Cemburu Buta

1715 Words
Rizal sudah siap untuk berangkat ke kampus, lengkap dengan segala atribut yang ia perlukan. Dia menggunakan kemeja warna navy dipadukan dengan dasi celana warna krim, postur tubuhnya kian mendukung tampak begitu elegan. Tidak lupa jam tangan yang di tangan kirinya kian menambah sempurna untuk penampilan seorang dosen. Raline membantu sang mama menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga, hidup hanya bertiga di rumah yang bisa dibilang cukup besar namun wanita parubaya itu enggan untuk memperkerjakan asisten rumah tangga lagi, cukup Mbok Tini yang terakhir mengurus rumah mereka. Lagipula, diusianya yang kini beranjak tua dia tidak memiliki aktivitas sehingga mengurus rumah cukup untuk menghiburnya. “Tumben Yulia udah beberapa hari nggak datang kesini, Zal?” Tanya mamanya menyodorkan secangkir kopi untuk putra sulungnya. Raline melirik Rizal yang hanya mengendikkan bahu, setelahnya mamanya dan Raline saling melempar pandang. Bukan suatu yang baru jika Yulia tidak berkunjung ke rumah mereka berarti mereka sedang bertengkar semuanya tahu soal itu. “Mas bertengkar lagi ya sama Mbak Yulia?” Tanya Raline asal bicara, mamanya melemparkan tatapan tajam agar Raline tidak menyinggung soal Yulia. Tidak perlu dipertanyakan lagi. “Kayaknya itu nggak perlu dijawab juga Mama sama kamu juga tahu.” Jawab Rizal, meniup pelan kopi yang masih mengepulkan asap panas itu. “Mendingan buruan baikan deh, aku capek banget tiap hari ditanyain kapan Mas Rizal pulang dan pergi jam berapa. Kenapa dia nggak tanya aja langsung sama Mas sih.” Gerutu Raline, setiap kakaknya bertengkar dengan pacarnya justru hidupnya yang merasa terganggu, bahkan Yulia terus menerornya untuk sekadar menanyakan kabar Rizal. “Apa jangan-jangan Mas blokir nomor Mbak Yulia ya?” Tanya Raline penuh kecurigaan, sedangkan mamanya hanya mendengarkan dua anak yang setiap hari meramaikan suasana di pagi hari saat sarapan bahkan makan malam pun mereka akan tetap mengobrol dengan berbagai topik, bahkan politik pun kadang disinggung. “Enggaklah, Mas nggak sekekanak-kanakan itu.” Sengit Rizal dengan tuduhan Raline yang kini justru tampak seperti Yulia penuh kecurigaan dengan pikirannya sendiri dan kemudian memberikan asumsi sesuai dengan prasangkanya sendiri. “Kalau kamu merasa terganggu, bilang sama Yulia jangan gangguin mulu!” Seru Rizal yang langsung dibalas gelengan pelan Raline. “Ya mana berani aku sama calon kakak ipar begitu.” Sengit Raline, walaupun dia terus mengomel dan merasa terusik karena sikap bawel Yulia yang membuatnya harus ikut campur namun dia masih memiliki rasa sungkan, terlebih itu Adalah kekasih kakaknya. “Ya udah nggak usah ngeluh sama Mas.” Jawab Rizal ringan, tidak merasa bersalah padahal Raline merasa terganggu karena pertengkarannya dengan Yulia namun adiknya harus terkena getahnya juga. Raline mendengus kesal, mengambil ponsel disampingnya dengan kasar. Mamanya hanya bisa menggeleng dan menikmati sandwich buatannya, Yulia dan Rizal sudah lama menjalin hubungan sehingga dia hafal dengan sikap Yulia ketika marah dan bertengkar dengan Rizal, dia pun tahu kalau Rizal selalu mengalah demi mempertahankan hubungan mereka. Mata Raline menyipit begitu melihat reels di media sosial miliknya, dia merasa familiar dengan seorang wanita yang terekam cctv itu. Sekali pun resolusi video itu tidak terlalu jelas namun Raline tahu siapa yang ada di video itu, Yulia. Sepertinya seseorang mengunggah video dari rekaman cctv dari toko bunga. “Mas Rizal! Bentar deh! Ini bukannya Mbak Yulia ya!” Seru Raline memperlihatkan ponselnya pada Rizal yang tadinya ingin beranjak pergi meninggalkan meja makan karena sarapannya telah selesai. Tidak hanya Rizal, mamanya pun ikut menyipitkan matanya. Memang dari Gerak-geriknya pun, Rizal bisa tahu jika wanita itu Adalah Yulia. Hal yang membuat Rizal masih terus menonton reels itu beberapa kali Adalah apa yang dilakukan oleh Yulia disana, wanita itu terekam menampar seorang pegawai toko dan beberapa pelanggan lainnya tampak berkerumun di sekitar keduanya meski jaraknya tak terlalu dekat. “Siapa yang ditampar Yulia itu?” Tanya Hani, mama Rizal yang rupanya juga sejak tadi menonton video yang tersebar itu secara berulang. Rizal diam, dia menyodorkan mengembalikan ponsel Raline. Tidak sepatah kata pun, Raline dan Hani pun juga bingung dengan perubahan sikap Rizal yang tadi tampak santai dan tenang meski hubungannya dengan Yulia sedang tidak baik-baik saja, namun lelaki itu berlalu begitu saja tanpa memberikan kejelasan. Wajahnya tampak tegang dan sorot matanya begitu tajam, Raline hanya berani memandangnya tanpa berani mengungkapkan rasa penasarannya. “Kamu yakin itu Yulia?” Tanya Hani memastikan kembali. “Kalau dari sikap Mas Rizal, Raline yakin Ma. Tapi siapa ya gadis ini kasihan sekali!” Gumam Raline menyaksikan reels itu kembali dengan memasang wajah melas. Sedangkan Hani hanya memandang Rizal yang perlahan menghilang dibalik pintu keluar. Tatapan Hani sangat sulit diartikan. Rizal telah sampai di kampus, selama perjalanan dia benar-benar tidak fokus untuk hati-hati dijalan. Dia terus berpikir keras tentang video reels yang beredar, ini memang tidak satu atau dua kali Yulia bersikap impulsive, melabrak beberapa wanita yang dekat dengan Rizal bahkan menjadi wishlist wajib bagi wanita itu tidak peduli itu rekan dosen atau bahkan mahasiswa yang berkonsultasi mengenai skripsi. Hal yang membuat Rizal tidak bisa bersikap seperti biasa adalah ketika dia tahu siapa gadis yang mendapatkan tamparan dari kekasihnya itu, Safira. Bahkan pertemuan singkat itu rupanya mampu membuat Rizal mengenali gadis itu dalam sekali lihat bahkan dalam video yang tidak jernih sekalipun. Rizal : Dimana kamu, kapan kelasmu selesai? Kita bisa pulang bersama. Yulia : Nanti jam 10 keknya, Mas. Oke nanti aku tunggu kamu. Rizal hanya membaca balasan Yulia yang begitu cepat itu, bahkan centang pesannya langsung berubah biru begitu Rizal mengirimkannya menandakan Yulia memang sedang memegang ponsel. Gadis itu menempuh Pendidikan hanya untuk formalitas, memenuhi keinginan keluarganya. Tidak ada keinginan sama sekali dalam dirinya, mengapa dia harus bekerja keras sedangkan dia adalah putri seorang insiyur Teknik di Jakarta. *** “Lama sekali!” Gerutu Yulia begitu melihat Rizal keluar dari ruangan dosen, tidak ada senyum hangat yang biasanya Rizal berikan untuk menanggapi sikap manjanya. Hanya tatapan dingin yang Yulia dapatkan, gadis itu cemberut karena tadinya ia pikir Rizal sudah tidak marah lagi perihal perlakuannya yang menyuruh orang untuk mengikuti Rizal sampai ke Jepang. Seperti biasa, ketika menyusuri lorong koridor fakultas sepasang kekasih itu selalu menjadi pusat perhatian. Tak jarang beberapa mahasiswa langsung membuang muka begitu tatapannya bertemu dengan sorot mata Yulia yang penuh dengan kecemburuan. Beberapa orang justru tepaku dengan wajah Rizal yang tampak suram, seakan jika mata mereka bertemu mampu mencabik-cabik kulit mereka tanpa bicara. “Mas Rizal!” Rengek Yulia begitu Rizal justru langsung masuk ke mobil tanpa membukakan pintu untuk Yulia seperti biasa, alih-alih menyesal karena lupa justru Rizal hanya diam saja seolah dia memang sengaja melakukannya. “Kenapa sih?” Tanya Yulia kesal karena sejak tadi kekasihnya mengabaikannya, bahkan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Gadis itu tampaknya tidak mengetahui letak kesalahannya dimana. Mobil melaju menelusuri jalan kota yang begitu padat, lalu linta macet, matahari begitu Terik hingga terasa membakar kulit ditambah suasana hati Rizal yang benar-benar tidak bersahabat untuk saat ini. Entah mengapa setelah kepulangannya dari Jepang, dia justru tak merasa beban pikirannya sedikit mereda justru kian terasa berat dan bertambah setiap harinya. “Kamu ngapain sih, ngajak pulang! kalau Cuma buat diemin aku kayak gini! Lagipula masalah kemarin kan sudah selesai, apa yang diributkan lagi?” Hardik Yulia yang kini terbawa emosi, bagaimana tidak! Lelaki itu yang mengajaknya untuk pulang bersama namun bersikap seolah tidak ingin bertemu dengannya. “Selesai? Darimananya? Bukankah seperti biasa aku yang mengalah untuk merayu kamu?” Tanya Rizal akhirnya mengeluarkan sepatah kata, ucapannya membuat Yulia mengatupkan rapat bibirnya. Benar, tidak pernah ada penyelesaian di setiap masalah di hubungan mereka, yang ada hanya Rizal yang mengalah dan mencoba merayu bahkan meminta maaf atas sesuatu yang jelas bukan salahnya. Yulia memilih diam, sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk sedikit keras kepala karena Rizal sepertinya juga sedang terbawa emosi. Sesampainya di basement, Rizal keluar dari mobil dengan membanting pintu, bahkan langkah kakinya begitu lebar sampai Yulia yang dibelakangnya tergopoh-gopoh untuk mensejajarkan langkah kakinya. “Entah perasaanku atau memang kamu menjadi sangat sensitive, setelah pulang dari Jepang? Lebih tepatnya setelah kamu bertemu Safira!” Seru Yulia membuang asal tas kampusnya, beruntung tidak ada barang penting seperti laptop atau ponsel, ya benar! Hanya barang-barang pribadi seperti dompet dan make up juga jurnal untuk kelasnya. “Untuk apa kamu bertemu Safira?” Tanya Rizal, setiap kata yang keluar dari mulutnya penuh penekanan. Gertakan giginya begitu terlihat seiring rahangnya yang mengeras kembali, dia benar-benar menahan kesabaran yang sudah sangat tipis. “Kamu tahu darimana?” Tanya Yulia yang justru berbalik bertanya, karena terakhir mereka hanya bertengkar perihal foto Safira tanpa menyebut sebuah pertemuan. “Kenapa kamu menamparnya?” Tanya Rizal lagi, bahkan pertanyaan sebelumnya belum Yulia jawab namun Rizal sudah mencecarnya dengan pertanyaan. “Oh, dari video yang beredar itu? Aku hanya memberinya sedikit Pelajaran.” Ucap Yulia dengan nada manja, senyumannya mengembang dan dia mendekat pada Rizal untuk bergelayut manja di lengan lelaki itu. “Berhentilah mengusiknya, dia tidak ada hubungan sama sekali dengan hubungan kita!” Seru Rizal membuat Yulia langsung melempar tatapan tajam, tidak terima dengan sikap Rizal yang semakin hari semakin jelas bahwa lelaki itu memihak Safira. “Percayalah, dia benar-benar tidak ada hubungannya denganku! Kami hanya berteman, sebatas teman saja.” Terang Rizal dengan nada yang putus asa menghadapi sikap Yulia yang menurutnya begitu kekanak-kanakan. “Ini pertama kalinya murni kesalahan kamu dan kamu marah sama aku, Mas!” Celetuk Yulia setelah beberapa saat mereka hanyut dalam keheningan, Rizal sibuk dengan pikirannya yang berkecamuk sedangkan Yulia tidak mengerti dengan situasi saat ini. “Aku pulang!” Seru Rizal beranjak pergi begitu saja, tanpa menoleh pada Yulia yang kini termangu menatap kepergiannya. Wajah gadis itu tidak seperti biasanya, ingin marah serta bingung bercampur jadi satu. Lima tahun bersama, Rizal tidak pernah semarah ini kepadanya. Bahkan Rizal akan menyapanya lebih dulu meski itu kesalahan Yulia, bahkan saat mengetahui sang kekasih menyuruh seseorang untuk mengikutinya, Rizal justru mengalah dan menenangkan Yulia agar tidak terlalu khawatir bahwa hatinya hanya untuknya. Keadaan kini berbanding terbalik, sangat jauh dibandingkan dengan masalah sebelumnya. Hari ini, Yulia melihat betapa menakutkan mata elang Rizal yang sedang menahan emosi. Bahkan cara bicara lelaki itu dingin, tidak ada senyuman simpul untuk setiap rengekan yang Yulia keluhkan. Ucapan Yulia terus terngiang dalam pikiran Rizal, apa yang diucapkan kekasihnya itu ada benarnya. Untuk apa dia terus melemparkan pertanyaan bertubi-tubi pada Yulia, mengapa juga emosinya langsung meluap ketika berkaitan dengan nama Safira. Bahkan dia kehilangan jati dirinya yang sebenarnya ketika, dia tidak peduli lagi untuk menjaga perasaan Yulia seperti sebelumnya. “Ada apa sebenarnya dengan diriku ini!” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD