Taman Kota Menjadi Saksi

1118 Words
"Sayang, Mas mau ke toko dulu ya? Mau cek stok barang dulu, Mas pulang agak malam. Nanti kalau kamu mengantuk, tidur dulu aja," ucap Alfi pada Ratih sambil menyemprotkan minyak wangi ke leher dan pergelangan tangan. "Mas nggak mau makan malam dulu, aku sudah menyiapkan makanan kesukaan Mas Alfi. Kita makan bersama dulu ya?" "Kamu makan aja dulu, nanti pulang dari toko aku juga akan makan. Mas berangkat dulu ya, Sayang. Kamu baik-baik di rumah, I love you." Alfi mengecup kening Ratih yang saat itu sedang duduk di tepi tempat tidur, lalu bergegas menuju ke mobilnya, dan meluncur untuk mencari kebahagiaannya bersama wanita lain. Ratih masih terpaku di tempatnya, fikiran aneh mulai menghantui dirinya. Biasanya Alfi tidak sesemangat itu saat mau pergi ke toko, tetapi Ratih segera mengusir pikiran-pikiran buruk itu dan mencoba untuk berfikir positif terhadap suaminya. Dia berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri, bahwa suaminya sangat setia dan tidak mungkin menghianatinya. Padahal hari itu, dia sengaja berdandan cantik, dan memakai pakaian yang serba mini untuk menarik perhatian suaminya. Dia ingin melayani suaminya dengan baik malam itu. Namun ternyata, Alfi lebih memilih untuk pergi dan menyia-nyiakan bidadarinya. *** Tepat pukul 07.00 malam, Dania dan Alfi duduk di salah satu tempat duduk panjang yang ada di pinggir taman Kota. Dania yang meminta untuk menemuinya di luar rumah, karena keadaan di rumah masih belum kondusif. ibu dan bapaknya masih dalam keadaan menggebu-gebu ingin Putri satu-satunya segera dilamar. Mereka sama sekali tidak salah, untuk wanita seumuran Dania, memang bukan saatnya lagi berpacaran lama-lama. Namun, masalahnya calon yang dibawa oleh Dania adalah suami orang. "Sayang, aku semakin tidak bisa menahan rindu. Tiap detik, Hanya Kamu yang ada di pikiranku. Bahkan saat aku bersama ratih. Huft … Aku bisa gila karena merindu seperti ini terus." Alfi menatap Dania yang saat itu sedang duduk di sampingnya, tangannya sibuk memegang tangan wanita yang mulai mau merias dirinya itu. Dania tersenyum, lalu menyandarkan kepalanya ke bahu Alfi. Sebenarnya, Dania juga merasakan hal yang sama. Dia ingin bertemu Alfi, lagi dan lagi. "Yang penting, sekarang kan kita sudah bertemu. Meskipun kita harus sembunyi-sembunyi seperti ini." Dania memejamkan mata, menikmati kebersamaannya, menikmati nyamannya bersandar di bahu Alfi. Entah sampai kapan dia bisa menikmati nyamannya bersandar di bahu bidang itu. "Kamu nggak apa-apa kan, kita seperti ini?" Alfi berucap dengan suara yang lembut, tangannya menepuk-nepuk punggung tangan Dania penuh cinta. "Aku nggak apa-apa, Mas. Karena dari awal aku kan sudah tahu Kalau akhirnya kita memang harus seperti ini. Sembunyi-sembunyi, mencuri-curi waktu dan kesempatan, juga harus pandai berbohong. Tapi aku bahagia, asal kita bisa menikmati waktu bersama seperti ini," ucap Dania sambil memeluk tangan kanan Alfi. Menjalani hubungan gelap seperti ini seperti naik roller coaster. Membuat jantung naik turun, karena was-was dan selalu takut ketahuan. Mereka selalu lirik kanan kiri, takut ketahuan saudara atau tetangga dan bahkan teman alfi. "Aku ingin terus seperti ini, menikmati malam bersama kamu. Bodo amat meskipun seperti ABG." "Mas," Dania memanggil Alfi dengan suara lembut dan sedikit mendayu, sehingga membuat d**a Alfi berdesir. "Iya, sayang." "Bapak meminta Mas Alfi untuk segera melamarku. Aku tahu itu tidak mungkin, tapi aku tidak tahu bagaimana cara menyampaikan ke Bapak. Wajah mereka bersinar bahagia saat mengetahui aku dekat dengan laki-laki, dan mereka menganggap hubungan ini serius. Aku benar-benar tidak tega, Mas." Alfi langsung menelan ludah. Ya, dia tidak bisa menyalahkan orang tua Dania. Memang seharusnya begitu. Mereka juga tidak tahu apa yang diharapkan dari hubungan mereka yang sebenarnya tidak mungkin bersatu itu. "Dan," "Iya?" "Bagaimana kalau kita menikah diam-diam? Menikah siri?" Deg. Jantung Dania seakan berhenti sejenak. Ucapan yang meluncur dengan tenang dan terkesan santai dari mulut Alfi membuat Dania sesak dan seakan susah bernafas. Menikah siri? Tidak mungkin dia menghianati sahabatnya sejauh itu. Orang tuanya juga tidak akan pernah setuju jika mereka hanya menikah siri. Apa kata para tetangga nanti? Apa kata para sanak saudara? Dania menarik tangannya, dan menjauhkan kepala dari bahu Alfi. "Kenapa? Itu satu-satunya jalan supaya kita bisa leluasa bersama, Dan supaya kamu tidak terus-terusan ditanya oleh orang tuamu." "Menikah siri bukan keputusan yang tepat, Mas. Lagi pula menjadi madu sahabatku sendiri terdengar menyeramkan." Alfi Tahu betul perasaan Dania. Dia mencintai Alfi, ingin bersama Alfi, tapi dia tidak mau memiliki Alfi secara sah, meskipun pernikahan mereka nanti tidak diakui oleh negara. Karena itu akan semakin menyakitkan untuk Ratih, sahabatnya. "Aku akan berusaha untuk menutupi ini semua dari Ratih. Aku akan berusaha serapi mungkin, supaya tidak ketahuan. Kamu tenang saja." "Mas, Mas Alfi pasti sering mendengar, bawa sepintar-pintarnya kita menyimpan bangkai, pasti suatu saat akan tercium juga. Dan ini yang akan terjadi nanti, aku sangat yakin bahwa cepat atau lambat hubungan kita pasti akan terbongkar, dan aku tidak bisa menjadi istri kedua, Mas. Aku tidak mau mempunyai anak yang lahir tanpa Ayah di Akta kelahirannya nanti. Aku sudah dicap buruk oleh para tetangga, aku sudah dicap sebagai seorang perawan tua yang tidak laku. Apa kata mereka nanti kalau aku hanya menjadi istri siri, dan perebut suami orang. Aku yakin omongan mereka akan semakin pedas, Mas." Dania menunduk, miris terhadap nasibnya sendiri. Dia semakin memperkeruh keadaan dengan jatuh cinta pada Alfi. Dia yang mulainya mencari solusi, tetapi malah menambah masalah baru. Cinta yang dia sendiri tidak tahu kemana akan berlabuh. Cinta yang tidak akan pernah menguatkan, karena mereka tahu endingnya akan seperti apa. Awalnya mereka mengira, ini hanya selingan semata, hanya kesenangan sesaat. Tetapi mereka lupa, bawa perasaan yang terus dipupuk akan tumbuh semakin subur, dan mereka akan semakin sulit untuk berpisah. "Lalu harus bagaimana?" Alfi memandang ke depan, menatap lalu lalang berpasang-pasang manusia yang sedang menikmati malam mereka. Jujur didalam hatinya, dia tidak ingin kehilangan Ratih. Dia tetap ingin menjadi suami Ratih. Namun, dia juga ingin bisa menjalin cinta dengan Dania. Wanita yang lugu, dan polos. Apalagi dia berhasil menjadi lelaki itupertama yang mencium bibir Dania. Dia seakan tak mau lepas. "Aku juga tidak tahu, Mas. Aku harus jawab apa ketika bapak terus menanyakanmu." "Biarkan aku bicara sama Bapak. Aku antar kamu pulang sekarang. Sekaligus aku mau bicara sama Bapak." "Mas mau bicara apa?" Alfi kembali meraih tangan Dania, menggenggam erat, lalu mengecupnya lembut. "Kamu percaya padaku?" Dania terdiam. Sebuah kepercayaan tanpa kepastian adalah omong kosong. Dia percaya alfi mencintainya, tetapi dia tahu kalau laki-laki di hadapannya itu tidak akan pernah bisa memberi dia kepastian. "Entahlah, Mas." "Percayalah! Aku pasti akan memperjuangkanmu. Aku akan berjuang agar kita bisa sama-sama, meskipun kita harus sembunyi-sembunyi. Itu tidak penting, kan? Yang penting adalah kebersamaan kita. Yang jelas, Sekarang aku ingin berbicara sama Ayah kamu." "Pak Alfi?" Ketika mereka masih larut dalam perasaan mereka, sebuah suara membuat Alfi melonjak kaget, dia buru-buru melepaskan tangannya yang memegang tangan Dania.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD