Ketika Dimas dan Bayu memasuki rumah mamih Tini dan melihat Elizabeth duduk di kursi makan, mereka berdua tak percaya. Elizabeth benar-benar berubah, tidak urakan seperti sebelumnya.
"Gila! Gue kira ini bocah bisa berubah kalo ada penyihir baik hati yang mau menyulap dia." Ujar Bayu.
"Jangan gitu Boss," Ujar Dimas, Bayu pun tersenyum,
"Duduk diem aja keliatan bedanya, Dim."
Dimas tersenyum sebagai respon. Ya, setelah dua minggu digodog oleh Madam Athena, akhirnya Elizabeth bisa berprilaku selayaknya manusia di jaman ini, bahkan lebih beradab dari sebagian orang.
"Tumben banget, Boss Ganteng sama Om Dimas mampir ke sini." Seru Elizabeth. Masih ganjen dia ternyata kalau sama Bayu.
"Liz, kan kita udah deal, gak boleh manggil saya Om!" Seru Dimas.
"Deal tuh kemarin artinya apa ya? Aku lupa, Om."
"Sepakat Liz, kita waktu itu udah sepakat,"
"Udah lu jangan ribut, ngambek mulu sih lu, jadi disangka Om-om." Ujar Bayu sambil menyikut rusuk Dimas pelan.
"Yaa... masa dipanggil Om? Kapan pula ngambek mulu?"
Bayu tak menghiraukan protes dari Dimas, ia lanjut berjalan, bergabung dengan Elizabeth dan Wanda yang ada di meja makan.
"Pagi, Boss!" Sapa Wanda ramah dan Bayu pun tersenyum sambil mengangguk kecil.
Dimas di belakangnya juga berjalan mendekat, duduk di samping kursi Bayu.
"Bener kata Elizabeth, tumben Boss Bayu dan Mas Dimas mampir ke sini." Ujar Wanda, bukan tumben, ini adalah keajaiban. Sudah 5 tahun sejak Wanda bekerja dengan Bayu dan Dimas, dan inilah kali pertama mereka mampir ke rumah yang disediakan untuk para PSK yang bekerja.
"Mau jemput Elizabeth, ikut pindah yuk Wan? Biar kamu yang jagain dia di sana." Ajak Dimas, mengutarakan niatnya datang kemari.
"Ta... tapi aku kan di sini deket sama adik aku, Mas." Ya, Wanda memang jarang pulang seperti yang lain, Wanda adalah orang yang paling sering ada di rumah ini. Alasannya karena rumah ini dekat dengan kost-kostan adiknya. Jadi Wanda bisa memantau adiknya.
"Gitu ya? Terus siapa dong kira-kira yang bisa ikut buat jagain Elizabeth?" Tanya Bayu, dia memang tidak suka memaksa orang. Jika tidak bisa, maka dicari alternatif lain.
Elizabeth yang tidak diajak di obrolan ini hanya bisa bengong. Sebenarnya dia bingung, ketiga orang ini pada bahas apaan? Meskipun sudah belajar banyak hal, namun tetap saja banyak juga yang belum ia pahami.
"Emmm, bisa Patricia mungkin Boss?" Usul Wanda.
"Oke, bakal aku tanya nanti ke Patricia, dia ada di sini?" Tanya Dimas.
"Emm, di sini aku berdua Elizabeth aja, kan Mas Dimas bikin perintah buat gak dateng dulu ke sini. Tadi Mamih Tini udah berangkat, nah mungkin Patricia juga udah ada di The Black Jack." Jelas Wanda.
"Yaudah Dim, gimana enaknya? Ngobrol sama Patricia dulu atau sekalian bawa Elizabeth ke tempat sana?" Tanya Bayu.
Dimas sudah menyiapkan sebuah apartment untuk Elizabeth. Ada di pusat kota, namun agak sedikit tersembunyi karena Bayu memiliki beberapa unit kamar di gedung apartment tersebut, sehingga bila mana ada yang akan mencari Elizabeth, mereka akan pusing. Lagi pula, apartment tersebut tidak lah mewah, biasa saja. Ide Dimas lah untuk menyembunyikan Elizabeth di sana.
Orang-orang berpikir Elizabeth akan dibawa ke tempat spesial, nyatanya, ia berada di tempat biasa. Mengecoh orang yang akan mencarinya. Karena Dimas sudah mendengar rumor bahwa Pak Chandra Wiguna kecewa dengan gadis yang ia bawa dan akan menuntut Bayu karena itu.
"Langsung aja deh Boss, biar gak bolak-balik!" Ujar Dimas.
"Oke! Tapi kita sarapan dulu." Ucap Bayu yang langsung mengambil piring dari tumpukan yang ada di meja.
Wanda dan Elizabeth tersenyum melihat itu. Mereka senang karena selama beberapa hari kemarin selalu makan berdua, kali ini ditemani oleh Boss-boss-nya yang tampan.
"Enak nih nasi gorengnya, beli di mana?" Tanya Dimas.
"Mas? Mana ada yang jual nasi goreng pagi-pagi?" Ucap Wanda.
"Terus?"
"Kak Wanda bikin. Hebat banget emang Kakak Wakanda, pinter masak, sama kaya mbok-ku dulu di kampung. Semuanya bisa dibikin enak." Sahut Elizabeth.
"Dulu Mbok kamu suka masak apa Liz?" Tanya Bayu, ia ingin memancing informasi dari Elizabeth.
"Paling sering sih bikin acar timun, tiap hari pasti ada acar timun. Jadi kalau Mbok gak dapet hewan buruan dari hutan, ya gitu deh... kita makannya nasi sama acar timun." Jelas Elizabeth.
"Terus kalau dapet hewan buruan?" Kali ini Dimas yang bertanya.
"Ya banyak, kadang dioseng-oseng mercon, kadang dipanggang, kadang ditumis. Paling enak sih kalau Mbok masak tumis ginjal singa!"
Ketiga orang di meja ini saling berhadapan. Mempertanyakan kewarasan masing-masing karena baru saja mendengar sebuah masakan yang amat sangat tidak masuk akal.
"Tu-tumis ginjal Singa, Beth?" Tanya Wanda.
"Iya, tapi jarang banget Mbok dapet singa. Soalnya kan singa galak ya? Terus Singa juga ada di dalem hutan yang jauuuuhhh banget. Mbok takut ke sana, salah-salah nanti Mbok dicaplok Buto Ijo!" Seru Elizabeth, ia jadi semangat bercerita.
"Entar.... kok kayaknya aku pernah denger Buto Ijo ya?" Ucap Wanda.
"Itu loh Wan, yang ada di cerita Timun Mas." Ujar Dimas, karena sudah pernah mencari dengan keyword Buto Ijo, jadi ia paham apa yang dimaksud Elizabeth.
Dan, Dimas juga tahu kalau Buto Ijo yang dimaksud Elizabeth sedang duduk di sampingnya, asik memakan nasi goreng.
"Liz, kamu gak pernah cerita gimana caranya kamu bisa dikejar-kejar si Buto Ijo." Ucap Dimas, lagi-lagi memancing.
Kali ini, Bayu terlihat tertarik dengan obrolan mereka, ia menjeda makanannya. Melihat itu Elizabeth langsung ambil kesempatan, dia tidak mau menyia-nyiakan tatapan ganteng Boss Bayu yang sedang tertuju padanya.
"Jadi.... aku nih kan bikin party yaa, ihhh keren banget! Semua warga dusun dateng, dari Mbok-mbok, Mbak-mbak, Mas-mas, Pak-Bapak, semua deh yaa sampe bocil belum sunat juga dateng!" Seru Elizabeth.
"Party apa Beth?" Tanya Wanda.
"Ulang tahun aku, Kak. Aku ulang tahun ke 17, swit sepentin heheheheh pokoknya rame banget lah, heboh. Pada bawa kado juga, happy deh pokoknya aku.
"Sampe akhirnya pesta ini selesai, tetangga pada pulang dan aku mau buka kado. Ehh ya dasar semprul itu si Buto Ijo, dia yang tinggal di dalem hutan tiba-tiba masuk ke dusun. Bete kali ya gak aku undang? Tapi Mbok-ku nyuruh aku lari, katanya Buto Ijo mau makan aku, yaudah aku lari, aku bingung mau ke mana, jadi ku lari ke hutan, macem puisinya Mbak Cinta, terus aku ngumpet dan tidur di lubang pohon."
"Gara-gara apa Buto Ijo ngejar kamu, Liz?" Tanya Bayu.
"Dia mau makan aku, Boss Ganteng."
"Ya masa dia tiba-tiba mau makan kamu?" Bayu yang merupakan sosok Buto Ijo yang dimaksud Elizabeth haus akan penjelasan. Ia tidak ingat kehidupannya di sana, jadi ia ingin tahu sejelas mungkin.
"Dulu, waktu aku kecil aku nanya Simbok, Bapakku tuh mana.... tapi Mbok gak pernah jawab. Ya aku bingung kan ya? Temen-temenku punya Bapak, aku gak punya. Jadi aku tanya ke Mbok Sri, sahabat karibnya Mbok Yem, Mbok-ku."
"Apa katanya?" Tanya Dimas penasaran.
"Katanya, aku nih bukan anak aslinya Mbok Yem. Aku nih hadiah dari si Buto Ijo buat Mbok Yem, yang boleh dirawat sampai umur 17 tahun, dan setelah itu aku harus diserahkan ke Buto Ijo. Nah pas aku 17 tahun itu kan Mbok Yem malah bikinin aku party ya? Bukannya bawa aku ke si Buto, makanya Buto marah dan masuk kampung. Akutu yaaa kalo Buto gak serem mau deh ngobrol sama dia, nanya kenapa dia mau makan aku?"
"Jadi kamu anak dari si Buto Ijo?" Tanya Dimas.
"Anak pemberian Buto Ijo, Om! Bukannya anak si Buto Gendeng itu! Enak aja, aku kan cantik, Buto Ijo gak karuan begitu!" Seru Elizabeth tak terima jika ia menjadi anaknya si Buto.
Dimas tertawa mendengar itu, dan di bawah meja, Bayu menginjak kakinya lumayan kencang tapi itu tak membuat tawa Dimas mereda.
"Emang yaa si Buto Ijo, demen banget ngasih orang anak!" Ujar Dimas, meskipun kakinya sakit, ia tetap tertawa, mengingat keluarganya pun berhutang budi pada Bayu karena Bayu bisa mengabulkan keinginan leluhurnya yang mendambakan hadirnya seorang anak dalam keluarga.
"Mbok Yem hamil gara-gara si Buto?" Tanya Wanda, dan itu membuat tawa Dimas makin kencang. Di kepalanya langsung terbayang Mbok Yem yang sudah tua melakukan hubungan dengan Buto Ijo yang menyeramkan agar bisa hamil.
"Heh! Kesurupan lu!" Seru Bayu menegur Dimas yang ketawanya makin gak jelas.
"Ya... ya masa Mbok Yem hamil sama si Buto, hahahah fix dong kalo itu berarti Elizabeth anaknya Buto." Ujar Dimas di sela-sela tawanya.
"Ihhh kan aku udah bilang, aku bukan anaknya Buto Ijo!" Seru Elizabeth, dia gak terima banget lah kalo dibilang anaknya Buto Ijo.
"Terus gimana caranya kamu ada? Dapet kamu dari mana?" Tanya Wanda, hanya dia seorang yang sedang mempertanyakan kewarasan cerita ini. Dimas sudah tertawa tak jelas karena Buto Ijo. Sedangkan Bayu dongkol dijelek-jelekin sama Elizabeth.
"Kata Mbok Sri, dulu Mbok Yem dikasih biji timun sama Buto Ijo, katanya biji timun itu bakal mengabulkan hal yang sangat diidam-idamkan sama Mbok Yem. Kan mbok aku orangnya nurut ya? Yaudah deh ditanem itu bijinya si Buto."
"Bijinya si buto, hahahahah!" Dimas tertawa lagi, dan kali ini Bayu langsung menjitak kepalanya, namun seperti tadi, hal itu tidak membuat Dimas berhenti tertawa.
"Terus?" Tanya Wanda.
"Ya besok paginya udah ada pohon timun dengan buah-buah raksasa, ada 6 timun. Yang 2 mbok Yem tuker sama kelinci."
"Heee??" Ketiganya bingung.
"Di dusun aku tuh kalau mau sesuatu ya harus dituker gitu loh, kita punya apa, tukeran sama apa." Jelas Elizabeth.
"Oohhh, barter maksudnya?" Ujar Dimas mendadak paham.
"Iyaa itu. Nah 4 timun yang ada di rumah Mbok Yem bikin acar, pas mau belah satu timun eh ternyata ada aku di dalemnya." Elizabeth menyelesaikan ceritanya.
Wanda diam. Yang diceritakan Elizabeth benar-benar seperti dongeng Timun Mas, tapi.... itukan cuma dongeng? Dan... ada banyak hal yang janggal dalam cerita itu.
Dimas diam, ia sudah tidak lagi tertawa, ia berpikir soal cerita Elizabeth tadi. Apa yang harus dilakukan setelah ini? Apakah Elizabeth mau pulang?
Tapi... Dimas sudah terlanjur menyukai gadis itu. Apakah mereka bisa bersama?
Otak Bayu pusing memikirkan cerita Elizabeth. Ia sekarang tahu kenapa ia difitnah memakan Elizabeth. Karena Mbok Yem yang tidak menempati janji. Bayu percaya, meskipun ia bisa berubah menjadi makhluk menyeramkan, ia tidak pernah jahat pada manusia. Ia mencintai manusia, apalagi Dimas dan seluruh keluarganya yang sudah berbaik hati merawatnya sejak dulu kala.
Lalu, kenapa aku mendapat kilasan memori kalau aku memakan seorang anak laki-laki? Tanya Bayu dalam hati.
Apakah aku benar-benar menjadi sosok jahat di dusunnya Elizabeth? Atau apa?
Kenapa Elizabeth bisa mengingat semuanya sedangkan aku tidak?
Apa karena Elizabeth baik dan aku jahat?
Banyak sekali pertanyaan di kepala Bayu saat ini, dan ia sangat ingin menjawab semuanya. Tapi.... bagaimana?
***
TBC