“Gak ada tanda apa-apa.” Ucap Bayu ketika ia dan Dimas memasuki bangunan kosong ini.
“Hemm, coba cari dulu kali ya Boss? Soalnya kemarin saya juga gitu, nyari gak ada apa-apa tapi pas balik nemu siluet yang tadi.” Ucap Dimas, ia masih optimis kalau mereka akan menemukan sesuatu di tempat ini.
“Okay!”
Dengan bantuan senter di tangan masing-masing dan headlamp yang terpasang di helm yang mereka pakai, dua orang ini pun mulai menyisir semua bagian dalam gedung. Apalagi tembok yang depannya terdapat siluet tubuh Elizabeth.
“Dim?” Ujar Bayu sambil mencari, ingin membuka percakapan.
“Kenapa Boss? Nemu sesuatu?” Tanya Dimas antusias.
“Not yet, cuma mau ngajak ngobrol aja.” Ucap Bayu, membuat Dimas mengangguk lalu melanjutkan pencariannya.
“Mau ngobrol apa Boss?” Tanya Dimas. Ia memulai menyisir bangunan kosong ini dari pojok, meskipun hanya ada sampah dan bekas karet kontrasepsi yang membusuk, ia tetap mencari dengan seksama.
“Soal Elizabeth, kakek bilang kalau di bukunya, ada sejarah soal Elizabeth. Bisa dibilang, dia lebih tua dari gue.” Jelas Bayu.
Bayu sendiri tidak aktif mencari, ia hanya mondar-mandir pelan sambil mengarahkan lampu senter di tangannya ke sembarang arah.
“Heh? Gimana? Kan Elizabeth cerita kalau dia tumbuh dari benih timun yang Boss kasih ke Mbok Yem.”
“Yak, tapi gimana kalau sistem timeline di sana tuh beda sama di sini” Bayu mengutarakan kebingungannya. Sebenarnya Dimas juga masih memiliki tanda tanya besar soal ini. Apalagi dari buku yang dia baca soal kepergian Bayu ke seberang portal itu waktunya tak tentu.
“Kenapa Boss ngomong gitu?” Tanya Dimas. Dalam pencariannya, ia belum menemukan apapun kecuali sampah.
“Inget yang gue keracunan?” Bayu balik bertanya. Dijawab oleh Dimas dengan sebuah gumaman pelan.
“Gue inget, kalau Mbok Yem bilang anaknya udah hilang satu bulan. Padahal, Elizabeth baru dua hari kan muncul?”
“Boss inget sama Mbok Yem?” Tanya Dimas tak percaya. Ia menghentikan pencariannya hanya untuk menoleh ke Bayu yang berdiri di tengah ruangan.
“Yap, tadi pas nyetir, pas jalan mau ke sini, gue inget sesuatu. Ya inget itu. Mbok Yem bilang anaknya udah satu bulan gak ada, masih kekeuh nuduh gue yang makan. Terus ya gitu... mbok Yem kecewa sama gue.”
Dimas masih memperhatikan Boss-nya dengan seksama. Bingung harus berkata apa soal ini.
“Jadi semua cerita Elizabeth bener?” Tanya Dimas tak percaya.
“Ya terus lo kira kita ngapain? Gue apaan? Kalo lo mikir dia ngarang cerita?” Suara Bayu sedikit meninggi, tapi ia tidak marah ataupun kesal.
“Bukan gitu Boss maksudnya. Gimana ya? Sumpah ya, saya baca buku leluhur saya aja kadang masih suka gak percaya sama semuanya, dan ini.... Ini tuh kaya pembuktian gitu loh Boss.”
“Pembuktian apa?”
“Pembuktian kalau ada dimensi kehidupan lain. Tempat Boss berasal, Elizabeth berasal. Entah itu bagian dari masalalu yang terhubung ke saat ini lewat portal, atau.... emang tempat itu tuh semesta yang lain Boss. Tempat yang selama ini gak kita tahu.”
“Baru nyadar lo?” Sahut Bayu santai, padahal Dimas menjelaskan dengan berapi-api.
Ya, Dimas baru mengalami ini semua, tapi bagi Bayu, itu sudah berlangsung lebih kurang dua ribu tahu lamanya.
“Saya penasaran Boss, dunia di balik portal itu kaya apa.” Ujar Dimas dan itu membuat Bayu melotot.
“Gak! Gue gak anak bawa keluarga gue lewat portal itu dan mengulangi kesalahan lagi!” Seru Bayu tegas.
“Tapi Boss, Elizabeth aja bisa lewat.”
“Gak! Gak ada tapi-tapian! Elizabeth selamat dan belum ada jaminan lagi apa dia bakal selamat juga kalau melewati portal di pohon Keramat. Dan elo, Dim! Lo cuma manusia! Gue gak mau kehilangan anggota keluarga gue lagi! Lo kira... gue gak sakit? Gue gak merasa kehilangan setiap kali menghadiri pemakaman leluhur lo? Tahu kalau yang dimakamkan itu pernah main sama gue, curhat sama gue, mengurus sesajen gue, bahkan gue panggil Ayah lalu Kakek. Mereka pergi satu per satu, lo kira gue gak sedih? I wish I could die, Dim. And ended this stupid immortallity!” Seru Bayu, emosinya terganggu, ia mengucapkan semua itu dengan kalimat yang dalam, ada kesedihan di setiap kata yang ia keluarkan.
Dimas terdiam. Ia tak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Suasana pun menjadi hening karena baik keduanya tidak ada yang bersuara ataupun bergerak.
Akhirnya, Bayu berbalik, ia melempar senternya ke lantai dan pergi meninggalkan bagunan ini, meninggalkan Dimas yang mendadak menjadi patung mendengar luapan emosi Bayu.
Dimas tahu, bisa saja Bayu masuk ke portal dan tidak kembali lagi, tapi... Dunia tempat Dimas tinggal menjadi tidak stabil jika tidak ada Bayu.
Dalam satu buku milik leluhurnya, Dimas baca kalau pernah dalam kurun waktu sepuluh tahun Bayu tidak kembali, dan secara misterius, terjadi kebakaran hutan di mana-mana, banjir bandang meluap dari setiap sungai. Tsunami dan lain sebagainya pada saat yang bersamaan.
Dalam buku tersebut, leluhur Dimas yang bernama Gatot nekat masuk ke portal karena tahu ini ada hubungannya dengan eksistensi Bayu di dunia ini.
Gatot tak sempat berbicara pada Buto Ijo, tapi ia sempat menemukannya, Buto Ijo mungkin saat itu sadar kalau Gatot berasal dari dunia seberang, maka Buto Ijo pun kembali sambil menggendong jasad Gatot.
Begitu Buto Ijo atau Bayu memasuki portal, berangsur-angsur semua bencana alam berhenti. Bahkan hutan yang kebakaran pun secara misterius ditumbuhi pohon kembali.
Sejak saat itu, Bayu dilarang untuk pergi dalam waktu yang lama. Bayu sadar itu. Dan kepergian Bayu yang paling lama ya setahun. Itu pun secara tidak sengaja.
Jadi, tanpa manusia-manusia bumi sadari, keberlangsungan dan kenyamanan hidup mereka itu bergantung pada satu makhluk yang tidak bisa mati. Dan hal itu pula yang membuat keluarga Dimas berkomitmen untuk mengurus Bayu, selamanya.
Menarik napas panjang, Dimas pun keluar dari bangunan ini, karena sudah bingung harus mencari apa.
Sudah berjanji akan menginap di rumah Kakek, Dimas kembali ke The Black Jack untuk mengurusi barang-barangnya, sekalian untuk mengajak Bayu pulang bersama.
Ketika sampai, Black Jack sudah ramai pengunjung seperti malam-malam biasanya. Mampir sebentar untuk meminta minuman, Dimas membawa gelas berisi minuman ke ruangannya, sambil berjalan ia menyesap minuman tersebut.
Di ruangannya, Dimas merapikan mejanya, memasukan buku catatan, tablet, dan power bank ke dalam tas. Setelah itu ia keluar, tak lupa mengunci pintu sebelum pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Mampir di ruangan Bayu, pintu sudah terkunci ketika Dimas mendorongnya. Dimas tersenyum kecut sebelum akhirnya turun ke lantai satu.
“Balik Boss?” Tanya Daniel, salah satu bartender yang bekerja di The Black Jack.
“Iya nih, boss Bayu udah duluan ya?”
“Udah, tampangnya marah banget, ngambil minuman satu botol, padahal mata udah merah banget. Coba cek Boss, takutnya Boss Besar nyetir sambil minum.” Ujar Daniel.
“Oke, thanks Niel infonya!”
Langsung saja Dimas bergegas keluar dan untungnya, mobil Bayu masih terparkir di depan. Dan terlihat Bayu sedang meminum, bersandar pada mobilnya.
“Boss!” Sapa Dimas.
“Ngapain lo? Dah sana!” Usir Bayu, nada suaranya terdengar kesal.
“Boss, pulang yuk!” Ajak Dimas. Ia memberanikan diri mendekat. Karena sepertinya Bayu sudah mabuk, Dimas pun sedikit membopongnya masuk ke dalam mobil yang memang tidak terkunci.
Setelah memasangkan seat-belt kepada Bayu, Dimas beralih ke kursi kemudi. Ia langsung mengarahkan mobil menuju rumah Kakek Yadi.
Sepanjang perjalanan, Bayu meracau tak jelas, sesekali ia bahkan menenggak minuman beralkohol yang masih ada di tangannya.
Dimas menyetir dengan hati-hati, ia tahu suasana hati Boss-nya sedang tidak bagus. Dan lagi, ini sudah lumayan malam. Karena jalanan kosong, banyak kendaraan yang melesat dengan kecepatan tinggi. Untungnya, Dimas memilih lajur kiri, tempatnya mobil-mobil lambat.
“Gue gak mau Dim! Ngeliat orang yang gue sayang meninggal! Berat Dim! Tahu kalau kalian semua akan ninggalin gue pada akhirnya!” Seru Bayu, akhirnya racauannya terdengar jelas dan itu malah membuat hati Dimas terenyuh.
“Iya Boss, maaf soal ucapan saya tadi.”
“Lo tahu Dim? Lo udah gue anggep adek! Gue gak mau kehilangan lo yang penasaran pengin tahu dunia di seberang portal itu seperti apa. Gak! Gue gak mau Dim!”
“Iya Boss, iya.” Dimas canggung sekarang. Ia benar-benar tak menyangka bahwa Bayu sebegitu sayangnya pada ia dan keluarganya.
Menyetir dengan kecepatan lambat, plus mendengarkan Bayu meracau, butuh waktu lebih dari satu jam untuk sampai ke rumah.
Begitu sampai, Dimas langsung turun, berjalan ke kursi penumpang depan dan membawa Bayu masuk ke dalam rumah.
Kakek Yadi menyambut keduanya dan sedikit mengomel akan kondisi Bayu seperti ini.
“Bayu tuh gak gampang mabuk, dia minum berapa banyak sampai bisa begini, Dim?” Omel Kakek Yadi.
“Emmm, gak tahu, Kek. Tadi sih liatnya cuma pengang sebotol.” Jawab Dimas takut.
“Kamu nih, kok dibiarin Bayu minum kaya gini?”
“Emmm, ya abis.... kasian Kek, Bayu lagi banyak pikiran.” Ujar Dimas beralasan.
Ketika mereka berhasil membawa Bayu ke kamar. Dengan lembut Kakek Yadi melepas sepatu yang dikenakan Bayu, pun kaus kakinya juga. Setelah itu, Kakek Yadi membuka dua kancing teratas kemeja Bayu agar Bayu tidak sesak ketika tertidur.
“Kamu udah makan?” Tanya Kakek Yadi ketika selesai mengurus Bayu.
“Be-belum, Kek.” Jawab Dimas.
“Yaudah, ayok kita makan!” Ajak Kakek Yadi.
Dimas dan Kakek pun berjalan ke bagian dalam rumah. Ternyata Kakek Yadi sudah menyiapkan makan malam yang lumayan banyak. Karena janji Bayu tadi, kakek mengira mereka bertiga akan makan bersama malam ini. Maka dari itu Kakek Yadi menyiapkan semuanya dan menunggu mereka pulang. Tapi, Bayu pulang dengan keadaan mabuk, dan hanya Dimas yang bisa diajak makan bersama.
“Kamu sama Bayu kenapa?” Tanya Kakek Yadi lembut. Sambil menyendokan makanan dan lauknya ke piring, lalu diberikan kepada Dimas.
“Emm, gak apa, Kek. Salah paham aja. Kita lagi bahas portal-nya Elizabeth terus, ya gitu... terus aku bilang aku penasaran sama dunia di balik portal tuh kaya apa.” Jawab Dimas jujur.
“Kamu tahu? Bayu tuh sensitif sekali soal keluarga ini. Waktu Ayah dan Ibu kamu meninggal, Kakek rasa dia yang paling sedih. Mungkin kita bisa mikir Bayu sedih karena gak ada yang ngurus dia lagi. Tapi gak, dia sedih karena dia gak ada temen lagi. Bayu sudah lama di dunia ini, dan dia sendirian, cuma keluarga ini yang dia punya, jadi dia berusaha jaga itu semua baik-baik.” Jelas Kakek Yadi.
Dimas mengangguk, ia bahkan tak kuat menyuapkan makanannya ke mulut.
“Bayu itu baik. Dengan segala kekuatan dan kuasa yang dia punya. Dia bisa aja menjajah berbagai tempat, mengacaukan dunia dan lain sebagainya. Tapi gak, dia memilih hidup di kota yang sibuk ini, yang para penguasanya saling sikut untuk mendapat kuasa yang lebih besar. Bayu memilih bekerja, menjalankan bisnis ilegalnya karena negara ini tidak terbuka dengan hal-hal seperti ini, itu semua supaya orang-orang pada gak sadar akan keberadaannya.”
“Iya Kek.”
“Kalau sama Bayu, jangan bahas soal keinginan menyeberang portal ya? Bisa dibilang, dia trauma karena kehilangan yang tak kunjung sudah. Kakek yakin, kalau ada kesempatan untuk menjadi manusia, Bayu pasti mau.”
Dimas mengangguk lagi.
“Yaudah, ayuk kamu makan, gak bakal kenyang kalau cuma diliatin.” Kakek Yadi kembali mengomel. Dimas kali ini tersenyum, lalu mulai menyantap makanannya.
Sambil makan, Kakek bercerita soal kelinci yang dibelinya di pasar, sepasang kelinci putih yang lucu. Dimas juga cerita tentang bangunan yang baru ia beli. Agak sedikit menyesal karena bangunan itu tidak memberi petunjuk apa-apa.
Ketika makan malam selesai, dan Dimas akan naik ke kamarnya. Ponsel di saku celananya bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Ganjar.
Tanpa menunggu, Dimas langsung mengangkat panggilan tersebut.
“Hallo, Jar? Kenapa?” Tanya Dimas.
“Elizabeth sama Patricia gak ada Boss! Apartment kosong!” Seru Ganjar.
“Kok bisa?” Dimas tentu saja panik mendengar itu.
“Tadi Elizabeth dan Patricia telepon, minta dibelikan makanan khas korea. Tapi.... pas saya masuk barusan mau anter makanan, kosong Boss, kosong melompong!”
“Tunggu ya! Saya ke sana sekarang!” Tanpa banyak basa-basi, Dimas langsung berbalik, meninggalkan rumah bahkan tanpa sebuah pesan kepada Kakek Yadi.
*******
TBC