DUA PULUH SATU

1916 Words
“Kamu gak mau pulang, Jal?” Tanya Mbok Yem kalem. Sudah satu bulan Ijal menginap di gubuk Mbok Yem dan belum ada hilal kapan anak ini akan pulang ke rumahnya. Well, satu bulan, itu hitungannya sudah bukan menginap, tapi menumpang hidup. “Gak boleh emang Mbok kalau aku di sini aja?” Tanya Ijal lemah lembut, sesuai dengan pembawaannya. “Boleeh, tapi emang kamu gak kangen sama Bapak-Ibukmu?” “Hemm, biasa aja sih, soalnya mereka jahat, gak kaya Mbok Yem, baik!” Ujar Ijal, curhat dikit. “Eh? Jahat kenapa? Kamu dijahatin? Lapor sana gih sama Pak RW, atau Pak Kades sekalian.” Ujar Mbok Yem. “Gak ah, Mbok. Biarin aja. Makanya aku di sini boleh ya? Mbok Yem baik, aku dikasih pinjem bedak dan lipstik-nya si Eliss.” Ijal terdengar senang. “Yaudah kalo gitu, kamu balik dulu, bawa bajumu sendiri. Emang kamu betah pake baju si Elizabeth begitu?” “Emm, aku pulang tapi aku boleh ke sini lagi kan Mbok? Aku cuma ambil baju doang kan?” Ijal memastikan. Mbok Yem pun mengangguk mantap. “Janji dulu!” Seru Ijal, ia mengulurkan jari kelingkingnya, dan Mbok Yem pun mengait jari tersebut dengan jarinya sendiri. “Iya, Mbok janji!” Seru Mbok Yem. Ijal pun bersorak senang, ia langsung bergegas keluar dari rumah ini. Mbok Yem hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Ijal yang ajaib itu. Untungnya Ijal itu anak yang menyenangkan, jadi Mbok Yem benar-benar tidak kesepian, apalagi semenjak kehilangan Elizabeth dan Mail. Melanjutkan pekerjaannya menganyam tikar dari daun, Mbok Yem sudah hampir mendapat dua gulungan tikar. Mungkin tikar ini bisa dibawa besok untuk dibarter dengan makanan mengingat kebun timun Mbok Yem belum bisa panen. “Huh, semoga besok ada yang mau barter pake kepiting, lagi ngidam kepiting soka salted egg nich akyu!” Ucap Mbok Yem, berbicara sendiri. “Hayyy Mbok Yem!” Mbok Yem terlonjak, hampir jatuh dari dingkle yang ia duduki. (Kursi kecil buat duduk di lantai) Ijal sudah kembali, rame banget dandanannya, pakai topi Fedora dari anyaman jerami, pakai selendang bulu angsa, dan menggendong satu tas besar berwarna ungu janda di bahunya. “Kamu tu mau pindah ke sini, heh? Bawa barang kok sebanyak itu!” Omel Mbok Yem. “Ihhh, santai dong Mbok. Aku tu bingung mau bawa baju yang mana. Jadi aku putuskan untuk bawa aja deh semuanya, biar gak pusing!” Seru Ijal semangat. “Heu, yaudah sana simpen barang-barangnya terus bantuin Mbok!” Titah Mbok Yem. Tanpa disuruh dua kali, Ijal langsung melipir ke kamarnya Elizabeth untuk meletakkan barang-barangnya. Setelah itu, ia kembali ke dapur. “Apa nih Mbok yang bisa aku bantu?” Tanya Ijal. Mbok Yem tersenyum. Ijal memang anak yang rajin, ia mau jika Mbok Yem meminta tolong ini itu. Beda banget sama Elizabeth yang manja. Tapi gimana pun itu, Mbok Yem tetep kangen sama anak gadisnya, anak semata wayang-nya yang paling ia sayangi di dunia ini. ** Berkat bantuan Ijal, Mbok Yem kali ini membawa lima gulung tikar untuk dibarter di balai warga. Bersama Ijal, Mbok Yem berangkat, dan dengan gentleman yang agak melambai dikit, Ijal mengangkut ke lima gulungan tikar tersebut, membiarkan Mbok Yem jalan tanpa membawa apa-apa. Kasian si mbok udah tua, masa bawa bawaan berat, kan gak lucu kalo nenek-nenek turun berok. Begitu kata Ijal tadi, bikin Mbok Yem seneng sekaligus gondok. “Mbok Yem kok sama Ijal?” Tanya Pak Kades ketika menghampiri mereka berdua yang sedang membuka lapak. “Iya, Ijal disuruh Pak RT jagain saya, sejak kejadian Mail itu loh Pak.” Jelas Mbok Yem. “Iya ihh, kacau emang ya Buto Ijo, itu emaknya si Mail sampe sekarang masih nangis. Katanya kenapa harus Mail? Kenapa gak bapaknya Mail aja? Soalnya Mail lebih berguna ketimbang bapaknya.” Pak Kades menimpali dengan gosip keluarganya Mail. “Iya, sedih ya Pak.” Hanya itu sahutan Mbok Yem karena ia tak kuat jika harus membahas kejadian itu. Mbok Yem melepaskan Buto, tapi raksasa hijau itu malah mengkhianatinya dan memakan Mail hidup-hidup. Mbok Yem sakit hati sama Buto. “Katanya si Buto masih suka keliatan di hutan, makanya sekarang saya pasang tali di sepanjang tepi hutan. Pokoknya itu hutan ganti nama udah bukan Alas Pu'un lagi, tapi jadi f*******n Forest!” Ujar Pak Kades lantang. “f*******n Forest dah kaya di heri potret aja Pak, heheheheh!” Sahut Mbok Yem, tapi Pak Kades tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Mak-emak paruh baya itu. “Mbok saya mau deh tiker satu, tiker di rumah udah jelek nih, gak enak dipake tidur suka ada yang nusuk kuping, bikin geli.” Ucap Pak Kades sambil memilih-milih gulungan tikar yang tersedia. “Pak Kades punya apa?” Tanya Ijal. “Ayam aja nih, mau? Udah gede, jantan, enak dagingnya!” “Ih kurang lah Pak Kades, masa Ayam tuker sama Tiker yang bagus ini? Yang aku anyam dengan cinta dan kasih sayang?” Lebay-nya Ijal mulai keluar, tapi Mbok Yem gak mencegahnya, membebaskan Ijal berekspresi sesukanya. “Udah lah, ayam aja.” “Gak bisa, Pak Kades! Ayam sekali makan abis. Tapi tiker ini Pak Kades sama Bu Kades tidurin tiap malem juga bakalan awet. Sumpah ini mah garansi 3 tahun!” Ijal pinter nawar rupanya. “Yaudah, tambah ini mau gak?” Pak Kades merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah cincin bertahtakan batu yang cantik. “Pak Kades dapet dari mana?” Tanya Ijal, ia terpesona melihat cincin itu. “Banyak saya, suka dikasih sama yang suka nambang di balik gunung.” “Okeh! Ayam sama cincin!” Ijal langsung sepakat, ia merebut cincin itu dari Pak Kades dan tersenyum sendiri. Pak Kades pun memilih gulungan tikar yang paling besar, yang artinya tikarnya lebih panjang dari yang lain. Setelah itu, beliau pergi meninggalkan Mbok Yem dan Ijal berdua. “Cakep ya Mbok! Nih simpen, kasih ke Elis kalo dia balik!” Ucap Ijal, memberikan cincin tersebut ke Mbok Yem. Mendengar itu, Mbok Yem sedih. Benarkah Elizabeth akan kembali? Benarkah Buto tidak memakannya? Tapi? Di mana ia sekarang kalau begitu? Pikiran Mbok Yem penuh dengan pertanyaan. Hatinya sedih sekali tiap kali mendengar nama Elizabeth disebut-sebut. “Kamu ngapain di sini Jal?” Kali ini Pak RT yang menghampiri mereka. Pak RT bingung, Ijal yang biasanya berkurung diri di rumah kini mau ada di Balai Warga. “Jualan dong sama Mbok Yem, Daddy gak bisa liat apa ya?” Ucap Ijal dengan nada ketus. Di sini, Mbok Yem bisa melihat bagaimana ada ketegangan di antara ayah dan anak ini. “Mbok, tiker dituker Kepiting mau gak?” Pak RT tidak menghiraukan ucapan Ijal, langsung berbicara pada Mbok Yem. “Kurang dong Father! Pak Kades aja tadi tuker sama Ayam sama Cincin!” “Mahal banget?!” “Kepitingnya berapa kilo Pak?” Tanya Mbok Yem yang memang ngidam sodara jauhnya si Yuyu KangKang. “Yaa, ada lah ini lima kilo!” Pak RT mengacungkan tas anyam yang ia punya, tas berisi kepiting hidup yang capitnya diikat dengan tali. “Okeh, boleh Pak RT!” Seru Mbok Yem. “Ihhh, tahan dulu dong Mbok, masa semurah itu sih?” Ijal protes, tidak ingin ayahnya segampang itu mendapatkan barang yang ia mau. Apalagi barang ini adalah asil karya tangan Ijal sendiri. “Udah gak apa-apa, kepiting enak nanti kalau Mbok masak.” Ujar Mbok Yem kali. “Hemm, yaudah deh kalau Ibu Suri sudah bersabda, aku bisa apa?” Ijal pasrah. Sepeninggal Pak RT, Mbok Yem pun menasehati Ijal, tentang bagaimana sistem barter dilakukan. “Jangan mahal-mahal Jal, yang penting kita dapet apa yang kita butuhkan buat hidup. Kalau kita dapet lebih juga buat apa sih? Kan masih banyak warga lain yang butuh kan?” Ujar Mbok Yem. “Mbok terlalu baik, pantesan gak kaya-kaya!” Seru Ijal, yang hanya ditanggapi dengan senyuman oleh mbok Yem. Berikutnya, ketika ada yang menawar tikar, Ijal sudah tidak lagi menetapkan harga tinggi. Tapi ya tetep, pembelinya digodain terus sama dia, sampai akhirnya hari itu mereka berdua kesusahan membawa barang-barang kembali ke gubug. Ya, berkat Ijal yang centil, Mbok Yem dapat banyak sekali barang. Dari yang penting sampai yang engga. Dari yang dibutuhkan sampai yang gak berguna. Semuanya disikat oleh Ijal. “Jal?” Panggil Mbok Yem. Keduanya sudah selesai makan malam. Ijal baru saja membuang sisa makanan mereka ke Ayam yang didapat dari Pak Kades. Rencananya Ayam tersebut akan dipiara, dan dimasak ketika musim paceklik. “Kenapa Mbok?” Ijal menghampiri Mbok Yem di kamarnya. “Mbok penasaran, mau tanya. Kamu tu ada masalah apa sih sama Bapakmu? Sama Ibumu?” Tanya Mbok Yem. “Ya biasa Mbok, mereka tu ndak bisa terima aku kaya gini. Selalu aja aku disuruh kayak Kak Ijul, kan aku capek gak?” Jelas Ijal sedikit. Ijul adalah Kakak laki-lakinya yang merupakan ketua karang taruna di kampung. “Terus? Kemarin kamu bilang Bapak sama Ibu jahat, jahat gimana?” “Iyaa, aku suruh cukur rambut mulu. Padahal kan aku pengin rambutku panjang Mbok, kaya si Eliss. Makanya aku suka nyisirin rambut si Eliss, soalnya aku ngidam punya rambut panjang.” Mbok Yem tersenyum sedih. Ia dari dulu sangat menyayangi anak-anak. Ya walaupun Ijal itungannya udah bukan bocah lagi tapi tetap, Mbok Yem menyayanginya. Apalagi, Mbok Yem beneran gak punya anak yang keluar dari rahimnya. Jadi Mbok Yem lebih peka kalau soal anak-anak. Membebaskan anaknya berekspresi yang penting tidak merugikan orang lain. “Terus, kayaknya aku disuruh temenin Mbok di sini juga tuh kayaknya yaa alibi Daddy aku aja tuh.” “Kenapa kamu bilang gitu?” Tanya Mbok Yem. “Iya, masa aku sebulan di sini kaga dicariin coba ya? Orang tua macam apaah anaknya yang imoet ini disuruh jagain nenek-nenek peyot!” “Kupret lu!” Seru Mbok Yem refleks memukul bahunya Ijal. “Hehehe, becanda aku Mbok. Aku seneng tau tinggal sama Mbok Yem. Simbok gak suka ngambek, suka masak makanan enak, aku suka diajak berkebun, asik lah Mbok!” Seru Ijal, nada suaranya terdengar tulus. Ijal juga terdengar bahagia. Seolah yang ia katakan benar, kalau ia senang tinggal bersama Mbok Yem. “Yaudah Jal, kamu boleh tinggal di sini selama yang kamu mau.” Ucap Mbok Yem. Gak tega juga kalau ia pulang ke rumahnya lalu dijahatin oleh Pak RT dan Bu RT. “Bener Mbok? Ya ampun, Gusti Pangeran!!! Makasi banyak ya Mbok!” Ijal senang, ia bahkan sedikit menitikan air mata karena terharu betapa baiknya Mbok Yem dibanding orang tuanya sendiri. “Aku seneng banget Mbok! Sumpah kesamber gledeg kalo bohong!” Seru Ijal. “Husssh! Jangan begitu, nanti kalo beneran kesamber petir, mau kamu?” Ujar Mbok Yem. “Hehehe tapi kan aku ndak bohong Mbok, jadi tydac mungkin aku tersambar petir hehehe!” Ijal sudah cengengesan lagi. “Yaudah sana gih, ini udah malem. Kamu tidur ayok!” Titah Mbok Yem. Ya, hari sudah gelap, penerangan di rumah Mbok Yem pun hanya berasal dari dua buah lampu semprong yang tergantung di luar dan di dalam Gubug. “Mbok gak mau dongengin aku dulu gicuu?” Tanya Ijal. “Ngelunjak lu yee, dah tidur sana!” “Heheheh oke, oke, tapi kapan-kapan dongengin aku ya Mbok?” Pinta Ijal. “Iyaa, entar lu gue dongengin, gak tau kapan!” Seru mbok Yem dengan nada ketus yang dibuat-buat. Ijal makin cengengesan gak jelas. Akhirnya ia pamit, keluar dari kamar Mbok Yem dan masuk ke kamar Elizabeth yang saat ini ia tempati. “Liss, aku pinjem kamarnya kamu ya! Nanti kalo kamu pulang, aku balikin kamarnya. Tapi kalo kamu gak pulang.... Ya udah. Gak apa-apa!” Bisik Ijal sebelum tidur. Sompret emang! **** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD