Di sebuah kamar berukuran 7x6 meter dan berdinding hijau itu, Ratih duduk di atas tempat tidur sambil terus meneteskan air mata. Dadanya benar-benar terasa sesak. Marah, cemburu, dan kesal bercampur menjadi satu. Ingin dia berteriak sekuat tenaganya, untuk menghilangkan segala sesak di dadanya. Namun, dia tidak mau membuat kegaduhan. Yang bisa dia lakukan, hanya diam sambil meneteskan air mata.
Andai waktu bisa diputar, dia tidak akan membiarkan Dania untuk meminjam suaminya dengan alasan apapun. Sedekat apapun kita dengan sahabat, tetap saja akan ada potensi dia melakukan hal buruk pada kita. Percaya 100 persen padanya adalah keputusan terburuk yang pernah dia buat.
"Sayang, kita harus bicara." Alfi yang baru saja memasuki kamar, berjalan perlahan mendekati Ratih yang masih sesenggukan.
Ratih masih terdiam, menunduk dan masih menikmati dirinya yang larut dalam isakan.
Alfi duduk di samping Ratih, meraih tangan kanan mulus istrinya, lalu menggenggamnya erat.
"Sayang, kamu sudah lama kenal sama Dania, kan? Dia sahabat terbaikmu. Menurutmu, apakah mungkin dia tega menghianati persahabatan kalian yang bertahun-tahun?" Alfi berbicara dengan lembut lalu mengecup tangan istrinya. Dia berusaha menyentuh hati sang istri perlahan. Entah sejak kapan dia pandai bersilat lidah. Yang jelas, keinginannya bersama Dania membuat Alfi pandai memainkan kata.
"Entahlah, Mas. Aku tidak tahu harus percaya dengan ucapan Mas atau tidak. Seperti yang mas lihat, sampai saat ini dan ia tidak menghubungiku dan mencoba untuk menjelaskan. Dia diam, seolah dia merasa bersalah. Dan kalau memang kalian tidak ada apa-apa, seharusnya mas bilang padaku sebelumnya."
"Aku yang melarang Dania untuk menjelaskan padamu. Biar suasana menjadi tenang dulu, setelah itu, nanti kita bisa bicara bersama. Yang jelas, Aku hanya ingin mengenalkan Dania dengan temanku. Kamu tahu sendiri dania jarang akrab sama orang lain, jadi aku sendiri yang mengantarkannya. Aku tahu kau akan ikut bahagia ketika Dania mendapatkan pasangan kan? Aku fikir, ini akan menjadi kejutan buatmu. Ternyata malah menjadi huru-hara." Alfi menepuk-nepuk tangan Ratih. Sorot matanya dan suara lembutnya benar-benar meyakinkan bahwa dia memang tidak ada apa-apa dengan Dania.
Isak tangis Ratih sudah mulai reda. Dia menghapus air matanya dengan kedua ibu jari. Lalu dia menatap Alvi, yang saat itu juga menatapnya. Dia ingin mencari kebenaran dalam sorot mata suaminya.
"Mas, katakan sekali lagi padaku. Apakah kau menyukai Dania? Tolong jangan ucapkan yang lain, cukup jawab pertanyaanku yang ini saja, dan jawablah dengan jujur. Aku siap dengan jawaban Mas, apapun itu." Ratih bertanya dengan bibir bergetar. Jawaban Alvi masih sedikit kurang logis menurut Ratih. Mungkin Dania memang tidak secantik dirinya, tetapi sebagai perempuan dewasa dia tahu betul, ketika kita sedang terpikat dengan seseorang, kadang kita tidak peduli lagi bagaimana fisik mereka.
Alfi langsung menelan ludah. Berusaha untuk bersikap senormal mungkin. Dia tersenyum. Meletakkan kedua telapak tangannya di kedua pipi Ratih. Ditatapnya sang istri lekat-lekat.
"Sayang, untuk apa aku mencari wanita lain. kalau di depanku sudah ada seorang wanita yang selalu tulus, yang selalu mencintaiku tanpa tapi, selalu menyayangiku dengan sepenuh hati. Kamu bisa mengerti dan menerima segala kekuranganku, dimana lagi aku bisa menemukan wanita sesempurna dirimu? Aku sudah tidak perlu wanita lain lagi, cukup kamu." Alfi menatap istrinya dalam, seolah memang demikian yang sebenarnya terjadi.
Alfi memang menyukai Dania, menginginkannya, merindukannya dan selalu ingin dekat dengannya, tetapi dia tidak mau hubungannya dengan sang istri rusak. Karena harus ada banyak hati yang dijaga. Hati orang tuanya dan hati orang tua Ratih. Jadi dia akan berusaha keras untuk menutupinya.
"Mas Alfi serius?" Suara Ratih terdengar serak. Hatinya mulai luluh dengan kata-kata manis yang diucapkan oleh Alfi. Mata yang tadinya sudah mulai kering, kini sudutnya menghangat.
"Selama ini apakah pernah aku berpaling dari kamu? Apa pernah aku berbohong dan tidak jujur padamu?"
Ratih menggeleng.
"Lalu kenapa kamu masih ragu? Kamu pikir cintaku sama kamu ini remeh-temeh, yang bisa begitu saja berpaling karena hal-hal kecil, tidak Ratih. Aku mencintaimu, dan tidak akan berpaling."
Mendengar penuturan Alfi, Ratih langsung menjatuhkan tubuhnya ke tubuh Alfi, dan memeluknya erat. Air matanya kembali menetes. Dia benar-benar tidak ingin kehilangan suaminya. Orang yang paling dia sayang selain orang tua dan keluarga.
"Aku enggak mau kehilangan Mas Alfi. Aku tidak mau keluarga kita retak, Mas. dan aku tidak akan pernah sanggup melihat Mas Alfi dengan yang lain."
"Itu tidak akan pernah terjadi, Ratih." Alfi berkata seolah dia yakin dengan apa yang diucapkan. Sepanjang ucapannya tadi, dadanya bergemuruh. Entah apa yang dirasakan saat itu, yang jelas campur aduk. Saat ini, ada dua orang bersahabat yang sedang mengisi hatinya. Dia mencintai keduanya dan tidak ingin kehilangan salah satu dari mereka. Ya, skill buayanya sepertinya sudah begitu terasah, sehingga dia bisa meluncurkan kata-kata manis yang mampu meluluhkan hati Ratih.
Saat itu, Ratih tenggelam dalam pelukan suaminya. Tangan kiri Alfi menepuk-nepuk punggung Ratih, sedangkan tangan kanannya sibuk memainkan handphone. Dia terlihat mengetikkan sesuatu di handphonenya.
[Dan, aku rindu]
***
Dania membaca pesan dari Alfi dengan senyum lebar. Baru beberapa jam mereka berpisah, tetapi mereka sudah saling merindu. Dania siap untuk membalas pesan dari Alfi, tapi tiba-tiba dia ingat tentang permintaan ayahnya yang meminta Alfi untuk segera melamar Dania. Saat itu, senyumnya langsung memudar.
Apa yang akan disampaikan ke ayahnya? Haruskah dia mengatakan itu pada Alfi? Mungkinkah Alfi memiliki jalan keluar dari masalah Dania saat ini?
Jujur, Dania tidak tahu apa tujuan dia melakukan ini. Apa ekspektasi dia ke depan saat menjalin hubungan dengan Alfi. Semakin hari, umurnya akan semakin bertambah. Namun, kini dia malah bermain api, menjalin hubungan dengan suami orang yang tidak akan mungkin menjadi suaminya.
Dania kembali menatap layar handphonenya. Dia tatap sekali lagi pesan dari Alfi. Ya, sebenarnya dia merasakan hal yang sama. Semakin sering bertemu, maka akan semakin merindu. Apalagi setelah bibirnya bersentuhan dengan bibir Alfi, rasanya dania tidak akan pernah lupa, dan ingin melakukannya lagi dan lagi.
[Aku juga merindukanmu, Mas Alfi.]
[Nanti malam aku ke rumahmu.] Alfi membalas dengan cepat.
[Jangan dulu, Mas. Suasana sedang tidak kondusif. Lebih baik Mas Alfi jangan ke sini dulu]
[I love you. Nanti malam aku akan datang, aku tidak bisa lagi menahan rindu ini, sayang. Bye. Sampai jumpa nanti malam]
Dania tidak tahu, bahwa pesan itu diketik ketika Alfi sedang memeluk erat istrinya, dan Ratih juga tidak tahu, di balik pelukan erat itu, ada kemesraan yang dilakukan oleh suaminya dengan sahabatnya.