DUA PULUH ENAM

1917 Words
Elizabeth bingung, sebab ia dikurung dalam kamar yang sangat luas, namun semua pintu terkunci. Ia sedih karena ditinggalkan oleh Patricia dan Dandy. “Aku tu salah apa sih? Keknya sejak ada di sini, aku tu gak buat salah. Tapi kenapa aku begini? Aku dijutekin sama Mas Bay, aku ditinggalin sama Om Dim. Mbak Wakanda? Ndak tau ke mana. Terus sekarang giliran Teteh Pati Sia sama Om Daddy pergi tinggalin aku. Padahal, aku ni primadona loh di kampung, gak biasa aku tu diginiin. Hiks, kenapa di sini aku begini?” Elizabeth mulai gak waras, sendiri di kamar ini tanpa ada seseorang yang diajak bicara membuatnya berbicara dengan dirinya sendiri. Di ruangan ini, ruangan yang terang, berisikan sebuah kasur queen size yang empuk, lemari yang dipenuhi baju-baju bagus, lalu kamar mandi yang lengkap dengan jacuzzi, atau yang disebut Elizabeth sebagai kolam belerang karena mengeluarkan air hangat, Elizabeth mendadak kangen Mbok Yem lebih dari sebelumnya. Ia rindu mbok Yem menyisir rambutnya yang panjang dengan sirkam tua. Ia juga kangen makan masakan Mbok Yem yang nikmat. Lalu, ia juga rindu pada warga dusun Serbahese yang ramah padanya. Ia kangen kampung-nya. Sudah dua malam Elizabeth terkurung, menunggu Pak Chandra Wiguna pulang dari luar negeri, kalau mendengar penjelasan Pak Dani. Elizabeth tak mengerti, kenapa ia harus menunggui Pak Chandra? Siapa Pak Chandra? Dan kalau sudah ketemu mau apa? Apakah Pak Chandra bisa memulangkannya ke pelukan hangat Mbok Yem? Kalau iya.... Elizabeth rela menunggu selama apapun. Ia hanya ingin pulang sekarang ini. Dunia tempatnya berada saat ini terlalu kejam untuknya. Celah kecil di pintu kamar Elizabeth terbuka, ia langsung berlari mendekati pintu, tujuannya ya hanya untuk mengobrol. Elizabeth stress karena sendirian begini. “Om? Ini kapan aku keluarnya Om?” Tanya Elizabeth. Penjaga itu tak menjawab, ia hanya menyodorkan makanan, dan Elizabeth terpaksa menerimanya tanpa jawaban apa-apa. “Makan mulu, makan mulu, bosen aku. Makan, tidur, be'ol, makan, tidur, be'ol, gitu aja terus!” Dumel Elizabeth. Tapi, ia kemudian duduk di lantai, menyantap makanan yang diberikan oleh penjaga barusan. Mengomel membuat perutnya lapar. Elizabeth makan sambil menatap hiasan dinding berbentuk bunga Anggrek, membuatnya semakin rindu pada kampungnya karena biasanya Mail kerap kali datang ke rumah sambil memberikannya bunga-bunga liar yang cantik dari dalam hutan. Berdasarkan info dari Mail, semakin cantik bunganya, semakin pula susah didapat, tapi kata Mail bunga itu pantas untuk seorang Elizabeth. “Duhh, Mail lagi apa ya sekarang? Kok ya aku malah jadi kangen dia gara-gara liatin bunga, huh! Apa sekarang yang dapet bunga-bunga dari Mail itu si Pupu? Secara gitu, Pupu kan ngebet banget sama Bang Mail” Mulai lagi ia berbicara sendiri, tapi kali ini di sela-sela nasi goreng yang sedang Elizabeth kunyah. “Huhhh, kacau banget, gak jelas ini! Aku ngapain di sini? Diem doang! Ya Lord kesel banget!” Seru Elizabeth kesal. Ia pun menyudahi makanannya, karena memang sudah habis. Mendengus kesal, Elizabeth akhirnya menghempaskan dirinya ke kasur. “Dari pada aku kesel, marah-marah buang energi, mending aku tidur aja!” Dan ya, rutinitas membosankannya pun dimulai. Makan, kemudian tidur, kita tunggu saja kapan Elizabeth akan be'ol, atau... dah lah gak usah ditungguin. Skip aja ya? *** Sementara itu, di bagian kota yang lain, Ganjar dan anak buahnya berhasil menangkap Maria, istrinya Dandy yang ia temukan di sebuah bar. Tanpa basa-basi, Ganjar langsung membawanya ke The Black Jack. Tempat terbaik untuk menyimpan seorang tahanan. Lantai dua The Black Jack, berisi ruangan-ruangan private untuk tamu kelas atas yang ingin hiburan tanpa terganggu siapapun. Ruangan persegi berukuran tiga kali lima meter persegi. Di lengkapi dengan mini bar, tiang pole untuk artist yang bisa di-request untuk menarikan tarian jenis apapun bahkan striptis. Juga sofa empuk yang tidak hanya diperuntukkan untuk duduk, tapi juga hal-hal lain yang dikehendaki para tamu tersebut. Selama ada uang, segala hal bisa dilakukan di sini. Ganjar membawa Maria ke dalam salah satu ruangan itu. Musik yang keras membuat teriakan Maria tidak didengar oleh siapapun. Tapi sialnya, wanita ini sudah setengah sadar, tidak ada info yang dapat digali darinya. “Dia mabuk, Ndan! Semua ucapannya ngawur, tidak ada satu kalimat pun yang jelas.” Ujar Udin, anak buah Ganjar. “Kita tunggu aja seberapa lama alkohol menjajah pikirannya, cepat atau lambat ia akan sadar dan pada saat itu ia akan memberi kita informasi yang penting untuk Boss Dimas dan Boss Bayu!” Ujar Ganjar. Meskipun Bayu sudah percaya bahwa Ganjar tak bersalah. Tapi masih ada dendam kecil yang tertanam di hati Ganjar pada Dandy dan Patricia. Gara-gara kasus ini, rekornya yang sempurna dalam menjaga orang rusak. Jadi, Ganjar berusaha sekuat tenaga untuk menangkap siapapun yang menghancurkan rekornya. Dandy, atau bahkan istrinya sekalipun harus membayar untuk semua itu. Ganjar juga akan menuntut pembalasan, terlebih pada Patricia, wanita cantik itu sudah mengelabui-nya. Mengusirnya dari penjagaan super ketat ke toko makanan Korea yang super antri. Patricia juga harus membayar perbuatan yang sudah ia lakukan padanya. Harus! “Kalian berdua jaga dia! Gak boleh sampai kabur! Gue cari tahu soal Boss Dimas dulu. Pintu gue kunci dari luar, biar gak ada yang bisa masuk atau pun kabur.” Ujar Ganjar. “Siap, baik Boss!” Seru Udin dan Asep. Ganjar berbalik, keluar dari ruangan ini lalu menutup pintunya. Sesuai yang tadi ia ucapkan, pintunya ia kunci, kemudian menyelipkan kunci ruangan nomor 10 itu ke saku kemeja di bagian dadda. Berjalan menuju ruangan Dimas, Ganjar tahu Dimas ada di tempat ini, karena ia sempat mengontaknya. Begitu sampai di depan pintu, Ganjar mengetuk pintu tersebut. Bagian ruangan ini sangat jauh dari hingar-bingar musik di depan sana, jadi Ganjar yakin, ketukan sepelan itu pun akan terdengar orang di dalamnya. “Ya masuk!” Terdengar Dimas berseru dari dalam, jadi Ganjar pun langsung mendorong pintu tersebut, masuk ke ruangan Dimas. Bisa Ganjar lihat kalau Dimas sedang sibuk dengan peta wilayah yang membentang di mejanya. “Kenapa Jar?” Tanya Dimas, tapi matanya masih tertuju pada peta. “Ini Boss, lapor.... saya hanya bisa menemukan Maria, istrinya Dandy, ia ditemukan di Bar dekat sini. Kalau Dandy hilang keberadaannya, di rumahnya, di rumah orang tuanya juga.” Dimas menarik napas pelan, akhirnya mengalihkan pandangannya dari peta, menatap Ganjar. “Mana Maria sekarang?” Tanya Dimas. “Di private room, nomor sepuluh, Boss.” Jawab Ganjar. “Okay! Saya mau kamu terus untuk mencari Dandy tapi... ada tugas penting lain, Jar.” Ucap Dimas. “Ada apa Boss?” Ganjar semangat, ia sangat ingin menemukan orang yang menculik Elizabeth. “Mengenai lokasi, saya udah cek untuk villa yang alamatnya saya temukan. Dan memang, villa itu milik Pak Chandra Wiguna, tapi feeling saya Elizabeth gak dibawa ke sana.” “Boss Dimas mau saya cek langsung ke sana?” Dimas menggeleng pelan. “Chandra Wiguna punya 15 villa, dan saya yakin Elizabeth gak bakal ada di salah satu villa itu. Setelah susah payah mendapatkan dia, lalu mengingat betapa liciknya Pak Dani. Saya yakin Elizabeth ada di tempat yang tidak terlacak, yang setiap sudutnya dijaga sangat ketat.” Dimas menunjuk peta di hadapannya. “Di mana itu Boss?” Tanya Ganjar. “Pernah ada rumor, kalau Chandra Wiguna punya hanggar besar untuk produksi n*****a yang diam-diam ia tekuni, tapi aparat tidak mau melakukan penyelidikan hanya berdasarkan rumor. Namun saya yakin, tempat itu pasti ada.” Ganjar mengangguk mengerti, ia juga jadi semangat memandangi peta yang terbentang di meja kerja Dimas. “Dim!!” Pintu ruangan Dimas terbuka, Bayu memasuki ruangannya, membuat Ganjar mundur dua langkah. “Kenapa Jar? Dapet Dandy? Atau Patricia?” Tanya Bayu. “Ba-baru Maria, Bos. Is-istrinya Dandy.” Kembali, Ganjar jadi terbata setiap ada Bayu. Entah apa yang dilakukan Bayu di mobil bersama Ganjar hingga ia menciut seperti ini. “Bagus, satu orang akan mengantarkan kita ke orang lainnya. Apaan nih?” Bayu menunjuk meta yang menjadi pemandangan utama di ruangan Dimas saat ini. “Saya lagi mau coba lacak hanggar rahasia milik Pak Chandra Wiguna, feeling saya, Elizabeth ditahan di sana.” Ucap Dimas. “Oke. Gue dapet info kalau Chandra Wiguna ada di Finland, baru bakal balik 3 hari lagi. So, kita punya 3 hari sebelum si gila itu....” Bayu tak meneruskan ucapannya karena dalam hatinya, ada sedikit penyesalan telah melakukan pelelangan pada Elizabeth tanpa mengetahui asal usul gadis tersebut. Sekarang, setelah tahu kalau Elizabeth berasal dari tempat yang sama dengannya, ia mencoba untuk melindunginya, sambil mencari cara bagaimana memulangkan Elizabeth dengan aman. “Oh iya, Boss Dimas!” Seru Ganjar tiba-tiba, ia memegang ponselnya, seperti membaca sesuatu. “Kenapa Jar?” Tanya Bayu. “Saya da-dapet koordinat dari bawahan sa-saya, mereka yang saya tu-tugaskan untuk mencari a-aset milik Pak Chandra. Ka-katanya ini---” “Jar, lo ngomong santai aja, gak usah ketakutan terus gitu.” Potong Bayu, ia jadi merasa tidak enak pada Ganjar, karena naluri sangar Ganjar menguap ketika dimarahi pagi tadi. Well, Bayu mengakui kalau ia agak kelewatan memarahi Ganjar. Sedikit! “I-iya Boss! Maaf.” Ganjar malah semakin tegang, dan meminta maaf tanpa berbuat salah. “Lanjut Jar.” Ucap Dimas sambil menahan senyum. Sepertinya, di antara semua orang yang bekerja dengan Bayu, hanya ia yang tahan dan tidak gentar, apalagi Dimas tahu semua rahasia mengenai Bayu. Gimana kalau orang seperti Ganjar juga tahu? Bisa kencing berdiri dia. “Ini, bawahan saya kasih koordinat yang dia temukan di blue-print pembangunan hanggar milik Pak Chandra. Kalau ini benar, berarti di sana lah lokasi yang kita cari.” Karena Dimas yang bertanya, Ganjar jadi lancar menjawab. Ganjar mendekat, ia menyesuaikan titik koordinat yang diberikan dengan peta digital di ponselnya. Lalu dengan pin ia menancapkan pin tersebut di peta Dimas yang ada di meja. “Di sini kira-kira Boss.” Lokasi yang di pin Ganjar berada di luar kota, agak masuk juga ke hutan melihat warna hijau yang agak gelap tergambar di peta. “Oke, Ganjar sama Dimas kalian bareng-bareng ke sana, just for checking, don't do something stupid. Kalian balik ke sini, baru kita atur strategi. Jar, lo boleh tunggu di luar, gue mau ngobrol sama Dimas dulu.” Ucap Bayu, membuat Ganjar mengangguk patuh lalu keluar ruangan Dimas. Sepeninggal Ganjar, Bayu mendekat ke arah Dimas, mempersempit jarak mereka, mata keduanya tertuju pada peta. “Yang gue tau, lokasi itu bahaya. Lo sama Ganjar harus hati-hati, pergi berdua aja biar gak ada yang curiga. Kalau kalian ketemu orang, pura-pura kalau kalian tersesat. Gue balik ke rumah Kakek sebentar, masuk ke portal untuk dapat tambahan kekuatan. You know? Gue tiap dari sana selalu lebih fresh and more stronger.” Dimas mengangguk. “Lo sama Ganjar, gak boleh ke sana sebelum gue balik.” “Ta-tapi Boss.... kan kita gak bisa prediksi kapan Boss balik?” Tanya Dimas. Keduanya tahu bagaimana sistem waktu yang tidak sinkron antara ke dua dunia. “Tiga hari! Kalau gue gak balik dalam tiga hari, berarti lo boleh maju sendiri.” Ucap Bayu tegas. Dimas mengangguk patuh. “So, yok... kita jalanin rencana masing-masing. Carefull!” Seru Bayu, ada kesungguhan dalam suaranya ketika menyuruh Dimas hati-hati. Seolah kalau Bayu tidak ingin terjadi apa-apa pada Dimas. “Boss juga. Terakhir ke sana, Boss diracun sama anak kecil. So.... stay away from human, maybe? Are they humans? Emmm is Elizabeth also a human?” Dimas mendadak bingung. “Udah, kita bahas itu nanti aja. Sekarang, kita harus hati-hati. Inget ya Dim, tiga hari!” Tegas Bayu. Dimas mengangguk. Keduanya kemudian keluar dari ruangan. Ada Ganjar yang menunggu mereka. Ketiganya berjalan bersama ke luar The Black Jack. Di parkiran mereka pisah mobil. Bayu mengendarai sedan hitam miliknya, melesat langsung di jalanan dengan kecepatan tinggi. Sedangkan Dimas dan Ganjar mempersiapkan skenario mereka dulu sebelum akhirnya menjalani misi mencari Elizabeth. ****** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD