Lembaran Baru

1049 Words
Sepekan sudah Safira meninggalkan Jakarta, sayangnya kenangan buruk bersama mantan kekasihnya dan luka dalam hatinya tidak bisa ia tinggalkan di ibukota. Ia pergi mengasingkan diri bersama luka yang tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Jogjakarta, dia memilih kota kelahiran mendiang ayahnya untuk menyembuhkan diri. Safira memulai hidup barunya disana, tanpa sepengetahuan mama dan kakaknya. Bahkan sudah sepekan mereka tidak menghubungi Safira, pasti mereka mengira Safira kembali ke apartemen dan tidak akan mau bertemu mereka dalam jangka waktu lama. Seperti masalah yang sudah-sudah. Dia bekerja di sebuah toko bunga di pusat kota dekat dengan tempat wisata, berbekal pengalamannya dia diterima disana tanpa harus melalui masa training terdahulu. Dia benar-benar memulai hidupnya yang baru, menyewa sebuah apartemen yang dengan sisa Tabungan. Lebih tepatnya uang yang harusnya ia gunakan untuk menopang masa depan dengan Winar kini terpakai untuk yang lainnya. “Kamu keliatan banget ya udah mahir soal merangkai buket!” Celetuk Mutia, rekan kerja Safira. Mereka baru mengenal namun Mutia tampaknya gadis yang ceria dan mudah berbaur dengan hal baru termasuk teman baru. “Besok bisa tukeran shift nggak, Mbak Fir? Aku ada kuliah besok!” Ucap Mutia dengan wajah memelas, Safira hanya menoleh dan mengangguk. Benar, usia mereka terpaut jauh namun justru Mutia yang tampak merangkul Safira. “Oke!” Jawab Safira singkat, Mutia tersenyum senang padahal itu adalah hal sepele, dan banyak sekali Safira alami termasuk ketika dia bekerja di toko bunga di Jakarta. Safira telah selesai membuat satu buket mawar pesanan pelanggan tetap di toko Devi Florist, ia memajangnya di atas etalase agar memudahkan jika sewaktu-waktu ada yang mengambilnya. Byurrr… Safira membelalakkan matanya dikala seorang pelanggan tiba-tiba menumpahkan ice americano miliknya ke buket yang mawar itu, dalam situasi ini Safira masih diam dan takt ahu apa yang sebenarnya terjadi. Entah mengapa, dia merasa gadis itu sengaja melakukannya. Gadis yang tampaknya seumuran dengannya namun dari penampilannya dia adalah orang terpandang. “Maaf, Mbak! Aku gak sengaja!” Pekik gadis itu, Safira berusaha mengeringkannya namun sia-sia. Ice americano sudah rata bahkan membasahi kertas koran yang tadinya sebagai pembungkus tangkai mawar, sebagai Kesan estetik. “Tidak apa-apa, saya akan membuatnya lagi.” Ucap Safira dengan ramah, dia ingin marah dan mengumpat namun dia teringat dia baru bekerja beberapa hari di toko ini dan tidak ingin menimbulkan masalah, terlebih kepada pelanggan tetap toko itu. “Apa perlu saya mengganti rugi untuk kerusakan buket ini mbak?” Tanya gadis itu, memang seperti tanggung jawab namun dari nada bicaranya seolah ingin menyombongkan dirinya bahwa dia mampu membeli segalanya. Tidak hanya seikat dan satu buket bunga, namun juga toko ini. “Tidak apa, Kak! Ini mungkin keteledoran saya.” Tolak Safira masih memasang wajah ramahnya, sekali lagi dia menahan dirinya karena gadis itu adalah seorang pelanggan. “Kalau begitu saya ambil ini saja mbak!” Ucap gadis itu kemudian menyodorkan beberapa tangkai mawar yang telah ia pilih. Safira menerimanya dan mengangguk. “Ada pesan untuk penerimanya atau apapun?” Tanya Safira sembari membungkus mawar itu dengan pita rapi disana. “Oh iya mbak aja yang nulis!” Pinta gadis itu menaikkan kacamata hitamnya untuk menyangga poni rambutnya yang terurai, mengganggu penglihatannya. “Love You Sayang…” “Arizal!” Jari jemari Safira yang tadinya menulis dengan lancar terhenti begitu saja ketika gadis itu menyebut nama familiar, respon tubuhnya benar-benar tak terduga. Padahal hubungannya dengan Rizal hanya sebatas teman berlibur bersama namun tampak seperti kenangan yang dalam. Safira berusaha menjaga mimik wajahnya agar terlihat biasa saja, kemudian memberikan buket mawar itu pada gadis itu. “Mungkin kebetulan saja.” Batin Safira. “Ahhhh…. !” Pekik Safira begitu tangan gadis itu sengaja menggenggam erat tangan Safira yang sedang memegang tangkai mawar, tentu saja sakit karena batang bunga mawar memiliki duri-duri kecil. “Mbak Fira!” Pekik Mutia melihat tangan Safira yang terluka karena goresan duri yang tajam, sedangkan Safira menatap gadis itu aneh karena sejak tadi yang dilakukan gadis itu hanya memancing keributan dengannya. “Kenapa mbak? Kamu tadi kayak gimana gitu pas aku ngomong nama tunangan saya?” Tanya gadis itu dengan sinis. “Maksud anda ini apa ya? saya benar-benar tidak mengerti!” Ucap Safira berusaha menahan diri, dan pura-pura tidak mengerti padahal kini dia paham dia tidak heran jika gadis ini bersikap aneh kepadanya jika ini menyangkut Rizal, lelaki asing yang ia temui di Jepang beberapa waktu yang lalu. “Kamu tidak mengerti? Kamu serius nggak kenal sama cowok yang namanya Arizal Mahendra?” Tanya gadis itu sedikit berteriak, wajahnya merah padam dan tak bisa membendung emosi yang sejak tadi ia tahan, begitu bertemu dengan Safira. “Maaf, anda salah orang!” Ujar Safira tidak ingin memperpanjang masalah. “Salah orang kamu bilang? Memangnya aku tidak tahu. Kamu Safira kan? Gadis yang menginap satu kamar hotel dengan tunanganku waktu di Jepang?” Hardik gadis itu kian menjadi, nada bicaranya tinggi dan matanya menatap tajam Safira penuh dendam. Suaranya menggema di seluruh ruangan, menarik perhatian semua pelanggan di toko itu. Terlebih Mutia hanya bisa tercengang sampai mulutnya terbuka, dia menatap gadis dihadapannya dan Safira secara bergantian untuk mengerti situasi yang ada. “Maaf, tapi aku benar-benar hanya…” PLAAAKKKK…. “Gadis jalang!” Semua orang memekik nyaris memenuhi seluruh ruangan, waktu seperti berhenti ketika seluruh perhatian berpusat pada Safira yang mematung ditempatnya. Terpaku dengan situasi yang melandanya, apa yang terjadi sebenarnya? beberapa hari di Jogjakarta berharap ada sebuah ketenangan rupanya hanya angan-angan belaka. Masalah datang mengikutinya kemana pun gadis itu pergi. “Astaga! Mbak kamu itu apa-apaan sih!” Pekik Mutia langsung menarik Safira untuk berdiri di belakangnya. Safira memandang aneh wanita yang sempat menatapnya sinis dan melenggang pergi begitu saja, tidak peduli dengan bisikan dan lirikan aneh para pengunjung yang lainnya. “Mending kamu Ganti baju deh, Mbak Fir! Bajumu basah dan kamu… keliatan berantakan.” Ucap Mutia pada rekan kerja barunya, Safira hanya mengangguk dan segera pergi ke ruangan yang hanya staff yang bisa masuk. Safira mencuci wajahnya, menatap bayangan wajahnya dibalik cermin dihadapannya. Benar yang dikatakan Mutia, dia memang terlihat berantakan. Kantung matanya masih terlihat samar-samar meski ia berusaha menutupinya dengan make up tipisnya, dia kembali teringat dengan yang diucapkan seorang wanita yang memberikan Kesan pertama di hari mereka bertemu. “Apa benar, Rizal yang dibicarakan dia Adalah Rizal yang kutemui di Jepang!” batin Safira entah pada siapa, menanyakan suatu hal yang tidak tahu siapa yang akan memberikan jawaban. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD