DUA PULUH SEMBILAN

1707 Words
Elizabeth sudah bosan setengah mati di kamar ini. Sekarang saja, ia rebahan dengan posisi terbalik di atas ranjangnya. Badannya menempel di kasur sedangkan kakinya menempel lurus ke dinding. Sesekali ia mengangkat pinggulnya seperti orang yang sedang berolahraga. Ruangan yang luas ini hening sekali. Elizabeth tak punya teman bicara, tak punya hiburan dan tak ada yang bisa dimainkan juga. Ia bosan bolak-balik memutar keran air hanya agar airnya berganti-ganti dari dingin ke hangat. Ia juga bosan memencet saklar lampu untuk membuat ruangan menjadi gelap atau terang. Menggerak-gerakkan lukisan di dinding dengan kakinya, Elizabeth pun bersenandung sendiri, mendendangkan lagu yang bahkan belum pernah di dengar sebelumnya bahkan oleh dirinya sendiri, alias.... Elizabeth mengarang saking gabut-nya. “Hemm, aku ngapain lagi ya? Hari ini aja, aku udah mandi lima kali. Udah ganti baju dua belas kali. Ya Gusti, kalo kaya gini sih aku mau pulang aja ke Dusun. Aku gak apa-apa deh dimanfaatin sama Tuti dan Pupu, yang penting aku ada temennya, ndak sendirian begini.” Mulai, Elizabeth berbicara sendiri untuk mempertahankan kewarasannya. Ia memperbaiki posisinya, duduk di kasur menghadap ke guling yang ia tegakkan seolah-olah guling itu adalah teman bicaranya. “Untung ada kamu, jadi aku gak sendiri banget. Kamu udah lama di sini?” Tanya Elizabeth pada guling putih di hadapannya. “Ohh udah 5 tahun. Lama juga yaaa, udah pernah naik jabatan?” Pertanyaan Elizabeth makin melantur. “Ohh dulunya cuma jadi bantal sofa. Kemajuan pesat berarti yaa, bisa jadi guling. Terus-terus, kamu gajinya berapa Ling?” Elizabeth ekspresinya pun seperti orang yang sedang mewawancarai orang penting. Terlihat serius dan duduknya juga tegak. “Wihhh banyak juga dong, satu miliyar tuh nol-nya berapa ya?” Tanya Elizabeth, namun sepertinya ia bosan, dan ia tak melanjutkan wawancara itu. Elizabeth turun dari kasur, berguling-guling di lantai yang bersih hingga ia menabrak tembok, kemudian ia berguling ke sisi lain kamar. Begitu terus sampai tiga balikan dan jidatnya bertanda merah. Masih bosan, akhirnya Elizabeth berjalan ke arah jendela. Membuka gorden jendela tersebut lebar-lebar namun tak ada yang bisa dilihat. Hari sudah malam dan di luar sana gelap total. “Di luar tuh berasa kaya di kampung aku deh, gelap, gak ada lampu. Hemmmm apa di luar ada air terjun pelangi juga yaa?” Tanya Elizabeth penasaran, tapi tak ada orang yang mengetahui jawaban dari pertanyaannya itu. Karena emang di kamarnya gak ada orang juga sih. “Aku ngapain lagi ya? Itu si Bapak-bapak yang katanya mau ketemuin aku mana sikkk? Kok gak pulang-pulang, nyebelin banget!!” Keluh Elizabeth, ia akhirnya duduk di sofa yang menghadap ke jendela, gak ada apa-apa, gak ada pemandangan yaang penting bisa liat luar, udah sebel banget dia tu sama ruangan ini. Sedang asik memandang kegelapan di luar sana, pintu kamar Elizabeth tiba-tiba terbuka. Ia terlonjak senang karena akhirnya ada orang yang bisa diajak bicara, lalu Elizabeth makin girang saat orang yang membuka pintunya itu menurunkan penutup wajah. “Om Dimas! Ya ampun Ommmm!” Elizabeth berjingkrak, ia melompat dari sofa lalu berlari ke arah Dimas, memeluk pria itu. “Kamu gak apa-apa, Liz?” Tanya Dimas sambil melepas pelukan Elizabeth agar bisa melihat wajah gadis itu memastikan ia memang baik-baik saja. Dimas juga terdengar sangat peduli dengan keadaan Elizabeth. Namun, di hatinya sedikit lega, tahu kalau bisa berhasil menemukan gadis ini sebelum Pak Chandra Wiguna kembali ke Indonesia. “Gak apa-apa, Om. Ya ampun Om, aku seneng banget Om Dimas dateng ke sini. Mau temenin aku ya Om ya?” Entah berapa kali Elizabeth mengucapkan kata Om, tapi Dimas tidak keberatan dipanggil seperti itu. “Gak, aku gak mau temenin kamu di sini.” Ujar Dimas, membuat Elizabeth merengut sedih. “Aku mau bawa kamu balik, ngapain kamu di sini?” Lanjut Dimas dan kesedihan di wajah Elizabeth pun mendadak sirna. Ia langsung tersenyum senang. “Yaudah, ayuk! Yuk kita pulang.” Ajak Elizabeth. Pintu kamar Elizabeth terbuka lebih lebar, Tio dan Baskoro bergabung masuk ke kamar Elizabeth sambil menyeret mayat penjaga yang telah mereka kalahkan sebelumnya. “Ya Gusti, apaan neeh woyy?!” Elizabeth menjerit takut karena mayat-mayat tersebut berlumuran darah di beberapa bagian tubuhnya. “Shuuuh, kamu jangan berisik, nanti kita ketahuan.” Ucap Dimas lembut. “Ta-tapi Om, ini om yang ini baik banget... dia suka kasi aku makanan, walaupun tempe lagi tempe lagi.” Elizabet menunjuk salah satu dari tiga penjaga yang sudah tak bernyawa itu. “Aku tahu, tapi mereka yang sekap kamu di sini. Ya aku harus gituin mereka supaya bisa ketemu kamu.” Jelas Dimas. “Boss, kita harus keluar sekarang, sebelum ada yang curiga.” Ucap Tio. “Ayok!” Ajak Dimas. Ia menggandeng tangan Elizabeth, membawa gadis itu keluar dari kamar dan Elizabeth pun mengikuti Dimas. Berjalan pelan-pelan, kelompok kecil ini berniat berjalan kembali menuju lorong tempat mereka keluar, ketika sampai di tikungan, mereka dicegat oleh dua orang bersenjata. “Jangan bergerak!” Seru salah satu dari penjaga tersebut. “Cover her!” Seru Dimas. Ia, Tio dan Baskoro pun langsung memasang badan, membuat posisi Elizabeth di belakang mereka. Kemudian detik berikutnya yang terdengar adalah beberapa suara tembakan, yang untungnya tidak ada satu pun peluru yang mengenai Elizabeth. Dimas melindungi Elizabeth sementara Tio dan Baskoro berdiri paling depan melindungi dua orang di belakangnya. Tak berapa lama, terdengar langkah kaki yang berlari dari arah belakang, Dimas langsung memutar tubuhnya, membuat Elizabeth kini diapit oleh semua orang. Mereka sudah terkepung. Menggunakan s*****a api yang ia bawa, Dimas memperlambat penjaga yang datang menyerang mereka. “Om, aku gak bisa napas inihh!” Protes Elizabeth yang terhimpit tiga pria yang mengelilinginya. Tak ada yang menyahut, semuanya fokus pada musuh yang ada di hadapan mereka. Sampai akhirnya terdengar sebuah tembakan dari seberang. Semuanya menoleh, termasuk Elizabeth. Dimas, Tio dan Baskoro sedikit bernapas lega karena yang datang adalah Ganjar, Aldi, Hendra dan Lukman. Mereka ber-empat datang mendekat memberi bala bantuan hingga lawan yang dihadapi Dimas dan kawan-kawan pun tumbang pada akhirnya. “Kita harus pergi dari sini.” Ajak Ganjar. “Gak mungkin lewat trowongan lagi, kita bisa mati kalau mereka lempar bom atau menunggu di ujung lorong.” Ujar Tio. “Sisa amunisi kita berapa banyak?” Tanya Dimas, mereka pun berembuk. “Ommm!” Jerit Elizabeth, ke-tujuh pria yang ada di sana langsung menoleh. Penjaga gedung ini datang berbondong-bondong mendekati mereka. “s**t!” Maki Dimas. Mereka semua mengambil posisi, menempatkan Elizabeth di tengah-tengah mereka namun sedikit menjorok agar gadis itu terlindungi dari pada penyerang. “Mundur pelan-pelan.” Bisik Dimas, karena ia tahu mereka tidak bisa diam di tempat. Mereka semua bisa dihabissi jika hanya berdiam di sini, sementara para penjaga makin lama makin banyak. Mundur pelan-pelan, mereka melewati lorong demi lorong sambil terus menembakan pelurru kepada lawan namun tetap saling melindungi satu sama lain. “g****k! Kita gak bawa rompi cadangan buat Elizabeth.” Ucap Dimas sedikit menggerutu. Ia khawatir ada pelurru yang menyambar bagian tubuh Elizabeth. “Boss, kayaknya kita salah belok, ini malah makin ke dalem kita.” Terdengar suara Hendra berbicara. “What??!!” Seru Dimas. Kemudian ia menyadari sesuatu. “Oh iyaa, kita mundur, jadi harusnya sebaliknya.” Ucapnya, lalu sedikit menggeram. “Kita bisa kehabisan amunisi boss, udah gak ada s*****a yang bisa cover kita semua, kalau duel jarak dekat dengan lawan sebanyak itu, kita pasti kalah.” Baskoro bersuara, dan Dimas tahu ucapannya benar. “Se-s*****a?” Tanya Elizabeth. “Kamu diem Liz, kita lagi berusaha lindungin kamu, bawa kamu keluar dari sini dengan selamat.” Ucap Ganjar. “A-aku punya s*****a dari Mbok-ku.” Ucap Elizabeth. “Ini bukan waktu yang tepat buat becanda, Liz.” Omel Aldi. Mereka semakin terdesak mundur. “Ini!” Elizabeth merogoh belahan d**a-nya, mengeluarkan kain kumal yang diberikan Mbok Yem. Yang katanya adalah s*****a untuk melawan Buto Ijo. Elizabeth membuka bungkusan kain itu, melihat ada beberapa butir benih timun, dan ia memaksa ke-tujuh pria di depannya itu memegang biji timun tersebut, termasuk dia sendiri. “Buat apaan ini? Heh kita lagi mau melawan musuh, bukan bercocok tanam.” Ucap Hendra kesal. “Ihh itu s*****a dari Mbok aku, pasti bermanfaat soalnya itu buat lawan Buto Ijo!” Seru Elizabeth dengan nada tinggi. Ia bermaksud baik, ingin menolong, tapi sepertinya ia salah momen. Para pria di hadapannya ini tak mengerti apa maksudnya. Kecuali satu.... Dimas! “Kita ikutin aja kata-kata Elizabeth.” Ucap Dimas yang langsung ditatap heran oleh semuanya. “Nah tuh, dengerin kata Om Didi.” Ucap Elizabeth mendukung ucapan Dimas yang mendukungnya. Pusing lah. Iya, 6 bodyguard ini bingung. Seumur-umur, jika melawan musuh mereka selalu menggunakan s*****a, atau bertarung secara fisik dengan bela diri yang mereka pelajari. Bukan dengan biji timun seperti ini. “Kalau jarak mereka lumayan deket, lemparin biji itu ke tanah.” Ujar Elizabeth. “Tapi ini beton, bukan tanah, gimana dong?” Tanya Hendra. “Ihhh banyak tanya banget sih Om? Kaya babu baru aja. Udah lemparin aja pokoknya.” “Tunggu aba-aba gue.” Ujar Dimas. Ia sendiri pun tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi... mereka sendiri sudah kehabisan ide bagaimana harus keluar dari tempat ini dengan selamat, jadi opsi yang diberikan Elizabeth diterima walaupun sangat tidak masuk akal. Para penjaga yang mengepung mereka semakin mendekat, dan untungnya tak ada satu pun dari mereka yang menembak. Ketika jarak para penjaga kira-kira sudah sekitar sepuluh meter, Dimas pun memberi aba-aba yang membuat semuanya termasuk dia dan Elizabeth melemparkan biji timun ke arah depan. Mereka semua mundur ketika secara ajaib biji yang dilempar itu bertumbuh menjadi pohon timun yang dengan cepat menjalar membuat para penjaga juga mundur karena kaget. Tak hanya itu, pohon timun itu juga langsung berbuah besar-besar, ukurannya bahkan menyerupai buah semangka. Ketika para penjaga akan mendekat, buah timun raksasa itu meledak seperti bom dan pada saat itu terdengar seruan dari Dimas. “Run.... go, go, go!” Dimas menarik tangan Elizabeth tak ingin gadis itu tertinggal. Mereka semua berlari menuju lorong di seberang mereka tapi Elizabeth berhenti untuk memetik sebuah timun. “Liz? Ngapain?” Seru Dimas, mereka terhenti karena ulah Elizabeth. “Oleh-oleh, Om!” “Astaga, ayok! Nanti mereka keburu bangun!” Dimas menarik kembali Elizabeth yang kini menggendong buah timun. Mereka akhirnya berhasil melewati bagian tengah gedung ini. Sekarang, bagaimana mereka bisa melewati penjagaan selanjutnya untuk keluar dari hanggar yang dijaga ketat ini? Apakah Elizabeth masih memiliki s*****a ajaibnya yang bisa berguna? ******** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD