Joko, Seorang anak muda kira-kira berumur 25 tahun, sedang terkejut melihat Alfi dengan wanita lain, bukan Ratih. Dia adalah karyawan di toko elektronik milik Alfi. Saat itu, dia bersama pacarnya yang hendak menikmati indahnya malam di taman kota.
Alfi tidak kalah terkejut. Dia langsung mempersembahkan senyum kaku dengan mata setengah membulat. Alfi segera mengatur nafas, dan berdiri lalu menepuk bahu Joko.
"Hei, Joko. Lagi jalan-jalan sama pacar kamu?" Alfi sengaja menciptakan suasana hangat, supaya suasana tidak begitu kaku.
"Eh, Iya Pak. Perkenalkan ini Rani," ucap Joko sambil memperkenalkan kekasihnya itu. Rani mengangguk sambil mengulurkan tangan.
Suasana tetap saja aneh dan kaku. Gelagat Alfi pun seperti kurang nyaman. Dania yang belum tahu dia siapa, juga ikut tegang karena melihat ekspresi Alfi. Dari ekspresi alfi dia tahu, kalau anak muda itu mengenal Alfi dan Ratih.
"Salam kenal, Rani." Alfi menjabat tangan sambil tersenyum.
"Em, boleh saya bicara sebentar sama Joko?" Alfi tersenyum ke arah Rani.
"Tentu, Pak. Silahkan," ucap Rani sambil mengangguk dan tersenyum sopan.
"Terimakasih ya Rab, Ayo Jok." Alfi tersenyum kaku.
"Iya, Pak. Monggo." Joko menjawab dengan sopan. Mereka berdua melangkahkan kaki ke tempat yang agak menjauh dari Rani dan Dania. Mereka membiarkan Rani dan Dania ngobrol dan berkenalan khas Wanita.
Mereka duduk di salah satu kursi taman yang agak menjauh dari para wanita itu. Joko terlihat lebih santai, karena dia tahu bosnya akan bicara apa.
Alfi berdehem beberapa kali dan membenahi letak duduknya sebelum berbicara. Sebenarnya memang agak sedikit malu kepergok oleh karyawannya sendiri. Namun, dia harus segera mengambil tindakan.
"Joko, kamu lihat kan tadi, saya sama orang lain?"
"Iya, Pak. Nggak apa-apa. Itu bukan urusan saya dan saya tidak ingin ikut campur." Joko menjawab dengan tegas. Memang begitulah kepribadian Joko. Dia tidak pernah mau mengurusi apa yang.memang bukan urusannya.
"Iya, Aku tahu kamu salah satu karyawan ku yang jujur dan tidak ember. Aku hanya minta sama kamu, hal ini jangan sampai terdengar ke telinga istri saya. Aku tahu apa yang aku lakukan ini salah, tapi kadang, perbuatan salah itu begitu berat untuk ditinggalkan. Ya, seperti yang aku alami saat ini."
"Baik, Pak. Bapak tenang saja, Aku tidak akan menceritakan ini ke siapapun." Joko mengangguk dengan sopan dan berbicara dengan suara lembut. Di antara karyawan yang lain, Joko yang paling dekat dengan Ratih. Karena Joko yang paling ramah di antara karyawan-karyawan yang lain. Pantas saja Alfi sedikit merasa khawatir. Joko memang bukan orang yang ember, tapi dia adalah karyawan yang jujur. Alfi takut, kejujurannya itu malah akan membuat hubungan Dania dan Alfi akan terendus oleh orang lain.
"Em, Aku punya penawaran menarik."
"Apa pak?"
"Maukah kamu pura-pura menjadi orang yang aku jodohkan ke Dania?"
"Dania? Pura-pura dijodohkan?"
"Begini, perempuan yang bersama saya tadi adalah sahabatnya Ratih. Dia belum menikah. Karena kamu sudah mengetahui ini, maka sepertinya lebih baik saya nyebur sekalian. Bisakah aku minta tolong sama kamu, untuk pura-pura menjadi orang yang dekat dengan Dania di hadapan Ratih. Supaya Ratih percaya bahwa aku dan dia tidak ada apa-apa."
"Pak, Maaf. Saya mempunyai pacar dan kami akan segera menikah. Saya tidak mau main api."
"Ini hanya sementara, Joko. Hanya sementara. Lagi pula kamu akan menikah, kan? Pasti kamu butuh banyak modal. Kalau kamu setuju, Aku akan membantu modal pernikahan kamu. Aku hanya butuh waktu beberapa bulan saja. Setelah itu kamu bisa melancarkan pernikahan kamu. Aku butuh bantuan kamu, Joko. Tolong!"
Entah sejak kapan, Alfi sedikit berubah menjadi licik. Dia berusaha untuk menutupi perselingkuhannya dengan berusaha melibatkan Joko. Seorang pemuda pekerja keras dan yang terkenal jujur. Ya, karena dia jujur, Alfi berusaha untuk menggunakan Joko sebagai bahan untuk mengelabuhi istrinya. Mengelabuhi? Entah kata apa yang cocok. Yang jelas, Alfi akan menggunakan Joko sebagai alat untuk menyembunyikan perselingkuhannya.
Tawaran Alfi sebenarnya sangat menggiurkan bagi Joko. Dia memang sangat membutuhkan modal untuk menikah. Namun, apakah dia sanggup untuk berpura-pura? Apakah dia sanggup menghianati hatinya sendiri demi untuk mendapatkan uang?"
"Pak, saya tidak bisa. Ada hati yang harus aku jaga." Itulah jawaban Joko akhirnya.
"Aku akan menaikkan gaji mu dua kali lipat terhitung mulai bulan ini."
"Apa pak?" Alfi langsung membulatkan matanya, kaget. Sespesial itukah wanita itu hingga bosnya mau melakukan segalanya agar tetap bisa bersama?
"Kalau kamu setuju, kamu bisa menghubungiku. Pikirkan dulu."Alfi kembali menepuk pundak Joko dua kali.
"Baik, Pak."
"Ya sudah, kita kembali ke mereka," ucap Alfi sambil mengembangkan senyum.
***
"Mas, Kamu pikir aku ini apa? Bagaimana bisa mas Alfi seenaknya begitu saja meminta aku berpura-pura dengan yang lain lagi. Cukup dulu Aku berpura-pura memiliki calon di hadapan orang tuaku. Aku tidak mau berpura-pura lagi, Mas." Dania kecewa dengan rencana Alfi yang meminta Joko untuk pura-pura berpacaran dengan Dania.
"Dan, bayangkan! Jika Joko mau, ini justru akan membuat kecurigaan Ratih menghilang. Kita juga bisa lebih leluasa bersama di toko elektronikku, kamu bisa berpura-pura mengunjungi Joko kan? Nanti kita bisa berduaan. Bukannya itu ide yang bagus?"
"Bagus untuk Mas, tetapi tidak akan bagus untukku. Itu kesannya aku wanita sangat murahan yang mudah jatuh ke pelukan orang lain. Aku kecewa sama Mas Alfi hari ini. Aku pulang dulu, Mas."
Ratih berdiri dari duduknya dengan perasaan dongkol. Dia tidak mau membuat kebohongan baru lagi.
"Dan, tunggu!" Alfi langsung menggenggam lengan Dania. Dania pun menghentikan langkahnya.
"Aku nggak ada maksud apa-apa. Kalau kamu memang tidak suka, ya sudah. Aku tidak akan melakukannya lagi. Lagi pula, Joko juga juga belum menyetujuinya. Maafkan Aku. Aku terlalu ingin hubungan kita bisa berjalan mulus."
'kalau saja aku belum terlanjur jatuh cinta, Aku tidak akan pernah mau menjalani hubungan ini, Mas. Semulus apapun, hubungan ini tidak akan berakhir baik.'
Dania menunduk, menyadari bahwa setiap jalan dengan Alfi selalu ada yang memergoki mereka. Sampai kapan mereka akan terus begitu? Terus was-was dan tidak tenang. Ternyata, jadi selingkuhan itu tidak seenak yang dia lihat, tidak seenak yang biasa Dia ditulis di novelnya.
Menjalani hubungan secara diam-diam itu menyesakkan. Namun, hatinya terlanjur terpaut, Dania sudah terlanjur sangat mencintai Alfi.
"Maafin aku, Aku tidak akan melakukan hal tanpa persetujuan kamu. Sekarang kita makan dulu ya? Ada tempat makan yang enak di sekitar sini." Alfi tersenyum, lalu menggenggam tangan Dania. Ya, hanya melihat senyuman begitu saja Dania sudah luluh. Dasar lemah, wahai hati.
Mereka segera menuju ke mobilnya Alfi. Alfi membukakan pintu untuk Dania. Dania tersenyum, tersenyum miris sebenarnya.
'Ratih, maafkan aku. Aku menggantikan posisimu, duduk di samping mas Alfi,' ucap Dania dalam hati, lalu dia segera masuk, begitu juga dengan Alfi.
Sebelum dia melajukan mobilnya, dielus lembut rambut Dania. Dania tidak seceria sebelumnya, dan Alfi sangat merasa bersalah.
"Maafkan Aku, Sayang." Alfi mengecup lembut kening Dania. Saat ini, melihat Dania bersedih lebih menyakitkan hatinya daripada melihat istrinya sendiri sedih.
Dania hanya terdiam. Sejujurnya Dia sedang gelisah. Dia ingin bertemu dengan Alfi malam itu bertujuan untuk mencari solusi tentang permintaan orang tuanya, dan sekarang dia belum mendapatkan solusi apa-apa. Apa yang harus saya perbuat selanjutnya? Alasan apa yang harus dikatakan ke orang tuanya?