DUA PULUH

1769 Words
“Kamu tahu di mana mereka menyembunyikan Elizabeth yang asli?” Tanya Pak Chandra Wiguna pada asistennya. “Saya punya mata-mata di sana Pak, dia yang akan mengabarkan mengenai lokasi Elizabeth disembunyikan.” Jelas Pak Dani. Padahal, sebenarnya Bayu ataupun Dimas tidak membuat salah sama sekali, namun ketakutan Pak Dani untuk jujur pada Pak Chandra malah mengakibatkan kesalah-pahaman antara dua belah pihak. Pak Chandra ingin balas dendam, sedangkan Bayu tidak ingin mencari ribut, makanya ia lebih memilih menyembunyikan Elizabeth. “Oke, kamu urus! Kalau kamu udah tahu dia ada di mana, kita culik aja dia! Biar mereka tahu rasa!” Ujar Pak Chandra. Pak Dani mengangguk mendengar itu. Tapi dalam hatinya muncul perasaan takut. Ia tahu Boss-nya punya kekuasaan yang besar, namun ia juga mendengar rumor bahwa Bayu punya kuasa yang lebih besar lagi. Pak Dani mulai menyesal telah berbohong dari awal. Sepeninggal Pak Chandra, Pak Dani membuka ponselnya, menghubungi mata-matanya. “Hallo Pak Dani?” Seru suara di kejauhan sana. “Gimana? Udah dapet info soal Elizabeth? Kamu tahu dia disembunyikan di mana?” Tanya Pak Dani. “Informasi seputar persembunyian Elizabeth hanya diketahui segelintir orang, Pak Dani. Hanya pihak yang terlibat yang mengetahuinya, masalahnya Boss Bayu sendiri yang mengantarnya, dan asistennya.” “Cari tahu kalau kamu mau istri kamu selamat!” Ancam Pak Dani. “Baik Pak Dani!” “Tawari uang satu miliyar jika mau membocorkan lokasi Elizabeth!” “Siap Pak Dani!” Ujar suara asing tersebut. Setelah panggilan terputus, Pak Dani mencoba membuka laptop Pak Chandra yang terbuka begitu saja. Syukurlah ia tahu semua password milik Boss-nya, sehingga dengan mudah, ia memindahkan uang sejumlah lima miliyar yang dikirimkan Bayu dari rekening perusahaan ke rekeningnya pribadi agar Pak Chandra tidak tahu soal kebohongannya. Selain itu, Pak Dani juga menghapus rekaman CCTV di ruangan ini sejak menit Pak Chandra Digunakan keluar, agar tidak ada bukti yang bisa menangkapnya. Selesai, barulah Pak Dani keluar meninggalkan ruangan. Mencari keberadaan Boss-nya yang sedang merajuk. **** “Waaaw tempatnya bagus banget!” Seru Elizabeth ketika ia, Bayu, Dimas dan Patricia memasuki unit apartment. “Kamu bakal ditemenin Patricia di sini ya Liz! Gak ada keluar, gak ada yang boleh masuk kecuali Ganjar!” Seru Bayu, Ganjar adalah bodyguard yang ditugaskan Bayu untuk mengantarkan makanan untuk Patricia dan Elizabeth di jam-jam tertentu. “Boss, mau tanya... kalau misal mau nyemil? Boleh minta ganjar juga?” Tanya Patricia. “Kalian boleh minta apa saja ke Ganjar. Selain saya dan Dimas, cuma dia yang punya akses untuk membuka pintu apartment ini dari luar.” Jelas Bayu. “Baik Boss, terima kasih!” Ucap Patricia. Sementara itu, Elizabeth sudah berkeliling ditemani Dimas, melihat ruangan lain, dan juga pemandangan yang terlihat dari ketinggian lantai 26. “Liz, kamu nanti jangan bikin pusing Patricia ya? Baik-baik di sini, sambil belajar terus.” “Siap Om!” Seru Elizabeth yang tak pernah bosan memanggil Dimas dengan sebutan Om, sehingga Dimas pun pasrah dipanggil begitu oleh anak ingusan ini. “Kamu mau kamar yang mana? Kan kamarnya ada dua tuh. Pilih gih!” “Aku mau yang ini aja, bagus sprei-nya bunga-bunga, kamar satu lagi sprei-nya polos, males. Kan kalo bunga-bunga enak, aku serasa tidur di taman.” Dimas mengangguk, kemudian tersenyum kecil. “Liz, di dusun kamu punya temen?” Tanya Dimas, mereka berdua duduk di sofa, menghadap ke jendela arah balkon yang menampilkan pemandangan kota. Dimas masih terus menggali informasi seputar Elizabeth, ia ingin mencari jalan keluar terbaik untuk Elizabeth. “Punya dong Om, namanya Ijal, Mail, Tuti sama Pupu.” Jawab Elizabeth. “Mereka orangnya gimana tuh?” “Ijal itu anaknya Pak RT, suka banget sisirin rambut aku nih, soalnya dia ngidam mau punya rambut panjang, tapi Pak RT pengin dia masuk tentara, jadi rambutnya cepak. Padahal, gak bakal mungkin juga dia masuk tentara.” “He? Kenapa?” Tanya Dimas. “Lemah Om dia tuh, sama aku adu panco aja aku yang menang.” “Terus yang lain?” “Pupu sama Tuti tuh modelan fake-friends gitu deh, Om, mereka temenin aku biar bisa deket-deket sama Mail.” “Emang Mail kenapa?” “Mail tuh jejaka tampan dusun aku Mas, pintar berburu dan sangat berbudi pekerti. Akukan suka dikasih hewan buruan ya sama Mail, nah itu si Tuti sama Pupu suka minta, gak modal emang mereka tuh!” Dimas mencerna cerita tersebut. Bingung dengan kehidupan seperti apa yang dimiliki Elizabeth di kampungnya. Masih jaman barter, berburu, tapi kok ya ada tentara juga? Se-absurd apa dunia di sana? Dimas amat sangat penasaran. Kalau tidak melanggar aturan, mungkin Dimas sudah menembus portal di rumah Kakek untuk mengetahuinya sendiri. “Terus, sebelumnya kamu tahu soal Buto Ijo?” “Aku tahu, ku kira Mbok cuma takut-takutin aku doang Om, soalnya dari kecil aku ndak pernah main ke hutan, padahal Mail udah sumpah pramuka mau jagain aku, tapi tetep gak dikasih izin sama Simbok. Ya aku kan anak perawan baik-baik yaa, jadi aku nurut deh sama Simbok.” “Selain itu, kalau soal Buto Ijo kamu tahu apa lagi?” “Kenapa sih? Om Dimas kayaknya suka banget sama si Buto Ijo, males aku sama dia Om, gara-gara dia aku ada di sini.” Ucap Elizabeth dengan nada ngambek. Dimas tersenyum, ngambeknya Elizabeth sangat lucu menurutnya. Gadis ini jadi terlihat makin menggemaskan. Dan, sepertinya Dimas makin jatuh hati padanya. “Yaudah, oke-oke, maaf. Tapi, aku jadi penasaran Liz, kamu betah di sini? Atau kamu mau pulang?” Tanya Dimas, bagaimana pun, ia ingin yang terbaik untuk Elizabeth. “Pulang ke mana Om? Tiap aku diajak jalan-jalan aku gak pernah liat air terjun warna-warni di sini. Aku ndak tau jalan pulang Om.” Ucap Elizabeth sedih. “Yaudah, nanti coba aku cariin, kali aja ketemu ya jalan buat kamu pulang.” “Tapi ndak apa-apa sih Om, aku seneng ada di sini. Seneng ditemenin Mbak Wakanda, Teteh Pati Sia. Ada Om juga yang baik sama aku, terus.... itu, ada Mas Bayu ganteng, hehehehehe!” Elizabeth sudah kembali cerita. Dimas tersenyum. Sambil mengagumi berapa cantiknya Elizabeth ketika sedang tertawa kecil seperti itu. Dia seperi bidadari yang harusnya hidup di kahyangan sana, bukan di bumi. Bukan juga di dusun Serbahese. “Ngapain kalian?” Bayu dan Patricia menghampiri mereka, masuk ke kamar yang dipilih Elizabeth. “Ngobrol Mas Bay, eheheh mau ikutan?” Tanya Elizabeth malu-malu, tapi Bayu tetap datar ekspresi-nya. “Gak, mau ngajak Dimas cabut, masih banyak yang harus dikerjain!” Ujar Bayu dingin. Membuat Elizabeth kecewa. “Yaudah, ayok Boss!” Dimas berdiri, berjalan menuju pintu kamar, lalu tanpa berkata apa-apa, Dimas dan Bayu pun keluar dari unit apartment yang ditinggali Elizabeth dan Patricia. “Urusan apalagi Boss?” Tanya Dimas begitu mereka berjalan menuju lift yang akan membawa keduanya turun. “Tadi gue ngobrol banyak sama Patricia, dia bilang dia ketemu Liz di ganng belakang kan? Nah dia baru bilang kalau sebelumnya Elizabeth jalan dari g**g sebelah. Dan sebelum Elizabeth muncul, sempet ada gempa lokal gitu, makanya dia sama anak-anak keluar, karena takut.” Jelas Bayu. “Jadi? Maksud Boss beneran ada portal di tengah kota?” Tanya Dimas penasaran. “Mungkin, tapi gak tahu juga. Gue gak ngerasain energi apa-apa juga sih. Heran! Tapi gak ada salahnya kita nyari kan?” Dimas mengangguk. “Tugas lo beberapa hari ini itu ya? Cari kemungkinan-kemungkinan adanya portal di tengah kota. Bahaya kalau ada yang melewati portal itu. Elizabeth oke aman, tapi kalau manusia biasa? Gue gak yakin.” “Ma-maksud Boss? Elizabeth bukan manusia biasa?” Tanya Dimas. Ya, sudah pasti Elizabeth bukan manusia, kecantikannya membuat dia tak layak disebut manusia, ia bisa setara dengan dewi yunani yang paling cantik: Aphrodite. “Dia bilang dia lahir dari timun, mana ada manusia lahir dari timum?” Ujar Bayu santai. Dimas mengangguk. Keduanya sudah sampai di parkiran, Dimas yang menyetir seperti biasa. Sesuai perintah, Bayu minta diantarkan menuju tempat tinggalnya, jadi Dimas pun menurut. Perjalanan pulang terbilang sepi. Bayu sibuk dengan ponselnya sementara Dimas fokus menyetir. “Boss malem mau dikirim makan apa?” Tanya Dimas begitu sampai di lobby apartment Bayu, tepat sebelum majikannya itu keluar dari mobil. “Emm, gue bisa urus diri gue sendiri. Anyway, thanks Dim!” Sahut Bayu kemudian ia pun keluar dari mobil. Dimas masih diam, memandangi Boss-nya berjalan masuk, sampai Bayu masuk ke dalam lift, baru Dimas pun melajukan mobilnya. Dimas langung mengemudikan mobilnha ke arah The Black Jack. Ia penasaran dengan air terjun pelangi yang dimaksud Elizabeth jadi ia akan memulai pencariannya sekarang. Sekitar tiga puluh menit di jalan, akhirnya Dimas sampai dan ia parkir secara asal. Keluar dari dalam mobil lalu berjalan kaki menyusuri g**g id belakang bar. Hari masih sore, jadi g**g belum terlalu ramai. Biasanya ketika langit sudah gelap muncul para preman yang suka menggoda para pekerja, juga minta jatah harian ke Tatang, ketua security. Dimas berdiri di pintu belakang, lalu ia mulai berjalan kembali menyusuri g**g sempit ini. Melihat ke kiri dan kanan untuk mencari sebuah keanehan tapi tidak ada. Di ujung jalan, Dimas berbelok, lagi-lagi ia memperhatikan sekitar namun tidak juga ditemukan keanehan. Di g**g selanjutnya, Dimas masuk ke sana. g**g ini sepi, karena pertokoan yang merupakan mengisi deret ini sudah lama tutup. Ketika malam hari baru jalanan ini ramai oleh para muda mudi yang b*******h dan tidak sempat mencari kamar. Berjalan sampai ujung, Dimas masih belum menemukan apa-apa selain sampah yang berserakan. Bisa-bisanya tempat ini sangat berbeda 360 derajat dengan g**g di sebelahnya. Dimas menarik napas panjang, ia sendiri pun bingung, sebenarnya apa yang dia cari? Haruskah ada keanehan di sini? Atau apa? Bagaimana jika portal yang dilalui Elizabeth hanya muncul sesaat lalu hilang? Dimas menggaruk rambutnya. Matanya masih berkeliling, berharap sekali bahwa ada keganjilan di tempat yang kumuh ini. Tapi nihil, ia tidak menemukan apa-apa. Hari mulai gelap, akhirnya Dimas memutuskan untuk kembali, tapi ia mengeluarkan ponselnya dulu, lorong ini tidak ada lampu, Dimas bisa tersandung sesuatu jika berjalan tanpa penerangan. Begitu flash dari ponselnya menyala, Dimas makin bisa melihat bagaimana kotornya tempat ini. Ia pun bergegas meninggalkan lorong ini, tapi ia berhenti saat melihat sebuah bayangan yang tersorot cahaya ponselnya. “Hay?” Sapa Dimas, tapi bayangan tersebut tak bersuara, bahkan tak bergerak. Dimas memberanikan diri mendekat, dan ia lega. Ternyata itu bukan seseorang. Bayangan yang ia lihat merupakan siluet seorang wanita yang digambar di dinding bata. Tertegun sebentar, Dimas mengarahkan cahaya ponselnya ke dinding tersebut. Ia mengamati bayangan itu dan.... Bayangan ini membentuk postur tubuh Elizabeth! Seru Dimas dalam hati. Inikah tempat Elizabeth keluar? Apakah di balik tembok ini aku bisa melihat air terjun pelangi yang dimaksud Elizabeth? Bisakah aku melewati portal itu? Adrenalin Dimas meningkat. Ia siap dengan semua kejutan yang ada di balik dinding ini!!!! **** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD