, bajunya juga nyaman. Bisa pas banget gini ya? "Hu hu hu! Perkenalkan, aku adalah Sally! Salah satu kandidat Raja Iblis, si pemilik pedang kembar!" Eh, ada suara? "Woy! Di atas sini!" Sekali lagi suara itu teriak. Kepala gue langsung ngedongak ke atas. Dih gila, ada cewek di atas. Eh, bukannya dia adek gue ya? "Salsa?" "Apa kau tuli?! Sudah kubilang tadi, namaku Sally!" Orang yang mirip banget adek gue ini, langsung lompat dari pohon, terus masang kuda-kuda siaga. Kedua tangannya udah megang erat gagang pedang di punggungnya, yang menurut gue bentuknya lebih mirip gunting besar yang sering dipake buat motong tanaman pagar hidup. "Salsa! Jangan bercanda deh. Kakak lagi bingung nih." Gue tetep manggil dia Salsa, dan coba nyamperin dia. Adek gue yang satu itu kadang penyakit chuni-nya kambuh. Baru dua langkah kaki gue maju, tiba-tiba aja Salsa ngilang. Tanpa sadar, pandangan gue ngedongak lagi ke atas, terus gelap. Pas mata gue kembali terbuka, apa yang gue lihat jauh lebih tajam dari sebelumnya. Bisa gue rasain unsur energi menguar di setiap benda. Tanpa menoleh pun gue bisa tahu posisi si Sally, tepat dua langkah di belakang gue. Bisa gue rasain gerakan tubuhnya dari kaki gue melalui getaran di tanah. Dan, sepasang sayap cahaya tadi, kembali tumbuh di punggung gue. Perasaan yang gue rasain sekarang, persis kayak di tempat kerumunan tadi. Apa yang harus gue lakuin? Dia beneran bukan Salsa. Untung aja gue dapet kekuatan aneh di sini, bisa hidup lagi walaupun kepala udah putus. Saat gue nyoba berbalik dan nyerang dengan kekuatan yang sama sekali belum gue tahu ini. Si Sally langsung sujud dan minta maaf gitu aja, dan manggil gue dengan sebutan- "Master! Tolong maafkan perbuatan saya. Saya tidak menyadari Anda dalam sosok saat ini." Hah? "Apa kebodohan saya tidak bisa dimaafkan, Master? Baiklah kalau begitu, saya akan menebus kesalahan yang saya perbuat." Cepet banget tangannya ngayunin pedang, mata gue yang sekarang bisa lihat pergerakan secepat itu. "Cukup!" Hampir aja! Satu senti lagi tuh dua pedang, nempel di kulit leher dia. "Saya, eh. Aku, ah. Sudah kumaafkan perbuatanmu!" Oke tenang, dia bukan Salsa, cuma wujudnya aja yang sama. Harus gue korek informasi tentang dunia ini dari dia. "Apa kau tahu tempat apa ini?" "Ma'afkan saya, Master. Saya tidak mengerti maksud Anda." "Apa nama tempat ini?" "Master ... apa tempat sampah seperti ini punya nama?" Njir si Salsa, eh. Si Sally. Sombong amat! ---BERSAMBUNG----
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD