Berubah Demi Kamu, Mas Alfi

1039 Words
Dania langsung melonjak kegirangan mendapati pesan dari Alfi. Dia seperti kembali menjadi anak SMP. Ditatapnya layar handphone itu dengan senyum yang mengembang. Lalu Dania segera tengkurap dengan mengangkat kepala di atas tempat tidurnya dan kembali menarikan jarinya di atas layar handphone. "Sama, aku juga rindu," jawab Dania singkat. "Besok kita jadi bertemu?" "Aku terserah Mas Alfi aja." "Besok setelah Ratih berangkat mengajar, aku ke rumahmu." "Apakah Ratih tidak akan curiga, Mas?" "Enggak akan curiga. Pasti Ratih akan mengira kalau aku ke toko elektronik. Nanti biar tokonya di-handle sama anak-anak." "Oke, Mas. Memangnya Mas mau mengajakku ke mana?" "Ke tempat yang pastinya mengasyikkan dan bisa membuat kamu bahagia." Dania lagi-lagi menarik kedua ujung bibirnya sehingga membentuk sebuah lengkungan cantik. Ya, akhir-akhir ini Dania berubah menjadi wanita yang murah senyum. Tidak seperti biasanya yang hanya muram. Hanya dengan membaca chat dari Alfi saja, sudah membuat moodnya membaik, dan tidak lagi uring-uringan seperti biasanya. Mungkin memang benar, selama ini hidup Dania terlalu terkungkung. Dia tidak punya teman, Dia tidak punya sekumpulan sahabat seperti orang-orang lain, hanya Ratih lah satu-satunya sahabat yang dimiliki oleh Dania. "Emangnya mas tahu tempat yang bisa membuat aku bahagia." "Tahu dong, ya sudah. Sampai jumpa besok, aku jemput jam 7 ya. Karena perjalanan cukup jauh." "Jam 7?" "Iya, biar kita puas mainnya di sana. Sampai jumpa besok ya. I Miss you." Ketikan terakhir di chat Alfi membuat Dania ingin menggigit bantal saking senangnya. Kadang orang jatuh cinta itu norak. Dia bisa melakukan hal yang tidak wajar. "Iya, i Miss you too." Dania mengetik percakapan penutup itu dengan hati bergetar. Padahal cuma sebuah tulisan, tetapi cukup membuat detak jantungnya berpacu lebih cepat seperti baru saja lari maraton. Dania masih tersenyum, lalu mengecup lembut layar handphonenya. Entah apa maksudnya. Lalu dia menyadari sesuatu. Bahwa dia tidak memiliki pakaian yang layak untuk jalan-jalan bersama pasangan. Kebanyakan hanya rok-rok panjang saja yang dia miliki. Namun dia bingung harus belanja di mana. Biasanya Dania hanya membeli online, tetapi kali ini waktunya tidak keburu. Selama ini Dania memang jarang memperhatikan penampilan, karena waktunya hanya habis di dalam kamar saja. Bangun pagi dia memasak dan bersih-bersih rumah, habis itu dia kembali tenggelam dalam tulisannya di dalam kamar dan dia betah berjam-jam seperti itu. Seperti yang pernah kubilang, Dia adalah seorang penulis di sebuah platform kepenulisan. Jadi meskipun Dania mendekam di kamar saja, dia sudah mendapatkan pendapatan yang banyak. bahkan mungkin jauh lebih banyak dari tetangganya yang kerja di toko besar yang dielu-elukan oleh orang-orang itu. Maklumlah, ketika kita tidak terlihat bekerja di luar, pasti orang akan berpikir macam-macam. Dan kadang-kadang mata mereka belum terbuka, Kalau bekerja itu tidak harus pergi keluar rumah dan memakai baju rapi. Bukankah menyenangkan kalau kita memiliki penghasilan dari hobi? Saat itu, Sebelum Dia memutuskan untuk membeli baju, dia melihat sosial media terlebih dahulu. Mencari referensi pakaian untuk trend masa sekarang. Dania tidak mau membuat Alfi malu. Diam-diam, dia mencoba untuk tampil modis dan tidak kampungan. Dia ingin membuat orang yang disayanginya merasa nyaman jalan bersama dirinya. Setelah Dania melihat referensi fashion dari orang-orang di sosial media, dia segera mengambil kembali tasnya dan segera pergi ke toko baju yang tidak jauh dari tempat dia tinggal. "Hai. Kamu Dania?" Baru saja dia masuk ke toko baju sudah di sambut oleh seseorang yang Sepertinya dia juga pembeli. "Iya. Siapa?" "Aku Nurul. Teman kamu kuliah dulu.Kamu Dania yang kemana-mana selalu sama Ratih itu kan? Masa enggak ingat sih. Padahal rumah kita nggak jauh loh, cuma beda desa aja. Kok aku nggak pernah lihat kamu ya? Sudah kerja di mana sekarang? Terus suami kamu orang mana? Anak kamu berapa sekarang?" Dania belum ingat betul siapa wanita yang ada dihadapannya itu. Wanita itu terlihat modis dan menurut Dania, dia tampak lebih muda darinya. perempuan itu menggunakan dress bunga-bunga warna hitam dan merah sepanjang lutut. Dia menenteng tas tangan branded warna pink, juga rambut digerai dan dihiasi kacamata di bagian depan rambutnya. "Dan? Kok diam saja?" Nurul mengulangi pertanyaannya. Sebenarnya Dania risih diberondong pertanyaan seperti itu. Kenapa setiap orang harus menanyai dia pertanyaan yang sama? Apa untungnya juga ketika mereka tahu Dania sudah menikah atau belum? "Oh, aku belum menikah." Dania menjawab lirih sambil tersenyum getir. "Ya Tuhan. Bukannya umur kamu sudah 33 tahun sama denganku? Bagaimana mungkin kamu belum menikah, Dan? Aku saja sudah punya tiga anak loh. Buruan nikah. Nanti kamu keburu tua dan tidak laku lagi." Dania terdiam. Ingin rasanya Dia menyumpal mulut orang yang mengaku teman kuliahnya itu dengan ulekan cabe supaya nyonyor sekalian mulutnya yang tidak bisa dikontrol itu. "Aku ke dalam dulu ya," ucap Dania yang tidak mau menanggapi ucapan tidak penting dari Nurul. Dia masih menunduk. Dia kembali merasa insecure, setelah beberapa menit yang lalu dia sudah mulai percaya diri. "Ih, sombong amat sih," ucap Nurul sambil menurunkan kacamatanya. Lalu dia segera keluar dari toko itu dan menuju ke mobilnya yang terparkir di halaman toko baju yang cukup ramai itu. Setelah dia tahu Nurul sudah pergi, Dania kembali terdiam. Dia selalu berpikir, apakah aneh jika seumuran Dia belum menikah? Bukannya jodoh itu sudah diatur oleh Tuhan. Ah, patutkah Dania berbicara seperti itu, sementara saat ini dia malah menjalin hubungan dengan orang yang tidak akan mungkin menjadi pasangan hidup masa depan. Meskipun di dalam hatinya, Dania berharap, Alfi lah yang akan menjadi suaminya di masa depan. "Selamat sore, buk. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang penjaga toko dengan ramah dan sopan. Dania tergagap. Dan kembali ke dunia nyatanya. Sebenarnya dia sangat kesal, karena seringkali dia dipanggil ibu. Tapi apa boleh buat, memang sudah seharusnya dia menjadi seorang ibu. Dania menghirup nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya pelan-pelan untuk menenangkan dirinya sendiri. "Em ... Mau cari celana jeans bellel panjang dan blus yang cocok untuk saya, mbak," ucap Dania akhirnya. Dania tidak pernah memakai celana jeans sebelumnya. Apalagi jins belel. Entah apa yang merasukinya saat itu. Penjaga toko itu tampak mengamati Dania dari atas sampai bawah. Seakan dia tidak percaya, wanita di hadapannya itu akan memakai celana belel. "Eh, iya. Ada Bu. Mari ikut saya ke dalam." Dania mengikuti pelayan toko itu menuju ke tempat jajaran celana jeans. 'Mas Alfi, aku mencoba berubah untukmu. Mungkinkah aku bisa memilikimu seutuhnya?'
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD