Toxic Relationship

1433 Words
Suara smartlock key di pintu salah satu apartemen terdengar dari luar, menandakan seseorang baru saja membuka pintu apartemen. Sang penghuni berlari menyambut tamu yang sepertinya memang dia harapkan kedatangannya. Lelaki jangkung dengan pakaian formalnya dan tas ransel berisi materi untuk mengajarnya membuatnya tampak terlihat seperti mahasiswa. “Sayang, kamu lama sekali!” Rengek Yulia menarik tangan Rizal yang baru pulang dari kampus, tempatnya bekerja. Seperti biasa, hanya ulasan senyum sebagai jawaban untuk menanggapi tingkah manja sang kekasih. Rizal memakluminya karena perbedaan usia diantara mereka, Yulia baru berusia 25 tahun sedangkan ia sudah menginjak kepala tiga, tepatnya 33 tahun di tahun ini. “Rektor memanggilku untuk mengikuti workshop pekan depan.” Ucap Rizal, merebahkan dirinya di sofa dan menggulung lengan kemejanya karena mendadak rasa gerah melandanya. “Kamu membelinya lagi?” Tanya Rizal pada beberapa hidangan makanan yang sudah tertata rapi di meja makan, juga sterefoam take away dari salah satu restoran yang menjadi langganan mereka. “Oh, iya tentu saja! Aku sedang sibuk hari ini.” jawab Yulia enteng, wajahnya cemberut. “Lalu kenapa kamu mengajakku untuk belanja sayuran sebanyak ini jika kamu sibuk.” Ucap Rizal seraya membuka kulkas, melihat kulkas penuh dengan sayuran dan juga buah-buahan yang baru ia beli dengan sang kekasih tempo hari. “Ayolah sayang! Hari ini aku sudah kecapekan karena jadwal kampus yang padat.” Terang Yulia, Rizal hanya mengangguk mengalah. Yulia memang sedang menempuh Pendidikan S2 di kampus yang sama dengan Rizal, hanya berbeda dengan fakultas yang keduanya ambil. “Kalau begitu aku mandi dulu!” Seru Rizal yang hanya dibalas kecupan manis di pipinya oleh Yulia, hubungan keduanya memang sangat romantis. Yulia lebih inisiatif daripada Rizal yang lebih banyak diam, bahkan ketika marah pun lelaki itu memilih diam atau semuanya justru semakin rumit. Lelaki itu memasuki kamar mandi, dia memang sering berkunjung ke apartemen Yulia meski hanya sebentar namun hampir setiap hari. Sayangnya, Rizal tidak pernah berkenan untuk menginap di apartemen Yulia, dia masih tinggal dengan orang tuanya sehingga dia masih dibawah pengawasan mamanya. Sekali pun mamanya mengizinkannya, dia tidak akan melakukannya. Tapi prespektif ini tidak berlaku untuk Rizal saat dia liburan ke Jepang beberapa minggu yang lalu. Sayup-sayup wajah Safira masih terpampang jelas dalam ingatannya, sayangnya pertemuan mereka hanya sebentar dan tidak akan ada kelanjutan untuk cerita mereka. Menjadi kenangan yang tak terlupakan atau mungkin akan terlupakan seiring berjalannya waktu. Terik matahari di Jogja memang tidak bisa dihindari apalagi di siang hari seperti ini, mandi memang menjadi salah satu kegiatan yang Rizal lakukan sepulang dari padatnya jadwal mengajar di kampus, belum lagi jika ada kepentingan kampus lainnya membuat jam pulangnya tertunda, dia harus menghadiri workshop dan rector memilihnya sebagai perwakilan kampus. Rizal mengeringkan rambutnya di kamar Yulia, lima tahun bersama membuat keduanya tak memiliki ruangan privasi bahkan Rizal sudah terbiasa namun masih membangun dinding batas yang Rizal jaga sampai sekarang tidak akan runtuh apapun yang terjadi. Sedangkan Yulia sibuk dengan sosial medianya, parasnya yang cantik dan memiliki bentuk tubuh proposional membuatnya memiliki banyak pengagum dan penggemar. Terlebih rekan-rekan di kampusnya, sayangnya harapan mereka harus pupus karena dia Adalah kekasih salah satu dosen. Rizal menyepitkan matanya melihat sebuah amplop tergeletak begitu saja di atas nakas tempat tidur, tidak ada niat untuk membukanya hanya saja tampaknya Yulia terlalu terburu-buru menaruhnya sampai membiarkan amplop cokelat itu terbuka dan isinya hampir keluar. Niat hati ingin membenarkan letaknya tanpa tahu menahu soal isinya justru isi amplop itu jatuh berhamburan, Rizal tidak panik dan memungutnya begitu saja berniat memasukkan lagi. Namun dia terpaku sejenak kala foto itu membuat ingatannya terputar begitu saja, sebuah foto seorang gadis bersamanya membuat mata Rizal menyipit, menyakinkan bahwa dia tidak salah lihat. Napasnya tercekat, mendadak dia merasa sesak dan tidak bisa bernapas dengan baik. Oksigen mendadak berkurang drastis, tidak hanya itu desiran aneh menggerogoti rongga dadanya, jantungnya bahkan memompa lebih cepat. Foto-foto yang ia lihat satu per satu memperlihatkan semua kegiatannya selama di Jepang, tak terkecuali ketika ia menghabiskan waktu bersama Safira. Bahkan sederet foto mereka berdua pun bertebaran. BRAAAKKK.. Lelaki itu keluar kamar dengan membanting pintu, emosinya tak terkendali saat ini. bahkan Yulia yang tadinya tampak berbaring di sofa terbangun karena benturan pintu dengan dinding. Rizal menarik napasnya dalam, melempar foto itu pelan ke meja tepat dihadapan Yulia. Alih-alih merasa ketakutan atau panik justru Yulia menyilangkan posisi kakinya, wajahnya tampak tenang. “Kamu bisa jelaskan! Kenapa ada foto-foto ini di kamar kamu?” Tanya Rizal dengan nada pelan, penuh hati-hati agar emosinya tidak meledak. “Apa yang perlu dijelaskan kamu sudah melihat semua foto bukan?” Tanya Yulia dengan entengnya, bahkan tidak merasa bahwa tindakan yang ia lakukan adalah sebuah kesalahan. Rizal mengusap kasar rambutnya yang tadinya sudah ia tata dengan rapi, beberapa kali ia menarik napas panjang berharap gemuruh dalam hatinya mereda namun dia tidak mendapatkan apa-apa, justru emosinya justru terasa sampai ubun-ubun. “Bukankah kamu seharusnya yang menjelaskan, Mas! Bagaimana bisa kamu ke Jepang bersama Safira?” Tanya Yulia pada Rizal yang sedikit terkejut karena rupanya Yulia tidak hanya menyuruh orang untuk mengikutinya namun juga tahu tentang dengan siapa ia berlibur di Hokkaido, Jepang. “Kamu kenal dengan dia?” Tanya Rizal yang berbalik bertanya, dia tidak menjawab pertanyaan kekasihnya justru dia ingin lebih tertarik bagaimana bisa Yulia mengetahui nama gadis asing itu. “Tidak penting, bagaimana aku tahu nama gadis itu. Aku sekarang tanya sama kamu, bagaimana Mas Rizal bisa pergi dengannya?” Tanya Yulia kini menyudutkannya, menuntut kejelasan pada sang kekasih yang bersikeras untuk pergi ke Jepang sendiri tanpa mengajaknya, dan disana justru asik berlibur dengan gadis lain padahal dia sangat cemas meminta kabarnya. “Tidak seperti yang kamu pikirkan! Aku dan dia tidak saling kenal. Kami hanya kebetulan bertemu dan berlibur bersama.” Jawab Rizal, namun jawabannya tampaknya tidak sesuai dengan yang ingin didengar oleh Yulia. Gadis itu justru mengambil asal foto itu dan melemparkannya pada Rizal yang berdiri didepannya. Emosi gadis itu meluap, sejak kepulangan Rizal dari Jepang, dia menahannya untuk tidak melampiaskannya pada sang kekasih. Dia bahkan lebih berani untuk menampar Safira tempo hari daripada harus bertengkar dengan Rizal. “Kalau begini aku bisa kan! Bilang kalau kamu selingkuh dibelakang aku!” Celetuk Yulia membuat Rizal justru tertawa hambar mendengarnya. “Selingkuh darimana? Aku sudah mengatakan apa yang terjadi sebenarnya di Jepang. Aku tidak selingkuh, dan juga sampai kapan kamu tidak bisa percaya sama aku, ini bukan pertama kalinya kamu menyuruh orang untuk mengikutiku!” Hardik Rizal kehilangan kesabaran. Dia tahu, Yulia memang mencintainya begitu juga dengan dirinya, lelaki itu juga mencintai Yulia meski beberapa hal tetap Rizal terima dengan baik sekali pun berlawanan dengan hatinya. Namun cara Yulia mencintainya justru seperti seseorang yang terobsesi pada sesuatu, dia akan marah jika sesuatu tidak sesuai dengan keinginannya. “Kita sudah lima tahun bersama Yulia!” Ucap Rizal mencoba mengingatkan bahwa hubungan mereka tidak seumur jagung. Benar, lelaki itu bahkan menjalin hubungan dengan Yulia semenjak gadis itu berusia 20 tahun. “Kalau begitu kenapa kamu tidak kunjung melamarku?” Tanya Yulia kini beralih topik, topik pembicaraan yang selalu Rizal hindari dan bahkan tidak memberikan jawaban setiap gadis itu meminta sebuah kejelasan. “Kamu harus sabar dulu.” Jawab Rizal pelan nyaris tak terdengar, Yulia mendengus dia sudah merasa jengah dengan jawaban Rizal yang terus menyuruhnya bersabar dan tidak memberikan kapan pastinya lelaki itu akan bergegas melamarnya. “Sampai kapan, Mas Rizal? Aku sudah bersabar terus menerus.” Rengek Yulia manja, dia putus asa pada Rizal. Meski begitu dia tetap mencintai Rizal dengan sepenuh hatinya. “Bagaimana jika kita akan menikah, pendidikanmu belum selesai dan kamu masih sibuk dengan dunia malammu. Berapa kali Mas bilang, kamu harus berhenti dari hobbi dugemmu itu!” Terang Rizal mengungkapkan sesuatu hal yang berkecamuk namun tak bisa ia sebutkan, begitu mendengar ucapan sang kekasih Yulia tampak marah. “Kamu belum jadi suamiku udah ngatur ini itu, Mas! Aku bakal berhenti kok nanti setelah kita menikah.” bantah Yulia, gadis itu akan marah setiap Rizal menyinggung soal dunia malamnya yang sampai sekarang dia tidak bisa berhenti, untuk apa? Dia menyukainya dan merasa terhibur? Berhenti demi Rizal tampaknya tidak mungkin. “Lalu kapan? Kapan kamu akan berhenti bekerja sebagai dosen? Untuk apa kamu sekolah tinggi-tinggi tapi hanya menjadi dosen? Memang gajinya bisa sebesar orang-orang yang bekerja di Perusahaan ayahku?” Balas Yulia, dia tidak ingin hanya dia saja yang merasa tersinggung. Yulia kembali mengungkit syarat yang ia inginkan jika mereka akan menikah. Terus terang saja, dia bukan putri dari keluarga sembarangan. Hidupnya dikelilingi dengan kemewahan dan gaya hidupnya glamor sejak kecil, tidak memungkinkan dengan gaji dosen Rizal mampu memenuhi segala kebutuhan elitnya. Meski begitu, Yulia tetap setia pada Rizal. Gadis itu tetap menjalin hubungan dengannya, bahkan sampai menginjak lima tahun tanpa kepastian, Yulia pun bersedia. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD