DUA PULUH LIMA

1859 Words
Begitu Dimas memasuki unit apartment ini, hatinya mencelos, karena benar apa yang dikatakan Ganjar. Apartment ini kosong. Tidak ada Elizabeth dan Patricia di sudut manapun. “Anehnya Boss, gak ada tanda-tanda k*******n atau pengeluaran paksa, semuanya utuh, TV bahkan masih menyala.” Ujar Ganjar sambil menunjuk TV layar datar ukuran 70 inch di depan mereka. “Kamu bener, sudah hubungi pihak keamanan?” Tanya Dimas. “Sudah Boss tapi di bagian keamanan hanya ada tampilan CCTV yang sedang berlangsung, untuk rekaman semuanya ada di ruang record dan itu baru buka besok pagi,” Jelas Ganjar. Dimas mendecak kesal, ia membanting diri ke sofa di belakangnya, memijat dahinya untuk meredakan sakit kepala yang mendadak ia rasakan. Sambil melirik ke semua ruangan, kepala Dimas berisi pikiran-pikiran tidak jelas. Bagaimana jika Elizabeth dan Patricia disergap ketika sedang menonton? Apakah mereka dibius? Apakah mereka diperlakukan kasar? “f**k!” Dimas memaki, membenci pikirannya sendiri yang bergerak liarr. Ganjar masih berdiri tegak, ia tegang tentu saja. Baru menghadapi Dimas saja ia sudah keringat dingin. Apalagi jika Bayu yang datang? “Yaudah Jar, lo balik aja. Gue yang nunggu di sini sampe ruang record buka besok.” Ujar Dimas, ia mencoba menenangkan diri. Jika ada Ganjar di sini, bisa-bisa ia menyalahkan Ganjar atas hilangnya Elizabeth. “Bener Boss?” Tanya Ganjar. “Iya, balik sana lo, tutup pintunya.” “Baik boss!” Tahu kalau suasana hati Boss-nya sedang tidak baik, Ganjar tidak berani membantah. Ia hanya mengangguk, lalu berbalik, menjauhi Dimas, berjalan menuju pintu lalu menutupnya dari luar. Sepeninggal Ganjar, Dimas berbaring di sofa bed yang ia duduki ini. Memikirkan siapa yang mengkhianatinya. Pilihannya hanya dua, Ganjar atau Patricia. Karena hanya keduanya yang tahu lokasi Elizabeth. Ganjar ada di sini, melaporkan kejadian hilangnya Elizabeth dan Patricia. Bagaimana kalau Ganjar yang mengkhianatinya? Mengorbankan Elizabeth dan Patricia? Patricia yang membawa kabur Elizabeth? Tapi.... Patricia sangat setia dan baik pada Dimas. Rasanya aneh kalau Patricia yang ia percaya itu tega mengkhianatinya. Kepala Dimas dipusingkan oleh siapa yang pantas disalahkan. Kalau dalang dari semuanya, Dimas tahu, sudah pasti dan tidak lain adalah Pak Dani. Orang yang sedari awal berbohong mengenai pembatalan lelang Elizabeth. Dimas memaki lagi. Ia sangat kesal sekarang. Di sisi lain, ia takut, takut jika Elizabeth diperlakukan macam-macam oleh Pak Chandra Wiguna. Orang tua itu kan terdengar bengis kepada wanita. Makanya, sudah beberapa kali berita tentang perceraiannya dengan berbagai wanita dimuat oleh media. Rasanya, Dimas tidak sanggup memikirkan semua hal buruk itu. Lebih mengerikan jika pikirannya itu benar. Elizabeth saat ini dalam bahaya dan Dimas tidak tahu ia berada di mana. Gosh!!! Seruan Dimas menggema di seluruh ruangan. Akhirnya Dimas melamun, ia tidak bisa tidur karena pikirannya terlalu sibuk. Sampai akhirnya, hari sudah pagi. Ia kaget sendiri mendengar alarm-nya berbunyi. Mematikanan raungan bising dari ponselnya, Dimas akhirnya bangkit, ia menuju kamar Elizabeth dan masuk ke kamar mandi. Dari kamar ini, terlihat semua barang-barang Elizabeth ada di tempatnya. Pakaian lengkap, dan lain sebagainya. Mencuci muka sebentar, Dimas beranjak ke kamar milik Patricia. Dan ternyata, kamar Patricia pun sama, semua barang berada di tempatnya. Tidak ada yang hilang. Penasaran, Dimas mengambil ponselnya, lalu menghubungi nomor Patricia. Syok, ternyata panggilan Dimas terhubung, namun hanya beberapa saat sebelum akhirnya panggilan Dimas ditolak. “Apa Patricia yang menculik Elizabeth?” Tanya Dimas pelan pada dirinya sendiri. Dimas menarik napas. Kemarin ia dipusingkan oleh portal-nya Elizabeth, sekarang dia dipusingkan dengan kasus penculikan Elizabeth. Huuuuh! Mengeluarkan napas pelan dan teratur, Dimas kali ini mencoba berpikir jernih. Ia menggeledah kamar Patricia, mencoba mencari setitik petunjuk tentang rencana penculikan ataupun tempat untuk menyandera Elizabeth. Dimas menyisir setiap sudut kamar, bahkan sampai sampah sekalipun ia periksa, dan benar saja. Dimas menemukan sebuah kertas lecek yang di atasnya tertulis alamat sebuah villa. Dengan ponselnya, Dimas mengetik alamat tersebut, mencari tahu lokasi pastinya, dan beberapa pertanyaan ke seseorang, Dimas dapat memastikan kalau villa tersebut dimiliki oleh Pak Chandra Wiguna. Jadi.... Patricia yang menculik Elizabeth? Tahu kalau Ganjar akan selalu berjaga jadi ia menyuruh Ganjar pergi lalu dengan begitu ja bisa melenggang santai keluar dari apartment ini membawa Elizabeth, iya? Dimas mencari lagi, meskipun sudah mendapatkan alamat dan itu merupakan petunjuk yang besar, hati Dimas masih belum tenang, seperti perlu menemukan petunjuk lainnya. Hampir satu jam Dimas mengacak kamar Patricia sampai ia kaget sendiri begitu ponselnya berbunyi, sebuah panggilan masuk, dari Bayu. “Iya, Boss?” Dimas menjawab panggilan tersebut. “Lo di mana? Kakek nyari.” “Di apartment, Boss! Elizabeth hilang.” “Hah? Hilang? Hilang gimana?” Tanya Bayu terdengar bingung. “Ya hilang, dia sama Patricia hilang gak ada di sini. Tapi saya sih dapet sedikit pengunjuk di kamar Patricia. Ada alamat sebuah Villa milik Pak Chandra Wiguna.” “Kamu cari tahu pihak ke-tiga-nya!” Seru Bayu. “Pi-pihak ke-tiga?” Tanya Dimas bingung. “Ya dari mana juga Patricia kenal sama Pak Dani, atau Pak Chandra? Pasti ada orang lain. Ganjar mana?” “Ganjar sudah saya suruh pulang Boss semalem, biar saya bisa mikir jernih.” Ucap Dimas. “Lo malah nyuruh calon tersangka kita pulang? Kalau dia kabur gimana?” Nada suara Bayu langsung terdengar jengkel. “Ta-tapi, ini kayaknya si Patricia, Boss. Saya nemu petunjuk ya di kamar Patricia.” “Tapi gak ada jaminan kalau bukan Ganjar yang buang clue itu buat kambing hitam-kan Patricia, kan?” Ujar Bayu, membuat Dimas termenung karena ia tak berpikir jauh ke sana. Dimas percaya pada anak buah-nya. “Telefon dia! Suruh ke sana sekarang, sebentar lagi gue otw. Mana lo bawa mobil gue lagi!? “ Seru Bayu, masih dengan nada suara yang kesal. “Oke, Boss!” Ucap Dimas. Kemudian sambungan telepon terputus, Dimas segera menghubungi Ganjar untuk memintanya datang. Untungnya Ganjar langsung mengangkat panggilan telepon tersebut dan siap sedia diminta ke apartment ini. Menyerah dengan kamar Patricia yang sudah ia bongkar, akhirnya Dimas keluar dari apartment, menuju kantor pengelola untuk mendapatkan rekaman CCTV di lorong atau di mana pun yang bisa memberikan petunjuk tentang kepergian Elizabeth dan Patricia. Ketika Dimas sedang berdiskusi untuk meminta rekaman CCTV dibuka, Bayu datang dengan wajah garangnya. Membuat si pengelola yang tadinya tidak mau membongkar CCTV yang menurutnya rahasia, jadi mau membukanya untuk Bayu, bahkan, mereka diperbolehkan mengopi file tersebut. Akhirnya, Dimas mengopi seluruh titik kamera berada selama 24 jam terakhir. “Dah, kita liat di kantor aja. Ganjar mana? Kok duluan gue yang sampe?” Tanya Bayu ketika mereka keluar dari ruang pengelola. “Ada di depan, saya suruh stand by di mobil. Boss Bayu nyetir sendiri?” Ujar Dimas. “Iya, lo bawa mobil gue, gue ngikut Ganjar, biar gue pretelin tu bocah!” Ujar Bayu dengan nada kesal. Mendadak, Dimas merasa kasian pada Ganjar, mengingat kemarin saja Ganjar sudah mandi keringat. Apalagi sekarang? Bayu pasti akan mencecarnya habis-habisan dengan berbagai macam pertanyaan. Mengantar Bayu sampai mobil, Dimas kemudian beralih ke mobil Bayu untuk membawanya ke kantor. Letak kantor tidak terlalu jauh dari apartment jadi kurang dari satu jam mereka sudah sampai, meskipun jalanan pagi ini lumayan macet. Dimas sampai duluan, ia menunggu Bayu di ruangannya, sambil membuka semua rekaman CCTV di komputer Bayu yang sudah menyala. “Udah lo pindah?” Bayu memasuki ruangan sambil bertanya. Wajahnya terlihat merah karena amarah. Di belakangnya Ganjar terlihat sangat pucat. “Sini Boss, kita liat bareng-bareng aja.” Ajak Dimas, ia bediri, membiarkan Bayu duduk di kursi miliknya lalu Dimas sendiri berdiri di sebelah Bayu. Ganjar mendekat, ia berdiri di belakang keduanya namun tetap bisa melihat ke layar. “Jam berapa Patricia telepon lo kalau dia minta makanan?” Tanya Bayu. “Ja-jam delapan le-lebih dikit, Boss.” Jawab Ganjar sedikit terbata. Bayu segera memutar CCTV di lorong apartment, lalu mempercepat waktunya menjadi jam 8 malam. Dipercepat 4x, mereka pun sama-sama menonton tayangan ulang kejadian kemarin. Dari rekaman ini, pukul 20.50 terlihat kalau Elizabeth dan Patricia keluar dari unit berdua, tanpa ada siapa-siapa lagi. Mereka berjalan bergandengan lalu masuk ke dalam lift. Bayu kemudian membuka rekaman bagian lift pada waktu yang sudah di tentukan, dan terlihat Elizabeth dan Patricia ada di dalamnya. Elizabeth terlihat diam sedangkan Patricia asik dengan ponselnya. Dari tayangan di sini, terlihat kalah Patricia menekan tombol B untuk tujuan turun lift-nya. Ketika mereka keluar, Bayu memindahkan rekaman kamera CCTV di lobi keluar lift, terlihat Patricia yang celingukan mencari sesuatu sebelum akhirnya pergi. Bayu mencari rekaman lain, yang memperlihatkan jejak kepergian dua orang ini, sampai akhrinya terlihat Patricia dan Elizabeth masuk ke sebuah mobil berwarna hitam. “Patt?!” Ujar Dimas tak percaya. Patricia yang selama ini dipercayainya, ternyata tega mengkhianati dia seperti ini. Apa? Apa yang dijanjikan oleh Pak Dani sampai Patricia tega melakukan ini? Uang kah? Bukan kah selama ini Patricia tidak pernah kekurangan uang? Atau apa? Tanya Dimas dalam hati. “Apa jaminannya kalo bukan lo yang nyetir mobil itu, Jar?” Tanya Bayu dengan suaranya yang berat. “De-demi Tuhan, Boss! Sa-saya sama se-sekali gak terlibat da-dalam semua ini!” Seru Ganjar, tubuhnya gemetar sekarang. Dimas melirik Ganjar. Bisa-bisanya bodyguard paling hebat ini bergetar ketakutan di bawah pertanyaan Bayu yang biasa saja. Dimas yakin, di luar sana ada sejuta orang yang mungkin takut melihat Ganjar. Tapi di sini? Di hadapan Bayu? Ia mati kutu. “Boss, play lagi aja, kita liat sampai mobilnya keluar.” Ujar Dimas, menghentikan lirikan Bayu yang sepertinya bisa menusuk Ganjar hanya dengan tatapan tajam itu. Bayu kembali memutar rekamannya dan berpindah ke rekaman lain agar bisa mengikuti pergerakan mobil yang membawa Elizabeth. “Stop Boss!” Seru Dimas, dengan refleks yang hangus, Bayu langsung menekan tombol pause di detik yang Dimas minta. “Look, ini mobil kita kan yang papasan sama mobil yang bawa Elizabeth?” Seru Dimas, dan di bagian ini juga, mereka dapat melihat nomor polisi mobil yang menculik Elizabeth. “Boss, kalau gak salah, itu plat nomornya Dandy, deh.” Ucap Ganjar. Bayu melirik ke arah Ganjar, lalu ke arah tampilan di layar, yang sayangnya, dia tidak hapal nomor polisi Dandy... Ya, apa urusannya seorang Boss Besar seperti Bayu hapal nomor polisi karyawannya? “Coba Dim, cek apa benar itu nomor polisi mobilnya Dandy!” Seru Bayu, Lalu, ia pun melanjutkan rekaman lagi, tapi menunggu di lobi parkiran basement, sampai akhirnya muncul Ganjar yang berjalan dari mobil menuju lift dengan membawa jinjingan makanan. Ganjar jujur, bagus. Bisik Bayu dalam hati. “Oke, kita tau siapa yang bawa Elizabeth dan kita kenal siapa orangnya. Cari tau pelan-pelan, jangan langsung to the point soal Dandy atau Patricia. Dim, lo urus alamat villa, dan cek kebenaran nomor polisi, kalau bisa, lo sogok buat minta rekaman CCTV jalanan biar kita tau mereka ke mana.” Bayu langsung memberikan instruksi. “Siap, Boss!” “Ganjar, gue percaya sama lo. Sekarang, lo turunin semua anak buah lo buat cari info sebanyak-banyaknya dan kalau bisa, lo dateng ke lokasi yang Dimas kasih setelah Dimas confirm kalau benar itu villa milik Pak Chandra Wiguna.” “Siap, Boss!” Seru Ganjar, pucat di wajahnya sudah memudar, ia lega karena Bayu percaya padanya dan ia memiliki semangat untuk bekerja lagi, mengabdi lagi kepada Dimas dan Bayu. “Oke, itu aja. Gue mau cari info dulu soal Pak Chamdra. Yok!” Bubar, Bayu tetap diam di ruangannya sementara Dimas dan Ganjar keluar, siap menjalankan tugas masing-masing sesuai instruksi. ******* TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD