Dania, Aku Rindu

1028 Words
Alfi tertawa. Rasanya puas sekali menatap senyum Dania saat itu. Alfi memang sudah sering bertemu dengan Dania. Namun, Baru kali ini dia bisa melihat senyum yang benar-benar mengartikan senyum kebahagiaan. "Masa enak sih? Punyaku biasa saja. Boleh mencicipi punyamu?" Alfi sengaja modus. Pria tampan dengan rambut belah pinggir itu sengaja ingin menggoda Dania. Meskipun Dania usianya lebih tua darinya, dia tetap merasa wanita itu masih terlihat muda dan ketika dia manja, sungguh, Alfi klepek-klepek dibuatnya. Dengan polosnya, Dania menyodorkan 1 gelas gelato ke arah Alfi. "Kok gelasnya yang di sodorkan , suapin dong?" Dania langsung terbelalak kaget. "Nggak usah kaget begitu, kemarin meluk aja berani, Masa cuma nyuapin aja nggak berani? Sini suapin! Aa ... " Wajah Dania semakin bersemu merah. Dania tersenyum malu-malu. Alfi semakin gemas dibuatnya. "Ayok, A' ... " Alfi semakin membuka lebar mulutnya. Akhirnya, Dania menyendok gellato itu dan perlahan disuapkan ke mulut Alfi. "Em ... Ternyata kalau disuapin rasanya jauh lebih nikmat," ucap Alfi setelah menerima suapan dari Dania. Lagi dan lagi, wanita itu hanya tersenyum malu-malu. Kali ini hatinya seakan loncat-loncat, terlalu girang mendapati bahwa akhirnya ada seseorang yang sedang berusaha untuk membuat dia bahagia. Siang itu, pertama kali mereka makan di luar bersama layaknya sepasang kekasih. Mereka saling melempar senyum, saling bertatap sejenak lalu menunduk malu-malu. Sungguh tidak ada bedanya dengan ABG yang baru saja jadian. Dania sangat menikmati momen itu. Saking bahagianya sampai dia tidak memikirkan lagi tentang bagaimana kelangsungan hidupnya di masa depan. Yang jelas saat ini, dia merasa bahagia dengan hadirnya Alfi dan tidak ingin Alfi pergi dari hidupnya. *** Sore itu, Dania pulang dengan hati berbunga. Bahkan, dia mulai tidak sungkan melambaikan tangan pada Alfi ketika Alfi pamit pulang setelah mengantarkan Dania sampai rumah. Dania terus menatap Alfi, sampai punggungnya tidak terlihat lagi. Setelah Alfi benar-benar menghilang dari penglihatan, Dania segera menuju ke kamarnya. Dia meletakkan tas di atas meja yang ada di samping tempat tidurnya. Lalu dia membanting tubuhnya di atas tempat tidur dengan senyum merekah. Bayangan saat dia menyuapi Alfi dan saat Alfi memegang tangannya masih memutar-mutar terus di otaknya. 'Ya Tuhan, akhirnya aku kembali merasakan jatuh cinta. Dan ternyata masih seindah ini. Seharusnya aku sadar dari dulu, terlalu terpaku pada masa lalu hanya akan menghambat kebahagiaan kita sendiri. Untuk apa aku memikirkan masa lalu jika masa depan akan lebih indah,' ucap Dania dalam hati. Drrrttt ... Drrrttt ... Terdengar suara HP bergetar dari dalam tas Dania. Wanita itu segera mengambil handphone, dia terkejut ketika ada nama Ratih berpendar di handphonenya. Wajah Dania berubah tegang, senyumnya tiba-tiba hilang dari bibirnya. Wanita itu mematung sejenak, menimbang-nimbang antara harus mengangkat telepon itu atau tidak. Akhirnya dia menarik nafas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan. Setelah itu, Dia segera mengangkat telepon Ratih. "Halo Tih," sapa Dania lembut. "Hai Dan. Lagi apa?" "Kenapa pertanyaanmu seperti orang-orang zaman dulu?" goda Dania. "Lagi pengen ngobrol seperti gaya orang dulu aja," ucap Ratih disambung dengan tawa renyahnya. Mendengar tawa Ratih, hati Dania terasa teriris. Apakah kamu masih akan bisa tertawa seperti itu setelah tahu apa yang terjadi di belakangmu, Ratih? Pertanyaan itu terus memutar-mutar di otak Dania. "Kamu masih di luar kota?" "Kok kamu tahu aku dari luar kota?" Dania langsung menepuk mulutnya dengan telapak tangan. Menyadari kebodohannya. 'Aku harus memberi alasan apa ini?' "Em ... Em ... " "Dan?" "Eh iya. Aku tahu dari temanku yang kebetulan juga ikut pelatihan. Katanya dia bertemu dengan orang yang ada di Profil picture WA ku. Jadi aku tahu kamu ada di luar kota sekarang." Huft ... Semoga kebohongan itu masih masuk akal. "Oh ... Aku kirain kamu tahu dari Mas Alfi. Kalian nggak kontekan kan?" Entah ucapan Ratih itu bercanda atau serius, yang jelas Dania gelagapan mendapatkan pertanyaan itu. "Ih, ngapain kontekan sama Mas Alfi. Suami kamu itu kan garing kriuk kriuk kalau diajak becanda, nggak asyik." "Ya siapa tahu kamu terpesona sama kharisma laki gue," "Enggak bakalan terjadi, Ratih. Kamu kira sahabat macam apa aku yang tega merebut suami sahabatnya sendiri." Ucapan itu benar-benar membuat hati Dania bergejolak. Dia merasa menjadi manusia yang paling munafik di jagat raya. "Iya, aku tahu. Mana mungkin sih aku mencurigai sahabat terbaikku ini, Oh iya Dan, yang kamu bilang itu yang mana orangnya? Coba kamu kirimin foto dia, biar aku kenalan sama dia. Soalnya di sini hanya beberapa saja yang aku kenal." Dania langsung menelan ludah. Harus alasan apalagi hari ini? "Em ... Dia orangnya ketus. Nggak welcome dan susah untuk berinteraksi dengan orang yang baru. Takutnya nanti dia akan risih, Tih. Oh iya, kamu telepon aku, apa ada yang penting?" "Ih, begitu banget sih pertanyaan kamu. Kan biasanya kamu yang telepon aku. Ini beberapa hari kamu nggak ada telepon. Oh iya, orang tua kamu bagaimana? Masih nanyain Mas Alfi apa enggak?" Dania tahu, basa-basi yang panjang tadi intinya hanya kalimat terakhir itu. Menanyakan tentang Alfi. "Tenang, aku sudah bilang sama mereka kalau aku sudah putus sama Alfi. Aku bilang pada mereka kalau saat ini aku sedang patah hati dan butuh Waktu sendiri dulu selama beberapa bulan. Jadi aku masih aman, dan enggak lagi di jodohin sama si Amin. Terima kasih atas bantuanmu, sahabat terbaikku." "Siap, Aku senang bisa membantumu. Ya sudah kamu istirahat aja dulu. Kapan-kapan kita sambung lagi ya. Miss you, my best friend." "See you," ucap Dania tersendat. Dia segera mematikan sambungan telepon. "Best friend, kamu sama sekali tidak patut menyebutku sebagai best friend, Tih. Aku sahabat paling b***t di muka bumi ini. Izinkan Aku untuk merasakan kasih sayang dari orang yang aku sayangi, yaitu suamimu. Aku Mencintainya, Ratih. Aku membutuhkan kasih sayangnya. Maafkan Aku yang belum bisa melepaskan suamimu," ucap Dania sambil memandang foto profil di WA Ratih. Foto profil Ratih saat itu adalah foto mereka berdua yang saling berangkulan. Hati Dania semakin teriris rasanya. Dia memang merasa bersalah, tetapi gejolak cintanya ternyata lebih kuat sehingga bisa menumbangkan logikanya. Dania saat itu sama sekali tidak memikirkan dampak kedepannya. Yang penting saat itu dia merasa bahagia karena merasa ada sandaran Hati yang selama ini tidak didapatkan setelah perginya Fadil. Jika kau pernah jatuh cinta, pasti kau akan tahu bagaimana perasaan Dania saat ini. Drrt ... Drrrt ... Handphone Dania kembali bergetar sejenak. Dia buka pesan dari aplikasi warna hijau. Ternyata dari Alfi. "Dan, aku Rindu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD