Menjadi seorang perawan tua itu tidak pernah mudah. Entah kenapa ada julukan itu. Julukan yang selalu membuat telinga Dania serasa mau putus karena terus mendengar celoteh itu lagi dan itu lagi. Mereka tidak pernah tahu, bagaimana rasanya menahan perih saat orang membicarakan hal yang buruk tentangnya. Mereka tidak pernah tahu, bahwa sebenarnya Dania juga ingin memiliki keluarga seperti orang lain. Namun, bukankah semua itu perlu kemantapan diri dulu.
Giliran sekarang, ketika hati Dania terpaut, malah terpaut pada orang yang salah. Jika cinta datang kepada dirinya, bisakah dia menolak? Bukankah kita tidak pernah bisa memilih kepada siapa kita harus jatuh cinta? Ya, itulah pedoman Dania yang akhirnya membenarkan perilakunya sendiri yang jauh dari kata baik.
Dania benar-benar dibutakan oleh cinta alfi. Dia seolah tidak peduli dengan perasaan Ratih. Sahabat yang sudah banyak membantunya. Seperti hari ini, dia sudah rapi dengan pakaian yang baru dia beli kemarin. Celana bellel biru di padu dengan blouse polos warna biru muda. Rambutnya yang selalu dia kuncir kuda, kali ini sengaja digerai. Sebenarnya jika dia mau berdandan seperti itu, dia masih tampak begitu muda. Masih seperti umur 25 tahunan. Apalagi jika dia sedikit mau memakai skin care dan mengoleskan lipstik ke bibirnya. Sungguh, Dania tampak cantik.
Dania mematut diri di depan kaca. Memutar, melihat penampakan dirinya dari depan samping dan belakang. Setelah dirasa sempurna, Dania mengambil tas ransel kecil yang dibelinya secara online beberapa hari yang lalu. Lalu dia segera menuju ke ruang tamu. Seperti apa yang sudah dia duga, Alfi sudah duduk di sana bersama kedua orang tua Dania.
Ketika Dania muncul, Alfi dan juga kedua orang tua Dania terperanjat melihat perubahan penampilan Dania. Iya, Dania memang tampak lebih cantik dan tampak lebih muda. Namun, orang tua Dania tentu saja kurang suka melihat putrinya memakai pakaian yang dianggap kurang pantas dipakai oleh seorang perempuan. Padahal apa salahnya celana belel?
"Dania, dandan apa sih kamu ini? Jalan malu-maluin bapak. Ayo ganti sekarang!" teriak Bapak Dania.
Dania seketika langsung kesal. Dia yang sudah berumur 33 tahun, masih di teriaki seperti anak SD.
"Tidak apa-apa, Pak. Dania tampak lebih percaya diri memakai pakaian seperti itu. Bukannya memang itu yang dicari, Pak, Bu. Kepercayaan diri Dania. Itu yang mahal." Alfi mengamati Dania. Baginya, memakai apapun wanita itu, masih tetap terlihat polos malu-malu, membuat alfi gemas sendiri. Memakai apapun Dania, wanita itu seakan membuat alfi seperti puber yang kedua.
Mendengar pembelaan dari Alfi, Dania langsung merasa melayang-layang di awan.
"Memang sih, Nak Alfi benar. Dania terlihat lebih percaya diri dan berani mengangkat dagunya. Tidak apa-apa lah pak. Itu bukan pakaian yang keterlaluan kok, masih wajar." Ibu denia membela. Saat itu, bapak dan ibu Dania duduk di 1 sofa panjang. Sedangkan Alfi duduk disalah satu kursi tunggal yang terletak di sebelah sisi meja.
"Kenapa pakaian saja harus diributkan sih Bapak dan Ibu ini. Mas, kita berangkat sekarang?"
"Ayo. Bapak, Ibu, kami pamit keluar dulu ya?"
"Iya Nak Alfi. Jaga Dania ya?"
"Pasti pak."
Setelah mereka selesai berpamitan, mereka segera naik ke atas motor dan menuju ke tempat yang ingin dituju oleh Alfi.
"Kamu cantik sekali sih hari ini," ucap Alfi sambil sedikit menoleh. Suara deru angin membuat Alfi harus berbicara sedikit lebih keras supaya terdengar oleh Dania yang ada di jok motor belakang.
"Ternyata mas Alfi jago juga gombalnya. Mas Alfi enggak apa-apa lihat aku berpakaian seperti ini?"
"Enggak apa-apa dong. Bagiku, Dania yang cantik itu adalah Dania versi bahagia. Jadi ketika kamu bahagia dengan apa yang kamu pilih dan apa yang kamu jalani, disitulah kecantikan kamu terpancar."
Motor Alfi berjalan pelan. Membuat Dania bisa mendengar dengan jelas kata demi kata yang keluar dari mulut Alfi. kata-kata itu terdengar sangat merdu di telinga Dania. Dania yang cantik adalah Dania versi bahagia. Di mana lagi Dia bisa mendapatkan laki-laki seperti Alfi?
Tentu saja reaksi Dania hanya tersenyum sambil mengeratkan tangannya yang saat itu melingkar dipinggang Alfi. Memeluk suami sahabatnya dari belakang, sambil menghirup wangi tubuh laki-laki itu membuat Dania begitu nyaman dan rasanya dia tidak ingin sampai di tempat tujuan, agar dia bisa lama-lama memeluk Alfi dari belakang seperti ini.
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 2 jam, mereka sampai di tempat yang menurut Alfi bisa membuat Dania bahagia. Ternyata Alfi mengajak Dania ke sebuah tempat wisata bahari yang ada di Lamongan.
"Kita ke sini?" Atanya dunia yang tidak percaya bahwa ternyata Alfi mengajaknya ke tempat wisata yang dianggap sebagai tempat wisata anak-anak.
"Iya. Kenapa? Kamu sudah pernah?"
"Belum sih. Ini sepertinya hanya tempat wisata untuk anak-anak."
"Ih, siapa bilang. Kamu kan belum pernah masuk, jadi kamu belum tahu seperti apa? Dania, Aku ingin kamu bisa mengenal dunia luar. Aku ingin kamu menjadi pribadi yang bahagia, tidak terus-terusan mengurung diri. Kamu berhak tahu banyak hal. Lagi pula pergi ke suatu tempat yang indah bisa menjadi inspirasi menulis kamu kan?"
Dania mengangguk. Kali ini disertai dengan senyum lebar, bukan lagi senyum malu-malu, tetapi senyum penuh kepercayaan diri.
"Sini tangannya." Tangan Alfi mengulur. Laki-laki yang saat itu memakai celana jeans biru dan kaos lengan pendek warna hitam itu tampak begitu menawan dengan senyum yang disuguhkan setiap memandang Dania.
Dania pun mengulurkan tangannya, Alfi meraihnya dan menggandeng tangan wanita itu erat, lalu perlahan Alfi mencium punggung tangan Dania yang saat itu berada di genggamannya.
"Kamu cantik sekali hari ini, Dania." Alfi menatap Dania dengan tatapan teduh. Tatapan itu tidak tajam, tetapi terasa menusuk sampai ke hati Dania hingga membuat wanita itu lemas sleemas-lemasnya. Ah, laki-laki itu paling bisa membuat Dania klepek-klepek tak berdaya.
"Mas, tolong. Jangan masuk terlalu dalam ke hatiku. Supaya tidak terlalu sakit ketika nanti mas benar-benar pergi dan tidak bisa menggandeng tanganku seperti ini lagi," ucap Dania yang masih menatap Alfi. Dibalik kebahagiaannya kali ini, tentu saja terselip ketakutan. Dania takut ketika dia sudah benar-benar bergantung pada Alfi, dia akan menghilang dan memutuskan untuk tidak menemui Dania selamanya.
"Kita pikirkan saat ini saja, Dania. Untuk apa kamu memikirkan tentang nanti yang belum tentu terjadi. Yang jelas saat ini, aku bahagia bisa menjadi satu-satunya orang yang dekat dengan kamu dan bisa menggenggam tanganmu seperti ini."
"Aku juga bahagia, meskipun aku bukan satu-satunya orang yang menggenggam tangan Mas Alfi." Dari raut wajah Dania, sulit diprediksi sedang bahagia kah atau sedang bersedih wanita itu saat ini?.