“Jangan biarkan mereka keluar hidup-hidup dari tempat ini. Kalau perlu, bunuh saja mereka semua. Boss Chandra mungkin masih mau b******a dengan mayat gadis itu!” Terdengar seruan Pak Dani di kejauhan sana yang membuat kemarahan Dimas memuncak, mendidih di kepala.
Dimas melihat ke sekelilingya, semua rekannya sudah kelelahan. Lalu ada Elizabeth yang wajahnya terlihat takut. Kemudian di depan sana, para penjaga yang mungkin sudah sangat siap untuk membunuh mereka semua.
Menarik napas dalam-dalam, Dimas berjalan ke samping, memegang tembok beton yang ada di sampingnya. Kalau ia tidak salah, tembok ini adalah dinding luar, bukan dinding bagian dalam yang dibuat seperti labirin.
“Semuanya siap-siap!” Seru Dimas, membuat Ganjar, Aldi, Baskoro, Tio, Hendra, dan Lukman, serta Elizabeth tentu saja kebingungan.
“Siap-siap apa Boss? Be prepare to die?” Tanya Aldi. Namun Dimas menggeleng, ia masih punya semangat untuk hidup, dan semangat untuk mengeluarkan tim-nya keluar dari sini dalam keadaan bernyawa.
“Prepare to run as fast as you can!” Ucap Dimas.
Sedikit senyum mengembang sedikit, membuat yang lainnya ngeri melihat boss-nya seperti itu.
“Om Dimas ngomong apa sih? Aku yo ndak ngerti.” Tanya Elizabeth.
“Kamu nanti harus lari Liz, lari yang cepet. Itu katanya!” Jelas Ganjar.
Otak Dimas bekerja, kalau benar Elizabeth adalah Timun Mas yang pernah ia baca, berarti mereka masih punya satu s*****a lagi. s*****a pamungkas yang bahkan bisa mengalahkan Buto Ijo dalam cerita.
Well, dua malah. Dan itu bisa menjadi pelarian paling epic yang pernah terjadi.
“Boss?!!” Seru Lukman ketika para penjaga mulai bergerak.
Dimas tersenyum, ia melempar timun yang dipegangnya sedari tadi, bukan ke arah penjaga tapi ke dinding yang tadi ia pegang. Timun itu meledak, menimbulkan suara ledakan bising, dan suara rontokan dinding yang hancur berkeping-keping.
“Run!” Seru Dimas, enam anggota tim-nya langsung lari keluar melewati lubang di dinding itu.
Dimas sendiri masih di dalam, ia menggengam tangan Elizabeth, merebut bungkusan yang dipegang Elizabeth. s*****a terakhir mereka.
Sambil menggendong Elizabeth melompati lubang di dinding, Dimas melemparkan terasi dalam bungkusan ke arah penjaga, lalu ia pun berlari keluar.
Dimas menurunkan Elizabeth ketika mereka sudah berada di luar, lalu kembali menggengam tangan Elizabeth, agar gadis itu tidak ketinggalan ketika berlari. Di belakang sana, terdengar teriakan dari beberapa penjaga. Dimas tersenyum karena sepertinya s*****a yang ia lemparkan itu sudah bekerja sebagaimana mestinya.
Dua mobil terlihat mendekat ke arah Dimas dan Elizabeth. Ganjar dan yang lain sudah berlari sampai mobil hingga memutuskan untuk menjemput boss-nya dengan kendaraan agar mudah lari dari tempat ini.
“Get in here!” Seru Aldi, dan tak berapa lama mobil makin mendekat dengan pintu belakang yang sudah terbuka.
Dimas membantu Elizabeth naik terlebih dahulu sebelum ia juga melompat ke dalam mobil. Setelah itu mobil pun berputar tajam menjauhi hanggar milik Pak Chandra.
Berjarak sekian puluh meter, Dimas menoleh ke belakang untuk melihat apa yang terjadi.
“Stop the car!” Pinta Dimas pada Baskoro yang menyetir. Di mobil ini hanya ada mereka ber-empat. Dimas, Elizabeth, Aldi dan Baskoro. Sisanya, mungkin berada di mobil satunya.
Mobil berhenti dan mereka semua melihat bagaimana para penjaga dan mungkin Pak Dani berusaha keluar dari hanggar yang nyaris tenggelam itu. Ya, tenggelam.
Terasi yang dilemparkan Dimas membuat munculnya kawah lumpur ajaib yang bisa menghisap apapun. Dan yang sekarang terjadi adalah... lumpur itu menghisap bangunan beton yang ada di depan mereka.
“How could that happened?” Tanya Baskoro yang terperangah dengan apa yang terjadi di depan matanya.
Ya, tenggelamnya hanggar tersebut benar-benar jauh di luar nalar manusia manapun. Namun Dimas tersenyum, ia sudah tahu ini akan terjadi.
Setelah melihat timun yang bisa meledak, lalu duri kecil yang berubah jadi rumpun bambu, Dimas tahu kalau ia tidak sedang hidup dalam dunia normal. Ya, Dunia ini tidak akan pernah bisa normal. Apalagi ada Elizabeth dengan semua keajaiban yang ia bawa. Dunia yang ia tinggali ini sudah berubah menjadi dunia fantasi. Yaa, sebelas dua belas deh sama ancol.
“It can be happened cuz I've read a child book, a myth, a folklore, you named it.” Jawab Dimas yang dianggap becanda oleh Baskoro dan Aldi.
“Keren banget Om Didim bisa bikin gedung meleleh gitu.” Ucap Elizabeth, ia juga syok dengan apa yang terjadi.
Perlahan-lahan hanggar super besar itu menghilang dari pandangan. Dari kejauhan ini, Dimas bisa melihat hanya beberapa orang saja yang sempat keluar sebelum bangunan kokoh itu tenggelam, dan salah satu di antara yang selamat adalah Pak Dani.
“Jalan Bas!” Seru Dimas pada Baskoro, lalu mobil pun melaju kembali, di belakang mereka mobil Ganjar juga ikut membuntuti.
Dimas lega. Ia berhasil mengeluarkan Elizabeth dengan selamat, serta semua anggotanya tak ada yang terluka parah atau bahkan kehilangan nyawa. Dimas bangga dengan orang-orangnya yang sangat tangguh ini. Hanya mereka ber-tujuh namun mampu melawan lusinan orang yang menghadang.
Baskoro terus menyetir sampai akhirnya mereka keluar dari jalanan berbatu yang sekelilingnya diapit oleh hutan pinus. Mobil akhirnya kembali ke aspal lagi dan jalanan pun sudah mulus. Baskoro menambah kecepatan mobil, ingin lekas keluar dari tempat tak menyenangkan itu.
“Bas, kita mampir dulu.” Ucap Dimas kepada Baskoro.
“Eh? Mampir mana boss?” Tanya Baskoro bingung. Karena yang ia tahu mereka harus kembali ke markasnya Ganjar. Tidak ada rencana mampir untuk hal apapun. Lagi pula, ini sudah hampir tengah malam.
“Coba lo cari restoran Korea yang masih buka. Kita singgah buat makan dulu.” Kata Dimas yang langsung ditanggapi dengan senyuman manis oleh Elizabeth.
“Kita mo makan yoyea? Asikkkkk!” Elizabeth girang, ia bahkan melonjak-lonjakan diri di bangkunya. Senang.
Tahu apa maksud Dimas, Baskoro segera berkoordinasi dengan tim yang ada di mobil satunya, yang langsung di respon oleh Ganjar kalau mereka setuju dan akan terus membuntuti mobil Dimas.
Aldi mengambil bagian mencari restoran Korea yang masih buka, dan untungnya ada salah satu resto yang buka dua puluh empat jam. Diletakkan ipad yang menampilkan peta tujuan di dashboard agar Baskoro dapat dengan mudah mengikuti arahan yang diberikan oleh peta digital itu.
“Kita semua capek, we deserve to eat.” Ucap Dimas.
“Yeah, and little alcohol to celebrate our successful mission!” Seru Aldi.
Ke-tiganya tertawa, tak menyangka kalau mereka baru saja mengalami momen nyaris mati diserbu para penjaga di hanggar tadi. Benar-benar di luar dugaan mereka semua sekarang bisa duduk nyaman di mobil, tertawa bersama dan sedang dalam perjalanan untuk makan makanan khas Korea.
Ketika sampai di restoran Korea yang mereka tuju, tempatnya sudah sepi namun masih buka. Ya, ini sudah pukul satu malam.
Ketika mereka masuk, penjaga resto tampak terkejut, ia kaget seolah Dimas dan yang lainnya akan menjarah resto ini. Namun untunglah Dimas mendekat dengan senyum lebar.
“Malam Mas, saya pesan semua menu yaa, masing-masing tiga porsi. Dan minumannya, emmmm 15 botol dulu aja. Dan air mineral 10 botol.”
“Ma-makan di sini, Mas?” Tanya penjaga tersebut.
Dimas tersenyum dan mengangguk.
“Ba-baik, sebentar saya siapkan.” Berbalik, Dimas menuju meja tempat tim-nya dan Elizabeth menunggu.
“Sabar ya, lagi dimasak dulu. Nanti kamu bebas mau cobain yang mana. Aku pesenin semua menu.” Ucap Dimas pada Elizabeth, membuat gadis itu girang lagi.
“Siap! Aku mau makan banyak! Aku bosen makan tempe! Makasi ya Om Dimas udah ajak aku makan. Terus om-om yang lain, makasi yaa udah bawa aku keluar dari tempat tadi. Sumpek banget di sana, bete. Mana aku sendirian terus. Huh!” Ucap Elizabeth, mulai dengan nada manja yang lucu.
Ganjar, Aldi, Lukman, Tio, Hendra dan Baskoro pun tersenyum. Mereka senang bisa membebaskan Elizabeth yang lugu ini. Selain itu, mereka juga bangga pada diri sendiri karena bisa keluar hidup-hidup dari tempat mematikan itu.
Sekian belas menit menunggu, lusinan piring berisi aneka jenis makanan terhidang di meja. Para lelaki membiarkan Elizabeth memilih makanannya baru mereka mulai makan, mengisi perut mereka yang lapar setelah bertarung tadi.
Sebelum makan, Dimas mengajak semuanya bersulang. Masing-masing menggengam botol berwarna hijau sedangkan Elizabeth yang masih di bawah umur untuk minum minuman beralkohol menggengam botol plastik air mineral.
“Cheers!” Seru Dimas.
“For Elizabeth!” Seru Hendra, membuat yang lain tertawa tapi setuju.
“Hell yes... for Elizabeth and her magic weapon! Hahahah!” Seru Ganjar dan mereka pun bersulang. Setelahnya baru mereka menyantap makanan yang ada di meja, saling bertukar menu dan tertawa, sambil sesekali menenggak minuman.
*******
TBC