Desakan Orang Tua Tania

1111 Words
"Dan, hujannya terlalu deras. Kita berteduh dulu ya?" ucap Alfi setengah berteriak. Suara hujan yang semakin deras membuat suara mereka seakan tenggelam. "Iya, Mas." Dania juga menjawabnya dengan teriakan. Suara mereka memang harus berebut dengan suara hujan. Akhirnya, Alfi membelokkan motor ke emperan toko yang kebetulan saat itu sedang tutup, Jadi mereka bisa berteduh di sana. Suasana sedang sepi. Hujan semakin deras, hanya ada 1, 2 orang yang lewat. Dania dan Alfi duduk di kursi panjang yang terletak di emper toko. Dania terlihat menelungkupkan kedua tangannya di depan d**a lalu menggosok-gosokkannya untuk mengurangi rasa dingin. Tubuhnya sudah basah kuyup. Bajunya yang basah tampak menempel di tubuh. Sehingga lekuk tubuh Dania yang ramping tampak lebih jelas. Alfi terlihat menelan ludahnya. "Dan, kamu kedinginan?" tanya Alfi yang saat itu sedang duduk di kursi kayu di samping Dania. "Dingin sekali, Mas." Dania masih menelungkupkan tangannya sambil menggosok-gosok lengan dengan tangannya. "Sebentar ya." Alfi beranjak dari tempat duduknya, Dia menuju ke motor dan mengambil jaketnya yang berada di jok motor. Ratih memang selalu menyediakan jaket di jok motor Alfi, karena Alfi sangat pelupa. Alfi mengambil jaket warna coklat tua itu, dan membawanya kembali menuju Dania. "Pakai ini," ucap Alfi sambil memakaikan jaket itu ke punggung dan sampai ke tubuh Dania bagian depan agar Dania bisa sedikit merasa hangat. Dania tersenyum, perhatian kecil seperti ini mampu membuat Dania meleleh. Dia benar-benar merasa begitu berharga, sehingga dia berhak untuk diistimewakan. "Mas Alfi juga kedinginan kan? Kita pakai berdua aja." "Dipakai berdua?" Alfi langsung sesak nafas, hanya mendengar kata-kata begitu saja fikirannya sudah ke mana-mana. "Iya," ucap Dania, lalu dia segera melepas jaketnya. Dania menggeser tubuhnya semakin dekat dan bahkan menempel ke tubuh Alfi. Lalu dia membiarkan jaket coklat tua itu menyelimuti punggung mereka berdua. Dania yang bertubuh ramping dan tidak terlalu tinggi, menempel ke bagian samping tubuh Alfi yang berotot. Saat itu, jantung Alfi seketika disko. Nafasnya langsung terasa memburu. "Boleh aku memelukmu?" Alfi memberanikan diri mengungkapkan apa yang dia inginkan sejak tadi. Dania mengangguk lembut. Saat itu, jantungnya juga berdetak dengan begitu kencang. Perlahan, Alfi memeluk erat Dania dalam balutan jaket Woll itu. Alfi menatap Dania yang berada dalam dekapannya. Dia elus lembut rambut hitam panjangnya. Lalu tangan itu turun ke pipi, dan membelainya lembut. Jantung Dania langsung terasa mau loncat. Dia tahu, itu salah, tapi dia tak sanggup mengibaskan tangan Alfi, bahkan Dania juga sangat menikmatiny. Dan perlahan, Alfi melepaskan pelukannya pelan-pelan. "Kenapa Mas?" tanya Dania sambil menatap Alfi. Ya, mata mereka saling bertatap. Tapi, tatapan mata Alfi, tertuju pada Bibir tipis Dania. "Dan, maafin aku," ucap Alfi dengan lirih dan lembut, lalu dia segera mengarahkan bibirnya ke bibir Dania, dan menempelkannya dengan lembut. Alfi memejamkan mata, begitu juga dengan Dania. Mereka larut dalam belaian lembut bibir mereka yang menyatu. Hujan deras menjadi saksi, atas dosa yang benar-benar tidak bisa mereka tahan. *** Dania menatap pantulan dirinya di kaca. Dia duduk takzim di depan meja rias yang selama ini tidak pernah disentuh. Perlahan, tangan kirinya menyentuh bibir bawahnya. Bibir itu, sudah bersentuhan dengan bibir laki-laki untuk yang pertama kalinya. Dadanya sesak tatkala menyadari bahwa ciuman pertamanya harus lepas pada orang yang tidak seharusnya. Dania bukan lagi bocah labil yang tidak bisa mengendalikan emosi dan menahan hawa nafsu. Seharusnya dia bisa mengendalikan diri. Namun, entahlah. Hasratnya saat itu tidak terkendali. Entah pesona Alfi yang mana yang membuat Dania tidak bisa berkutik. Dekapan Alfi benar-benar membuat otak Dania seakan kosong hingga tidak bisa berpikir. Saat ini, Ada rasa campur aduk yang hinggap di hatinya. Rasa bersalah, rasa berdosa, panik, khawatir, dan rasa yang tak lazim dalam situasi seperti ini, yaitu rasa bahagia. Ya, Dania sejenak bahagia, karena merasa dia benar-benar bisa bersama orang yang bisa membuatnya nyaman dalam segi siapapun. Dia sudah bermain api dengan melakukan hal yang tak seharusnya dengan suami dari sahabatnya. "Nduk, Dan. Buka pintunya," suara sang Ibu memecah lamunan Dania. Dania segera menegakkan tubuhnya, berdiri, lalu membuka pintu kamarnya. Saat dia baru saja membuka kamar, dia dapati ibu dan bapaknya sedang senyum sumringah dengan memakai baju baru. Sang Ibu memakai baju batik nuansa hijau muda dan kuning lengan panjang. Sedangkan Bapak, juga memakai hem lengan pendek dengan corak yang sama. Ya, mereka memakai baju couple. Dan baru pertama kali ini, mereka seperti itu. "Bapak, Ibu, Kalian mau kemana? Tumben-tumbenan pakai baju couple begitu?" Dania masih melongo di depan kamarnya. Bapak dan Ibu masih berdiri disana memamerkan senyum dan wajah cerah sumringah. "Bapak dan ibu hanya mencoba baju baru, Nduk. Ini baju yang akan kami pakai nanti kalau kamu dan Alfi lamaran. Cocok kan?" Ibu Dania memutar badannya, memamerkan baju baru yang baru beberapa jam dia beli. Deg. Hati Tania rasanya seperti terbakar. Lamaran? Bersama Alfi? Bagaimana Dania akan menjelaskan bahwa lamaran itu tidak akan pernah terjadi. Bagaimana Dania akan mengatakan pada mereka, bahwa tidak akan pernah ada lamaran dan tidak akan pernah ada pernikahan antara dia dan Alfi, karena hubungan mereka adalah hubungan terlarang. Dania menunduk dengan d**a sesak. Sungguh, melihat wajah ceria orang tuanya, dia merasa tidak sanggup untuk mengungkapkan kebenaran sampai kapanpun. Namun, bisakah semesta menyembunyikan ini lebih lama? "Nduk, Kamu kenapa murung begitu? Baju bapak dan ibu tidak bagus? Malu-maluin? Atau mungkin kami harus beli baju yang baru supaya kami tidak malu-maluin di hadapan orang tua Alfi." "Nggak kok, Pak, Bu, bajunya bagus. Sangat cocok untuk Bapak dan ibu, tapi bagaimana bisa Bapak dan Ibu membeli baju untuk persiapan lamaran. Saya dan mas Alfi belum ada rencana untuk lamaran dalam waktu dekat, Bu," ucap Dania sambil berjalan menuju ke tempat tidur, lalu dia duduk di sana sambil memandang lantai dengan mata Nanar. Rasanya sakit saat Dania mengatakan itu. Entahlah, sampai kapan Dania akan terus membohongi orang tuanya. "Hey, kalian menunggu apa lagi? Kalian sudah sering keluar bersama, umur kalian juga sudah lebih dari matang. Lalu apa lagi yang kalian tunggu. Pokoknya Bapak tidak mau tahu, Alfi harus segera melamarmu dan kalian harus segera menikah. Apalagi kamu itu perempuan. Tidak baik menjalin hubungan terlalu lama sebelum menikah. Bisa menimbulkan fitnah, Nduk." Bapak ikut masuk ke kamar Tania dan duduk di kursi yang ada di hadapan meja rias Dania. Sang Ibu juga berjalan perlahan, dan duduk disamping Dania yang saat itu terlihat sangat gelisah. "Nduk, Ibu sudah terlanjur bilang sama para tetangga, kalau tahun ini kamu akan menikah. Jadi jangan kecewakan Bapak dan ibumu. Akhiri penantian kami selama bertahun-tahun ini. Apakah kamu nggak kasihan sama Bapak dan Ibu yang setiap hari ditanyain sama orang-orang tentang kamu yang belum menikah? Bapak dan ibu isin, Nduk." "Besok surah alfi ke sini, biar bapak yang bicara padanya," ucap Bapak Dania dengan nada tegas. Dania hanya membeku dan menahan sesak di dadanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD