DUA PULUH DUA

1879 Words
Dimas sudah mengetahui titik munculnya Elizabeth di dunia ini. Yang ia belum tahu, apakah portal yang membawa Elizabeth itu masih ada atau tidak. Ya, sekarang Dimas disibukkan dengan tugas portal pelangi-nya Elizabeth. Siang ini, ketika Bayu sampai di The Black Jack, Dimas langsung menghampirinya untuk membahas hal penting yang ia temukan ini. “Permisi Boss!” Seru Dimas sambil membuka pintu ruangan Bayu. Hanya Dimas yang berani melakukan itu, biasanya orang-orang akan mengetuk dulu, lalu menunggu seruan masuk. “Kenapa Dim?” Tanya Bayu yang seperti biasa, sibuk dengan ponselnya mengurus pekerjaannya yang lain. Masuk ke ruangan Bayu, Dimas pun duduk di bangku di seberang meja Boss-nya itu. Menarik napas dalam-dalam untuk menceritakan temuannya. “Ini Boss, kalau kita beli bangunan yang ada di lorong samping gimana?” Tanya Dimas. “He? Buat apaan?” Bayu bingung mendengar itu. Luas tempat miliknya sudah cukup untuk saat ini. Jika ia memperbesar lagi, akan ada pihak yang mengganggu. Dan keamanan setempat yang telah ia suap akan tidak berguna jika pemerintah ikut campur pada bisnisnya ini. Dimas membuka ponselnya, lalu ia memperlihatkan foto yang ia ambil kemarin kepada Bayu. “Ini Boss, liat deh, siluet-nya kaya Elizabeth kan?” Ucap Dimas. Bayu menerima ponsel itu, lalu memperhatikan foto yang ada di ponsel Dimas dengan seksama, kemudian ia mengangguk kecil. “Asumsi saya sih Boss, Elizabeth muncul dari sama, cuma ya pas saya cek kemarin tuh gak ada portal apa-apa. Air terjun pelangi yang dijelasin Elizabeth juga gak ada. Cuma pas mau liat lebih jauh banyak anak-anak muda yang nongkrong gitu, jadi saya tinggal.” Jelas Dimas kepada Boss-nya. “Jadi lo mau beli sederetan itu biar bisa fokus dan gak diganggu?” Tanya Bayu dan Dimas pun mengangguk, “Kita gak tau sistem kerja portal di sana, mirip gak sama yang di pohon keramat. Apa terbuka setiap saat atau gimana? Dan... kita juga gak tau ada yang lewatin portal itu apa engga. Kaya yang Boss Bayu bilang, bahaya buat manusia lewatin portal itu.” Ucap Dimas. “Okee, gue setuju, beli aja semua bagunan sepanjang jalan ini, jangan cuma yang itu. Biar gak ada yang curiga, kok ya kita mau beli bangunan yang udah gak keurus, ya kan?” Dimas mengangguk, sepakat dengan apa yang dibilang Boss-nya. “Siap Boss, mulai saya urus ya?” “Sip, nanti malem, coba kita ke sana ya? Gue pengin liat juga.” Ujar Bayu. “Oke siap Boss! Saya pamit ya!” “Sip, Thank you, Dim!” Ditinggal Dimas, Bayu kembali sibuk dengan ponselnya. Kali ini, dia tidak sedang mengurus bisnisnya yang lain. Tapi Bayu sedang mencatatkan penggalan-penggalan memori yang ia ingat selama ia menjadi Buto Ijo. Bayu sebenarnya frustasi dengan hilangnya ingatan yang terjadi setiap kali ia melewati portal. Namun, portal itu memberi kekuatan untuknya. Setiap pergi ke hutan yang ada di seberang portal, Bayu selalu merasa lebih kuat. Juga setiap ia kembali dari sana, ia selalu mendapat tambahan kekuatan dan tambahan semangat untuk menjalani kehidupan di dunia yang ini. Yang dicatat Bayu saat ini adalah Mbok Yem, Mail, biji timun dan Elizabeth. Sebelum Elizabeth muncul, Bayu tidak pernah memperdulikan potongan kenangan dari dunia seberang, karena baginya, itu adalah kehidupannya yang lain. Tapi sekarang, Saat Elizabeth muncul dan ia bisa mengingat semuanya, Bayu ingin seperti itu juga. Bayu ingin mengetahui segalanya dalam versi dirinya yang manapun. “s**t,” Maki Bayu. Ia benar-benar frustasi karena tidak bisa mengingat apapun. Beranjak dari kursinya, Bayu pun keluar dari ruangan. Tahu kalau Dimas sedang sibuk, Bayu jadi menyetir mobilnya sendiri. Menuju tepian kota di mana rumah Kakek Yadi berada. Sekitar satu jam setengah menyetir, Bayu sampai di rumah besar tersebut. Langsung masuk seperti biasa sambil meneriakkan nama Kakek. “Kek? Kakek Yadi!” Seru Bayu. Karena tidak menemukan Kakek di dalam rumah, seperti biasa Bayu langsung ke halaman belakang. Di halaman belakang, Bayu tersenyum melihat Kakek sedang memberi makan kelinci. Bayu tidak tahu kalau Kakek Yadi memelihara Kelinci. “Kakek dapet kelinci dari mana?” Tanya Bayu lembut. “Eh kamu Bay! Kakek kaget!” Seru Kakek Yadi sedikit terlonjak. Fokus memberi makan kelinci, Kakek jadi tidak sadar kalau ada Bayu. “Maaf, Kek.” “Gak apa, Bay. Kakek yang gak liat. Kamu sendiri atau sama Dimas?” Tanya Kakek Yadi, berhenti sesaat memberi makan kelincinya. “Sendiri Kek, Dimas lagi ngurusin pembelian bangunan.” “Beli bangunan buat apa?” Kakek Yadi lalu mengajak Dimas duduk di teras belakang, mengobrol santai. “Itu Kek, Dimas kayaknya nemu jejak-jejak munculnya Elizabeth. Jelas kalau dia gak keluar dari portal ini. Tapi portal yang ada di kota. Makanya, Dimas mau selidiki tempatnya, biar aman dan orang gak curiga, dibeli sekalian aja.” Jelas Bayu pada Kakek. “Yaudah kalau begitu. Kakek lega. Tiap hari Kakek ngecek portal, takut ada yang masuk ke sini. Kakek kan gak dapet denger kabar dari kalian. Kamu ke sini dua minggu lalu, Dimas.... kamu tau sendiri dia gak ke sini kalau gak penting.” Ujar Kakek Yadi. Bayu menangkap kesedihan dalam suara Kakek, jelas sekali kalau Kakek kesepian karena cucu-cucunya sibuk di kota. “Yaudah Kek, nanti malem Bayu balik ke sini, ngajak Dimas. Hehehehe! Dimas nemenin Kakek, Bayu masuk portal dulu.” “Kamu mau pergi lagi?” Tanya Kakek Yadi. “Iya Kek, rencananya hari ini sama Dimas mau cek lokasi bangunan itu, nyari tanda yang aneh, atau apa gitu, buat petunjuk. Elizabeth gak bisa selamanya disembunyikan. Dan, kalau ada jalan, ya mending Elizabeth dianter pulang aja.” “Okee kalau kaya gitu, Kakek setuju. Tapi ya... kakek tuh penasaran sama mukanya Elizabeth. Kakek gak pernah liat dia.” “Kakek tahu gambaran cewek hutan di kamarnya Dimas?” Tanya Bayu. Kakek Yadi mengangguk sebagai jawaban. “Iya, tahu... kenapa?” “Wajahnya Elizabeth persis seperti itu. Dimas cerita ke Bayu soal keanehan itu. Elizabeth mirip dengan wanita yang digambarnya bertahun-tahun lalu.” Mendengar itu, Kakek Yadi terbelalak. Ia seperti mengetahui sesuatu. “Kenapa Kek?” Tanya Bayu kaget. “Sini, yuk!” Kakek Yadi beranjak dari kursinya, masuk ke bagian dalam rumah. Bayu yang penasaran mengikuti Kakek Yadi ke perpustakaan yang ada di rumah ini. “Coba Nak, kamu ke lantai dua dulu, ke kamarnya Dimas, ambil gambarannya.” Titah Kakek Yadi. Bayu yang gak mengerti apa maksudnya hanya bisa menurut. Ia keluar dari perpustakaan. Dan begitu Bayu keluar, Kakek Yadi menarik satu buku, membuat sebuah pintu rahasia terbuka. Membuka pintu tersebut, Kakek Yadi mengambil buku usang yang disembunyikan leluhurnya. Setelah buku tersebut diambil, kakek Yadi menutup kembali ruang rahasia itu. Membuat perpustakaan kembali seperti semula. Tak berapa lama, Bayu kembali dengan kertas di tangannya. Kertas gambaran Dimas sewaktu kecil. “Apa itu Kek?” Mata Bayu tertuju pada buku usang yang ada di meja. “Ini buku muncul sudah lama sekali, sebelum kamu keluar dari pohon keramat.” Kakek Yadi membuka ceritanya. Ia menarik kursi, mempersilahkan Bayu duduk lalu Kakek Yadi pun duduk di kursi sampingnya. “Kok aku gak tau apa-apa soal buku ini sih Kek?” Tanya Bayu penasaran. “Karena leluhur kakek dulu berpikir ini gak ada hubungannya sama kamu. Dan... kita semua gak ngerti aksara apa yang dipakai dalam buku ini. Buku ini hanya berisi sedikit gambar, jadi informasi yang kita terima pun gak lengkap.” Kakek Yadi membuka halaman awal buku tersebut, dan Bayu pun sama bingungnya. Ia tak mengerti apa yang dituliskan dalam buku itu. “Leluhur Kakek menyimpannya karena mereka berpikir kalau suatu hari nanti, di masa depan, ketika ilmu pengetahuan sudah berkembang maju, akan ada seseorang, atau alat yang bisa menerjemahkan apa yang ada di buku ini. Dan... di buku ini ada gambar wanita itu.” Kakek menunjuk gambaran yang ada di tangan Bayu. “Hah?” “Dulu, Kakek kira Dimas nakal, ambil buku ini lalu gambar cewek itu. Waktu Dimas cerita kalau wanita dalam gambaran itu ada di mimpinya, Kakek gak percaya.” Jelas Kakek Yadi. Bayu makin bingung. “Terus?” “Ya, di sini ada cerita soal wanita itu. Gak terlalu jelas karena kita cuma bisa menerjemahkan gambar. Coba kamu liat yaa.” Lembar demi lembar dibuka dengan hati-hati oleh Kakek Yadi karena buku ini sudah tua dan ringkih. Gambar pertama yang ada di buku ini adalah sebuah biji yang bersinar. Bisa dikatakan bersinar karena biji ini memiliki arsiran cahaya yang menunjukan kalau biji tersebut berkilauan. Gambar kedua, telihat Biji tersebut terbelah dan di dalamnya terdapat seorang bayi mungil. “Kita gak ngerti maksudnya biji ini apa, dan kenapa dalam biji ini terdapat anak manusia.” “Kalau emang ini Elizabeth, Kek. Gambar ini bukan Biji, tapi timun.” Ujar Bayu, mencoba menebak. “Mungkin, kita gak pernah tahu, Bay.” Ucap Kakek Yadi lalu membalik lembar demi lembar, hanya untuk menemukan halaman yang ada gambarnya saja. “Nah, mirip kan sama gambaran itu?” Ujar Kakek Yadi. Bayu mensejajarkan gambaran di buku dengan gambaran Dimas. Dan Yak, kedua wanita itu mirip. Bahkan sama! Dan keduanya berwajah seperti Elizabeth. Bayu ternganga melihat itu. “Kalau buku ini sudah ada lama bahkan sebelum aku ada, Kek. Berarti Elizabeth ada kemungkinan lebih tua dari aku dong? Padahal... dia bilang dia baru berulang tahun ke 17.” Jelas Bayu. “Kita gak tahu apa Elizabeth benar-benar dari dunia tempat kamu berasal. Dan... entah berapa kali Elizabeth sudah merayakan ulang tahunnya yang ke 17.” “Ma-maksud Kakek? Berapa kali merayakan ulang tahun ke 17?” Bayu dibuat bingung dengan ucapan Kakek Yadi. “Ya, seperti kamu yang sudah ratusan kali merayakan ulang tahun ke 30.” Bayu ternganga kembali. Apakah Elizabeth juga tidak bisa menua sepertinya? Apakah semua orang seperti itu di dunia sana? “Coba kamu pikir, Mbok Yem, Ibunya Elizabeth katanya sudah tua namun tidak memiliki anak. Setua apa ketika ia pertama kali memiliki Elizabeth? Dan sampai Elizabeth berumur 17 tahun, Mbok Yem masih sehat wal afiat, bahkan masih bisa berburu, dan beraktivitas seperti biasanya. Jelas, ada yang aneh dari tempat kamu berasal. Mungkin di sana berisi penduduk yang tidak bisa menua.” Jelas Kakek. Bayu hanya bisa geleng-geleng kepala. “Kamu bingung karena kamu saat ini hanya mengerti dunia ini. Tapi Kakek, kakek sudah mempelajari kamu sedari kakek kecil, Bayu. Kakek membaca semua buku yang ditulis leluhur kakek tentang kamu. Buku harian mereka berisi tentang hidup kamu dan kakek tahu kamu itu penuh dengan keajaiban. Jadi kakek tidak kaget. Yang kakek pikirkan, siapa Elizabeth ini? Kenapa bukunya sudah ada sebelum kamu? Dan kenapa tulisan di buku ini tidak ada yang mengerti. Kakek takut, jika dia mengancam eksistensi hidup kamu.” Jelas Kakek Yadi panjang. “Ja-jadi.... Bayu harus apa Kek?” “Elizabeth bisa berbahaya, tapi selama dia ada dalam pengawasan kamu, mungkin kita bisa mengendalikannya sambil memikirkan bagaimana cara memulangkan gadis itu ke tempat asalnya.” Bayu mengangguk. Kepalanya pusing sekali. “Yaudah, kamu kan ada janji sama Dimas. Temui saja Dimas dulu. Lakukan apa yang perlu kalian lakukan. Kakek di sini masih akan terus mencari seputar Elizabeth.” Ucap Kakek Yadi, mencoba menenangkan Bayu. “Baik, Kek. Aku pergi dulu ya?” Kakek mengangguk. Ia mengantarkan Bayu sampai depan rumah, memberi anak itu lambaian tangan perpisahan. “Nanti malem aku ke sini Kek!” Ucap Bayu setelah masuk ke mobil. “Kakek tunggu!” Seru Kakek Yadi. Lalu, mobil Bayu pun melaju, menjauhi rumah tua megah ini sampai akhirnya tak terlihat lagi. ********* TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD