Risalah Hati

1968 Words
Sepekan setelah kejadian di Devi Florist membuat Mutia harus bekerja sendiri karena Safira tidak pernah datang bekerja lagi. Gadis itu juga tidak bertanya kepada atasannya kemana patner barunya itu. Jika Mutia yang berada di posisi Safira mungkin dia juga akan melakukan hal yang sama, terlalu memalukan terlebih kejadian itu sudah beredar di sosial media lewat rekaman cctv yang ada. Seorang lelaki masuk ke toko bunga, Mutia hanya menghela napas memperhatikannya sekilas dan melanjutkan aktivitasnya merekap data penjualan hari kemarin. Tidak ada Safira membuat pekerjaannya menjadi bertambah. Sedangkan lelaki itu sibuk memilih bunga, dia tidak tahu banyak soal bunga, dia hanya melihat sekitar dan diam-diam memperhatikan meja kasir. Tidak ada wajah yang ia cari, wajah familiar yang sekali bertemu tatapan mereka mungkin dia akan mengenalnya. Yang ia temukan hanyalah wajah gadis asing yang tidak sesuai dengan yang ia harapkan. “Mbak!” Panggilnya pada Mutia, gadis itu mendongak dan tersenyum ramah. “Safira tidak masuk?” Tanya lelaki itu tanpa basa-basi, mendengar nama rekannya yang disebut spontan Mutia mengerutkan keningnya. Bukan kebingungan karena Safira yang dicari bukan dirinya. Justru bagaimana bisa lelaki itu tahu jika Safira bekerja disini, Mutia ingat betul cerita Safira yang mengatakan baru pindah dari Jakarta beberapa hari di hari pertama mereka bekerja. “Maaf tapi dia tidak masuk hari ini.” jawab Mutia dengan senyuman di akhir ucapannnya, lelaki itu hanya mengangguk dan tidak mengatakan apa-apa kemudian pergi meninggalkan toko begitu saja. Mutia hanya menatapnya dari kejauhan, pasalnya beberapa hari ini memang lelaki itu kerap datang dan memesan beberapa bunga secara rutin. Mutia tidak menyangka jika niat lelaki itu datang ke toko sebenarnya adalah karena mencari Safira. Lelaki itu adalah pelanggan terakhir toko, begitu sepi Mutia langsung menutup toko karena jam kerja sudah berakhir. Dia segera mengganti pakaiannya dan bergegas meninggalkan toko, beberapa kali dia melihat arloji jam di tangannya, sepertinya dia sedang ada janji bertemu dengan seseorang. Mutia sampai di sebuah apartemen, dia menekan bel pintu hanya sekali dan seseorang dari dalam langsung bergegas membukanya. Mutia menyambutnya dengan senyum masam, wajahnya tampak kewalahan karena ramainya pelanggan hari ini ditambah pekerjaannya jadi double karena Safira tidak masuk. “Sampai kapan kamu akan cuti bekerja Mbak Fir?” Tanya Mutia dengan nada medoknya, pada Safira yang hanya mengendikkan bahunya, tidak memiliki jawaban. “Apakah toko sedang sangat ramai?” Tanya Safira pada Mutia, pertanyaan yang sebenarnya jawabannya sudah terlihat dari wajah Mutia yang terlihat lelah itu. “Kamu tahu, tadi ada yang cari kamu!” celetuk Mutia teringat pada sosok lelaki yang memang beberapa hari datang ke toko tanpa memesan bunga untuk hari ini. “Gadis kemarin?” Tanya Safira dengan hati-hati, Mutia langsung menggeleng. Setelah kejadian kemarin, Yulia tidak pernah datang lagi ke toko justru lelaki yang tak pernah Mutia temui itulah yang terus datang ke toko berhari-hari. “Cowok.” Jawaban Mutia membuat Safira mengeryitkan keningnya, dia baru tiba di Jogja dan tidak memiliki banyak teman. Namun, Safira bisa menebak siapa lelaki yang mencarinya itu. “Dia kasih tahu namanya ke kamu nggak?” Tanya Safira, Mutia menggeleng. “Enggaklah! Dia tahu kamu nggak masuk aja langsung pergi gitu aja.” Jawab Mutia mengingat wajah datar itu, tidak ada senyum ramah atau sekadar basa-basi pun tidak. “Sebenarnya ada apa sih Mbak Fir! Kamu bilang kamu baru datang ke Jogja tapi kok udah ada kejadian nyeleneh gini.” Terang Mutia tidak bisa menutupi rasa penasarannya, Mutia tidak mendapatkan jawaban Safira masih enggan untuk berbicara. “Kayaknya aku nggak bisa kerja disana lagi deh Mut!” Celetuk Safira membuat Mutia membulatkan matanya, Mutia sudah menduga jika Safira pasti akan berhenti bekerja telah insiden itu namun tetap saja kalimat yang keluar dari mulut temannya itu membuatnya terkejut. “Kamu bisa nggak kasih rekomendasi tempat kerja di daerah sini aja, jangan jauh-jauh aku males banget pindah apartemen.” Ucap Safira, dia memang sudah berpikir untuk berhenti bekerja namun seminggu dia menunggu wanita itu tidak datang kembali membuat keputusannya berubah, kini justru seorang lelaki yang mencarinya membuat Safira kembali ke rencana awal untuk segera pindah tempat kerja yang lainnya. “Ada sih banyak, tergantung kamunya cari yang kek apa!” Ucap Mutia, pandangannya ke atas seolah dia banyak pilihan yang akan ditawarkan kepada Safira. “Mbak Fir, ngaku deh! Sebenarnya kamu nggak butuh duit kan?” Tanya Mutia lagi, pertanyaannya sukses membuat Safira tertawa dan ketegangan sejak tadi dari raut wajah Safira sirna sudah mendengar celetukan Mutia yang nggak masuk akal. Sejak kapan manusia nggak butuh duit! “Ya mana ada, Mut! Semua orang juga butuh duit! Kenapa kamu ngomong gitu?” Tanya Safira dengan kekehan gelinya. “Ya Mbak Fira ngapain kerja di toko bunga kalau Mbak Fira aja mampu nyewa apartemen sebagus ini.” jawab Mutia sambil matanya memperhatikan setiap sudut ruangan yang ada. Safira hanya tersenyum, benar! Pekerjaan itu memang ia ambil untuk mengisi waktu luang juga karena berangkat dari hobi, namun Safira tidak sekaya itu. Dia hanya menggunakan uang yang seharusnya untuk membayar Wedding Organizier. “Kamu asli orang Jogja juga Mut?” Tanya Safira pada Mutia, gadis itu langsung mengangguk. “Iya, tapi rumahku daerah Wonosari Mbak Fir, Gunung kidul banyak Pantai disana. Kapan-kapan main kesana Mbak! Tak jamin bikin nagih!” Ajak Mutia tampak semangat mengenalkan tempat asalnya. Siapa yang tidak tahu Gunung Kidul? Deretan Pantai menyuguhkan keunikan tersendiri, bahkan setiap Pantai memiliki nama unik-unik. Safira sudah pernah kesana, bersama Winar tahun lalu. Namun sejak menginjakkan kakinya ke Jogja kembali, Safira tidak ada pikiran untuk kesana lagi. Tempat itu tentunya memiliki kenangan tersendiri yang sulit untuk dilupakan. Dia bahkan membawa lukanya sampai kesini, sedangkan Lelaki itu meninggalkan Safira begitu saja. Tidak pernah menghubunginya lagi, setelah mengatakan bahwa pernikahan sebaiknya tidak dilanjutkan. Masih ingat betul Safira dengan wajah Winar yang tak merasa bersalah, bahkan dia mengatakan maksud kedatangannya ke rumah dengan lancar, tanpa beban. Menandakan bahwa perasaan Winar terhadap Safira tidak sedalam kelihatannya. Safira, aku minta maaf aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. aku harus menikahi wanita lain. *** Yulia gelisah Rizal kembali mengabaikannya, lelaki itu tidak menghubunginya sama sekali setelah pertengkaran terakhir. Raline pun juga tidak banyak membantu karena Rizal pun tidak menghiraukan ucapan sang adik. Jalan satu-satunya agar Rizal mau berbicara dengannya adalah datang ke rumahnya lagi, sudah lama Yulia tidak kesana terakhir dia kesana untuk meminta bantuan pada Raline karena Rizal yang sedang berada di Jepang tak kunjung memberinya kabar. “Tante!” Sapa Yulia pada Hani yang sedang menyiapkan makan malam untuk keluarga. Hani yang sedang berkutat dengan masakannya membalikkan tubuhnya, senyum hangatnya menyambut kedatangan Yulia. Sudah lima tahun gadis itu berkencan dengan putranya, jadi tak heran jika Yulia datang dan langsung mencari ke dalam rumah tanpa menekan bel terlebih dahulu. “Keknya Rizal belum pulang, Yul!” Ucap Hani melihat kamar Rizal yang masih gelap dari fentiliasi udara di atas pintu. “Oh ya? kalau Raline?” Tanya Yulia menanyakan adik kekasihnya, berharap ada teman mengobrol dan mengadu soal perlakuan Rizal akhir-akhir ini kepadanya. “Belum pulang juga! Tunggu aja, memangnya kamu mau kemana. Kita bisa makan malam bersama disini.” Ucap Hani yang mematikan kompornya, masakannya sudah siap sedangkan kedua anaknya belum pulang. “Nggak ada kok Tante, hari ini kuliah juga nggak terlalu padat jadwalnya, jadi Yulia boleh kan makan malam disini?” Tanya Yulia dengan nada manjanya yang tidak pernah lupa, bahkan menjadi ciri khas untuk mendiskripsikan kekasih Rizal. “Boleh aja, tunggu aja!” Ucap Hani seraya menyodorkan segelas jus Semangka yang sudah ia buat, sebagai pencuci mulut untuk makan malam nanti. Tak berapa lama, Rizal dan Raline pulang mereka terlihat bersama. Raline menyambut Yulia dengan senyuman lebar, karena memang sudah lama tidak bertemu kekasih kakaknya sedangkan Rizal hanya mengangkat alisnya sebagai respon Yulia yang langsung merangkul lengannya. Hani dan Raline hanya menunduk pura-pura tidak melihat kecanggungan yang ada diantara mereka. “Ayo kita makan malam bersama, mumpung Yulia ada disini!” Seru Hani, melihat wajah Rizal yang tampak bermalas-malasan. “Aku mandi dulu, Ma!” Celetuk Rizal, Hani mengangguk senang. Sedangkan Yulia hanya menatap kekasihnya dengan tatapan kesal karena dari respon Rizal yang tampak masih marah kepadanya. “Mbak Yulia udah lama daritadi?” Tanya Raline mencoba mengalihkan perhatian Yulia. “Enggak baru juga! Kamu tadi pulang bareng sama Mas Rizal?” Tanya Yulia. “Iya, sekalian cari buku Pak Anwar minta bawa buku Kotler Keller besok!” Jawab Raline, Yulia mengangguk tidak heran mengapa Raline dan Rizal bisa pulang bersama mengingat Raline masih menempuh S1 di fakultas ekonomi sama dengan dirinya, Raline membantu Hani untuk menyiapkan makan malam sedangkan Yulia tampak jalan-jalan di area taman mini buatan Hani, salah satu kesibukannya yang kini ia geluti demi mengisi waktu pensiunnya sebagai seorang dosen juga. Tak berapa lama Rizal turun dan ikut bergabung dengan mereka, hari ini mamanya masak Udang Jimbaran, meski Hani dulunya adalah wanita karir namun untuk masakan dia berani bersaing dengan ibu-ibu rumah tangga lainnya. “Ayo Yulia makan yang banyak! Kamu keliatan kurus!” Seru Hani memecah suasana makan malam digantikan suara canda tawa di antara mereka, Rizal hanya tersenyum tipis mendengar candaan ala orang tua dari mamanya. “Ih Tante! Ya kalau gendut Mas Rizal mana mau,” Jawab Yulia sambil bercanda, Raline ikut tertawa mendengarnya. Pasalnya salah satu tipe kakaknya memang yang memiliki tubuh ideal tidak terlalu berisi juga. “Ya kalau sama tante harus mau, wong mamanya.” Tambah Hani semakin membuat Rizal menggelengkan kepalanya, Yulia memang sudah sangat akrab dengan mamanya bahkan tidak canggung untuk saling melempar humor mereka. “Nanti kalau Yulia udah menikah sama Mas Rizal kalau sibuk kuliah bisa nebeng makan disini.” Celetuk Yulia yang hanya dibalas anggukan oleh Hani, sedangkan diam-diam Raline melihat wajah kakaknya yang hanya tersenyum hambar mendengar celoteh Yulia. Sepertinya soal menikah masih menjadi hal yang sensitive untuk Rizal sehingga sampai sekarang Hani juga tidak ingin membahasnya lagi. Rizal tidak mengatakan apapun, dia sibuk dengan makan malamnya. Masakan mamanya tidak pernah gagal, selalu memiliki cita rasa khas yang tidak akan pernah ia temukan dimana pun. “Memangnya Mbak Yulia udah siap menikah? melanjutkan kuliah setelah menikah berat lo Mbak! Temenku juga ada yang gitu, dia akhirnya ambil cuti semester karena kehamilannya.” Imbuh Raline, Yulia menggeleng cepat tentu saja dia memiliki pandangan lain soal kedepannya akan bagaimana. “Aku memang pengen segera menikah sama Mas Rizal, tapi soal momongan aku ingin Child Free seperti yang lagi trend sekarang. jadi aku nggak perlu pusing kalaupun kuliah aku sudah selesai. Aku masih ingin jalan-jalan kemana pun, apalagi sama suami. Lagipula apanya yang berat! soal makan kita masih bisa beli nggak perlu masak ya kan Mas?” Tanya Yulia meminta persetujuan, Rizal hanya mengangguk pelan. Dia sudah mendengar rencana Yulia seperti itu dari tahun yang lalu. Tidak ada yang salah dari rencana Yulia, Hani juga bukan orang tua yang begitu kolot bahwa wanita harus begini dan begitu namun melihat wajah putranya, Hani bisa membaca jika rencana itu tidak selaras dengan keinginan Rizal. “Barangkali nanti Mas Rizal mau nerusin bisnis ayah kan juga gak tahu.” Imbuh Yulia dengan semangat yang antusias membahas masa depan bersama sang kekasih yang telah lama ia impikan. Raline menunduk, dia tahu Rizal tidak nyaman dalam suasana seperti ini. Hani hanya tersenyum dan mengangguk mendengar calon menantunya yang memang memiliki energi tidak ada habisnya. “Jadi Tante Hani, kapan tante akan bertemu ayah sama mamahku? Mereka sangat menantinya loh!” pertanyaan Yulia sukses membuat suasana menjadi canggung, Rizal yang sejak tadi mendongak kini menatap Yulia dengan wajah terkejut tidak menyangka kekasihnya akan berani mengatakan hal demikian pada mamanya. “Ya kamu tanya sama Mas Rizal, kapan dia siap melamar kamu?” Tanya Hani balik sambil tertawa, menganggapnya sebagai candaan meski ia sendiri juga tidak tahu jawabannya, meski usia sang putra sudah terbilang matang namun dia tidak ingin terlalu menekannya biarkan anaknya memilih jalannya sendiri. “Jadi gimana Mas?” tanya Yulia lagi masih belum menyerah, dia kini tampak serius. “Aku belum siap!” ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD