TIGA PULUH DUA

1594 Words
Kakek Yadi menyambut Bayu ketika ia keluar dari portal dengan wujud Buto Ijo-nya sebelum akhirnya pelan-pelan berubah bentuk menjadi Bayu yang dikenal oleh kita semua. “Dimas mana Kek?” Tanyanya, begitu kembali ke sini, otomatis Bayu juga mendapatkan ingatannya kembali. “Kamu makan ini dulu.” Ucap kakek Yadi, memberikan aneka kembang yang merupakan sesajen untuk Bayu. Menurut, Bayu memakan sesajen untuknya yang sudah disiapkan oleh Kakek Yadi. Setelah itu, ia merasakan tenaganya naik beratus-ratus kali lipat. “Dimas mana Kek?” Tanya Bayu ulang, dengan nada tak sabar. Entah kenapa begitu mengingat keberadaan Elizabeth di dunia ini saat ia sedang menjadi sosok Buto Ijo, perasaannya jadi berubah. Saat ini saja, ia seperti diserang oleh perasaan baru, perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Perasaan ingin memastikan Elizabeth aman dan baik-baik saja. “Dimas sudah berangkat, Nak.” Jawab Kakek Yadi lembut. Mereka berdua berjalan ke bagian dalam rumah. Bayu menuju lemari bajunya untuk berganti karena saat ini ia memakai baju compang-camping milik Buto Ijo. “Aku pergi lebih dari tiga hari maksudnya?” Tanya Bayu, ia menggali ingatannya dan yang ia rasa, ia hanya menghabiskan pagi bersama Ijal, mengobrol. “Engga, Nak. Tapi Dimas dapat info kalau kepulangan Pak Chandra dipercepat, jadi dia juga harus mengeluarkan Elizabeth sebelum Pak Chandra pulang.” Jelas Kakek Yadi. Bayu sudah selesai berganti, ia mencari-cari ponselnya dan Kakek Yadi langsung mengambilkan ponselnya yang ada di meja dapur. “Ini,” Ucap Kakek Yadi, memberikan ponsel pada Bayu. “Berapa lama Dimas sudah berangkat? Dia pergi dengan siapa?” Bayu panik, ia tak sanggup jika Dimas melakukan misi berbahaya itu sendirian. Pikiran jelek mulai menghantuinya. Bagaimana jika Dimas gagal mengeluarkan Elizabeth dari hanggar milik Pak Chandra? Bayu tak hanya kehilangan Elizabeth, tapi juga Dimas. Keluarga yang sangat disayanginya. “Dimas pergi dengan Ganjar, dan anak buahnya. Kira-kira 5 jam lalu mereka berangkat. Dimas belum ada kabar lagi. Sekitar dua jam lalu dia telepon, kabarin kalau sudah masuk hutan. Abis itu sampai saat ini belum ada kabar lagi.” Kakek Yadi memberikan teh hangat buatannya, Bayu menerimanya lalu menyesapnya. Membuka layar kunci ponselnya, Bayu segera menghubungi Dimas, dan setelah nada tunggu ke-dua, panggilan tersebut terangkat, membuat Bayu lega. “Boss udah balik?” Tanya Dimas di kejauhan sana, tanpa basa-basi. “Yeah, lo di mana?” “You missed all the fun things!” Seru Dimas. “Lo di mana?” “Lagi mampir makan Korea, si Liz ngidam makan Korea hahahaha!” “Dim? Lo mabuk?” Tanya Bayu khawatir. Tidak ada jawaban dari Dimas, ia malah tertawa dan Bayu juga mendengar beberapa tawa orang lain yang tertangkap di ponsel. “Dimas! Kirim lokasi lo sekarang juga!” Seru Bayu. “Hemmm, okeeeh, okeee, buat apa nih kalo boleh tau?” “Dimas lo kalo mabuk jangan nyebelin!” Bentak Bayu. “Hemmm iya, iya, bawel ah Boss, kaya ibu-ibu komplek kalo lagi belanja di tukang sayur keliling hehehehe!” Sahut Dimas. Dari suaranya, terdengar jelas kalau Dimas sudah kehilangan berapa persen kesadarannya. Sambungan telepon dimatikan oleh Dimas, membuat Bayu berdecak kesal, namun tak lama kemudian masuk tautan lokasi keberadaan Dimas saat ini ke handphone Bayu. “Kek, Bayu tahu Dimas di mana. Bayu susulin dulu yaa. Dia mabuk.” Ucap Bayu, izin pamit ke luar. “Iya, kamu hati-hati yaa!” Seru Kakek Yadi. Bayu mengangguk, ia lalu menyambar kunci mobil yang tergantung di paku samping lemari pendingin, kemudian bergegas keluar rumah, masuk ke dalam mobilnya. Menyalakan mesin mobil, tanpa menunggu mesin panas, Bayu langsung melajukan mobilnya mengikuti peta yang sudah ia sambungkan ke layar kecil di mobilnya. Kalau menurut peta, estimasi Bayu sampai ke tempat tujuan di waktu selarut ini hanya butuh sekitar empat puluh lima menit. Semoga, dalam empat puluh lima menit itu Dimas dan Elizabeth tidak membuat ulah. Bayu berdoa dalam hati. Ia menginjak pedal gas-nya tanpa jeda, hanya sesekali dilepas untuk memindahkan mode menyetir ke kecepatan yang lebih tinggi. Selain itu, Bayu tidak berhenti ataupun mengerem sama sekali. Ia ingin segera sampai dan memastikan Dimas dan Elizabeth dalam keadaan baik. Jalanan kosong, sudah tengah malam lewat, jadi tidak ada yang membuat kemacetan di jam-jam begini. Sesuai arahan peta, mobil Bayu berhenti di sebuah restoran Korea yang buka dua puluh empat jam. Bayu mengamati sekitar, ada dua mobil jeep miliknya yang terparkir di pekarangan restoran ini. Dan ada satu mobil lain, entah milik siapa. Masuk ke dalam restoran, pandangan Bayu langsung tertuju ke Elizabeth yang sedang bernyanyi riang di atas meja. Entah lagu apa, Bayu tak tahu. Wajah-wajah lainnya tak asing di mata Bayu, mereka bersuka ria tertawa, bernyanyi bersama Elizabeth. Lalu, ada Dimas, duduk di bagian sudut, cekikikan karena melihat ulah yang lain. Bayu tersenyum melihat itu. Mengabaikan luka-luka goresan, dan luka bakar ataupun baju mereka yang ada robek di beberapa bagian, terlihat kalau mereka semua sehat, selamat dan berhasil menjalankan misi walaupun tanpa Bayu. Mendekati mereka, Bayu langsung berjalan ke arah Dimas, duduk di sampingnya. “Lo bukan peminum, Dim.” Ucap Bayu, sedikit menyikut rusuk Dimas. “Eheheh hehehehe, boss aku dateng juga. Kamu tu yaaa, aku tungguin gak muncul-muncul dari lubang ajaib! Hih! Jadi aja aku tinggalin. Seru tau!” Ucapan Dimas sudah sangat melantur. Padahal ia tahu persis kalau ada larangan untuk tidak membahas portal di tempat umum begini. Namun mengetahui kesadaran Dimas yang tidak penuh, Bayu memaklumi hal tersebut. “Sorry Bro, gak bisa bantu lo jadinya.” “Hahaha hahaha I need you, Brohh! Kalau Boss Bay dateng, itu pasti akan melengkapi cerita yang aku baca dulu! Hahahahah Timun Mas dan Buto Ijo hahahaha tapi ini, Timun Mas diselamatkan oleh Buto Ijo, epik banget pasti! Hehehehe!” Dimas sudah sangat mabuk, Bayu hanya bisa tersenyum. “Ganjar!” Seru Bayu, dari ujung Ganjar berjalan mendekati Bayu dan Dimas. Kesadarannya masih penuh. “Siap, Boss!” Seru Ganjar ketika ia sampai di hadapan Bayu. “Lo minum?” “Emm, minum dikit, Boss.” Ucap Ganjar dengan nada malu-malu. “Masih bisa nyetir?” Tanya Bayu. Ganjar mengangguk sigap. “Bisa Boss, saya dan Baskoro cuma minum satu gelas, kami berdua gak mabuk biar bisa melanjutkan perjalanan dengan aman.” Jawab Ganjar. “Okee, lo bawa yang lain... emm ini segini aja? Gak ada yang gugur atau kalian tinggal kan?” Bayu memastikan karena bisa dibilang, tim yang dibawa Dimas ini sangat kecil, mengingat penjagaan dan ukuran hanggar Pak Chandra. “Semua lengkap Boss Bayu! Tidak ada yang ditinggal, ataupun gugur dalam tugas.” “Okee, bawa mereka ke markas lo. Dimas sama Elizabeth biar di mobil gue aja. Suruh turun tu bocah, dikata biduan apa nyanyi-nyanyi gak jelas.” Bayu menunjuk Elizabeth yang masih asik bernyanyi. “Siap Boss, saya bawa Elizabeth ke mobil Boss Bayu!” Bayu mengangguk, lalu ia sendiri berdiri, memapah Dimas yang sudah tidak sadar. Berjalan ke mobilnya. Mendudukkan Dimas di kursi penumpang depan, Bayu tak lupa memasang seat-belt untuknya. Tak lama, Ganjar datang membawa Elizabeth yang jalannya sudah terhuyung-huyung entah gadis ini kenapa, karena dia sama sekali tidak menyentuh alkohol, ada kemungkinan Elizabeth mabuk gara-gara kekenyangan. Bayu membukakan pintu untuk Elizabeth dan Ganjar memasukkan gadis itu. Sama seperti Bayu tadi, Ganjar juga memasangkan seat-belt untuk Elizabeth. “Resto udah dibayar?” Tanya Bayu. “Be-belum boss kayaknya.” “Yaudah gue urus itu. Lo urus anak buah lo, balik! Istirahat!” Bayu mengunci mobilnya dari luar, jaga-jaga kalau dua anak mabuk itu ingin kabur. Ia masuk ke resto lagi, lalu menghampiri pelayannya. “Saya mau bayar semua tagihan meja yang di pojok itu.” Ucap Bayu ramah, ia menunjuk meja tempat Dimas dan kawan-kawan habis melakukan huru-hara. “Se-saya boleh tanya?” Ucap pelayan ini. Seorang lelaki muda yang mungkin baru menginjak usia dua puluh awal, “Ya? Tanya apa?” “I-itu, me-mereka gak nyu-nyulik cewek polos ta-tadi kan?” Tanya pelayan ini terbata-bata. Di resto yang sudah selarut ini. Hanya ia saja yang berjaga. Merangkap sebagai kasir maupun pelayan. Entah di bagaian dapur ada juga atau tidak, tapi rasanya ada koki, pasti, karena kalau tidak, anak muda ini pasti sangat kewalahan. “Bukan, mereka gak nyulik cewek itu. Kebalikannya, mereka orang-orang yang saya suruh untuk bebasin cewek itu, dia memang sebelumnya diculik.” Jelas Bayu, lalu pemuda ini membuang napas panjang, terlihat lega dengan jawaban Bayu. “Saya takut kalau kasus penculikan, nanti bisa-bisa resto kakek saya dipasangi garis polisi.” Ujarnya. “Tenang aja, aman kok. Berapa tagihannya?” Bayu mengembalikan topik perbincangan ke awal. “Ohhh, iya... semua total lima juta tiga ratus ribu rupiah.” Ucap pemuda ini. Bayu kemudian mengeluarkan dompetnya, memberikan kartu pada pemuda itu untuk membayar. “Kamu genapin jadi sepuluh juta aja tagihannya. Biar sisanya buat kamu.” Ucap Bayu. “Be-beneran Mas?” “Iya!” “Ma-makasih banyak, Mas!” Si pemuda pelayan ini tersenyum senang, semangat memproses tagihan tersebut. “Su-sudah, Mas. Terima kasih banyak!” Ucapnya tulus sambil memberikan struk dan kartu milik Bayu. “Yap sama-sama!” Bayu menerima kartunya lalu berbalik menuju mobil. Membuka kunci, ia masuk ke jok kemudi. Memerhatikan Elizabeth yang sudah terlelap di jok belakang dan Dimas yang bahkan sudah mendengkur. Bayu tersenyum melihat itu. Melihat Elizabeth yang tidur dengan tenang, dalam keadaan baik-baik saja. Lalu Dimas yang sudah mengerahkan segalanya demi membebaskan Elizabeth. Bayu melirik Elizabeth lagi, perasaan yang sejak tadi ia abaikan kini kembali. Membuat jantungnya berdetak di luar ritme yang biasa. Bayu bingung, ia tahu kalau Dimas menyukai Elizabeth. Tapi.... bagaimana dengan perasaannya ini? Perasaan yang baru saja muncul setelah sekian ribu tahun ia hidup? Kenapa? Kenapa harus Elizabeth? Kenapa wanita itu harus orang yang Dimas suka? Gosh! ******** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD