Sudah dua puluh empat jam dan Bayu belum juga kembali, Dimas amat sangat gelisah, ia ingin segera pergi. Kemarin, ia sudah berhasil memastikan kalau benar adanya hanggar ilegal milik Pak Chandra Wiguna ada di titik koordinat yang didapatkan dari Ganjar.
Dan entah kenapa, Dimas sangat yakin Elizabeth berada di sana.
“Sabar Dim.” Ucap Kakek Yadi, melihat Dimas yang mondar-mandir di halaman belakang sambil sesekali melirik ke arah pohon keramat, menunggu kemunculan Bayu.
“Iya, Kek. Tapi... gak bisa ya kita nyusul Boss Bayu? Jemput dia pulang.” Kata Dimas, ia benar-benar sudah tak bisa menunggu lebih lama lagi. Di kepalanya Elizabeth sudah berteriak-teriak meminta pertolongannya.
“Gak bisa Dimas, jangan buat Bayu marah lagi! Kamu tahu peraturannya kita gak bisa menembus portal itu dengan selamat.” Ucap Kakek Yadi tegas, membuat Dimas mengangguk pasrah.
“Udah, kamu duduk dulu yok, Kakek buatin teh sambil nunggu.” Kakek Yadi menarik pelan tangan Dimas, membawanya ke kursi yang ada di teras belakang rumah, menghadap pohon keramat.
Dimas duduk, masih gelisah sementara Kakek Yadi masuk ke bagian dalam rumah. Mencoba tenang, Dimas mengatur napasnya, sebisa mungkin menahan diri untuk tidak melompat menembus portal pelangi yang ada di hadapannya.
Kakek Yadi datang di saat yang tepat, sambil membawa dua cangkir yang di dalamnya berisi teh hangat.
“Ayok minum dulu, Mas.” Ucap Kakek Yadi lembut, seraya meletakkan nampan minuman di atas meja. Dimas tidak menyaut tetapi ia mengambil satu cangkir lalu menyesap teh hangat tersebut.
“Bayu pasti pulang, kamu tenang aja.”
“Tapi Kek, kita gak tahu Bayu pulangnya kapan, itu hal yang gak pernah kita tahu kan?” Sahut Dimas.
“Iya, tapi pasti.... pasti dia pulang.” Suara Kakek Yadi terdengar sangat yakin. Mungkin untuk menenangkan Dimas yang masih gelisah ini.
Hening di antara keduanya. Kakek Yadi menikmati teh buatannya, juga biskuit manis yang tersedia. Lain hal-nya dengan Dimas yang menatap lurus ke arah pohon, berharap sosok Buto Ijo si raksasa itu keluar dari lubang pohon di hadapannya.
Lama sekali keduanya saling diam, sampai langit pun sudah berganti warna. Keheningan tersebut akhirnya pecah oleh suara ponsel Dimas yang tiba-tiba berdering nyaring.
Dimas membuka ponselnya, sebuah panggilan dari Ganjar yang langsung ia angkat tanpa basa-basi.
“Hallo, Jar. Kenapa?” Tanya Dimas.
“Ini Boss, saya dapat info katanya Pak Chandra Wiguna sudah ada di pesawat kembali ke Indonesia.”
“Hah? Bukannya masih besok?”
“Info yang saya dapatkan sih katanya pulangnya dipercepat.”
“Berarti kita harus bergerak sekarang!” Seru Dimas. Adrenalin dalam tubuhnya mendadak meningkat drastis. Ia harus menyelamatkan Elizabeth malam ini.
“Ta-tapi Boss, kan Boss Bayu bilang harus tunggu.”
“Bayu gak ada! Gue yang bikin keputusan!”
“O-oke Boss!”
“Tiga puluh menit lagi, di markas lo, siapin semuanya!” Dimas memberi perintah lalu memutus sambungan telepon bahkan sebelum Ganjar sempat menjawabnya.
Kakek Yadi langsung menuntut penjelasan begitu Dimas mematikan telepon.
“Kenapa?”
“Kakek tungguin Boss Bayu aja ya? Dimas harus berangkat sekarang Kek, kata ganjar, Pak Chandra Wiguna sudah berada di pesawat pulang.”
“Tapikan instruksi dari Bayu sudah jelas, Dim. Kamu harus tunggu dia dulu.”
“Gak ada waktu Kek, kita bakal nyesel kalau gak sempet selamatin Elizabeth.” Ujar Dimas kekeuh.
“Terus kamu maunya gimana sekarang?” Tanya Kakek Yadi, nada suaranya masih pelan, berusaha menenangkan Dimas.
“A-aku, aku boleh ya Kek, jemput Boss Bayu!” Pinta Dimas, yang langsung ditolak oleh kakek Bayu dengan sebuah gelengan kepala yang tegas.
“Engga, Mas! Kamu gak bakal bisa ke sana, kalau pun bisa, kamu gak bakal tau jadinya kaya apa. Bayu aja kehilangan ingatannya, apalagi kamu?”
“Terus gimana Kek?!” Tuntut Dimas.
“Kamu pergi, selamatkan Elizabeth dengan Ganjar dan yang lain, Kakek di sini menunggu Bayu.” Ucap Kakek Yadi.
“Yaudah, Dimas langsung berangkat sekarang kek!” Seru Dimas. Ia menyempatkan diri mencium punggung tangan Kakek Yadi, sebelum akhirnya berbalik dan meninggalkan rumah keluarganya itu.
Dengan adrenalin yang mengalir di seluruh tubuhnya, Dimas mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang tinggi. Di tambah jalanan petang ini sangat lengang, Dimas pun menginjak gas lebih dalam lagi dari sebelumnya.
Akibat gaya menyetirnya yang seperti orang kesetanan, Dimas tiba di markas Ganjar kurang dari tiga puluh menit. Memarkir mobil asal-asalan, Dimas melepas seat-belt kemudian keluar dari mobilnya, berjalan cepat menuju bagian dalam markas Ganjar.
“Gimana?” Tanya Dimas begitu masuk.
Markas Ganjar merupakan sebuah gudang berukuran lumayan besar, di dalamnya merupakan asrama bagi para bodyguard dan bagian utamanya adalah sebuah lapangan besar tempat para bodyguard melatih fisik mereka, semacam gym. Lalu, ada sebuah ruangan rahasia juga yang berisi s*****a api, dan lain sebagainya. Karena instruksi Dimas, semua peralatan tempurr itu sudah ada di luar, dan terlihat beberapa bodyguard sedang bersiap.
“Orang yang saya suruh berjaga di dekat hanggar mendengar obrolan Pak Dani di telepon, katanya Pak Chandra sudah ada di perjalanan pulang, Boss.” Ganjar menjelaskan ulang info yang ia ketahui itu.
“Ada berapa orang yang ready?” Tanya Dimas, matanya melihat sekeliling, menghitung para bodyguard ini dalam hati.
“Dua puluh lima orang, Boss.” Jawab Ganjar langsung dan tegas.
“Gak, itu terlalu banyak-”
“Tapi, Boss. Penjagaan di sana sangat ketat!” Seru Dimas.
“Iya, tapi kita gak bakal nyerang, Jar. Berapa pun jumlah kita, kita pasti kalah kalau nyerang tempat itu.”
“Ja-jadi gimana Boss?” Ganjar bingung sendiri.
Dimas menyibakkan jaket yang ia pakai lalu menarik sebuah kertas berwarna biru dari balik tubuhnya. Membentangkan kertas tersebut di atas meja yang berisi macam-macam senjjata.
“Ini, gue dapet dengan harga yang mahal. Blue print ini nunjukin denah hanggar tersebut. Di sini--” Dimas menunjuk deretan gambar kotak-kotak yang bisa diinterpretasikan sebagai kamar atau ruangan.
“Kayaknya mereka sekap Elizabeth karena di gambar ini gak ada ruangan lainnya. Tapi.... kamar-kamar ini ada di bagian terdalam hanggar, jadi.... kita bisa lewat sini.” Dimas menunjuk sebuah gorong-gorong rahasia yang ada di samping bangunan.
“So, kita gak perlu banyak orang. Kita butuh orang-orang berbadan ramping buat masuk ke lubang itu, dan saling melindungi ketika ada penyergapan. Tapi gue harap, kita gak terdeteksi.” Jelas Dimas.
Ganjar dan bodyguard yang menyimak penjelasan Dimas pun mengangguk. Setuju dengan rencana yang sudah diatur oleh Boss-nya itu.
“Persenjataan semua lengkap, dan... Kayaknya 6 orang aja yang berangkat, jadi Jar... lo pilih orang lo 4 orang yang bakal ikut sama kita, biar gak terlalu banyak orang curiga.” Ucap Dimas.
“Siap Boss!” Ganjar langsung berbalik, mengarah ke anak buahnya yang sudah siap sedia. Sementara itu, Dimas mengambil beberapa s*****a dari meja, memeriksanya satu-satu sebelum menyelipkan barang tersebut di balik bajunya. Tak hanya itu, Dimas juga menyiapkan pisau jaga-jaga kalau ia harus duel dalam jarak dekat dengan penjaga hanggar Pak Chandra Wiguna.
Setelah semua dirasa lengkap, Dimas, Ganjar dan 4 orang yang ikut yaitu, Lukman, Baskoro, Tio dan Hendra berkumpul untuk instruksi singkat dari Dimas sebelum akhirnya mereka naik ke dua mobil yang mesinnya sudah menyala.
Tio menyetir, Dimas duduk di belakang sementara yang duduk di bangku penumpang depan adalah Baskoro, ketiga orang sisanya ada di mobil lain. Selama melewati jalanan kota ketiganya hening tanpa suara, Tio menyetir dengan kecepatan tinggi, tapi begitu jalanan berubah tidak mulus ia menyetir hati-hati, dan parahnya mereka tidak mengikuti jalanan yang ada tetapi menembus rumput-rumput yang tinggi agar tidak terlihat siapapun, dan lampu kendaraan pun dinyalakan yang jarak dekat, hanya untuk pengelihatan agar tidak menabrak pohon.
Karena berkendara di jalan yang tidak rata dan dengan penerangan seadanya, butuh waktu yang lumayan lama sampai akhirnya mereka sampai di titik point di mana mereka berhenti.
Mesin mobil dimatikan, agar tidak terdengar suara ataupun cahaya. Dalam kegelapan, ke-enam orang ini berkumpul sebentar sampai mata-mata Ganjar yang sudah berada lebih dulu bergabung dengan mereka.
“Jadi gimana Boss?” Tanya Aldi, pendatang baru yang bergabung dalam kelompok ini.
“Siapa pun yang temuin Elizabeth, langsung cari jalan keluar, bawa dia pergi, kunci mobil biarin gantung aja, jadi bisa siap pergi kapan pun.” Dimas mengutarakan rencananya.
“Baik Boss!” Seru enam orang di sekelilingnya.
“Tempat ini, gak ada Elizabeth aja dijaga ketat, apalagi dengan adanya Elizabeth. Gue yakin penjagaannya bisa double, jadi... kita harus ekstra hati-hati dan berjalan sepelan mungkin.”
“Siap Boss!”
“Dari lubang masuk, kita harus berjalan merangkak sekitar 10 menit untuk sampai di tempat keluar. Ada dua pintu keluar dari sisi barat dan timur. Gue, pilih ke pintu Barat, sisanya ikut Ganjar ke sisi Timur. Gue harap kita gak terdeteksi.”
Semuanya hening ketika Dimas mengambil napas sebentar sebelum melanjutkan pidatonya.
“Semua pakai jam tangan?” Tanya Dimas, dan semuanya langsung mengangguk.
“Ayok set timer, kita jalanin misi ini 2 jam aja. Kalau dalam 2 jam kalian masih di dalam, langsung cari jalan keluar sendiri, oke?” Lagi-lagi, pendengarnya mengangguk.
Selesai, mereka pun berjalan pelan dipimpin oleh Aldi yang sudah menghafal wilayah ini, sedangkan Ganjar berada di paling belakang, menjaga rekan-rekannya.
Berjalan sambil membungkuk, akhirnya mereka sampai di depan sebuah gerbang besi berbentuk lingkaran. Entah untuk apa saluran pembuangan ini dibuat, karena tidak dibuka.
Lukman mengguyurkan oli pada engsel pintu tersebut, jaga-jaga pintu itu berderit ketika dibuka dan mengagalkan rencana mereka. Lalu Ganjar, Baskoro dan Hendra bersama-sama memutar tuas pintu yang sangat keras.
Ketika terbuka, formasi jalan mereka seperti tadi. Aldi memimpin di depan, lalu dibuntuti oleh Hendra, Dimas, Tio, Baskoro, Lukman dan terakhir Ganjar. Di belakang, Ganjar sengaja tak menutup pintu tersebut agar memudahkan mereka untuk nanti keluar.
Merangkak sepanjang lorong, sekitar 5 menit mereka melihat persimpangan. Sesuai arahan, Dimas, Tio dan Baskoro ke arah barat dan sisanya bergerak ke arah sebaliknya.
Lanjut merangkak, akhirnya Dimas menemui jalan buntu yang ujungnya terdapat pintu seperti yang tadi mereka buka di depan. Tio langsung bergerak ke depan untuk melumuri engsel pintu sebelum Baskoro memutarnya sekuat tenaga hingga akhirnya terbuka.
Mengintip untuk melihat keadaan, Baskoro akhirnya memberi isyarat aman, dan ia pun keluar dari gorong-gorong tersebut, diikuti oleh Dimas dan Tio.
“Go!” Ucap Dimas berbisik, mereka pun berjalan pelan-pelan menempel dinding, berusaha tak terlihat.
Tiba-tiba, Baskoro berhenti. Ia mengintip lagi ke lorong lain, dan ia berbalik ke belakang.
“Boss, ada ruangan yang dijaga. Besar kemungkinan itu tempat Elizabeth.” Ucap Baskoro.
“Berapa orang?” Tanya Dimas.
“Tiga.”
“Oke, masing-masing kita satu. Jangan pake pistol, berisik, kita deketin pelan-pelan aja buat habisi mereka.”
“Siap Boss!”
Dan ketiga orang ini pun bergerak maju, siap mempertaruhkan nyawa sekali pun demi membebaskan Elizabeth.
*********
TBC