'Dania, jadi itu benar suara kamu? Jadi dugaanku benar bahwa kamulah yang sedang bersama dengan suamiku saat ini? Tega sekali kamu Dan.' Ratih berucap dalam hati. Tangannya seketika lemas, handphone itu hampir saja jatuh dari genggaman tangannya. Untung dia sigap menahan.
Sebenarnya dari awal dia sudah tahu kalau Alfi keluar dengan Dania. Nurul sengaja mencuri foto Ratih dan Alfi saat mereka masih berada di dekat wahana crazy car dan mengirimkannya ke Ratih, karena Nurul tidak bisa percaya begitu saja dengan ucapan Alfi saat itu.
Untung saat itu mereka hanya sedang terlihat ngobrol biasa. Dari foto yang dikirimkan Nurul kepadanya, dia tahu betul kalau perempuan yang sedang memakai masker itu Dania. Mereka sudah bertahun-tahun bersahabat, jadi Ratih sudah tahu betul gestur tubuh Dania, meskipun saat itu Dania sudah mengubah penampilannya.
"Mas, itu suara siapa?" tanya Ratih dengan suara tegas, namun tidak terdengar seperti pertanyaan orang yang sedang kaget. Dia mencoba untuk mencari kejujuran dari suaminya. Apakah dia akan jujur? Atau mungkin dia akan mencari alasan. Meskipun saat itu Darahnya sudah mendidih di seberang sana, dia mencoba untuk tetap tenang meskipun dengan Gigi gemeletuk dan darah berdesir.
"Em ... Itu suara ... Suara ... "
"Suara siapa Mas? Jawab saja, tidak perlu plintat-plintut seperti itu. Kalau kamu sedang tidak melakukan kesalahan, tentu saja kamu akan menjawab pertanyaanku dengan lancar. Pertanyaanku tidak begitu sulit, bukan?" Ratih mencoba untuk tetap terdengar tegas. Meskipun sudut matanya mulai menghangat. Dia sengaja mengedipkan matanya beberapa kali, agar air mata itu tak tumpah.
"Em,,, O.K. Kamu jangan emosi dulu dong. Tarik nafas dulu," ucap Alfi yang sedang mencoba menenangkan Ratih, meskipun dirinya sendiri saat itu tidak tenang.
Dania yang saat itu ada di hadapan Alfi, panik luar biasa. Dari mimik dan ucapan Alfi, dia tahu bahwa Ratih sedang curiga padanya.
"Aku nggak emosi Mas. Aku biasa saja. Coba sekarang katakan padaku, Kamu pergi sama siapa? Surabaya kota ke Lamongan itu bukan jarak dekat, Mas. Jadi tidak mungkin kamu kesana hanya karena iseng."
"Aku sama ... "
"Kenapa harus berbelit-belit? Kamu sama Dania kan? Coba jawab aku, Mas. Kamu sama Dania kan?" Akhirnya Ratih tidak bisa lagi menahan diri.
Ratih di seberang sana mulai terisak. Saat itu dia hanya memastikan saja, dan berharap tebakannya salah. Seketika Alfi langsung menatap Dania, mengisyaratkan bahwa keadaan sedang tidak aman.
"Sayang. Sebentar, Kamu jangan marah dulu. Jangan nangis dulu dong," ucap Alfi yang mulai panik. Bagaimana bisa Ratih tahu bahwa yang sedang bersama Alfi adalah Dania? Alfi bingung harus menjawab apa saat itu.
"Benar kan, Mas. Apa yang aku khawatirkan terjadi. Ini yang aku takutkan saat Dania meminta kamu pura-pura menjadi suaminya. Akhirnya kalian benar-benar baper kan Mas? Kenapa kalian setega ini sama aku?"
"Ada apa?" Dania menggerakkan bibirnya, namun tidak mengeluarkan suara. Dari kata-kata dan dari mimik wajah Alfi yang seketika berubah, Dania mulai paham kalau Ratih sedang mengetahui sesuatu.
"Dan, O.K. aku akui Aku sedang bersama Dania sekarang, tapi ... " Sebelum Alfi sempat menyelesaikan kata-katanya, tangis Ratih pecah. Dia tersedu keras di seberang sana. Tangisnya benar-benar tidak bisa dikontrol. Ada yang bergemuruh di hatinya.
"Ratih, kamu belum denger semuanya. Aku ke sini bukan sengaja untuk berdua atau aneh-aneh sama Dania, tidak. Aku hanya ingin mengenalkan dia sama temanku. Aku hanya ingin menjodohkan dia. Itu saja. Lagipula mana mungkin dia menghianati kamu. Dania berkali-kali bilang, kalau dia bersyukur punya sahabat seperti kamu, dia tidak mungkin menghianati persahabatan kalian."
Ratih masih saja menangis. Tentu saja dia tidak mudah percaya begitu saja dengan ucapan suaminya. Masih terasa janggal dan tidak masuk akal.
"Sayang, ya udah. Aku pulang sekarang ya? Biar aku jelaskan di rumah. Biarin deh Dania nggak jadi aku kenalkan sama temanku. Asal kamu tidak salah paham."
"Nggak ada yang salah paham."
"Aku pulang sekarang ya?"
"Terserah Mas."
Klik.
Ratih tidak lagi tersambung. Sambungan teleponnya dimatikan secara sepihak olehnya.
"Mas, ada apa? Apakah Ratih curiga sama aku?" Dania memandang Alfi dengan raut muka panik. Tidak, dia tidak ingin Ratih mengetahui semuanya. Alasan yang pertama, karena dia masih belum ingin kehilangan sahabat seperti Ratih. Alasan yang kedua, karena dia tidak ingin hubungannya dengan Alfi berakhir saat ini juga.
Hati Dania sudah terlanjur terpaut dengan pesona Alfi. Dia tidak mungkin begitu saja lepas dari Alfi. Suami sahabatnya itu sudah benar-benar seperti candu baginya. Dialah sumber kebahagiaan Dania untuk saat ini.
"Dia bukan curiga. Tapi seperti yang sudah kamu dengar, dia tahu kalau saat ini kamu bersamaku. aku sudah mengarang cerita kalau aku hanya akan menjodohkan mu dengan salah satu temanku. Semoga Ratih percaya."
Alfi memandang Dania, lalu memegang kedua belah pipinya dengan kedua telapak tangannya.
"Dan, Aku akan berusaha agar kita masih tetap bisa bersama. Aku akan memperjuangkan kita?"
"Memperjuangkan kita?"
"Iya."
Dania hanya tersenyum getir. Entah memperjuangkan seperti apa yang dimaksud oleh Alfi. Karena Alfi tidak akan mungkin meninggalkan Ratih demi untuk hidup bersama Dania.
"Kenapa kamu tersenyum aneh begitu?"
"Mas Alfi akan memperjuangkan aku dalam bentuk apa? Cukup Mas Alfi bersama aku sekarang, itu sudah membuat aku bahagia. Jangan pernah berjanji padaku, Mas. Mas Alfi tahu sendiri kan, kalau wanita sudah mendengarkan sebuah janji, dia akan terus-menerus menagih janji itu."
"Kamu akan tahu nanti. Sekarang, kita harus segera pulang. Nggak papa kan?"
"Nggak apa-apa, Mas." Dan ia tersenyum. Tentu saja tidak apa-apa. Dan ia sangat menikmati ketika dia dibonceng oleh Alfi. Dia sangat menikmati perjalanan berdua. Dia bisa memeluk Alfi dari belakang, dan saat itu dia merasa bahwa Alfi adalah miliknya, hanya miliknya seorang.
Alfi melepaskan tangannya dari pipi Dania, baru dia meraih tangan wanita itu, dan sekarang membawanya keluar menuju ke tempat parkir.
Meskipun mereka hanya beberapa menit berada di tempat wisata itu, sudah cukup membuat Alfi dan Dania bahagia.
Ya, Alfi segera melajukan motornya untuk pulang. Namun, Di tengah perjalanan hujan turun tiba-tiba, hujan langsung turun dengan deras tanpa gerimis.
"Nggak usah neduh ya?" Karya Alfi.
"Iya, Mas. Tapi aku kedinginan. Boleh aku memeluk Mas Alfi lebih erat?"
Alfi hanya membalas dengan anggukan.
Siang itu, dengan keadaan basah kuyup, tubuh mereka menyatu. Dania memeluk Alfi dengan sangat erat, hingga membuat hatinya berdesir dan jantungnya berdebar tidak karuan. Begitu juga dengan Alfi, Dia sangat menikmati tubuhnya yang di dekap erat oleh Dania. Pelukan itu, membuat pikiran Alfi ke mana-mana.